
Malamnya sekitar pukul 11:00, Aditya kembali ke kediaman keluarganya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan sudah melihat istrinya tengah tertidur pulas dengan setelan Hot Pants Babydollnya. Ia datang mengahampiri istrinya itu dan duduk disampingnya sambil menatap wajahnya yang tertidur pulas.
“Apa dia kepanasan lagi sampai dia pakai baju terbuka seperti itu?” Dalam hati Aditya sambil mengusap lembut kepala Kyra.
Ia kemudian mencium kening istrinya itu dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia berendam air panas didalam untuk menghilangkan rasa lelahnya. Setelah selesai berendam cukup lama, Aditya keluar menuju kamar gantinya lalu berpakaian santai dan kembali keluar menuju tempat tidurnya. Ia tidur disamping Kyra sambil memeluk Kyra dari belakang.
Pukul 2:00 malam, Kyra terbangun dari tidurnya karena merasa sangat lapar. Ia tidak bisa menahan rasa laparnya itu dan akhirnya ia membangunkan Aditya.
“Dit.....Dit.” Panggilnya sambil menggoyang – goyangkan tubuh suaminya.
“Eem” balasnya yang masih memejamkan matanya.
“Dit...bangun.” Panggilnya dengan keras.
Aditya langsung membuka matanya dan bangun dari tempat tidurnya.
“Ada apa?” Tanya Aditya dengan panik sambil mengucek – ngucek matanya didepan Kyra.
“Aku lapar sekali...Dit.”
“Kamu lapar tengah malam begini.”
Kyra hanya mengangguk. Aditya menghela nafasnya dengan pelan sambil melihat istrinya.”Haaa....”
“Kamu ingin makan apa?” Tanya Aditya dengan serius.
“Aku ingin makan nasi goreng.”
“Baiklah....aku turun ke bawah masak untukmu.”
“Suruh saja Maria yang masak...”
“Tidak usah....biar aku saja. Kalau aku membangunkannya nanti semuanya pada bangun dan membuat kehebohan.”
“Baiklah....itu terserah padamu saja.”
“Kamu tunggu disini yah.”
Kyra membalasnya dengan mengangguk.
Aditya turun kebawah memasak untuk istrinya karena tak ingin membangunkan semua orang. Tak menunggu lama, Aditya selesai memasak nasi goreng ayam untuknya.
Ia kembali ke kamarnya dengan membawa nasi goreng dan susu untuk Kyra. Setelah berada di kamarnya, Aditya langsung menghampiri istrinya dan duduk disampingnya sambil meletakkan makanannya didepan istrinya itu.
Kyra pun memakannya dengan lahap sampai tidak ada yang tersisa.
“Apa itu sangat enak?”
“Eem.” Balasnya sambil mengangguk.
“Baguslah kalau kamu suka. Aku sempat khawatir tadi kalau kamu tidak suka.”
“Nasi goreng yang kamu buat enak sekali....suamiku memang hebat.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Cih.....” Balasnya sambil tersenyum senang.
Setelah makan, mereka kembali tidur sambil berpelukan.
***
Keesokan paginya....Aditya bangun dan siap – siap berangkat ke kampus karena ia sudah mempersiapkan acara wisudanya yang tinggal menghitung hari itu. Ia meninggalkan istrinya yang masih tengah tidur pulas. Ia tak lupa mencium kening istrinya sebelum pergi.
***
Siang harinya....Aditya menjemput Kyra untuk kembali ke Apartemennya karena ia sudah tidak muntah – muntah lagi dan sudah tidak merasa pusing. Sebelum pergi, mereka berpamitan kepada Nyonya Besar dan Nyonya Sintya untuk kembali ke Apartemennya.
Aditya mengendarai mobil sportnya menuju Apartemennya. Saat sampai di Apartemennya, Kyra dan Aditya langsung masuk ke dalam Apartemennya itu.
“Kamu istirahat dulu sayang. Aku mau selesaikan pekerjaanku dulu.” Ucapnya.
“Kamu sudah mulai bisnismu sama Kak Rey yah?” Tanya Kyra penasaran.
“Ia....”
“Ya sudah.....kalau gitu aku lanjutkan tidurku saja.”
“Baiklah...selamat istirahat yah. Kalau butuh sesuatu panggil saja aku.” Balasnya
“Ia...”
Aditya mencium kening istrinya kemudian berjalan masuk ke dalam Ruang Kerjanya yang biasa ia tempati untuk menggambar Desain Mobil. Sedangkan Kyra pergi ke kamarnya untuk tidur.
***
Pukul 4:00 sore, Kyra membuka matanya lalu bangun dari tempat tidurnya. Ia merasa sangat lapar dan ingin sekali makan Bubur Manado yang pernah diberikan oleh teman kerjanya.
Ia berjalan keluar kamarnya dan mencari keberadaan suaminya, ia melihat pintu Ruang Kerja Aditya terbuka, ia datang menghampiri suaminya itu yang tengah sibuk menelfon dengan Rey. Ia berdiri di pintu sambil melihat Aditya sibuk menelfon. Aditya tidak menyadari kehadiran Kyra karena posisinya yang membelakangi pintu.
“Aku sudah mengirimkannya padamu barusan. Ceklah emailmu.” Ucapnya pada temannya dibalik telfon.
Saat Aditya berbalik...ia melihat istrinya berdiri didepan pintu Ruang Kerjanya, ia pun menghentikan kesibukannya itu.
“Sudah dulu....aku tutup, nanti kita bicara lagi”
“Baiklah..”Balas Rey dibalik telfonnya.
Aditya meletakkan HP-nya dimeja dan berbicara pada Kyra yang tengah berdiri dipintu.
“Kamu butuh sesuatu sayang.”
“Aku lapar sekali...Dit.”
“Oh...ia, aku sampai lupa masak makanan untukmu. Sebentar yah aku masakkan.” Ucapnya sambil keluar dari Ruang Kerjanya.
“Aku ingin makan Bubur Manado.”
“Hah...”
Sontak saja membuat Aditya kaget....karena ia tidak tahu Bubur Manado itu seperti apa. Itu pertama kalinya ia mendengar makanan itu.
“Itu makanan apa?” Tanya Aditya yang merasa bingung.
“Bubur sayang.....namanya Bubur Manado.”
“Ada Dit....aku pernah makan satu kali dari teman kerjaku. Pasti ada dijual disini. Dimana lagi temanku itu dapat kalau tidak ada dijual disini?”
Saat itu Aditya merasa bingung dengan makanan yang ingin dimakan istrinya. Bagaimana bisa istrinya ingin makan Bubur Manado yang baru ia dengar itu apalagi di Kota ini tidak ada yang jual Bubur Manado. Ia terdiam sejenak karena merasa bingung harus mendapatkan makanan itu darimana.
“Dimana aku bisa mendapatkan makanan seperti itu?” Dalam hati Aditya.
"Dit...." Panggilnya membuyarkan lamunannya.
“Ah....ia, aku akan carikan diluar. Kamu tunggu saja disini.”
“Baiklah.”
Aditya memasang jaketnya dan keluar mencari makanan yang diinginkan istrinya itu dengan mengendarai motornya.
Selama dua jam, Aditya terus menulusuri Kota untuk mencari Bubur Manado yang disebutkan istrinya itu tapi ia sama sekali tidak mendapatkannya. Akhirnya ia membeli bubur ayam sebagai pengganti bubur manado yang diinginkan Kyra.
Setelah membeli buburnya, ia kembali pulang. Ia memarkirkan motornya dan masuk ke dalam Apartemennya. Ketika masuk ke dalam, Kyra sudah menyambutnya dengan antusias. Ia sudah tidak sabar dengan makanan yang dibawa suaminya.
Ia ambillah bubur yang dibeli Aditya itu dan betapa kecewanya ia saat melihat bubur yang dibeli Aditya itu bukan makanan yang ia maksud.
“Loh....kok bubur ayam sih. Dit. Mana bubur manadonya?”
“Maaf sayang.....bubur yang kamu maksud tidak ada dijual. Aku sudah mencarinya kemana – mana tapi tidak ada.”
“Kenapa bisa tidak ada sih....pasti Adit tidak bisa menemukan penjualnya?” Dalam hati Kyra.
"Kenapa....kamu tidak suka yah?" Tanya Aditya yang sedikit khawatir.
Karena tidak ingin membuat suaminya kecewa, ia pun menerima makanan yang dibelikan suaminya itu.
“Oh....tidak apa – apa kok. Aku bisa memakannya.” Ucapnya sambil tersenyum.
Saat itu, ia merasa sedih karena tidak bisa makan makanan yang ia inginkan bahkan ia ingin menangis tapi ia menutupi dari suaminya.
Ia pun memakan buburnya itu sambil ditemani Aditya yang saat itu hanya duduk didepannya.
Setelah makan, ia kembali ke kamarnya dan langsung baring dikasurnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menangis didalam selimut karena tidak bisa makan bubur yang ia inginkan.
Aditya masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan melihat istrinya sedang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia mendatangi Kyra dan langsung membuka selimutnya, sontak saja membuatnya kaget karena melihat Kyra sedang menangis.
“Sayang....ada apa denganmu?”
“Aku tidak apa – apa”
“Terus kenapa kamu menangis begitu. Cepat katakan padaku, apa aku berbuat salah?”
“Tidak Dit....”
“Kyra....”Panggilnya dengan wajahnya yang serius.
“A-ku menangis karena ingin sekali makan Bubur Manado, Dit.”
“Cuma karena itu...”
Kyra mengangguk pelan dengan wajahnya yang penuh air mata.
Aditya menghela nafasnya sambil mengusap air mata istrinya.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ingin sekali makan itu?”
“Aku kan sudah bilang tadi.”
“Ya sudah.....kalau begitu aku akan memasaknya untukmu.”
“Memangnya kamu bisa.”
“Nanti aku cari resepnya di internet.”
“Benar yah....kali ini Bubur Manado.”
“Ia....kamu tidur saja sambil menunggu aku masak.”
Aditya kemudian keluar kamarnya dan mencari resep makanannya di internet. Setelah mendapatkannya, ia menuju dapurnya dan memasak Bubur untuk Kyra.
“Wanita hamil benar – benar sensitif....hanya karena tidak bisa makan bubur begitu, dia sampai menangis begitu. Haaa.....” Gumamnya sambil geleng - geleng kepala.
Ia melanjutkan kesibukannya didapur dengan memasak buburnya sambil sesekali melihat resepnya di HP-nya.
Tak menunggu lama, ia selesai memasak. Ia membawa makanannya itu ke kamar. Ia langsung berjalan menghampiri Kyra yang tengah bersandar di tempat tidurnya sambil menonton Tv yang ada didepan tempat tidurnya itu.
“Buburnya sudah jadi Dit.”
“Ia.....makanlah” balasnya sambil meletakkan makanannya didepannya.
Kyra langsung menyendok buburnya itu.
“Hati – hati itu masih panas.”
“Ia...”
“Oyah....pasti teman kerjamu itu orang manado yah.”
“Kenapa kamu bisa tahu?” Tanya Kyra penasaran.
“Dasar bodoh. Pantas saja...dia bisa memberikanmu bubur begitu.”
“Hah...” balasnya dengan bingung.
“Dia itu bikin sendiri sayang. Disini kan tidak ada jual makanan begitu.”
“Astaga....kenapa aku tidak terpikirkan yah?” Ucapnya sambil memegang kepalanya.
“Sudah....jangan dipikirkan lagi. Cepat habiskan makananmu.”
“Ia....buburnya sangat enak. Kamu yakin ini pertama kali kamu buat.”
“Itu karena aku masaknya dengan penuh cinta.” Ucapnya sambil tersenyum melihat Kyra.
“Iyalah.....semuanya kalah kalau sudah menyebut cinta.”
Aditya hanya tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Sedangkan Kyra kembali memakan buburnya.
Bersambung.