
Didalam hutan, Kyra dan teman – temannya mulai melakukan pencarian bendera merah yang disurukan seniornya tadi.
Mereka diberikan senjata berupa pistol warna untuk menghadapi teman kelompok lain jika mereka bertemu. Itu mereka lakukan agar bisa mempertahankan kelompok mereka dan bisa mendapatkan bendera merah tanpa ada gangguan.
Itu disebut sebagai permainan Paintball, dimana mereka harus menembakkan cat berwarna pada lawan yang akan mereka temui dan secara otomatis membuatnya keluar dari permainan. Mereka melakukan permainan tersebut untuk mengurangi lawan yang akan memperebutkan bendera merah dan lencana kampus yang akan mereka ambil.
***
Saat Kyra bersama teman kelompoknya berjalan melakukan pencarian, ia tidak fokus dan hanya memikirkan Aura yang bergabung dengan seniornya.
Meskipun saat ia pergi tadi, ia melihat Aura duduk jauh dari Aditya tapi pikirannya kemana – mana.
“Jangan – jangan saat aku pergi mereka lagi ngobrol asyik...disana.” Dalam hati Kyra.
Keempat temannya datang menghampirinya karena melihat Kyra yang berjalan lambat dibelakang. Terutama Lea, ia satu kelompok dengan Kyra saat itu.
“Kyra....kenapa kamu jalannya lambat sekali. Nanti kita kalah dengan anak – anak yang lain kalau kamu begitu?” Tanya Lea serius.
Kyra tersadar dari pikirannya setelah mendengar Lea bicara padanya.
“Eh....maaf, aku malah memikirkan hal lain. Maaf...yah.” Ucapnya dengan ekspresi yang tidak enak kepada teman – temannya.
“Tidak apa – apa Kyra.....sekarang kita jalan lagi yuk.” Balas salah satu temannya itu yang bernama Ana.
“Ia....ayo.”
Mereka kembali berjalan mencari bendera merah dan lencana kampus mereka. Kyra dan teman – temannya itu sudah mulai khawatir karena dari tadi mereka tidak menemukan apa – apa. Jangan sampai mereka di hukum gara – gara tidak mendapatkan apa – apa.
“Bagaimana ini....kita sudah jalan sampai sini tapi belum mendapatkan apa – apa. Jangan – jangan benderanya tidak ada dibagian sini?” Tanya Lea.
“Ia....sampai sekarang, kita tidak menemukan apa – apa baik itu musuh ataupun benderanya.” Sambung salah satu teman kelompoknya yang bernama Ria.
"Sabar saja....kita kan baru jalan sedikit. Nanti juga ketemu musuhnya.” Balas Kyra sambil tersenyum.
“Ia.....kita harus hati – hati, jangan sampai kita yang gugur duluan sebelum dapat benderanya. Bisa – bisa kita dapat hukuman yang lebih berat lagi.” Sahut Lea.
“Tenang saja...kalau kalian lihat ada orang langsung tembak saja.” Balas Kyra sambil tersenyum.
“Ia....tapi....kalau kita menemukan senior yang berjaga bagaimana. Apa kita tembak juga?” tanya Ana.
“Yah...engga lah. Masa senior juga mau ditembak sih. Bisa – bisa kita langsung dihukum.” Balas Lea serius.
“Sudah....kita jalan lagi kedepan.” Sahut Kyra.
“Ia...” sahut secara bersamaan.
Mereka kembali berjalan kedepan mencari musuh dan mencari keberadaan benderanya.
Tak menunggu lama, mereka menemukan kelompok lain yang sedang menemukan salah satu bendera merahnya. Mereka bersembunyi melihat kelompok musuh yang ada didepan mereka.
Lea yang tidak sabar untuk menyerang mereka langsung menembak salah satu dari mereka hingga akhirnya membuat kelompok musuh berkurang dan hanya menyisakan dua orang. Karena tak kalah jumlah, kelompok musuhnya itu kabur dengan membawa bendera.
Meskipun mereka cuma tinggal berdua tapi mereka tidak ingin menyerahkan bendera yang mereka dapatkan kepada kelompok Kyra. Sebelum mereka kabur tadi, mereka berdua sempat menembak Kyra yang membuatnya keluar dari permainan.
Tentu saja Kyra kaget melihat dirinya tiba – tiba ditembak dengan cat berwarna. Ia langsung tertawa keras mengingat adegan dirinya tadi yang ditembak musuh.
“Hahahahah.....”
Lea langsung menatapnya dengan aneh. Bukannya sedih ia keluar tapi malah tertawa.
“Kenapa kamu tertawa begitu?” Tanya Lea serius.
“Tidak....ini lucu saja. Kalau aku ditembak beneran, pasti Aditya senang apalagi perempuan itu, dia pasti senang sekali.” Ucapnya sambil tertawa.
“Astaga....Kyra. Kamu benar – benar aneh. Kenapa kamu sampai memikirkan suamimu begitu. Saat kita bertengkar dengan Melia, dia sampai panik karena melihatmu terluka?” tanya Lea serius.
“Sudahlah...aku hanya bercanda kok. Wajahmu jangan serius begitu.”
“Terus....bagaimana. Kamu mau kembali atau mau tinggal disini?” tanya Lea serius.
“Aku disini saja....kalau aku kembali ke pantai nanti Aditya malah mengejekku karena tertembak tanpa mendapatkan apa – apa.”
“Baiklah.....kamu tunggu disini saja. Kita berempat jalan kedepan mencari benderanya. Kalau kita menemukan bendera dan lencananya, kita semua terbebas dari hukuman.” Balas Lea.
“Ok....semoga berhasil kawan - kawan.” Ucap Kyra sambil tersenyum.
Mereka berempat membalas Kyra dengan senyuman. Mereka kemudian meninggalkan Kyra yang duduk dibawah pohon saat itu.
Selama satu jam melakukan permainan memperebutkan bendera merah. Akhirnya mereka sampai finish. Mereka hanya mendapatkan dua bendera merah saja bahkan tidak berhasil mendapatkan lencana kampus Treeya karena sudah didahului oleh kelompok lain. Tentu saja membuat kelompok mereka mendapatkan hukuman dari seniornya.
Kelompok yang hanya mendapatkan bendera merah paling sedikit akan dihukum dengan berlari 10 kali mengitari pinggir pantai. Hukumannya ringan sih, mereka tidak menyangka jika mereka mendapatkan hukuman seperti itu.
Harusnya kan mereka dapat hukuman duduk berendam di air pantai selama dua jam yang hanya memperlihatkan setengah badan mereka tapi karena Aditya tiba – tiba merubah hukumannya, mereka tidak jadi merasakan dinginnya air pantai.
Setelah hukuman para mahasiswa selesai, mereka akhirnya melakukan sesi terakhir yaitu meminta tanda tangan senior mereka yang merupakan tradisi Ospek.
Banyak mahasiswa di suruh berbuat aneh – aneh saat meminta tanda tangan mereka. Tapi berbeda dengan Kyra, ia dengan mudahnya mendapatkan tanda tangan seniornya bahkan mereka tersenyum ramah padanya dengan akrab.
Kyra tidak merasa kaget dengan perlakuan mereka, ia bahkan mengobrol sebentar dengan para seniornya itu.
Setelah mengobrol dengan senior perempuan yang lain, ia berjalan menghampiri Bagas dan teman - temannya. Ia meminta tanda tangan dengan Bagas, mereka berdua mengobrol sambil tertawa, Aditya melihat canda tawa mereka dari kejauhan. Wajahnya terlihat cemberut karena melihat gelak tawa mereka berdua.
“Apa sih yang mereka tertawakan sampai suara tawanya terdengar disini?” dalam hati Aditya yang cemberut melihat istrinya tertawa dengan temannya.
Setelah Kyra mengobrol dengan Bagas. Ia menghampiri seniornya yang lain untuk meminta tanda tangan.
Aditya semakin kesal melihat Kyra akrab dengan Anggota BEM laki – laki yang memberikannya tanda tangan dengan mudah tanpa menyuruhnya melakukan apapun.
Karena tidak tahan melihat istrinya tersenyum dengan beberapa laki – laki, akhirnya ia mendatangi mereka dan marah – marah.
“Hai....apa ini taman bermain buat kalian?” teriaknya dengan wajah marahnya.
“Eh.....kita hanya memberikan tanda tangan pada Kyra.” Sahut salah satu Anggota BEM-nya.
“Kalau sudah berikan tanda tangan....kenapa masih disini?” Ucap Aditya dengan tegas.
Mereka langsung bubar saat itu sedangkan ketiga temannya hanya geleng - geleng kepala melihat Aditya cemburu.
Kyra yang melihat seniornya pergi juga ikutan pergi tanpa peduli dengan Aditya.
"Kenapa kamu juga pergi?" Tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.
"Tadi kan disuruh bubar." balas Kyra.
"Bukan kamu yang kusuruh pergi tapi mereka."
Kyra hanya diam cemberut melihat suaminya, mereka berdua saling melihat dengan wajah kesalnya.
Mereka seperti itu karena sama - sama cemburu, Kyra cemburu dengan kehadiran Aura sedangkan Aditya cemburu dengan tawa Kyra yang ditunjukkan kepada senior laki – lakinya.
Aditya kemudian mengangkat kedua tangannya dan meletakkan dipinggang.
"Cepat kemari...." Ucap Aditya sambil menggerakkan bola matanya pada Kyra menyuruhnya datang padanya.
Tapi Kyra malah memalingkan wajahnya membuat Aditya semakin kesal dibuatnya.
Ia kemudian menarik tangan istrinya itu meninggalkan pantai dan kembali ke Villa.
“Dit.....lepaskan, kita mau kemana. Aku belum selesai minta tanda tangannya?” Teriaknya dengan kesal.
Aditya tidak menghiraukan ucapan Kyra. Sedangkan Kyra berusaha menahan tubuhnya agar tidak ikut dengan Aditya. Karena kesal dengan penolakan istrinya, ia kemudian menggendong Kyra dibahunya.
“Dit....apa yang kamu lakukan. Malu dilihat orang?” pekiknya yang sudah berada di bahu suaminya.
Dari kejauhan, Aura melihat pemandangan mereka berdua. Hatinya sangat sakit, ia tidak menyangka jika Aditya bisa berbuat konyol didepan semua orang hanya karena seorang gadis.
“Dit....apa kamu begitu mencintainya. Aku bahkan tidak terlihat lagi dimatamu?” dalam hati Aura.
Aura kemudian berlari masuk ke Villa sebelah disusul dengan sahabatnya Santi. Didalam ia menangis mengingat kemesraan Aditya dengan Kyra.
“Hiks.....hiks...hiks.....hiks.....”
Santi memegang pundaknya mencoba menenangkannya.
“Tenanglah.....kamu pasti bisa mendapatkan pengganti Aditya yang bisa mencintaimu. Kalian memang tidak berjodoh, dia sudah menikah. Kamu tidak bisa masuk diantara mereka.” Ucapnya.
“Aku sungguh bodoh. Dulu aku meninggalkannya karena mengejar karirku. Saat menyadari kalau dia lebih penting dari semuanya, aku kembali ke Indonesia untuk mengharapkan cintanya lagi tapi setelah melihat dia berbuat konyol hanya untuk gadis itu, aku merasa sakit hati. Kalau saja....aku tidak meninggalkannya, mungkin aku yang sudah menikah dengannya.”
Santi kemudian memeluk sahabatnya itu mencoba menenangkannya.
“Tenanglah....Aura.”
Sementara di sebelah, Aditya langsung menurunkan Kyra disofa saat ia sudah berada di dalam kamar.
Aditya melingkarkan kedua tangannya didepan dadanya sambil menatap tajam istrinya.
“Ada apa?” tanya Kyra penasaran.
“Sedang apa tadi kamu senyum – senyum didepan mereka?” tanya Aditya dengan ekspresi kesalnya.
“Mereka hanya menanyakan tentang permainan tadi.”
“Berani sekali kamu mengutamakan orang daripada suami kamu sendiri. Seharusnya kan kamu mendatangiku duluan tapi malah bermain – main dengan mereka.” Ucapnya dengan kesal.
“Loh....gimana sih. Bukannya peraturannya memang begitu, setelah mendapat tanda tangan para senior yang lain, kita baru minta tanda tangan dari kamu. Kenapa sekarang berubah lagi?” Tanya Kyra dengan ekspresi bingung.
“Yah...pokoknya aku tidak suka kalau kamu senyum dan tertawa didepan mereka.”
“Kamu itu yah....marah – marahnya tidak jelas. Kayak orang cemburu saja.”
“Kalau ia.....terus kenapa?” ketusnya.
“Hah....” Kyra kaget mendengar ucapan Aditya.
Ia kemudian menutup mulutnya dengan tangannya karena menahan tawanya melihat wajah kesal suaminya.
“Apa aku terlihat lucu sekarang?” tanya Aditya dengan wajahnya yang masih kesal.
Kyra kemudian memegang kedua bahu Aditya dan mencium bibir suaminya dengan mesra untuk mengurangi amarah Aditya.
Kyra melepaskan ciumannya. Tiba – tiba Aditya menarik tubuh istrinya sampai tubuh Kyra menempel ditubuhnya.
“Kalau mau meredakan amarahku harusnya kamu melakukan hal yang lebih lagi. Bukan hanya ciuman seperti ini.” Ucapnya sambil memegang kepala Kyra.
Ia kemudian mencium istrinya setelah mengatakan itu. Ia mendorong tubuh Kyra sampai ke kasur. Ia membuka baju istrinya dan bajunya dan kembali menciumi seluruh jengkal tubuh Kyra. Kyra menikmati setiap ciuman yang diberikan suaminya itu.
Saat itu....mereka melakukan hubungan suami istri seperti yang biasa mereka lakukan.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah karena Like itu gratis.