
Aditya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya sambil mengibas - ngibaskan rambutnya. Ia berjalan menghampiri Kyra yang ada di tempat tidur dan membangunkan istrinya yang masih tidur nyenyak.
“Kyra.....ayo bangun.” panggil Aditya sambil memegang pundak istrinya.
Kyra membuka matanya secara perlahan, ia kaget melihat Aditya berdiri di depannya dengan keadaan telanjang dada.
“Apa – apaan sih orang ini, pagi – pagi sudah bikin jengkel. Terus tidak pakai baju lagi?” dalam hati Kyra yang kesal.
Kyra langsung bangun sambil melilitkan selimut di tubuhnya. Ia turun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Aditya yang berdiri di depannya.
“Ada apa dengannya.....kenapa dia mengabaikanku seperti itu?” gumamnya dengan ekspresi serius.
Aditya berjalan masuk ke dalam Ruang Gantinya dan berpakaian rapi. Setelah selesai pakai baju, ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Ia membuat sandwich untuknya dan Kyra, lalu mengambil susu di kulkas dan menuangkannya di gelas.
Ia letakkan semua sarapannya itu di atas meja dan menarik kursi lalu duduk sambil menunggu Kyra keluar kamarnya.
Tak lama kemudian, Kyra keluar kamarnya. Ia berjalan kearah pintu tanpa menengok melihat Aditya.
“Kamu mau kemana?” tanya Aditya penasaran.
“Aku mau ke kampus sama mami.” jawab Kyra dengan wajah kesalnya.
“Memangnya mami sudah datang.”
“Belum...”
“Kalau begitu....kamu sarapan dulu. Buat apa keluar menunggunya kalau orangnya belum datang?” ucap Aditya.
Kyra berjalan kearah Aditya dan langsung duduk di depannya.
“Ini makan” ucap Aditya sambil menyodorkan sandwichnya di depan Kyra.
Kyra hanya mengambil sarapannya tanpa mengatakan apa – apa pada Aditya. Ia memakan sandwich yang diberikan suaminya begitupun dengan Aditya, ia memakan sandwichnya sambil menatap Kyra yang tidak pernah sekalipun melihatnya.
“Kenapa dia tidak menanyakan tentang semalam. Apa dia tidak penasaran kemana aku pergi semalam. Dia ini sadar tidak sih kalau dia punya suami?” dalam hati Aditya.
Aditya kemudian mencari perhatian dengan mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
“Egehm....eghem....” sambil menatap Kyra tapi Kyra tidak melihatnya. Ia kembali melakukan aksinya itu.
“Egehm....eghem.” suaranya semakin keras.
Kyra langsung menatapnya dengan wajah kesalnya.
“Ada apa....tenggorokanmu sakit?” tanya Kyra dengan kesal.
“Apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Aditya dengan serius.
“Tidak ada” ketusnya.
Aditya mengerutkan keningnya melihat wajah kesal yang ditunjukkan Kyra padanya.
“Ada apa denganmu?” tanya Aditya penasaran.
“Aku tidak apa – apa”
“Terus kenapa kamu cemberut begitu?” tanya Aditya dengan serius.
“Huh....dasar laki – laki brengsek. Setelah memaksaku tadi malam, dia melupakan semuanya harusnya kan dia minta maaf padaku.” dalam hati Kyra.
“Aku bertanya padamu. Kenapa hanya diam saja?” tanya Aditya dengan tegas.
“Apa kamu tidak ingat tentang semalam.” jawab Kyra dengan ekspresi serius.
“Tentang semalam.... aku ingat semuanya, terus apa yang jadi masalahnya?”
“Dia ingat tapi tidak ingin minta maaf, dia sudah sangat melukai harga diriku sebagai istrinya.” dalam hati Kyra.
“Sudahlah.....jangan di bahas lagi.”
Kyra berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Tiba – tiba Aditya berdiri dan menarik tangannya.
Kyra menatap tajam suaminya dan menghempaskan tangannya.
“Aku tidak ingin mengatakan apa – apa lagi.”
Ia berjalan keluar Apartemennya tanpa menghiraukan Aditya.
“Apa dia marah karena aku memaksanya tapi kenapa dia harus marah, dia kan istriku atau aku mengatakan sesuatu yang membuatnya tersinggung saat aku mabuk. Aku benar – benar tidak mengingat tentang yang kukatakan padanya, aku hanya ingat kalau aku bercinta dengannya...mengingat kejadian tadi saat aku bangun membuatku merinding. Aku pikir sudah bercinta dengan wanita lain sambil membayangkan dia. Aku harus mengurangi minum alkohol, jangan sampai yang aku pikirkan terjadi.” gumamnya.
Kyra sekarang sedang menunggu kedatangan Nyonya Sintya datang untuk menjemputnya ke kampus. Tak lama kemudian, Nyonya Sintya datang bersama Pak Mustang. Pak Mustang memarkirkan mobilnya di depan Apartemen dan turun bersama Nyonya Sintya.
“Kenapa kamu menunggu disini?” tanya Nyonya Sintya.
“Tidak apa – apa mi” jawab Kyra.
“Mana Aditya?” tanya Nyonya Sintya sambil melihat ke dalam Apartemennya.
“Dia ada di dalam mi.” jawab Kyra.
Aditya keluar dari Apartemennya dan datang menghampiri istrinya dan ibunya yang sedang berdiri di depan Apartemen.
“Biar aku saja yang mengantarmu ke kampus, aku juga mau ke kampus.” ucap Aditya.
“Tidak usah....aku pergi sama mami saja.”balasnya dengan wajah cemberut.
“Kenapa......sudah tidak mau satu mobil lagi denganku?” ketusnya.
“Bukan begitu, tapi aku dan mami sudah janji duluan ingin ke kampus bersama lagipula mami mangantarku karena urusan kampus.”
Nyonya Sintya mengerutkan keningnya melihat Kyra dan Aditya bertengkar di depannya tanpa mempedulikan dirinya yang sedang berdiri di depan mereka.
“Sebenarnya apa masalahmu.....dari pagi kamu berwajah begitu padaku?” tanya Aditya dengan kesal.
“Bukankah aku sering memasang ekspresi begini di depanmu, kenapa sekarang kamu permasalahkan?”
“Karena kamu marah tanpa mengatakan alasannya.”jawab Aditya dengan kesal.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi”
Nyonya Sintya sudah tidak tahan melihat pertengkaran mereka.
“Cukup....kalian berdua itu pagi – pagi sudah bertengkar tidak jelas. Aditya kalau kamu punya masalah dengan istrimu bicarakan baik – baik jangan bicara kasar begitu.”
“Kenapa malah marah padaku, aku sudah bicara baik – baik padanya tapi balasannya begitu?” ketusnya.
“Sudah....kalau kalian ada masalah, bicarakan saat pulang nanti. Kalian harus ke kampus kan. Mami juga harus ngantar Kyra ke kampus” ucap Nyonya Sintya. “Ayo sayang....naik ke mobil. Tidak usah pedulikan dia.”
Kyra naik ke mobil Nyonya Sintya tanpa peduli dengan Aditya. Setelah naik mobil, Pak Mustang melajukan mobilnya meninggalkan Apartemen Aditya.
Sedangkan Aditya masih berdiri menatap kepergian mereka dengan kesal.
“Huh....mereka benar – benar cocok, satunya ratu drama dan satunya lagi ratu ngambek.”gumamnya dengan kesal.
Aditya naik ke mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju kampus.
Sedangkan di mobil Nyonya Sintya, ia tidak membahas tentang pertengkaran anak dan menantunya itu.
Bagi dia, itu adalah urusan rumah tangga yang tidak seharusnya ia ikut campur. Ia hanya diam tidak bicara pada menantunya untuk membuatnya tenang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di kampus Treeya. Nyonya Sintya langsung masuk bersama Kyra dan asistennya ke dalam ruang direktur untuk memperkenalkan Kyra sebagai menantunya. Ia disambut hangat oleh Direktur Kampusnya saat itu.
Nyonya Sintya mendaftarkan langsung menantunya itu pada Direktur Universitas Treeya.
Setelah selesai di kampus, Nyonya Sintya pergi belanja dengan Kyra untuk keperluan ospeknya besok. Mereka berdua bersenang - senang seperti ibu dan anak lalu mereka pulang ke Kediaman Sinatria untuk menjenguk neneknya karena Nyonya Besar selalu menanyakan tentang dirinya.
Bersambung.
Like, comment and Vote yah.