Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 20 Beautiful Romance



Keesokan paginya....Kyra pulang sekolah. Ia sekarang berada dirumahnya menunggu jemputan Pak Mustang karena kemarin ia sudah janji pada Nyonya Besar jika ia akan datang lagi hari ini dan ia sudah menghubungi Pak Mustang jika ia dijemput dirumah saja. Kyra sekarang tengah berada dikamarnya sambil menunggu Pak Mustang datang.


“Hari ini aku harus bertemu dengan anaknya Tante Sintya. Ya tuhan....kenapa aku harus diberi nasib seperti ini, kenapa harus dia ya. Terus apa reaksi orang itu saat tahu kalau yang akan menikah dengannya adalah aku, cewek yang dia tidak ingin lihat. Dosa apa yang telah aku lakukan dikehidupan laluku sampai tuhan mempersatukanku dengan orang mesum itu. Kalau saja aku tidak pernah bertemu dia sebelumnya mungkin aku dan dia bisa berteman. Tapi mengingat sejarah kami berdua satu bulan yang lalu, aku tak yakin kalau dia tidak akan murka saat melihatku. Seandainya aku punya pilihan lain, aku tidak mungkin memilih jalan ini. Ya Allah....berikanlah keajabainmu padaku hari ini, semoga dia lupa ingatan Ya Allah. Engkau maha segala – galanya kan. Kabulkanlah doaku yang mustahil ini Ya Allah. Amiiin” gumamnya sambil menatap langit – langit kamarnya. “Apa sekalian saja ya, aku shalat. Siapa tahu doaku terkabul. Haaaaa Kyra....Kyra....kamu sungguh bodoh. Minta doa yang tidak masuk akal” gumamnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Tiba – tiba bunyi klakson mobil Pak mustang didepan rumah Kyra. Kyra semakin gugup karena akhirnya ia bertemu dengan orang yang selalu ia anggap cowok mesum. Ia keluar dari rumahnya dan sudah melihat Pak Mus sudah berdiri membuka pintu mobil untuknya.


“Silahkan masuk nona”


“Terima kasih pak”


Kyra masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang begitupun dengan Pak Mustang, ia duduk didepan kursi supir. Pak Mustang melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Kediaman Sinatria. Sementara Kyra yang duduk dibelakang semakin gugup karena ia akan bertemu dengan Aditya.


“Bagaimana ini...kalau si mesum itu melihatku apalagi dia tahu kalau aku orang yang akan menikah dengannya pasti dia akan menendangku keluar dari rumahnya. Masih mendingan kalau dia menendangku keluar tapi bagaimana kalau dia menguburku hidup – hidup. Nasibku benar – benar kacau. Kemarin aku tidak sampai memikirkan semua ini, yang dipikiranku hanya kesembuhan Zahila. Tapi sekarang aku menggali lubang kuburanku sendiri” dalam hati Kyra sambil menatap jendela kaca mobil.


Mobil Pak Mustang sudah sampai di Kediaman Sinatria dan masuk kedalam pekerangan rumah. Tapi Kyra masih belum sadar kalau ia sudah berada tepat didepan rumah mewah bergaya barat itu.


“Nona..kita sudah sampai” ucap Pak Mus sambil menengok kearah Kyra. Tetapi Kyra masih termenung. “Nona...Nona Kyra” panggil Pak Mus keras membuyarkan lamunannya.


“Eh..ia pak. Ada apa?” tanya Kyra bingung.


“Kita sudah sampai nona”


“Apa...sudah sampai ya pak” dengan ekspresi kaget.


“Ia nona..”


Pak Mustang turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Kyra tapi Kyra seperti enggan untuk turun dari mobil.


“Ada apa nona...apa Anda baik – baik saja?” tanya Pak Mus khawatir.


“Saya baik – baik saja pak. Tapi saya mau bertanya sama bapak”


“Apa nona?” tanya Pak Mus.


“Apa anak tante Sintya ada dirumah?” tanya Kyra dengan penuh penasaran.


“Oh....Tuan Aditya. Dia masih belum pulang nona, mungkin sebentar lagi” jawab Pak Mustang.


"Untung saja dia belum datang." Gumamnya pelan.


“Ada apa nona?” tanya Pak Mustang dengan bingung karena melihat ekspresi Kyra yang sedikit gugup dan tak mau turun dari mobil.


“Tidak apa – apa pak”


Kyra lalu turun dari mobil dan masuk kedalam rumah bersama Pak Mustang. Ia langsung dibawa oleh Pak Mustang ke Ruang Keluarga, disana terlihat Nyonya Sintya dan Nyonya Besar tengah duduk menunggu kedatangannya. Nyonya Sintya langsung berdiri saat melihat Kyra datang.


“Kamu sudah datang Kyra” sambil berjalan kearah Kyra.


“Ia tante”


Nyonya Sintya langsung memegang tangan Kyra dan mengajaknya duduk disamping Nyonya Besar.


“Halo nek” sapa Kyra sambil mencium tangan Nyonya Besar.


“Ia nak.....bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Nyonya Besar.


“Lancar nek”


Nyonya Besar dan Nyonya Sintya terus mengobrol dengan Kyra, Nyonya Besar  menanyakan berbagai hal tentang semua yang dilakukan Kyra. Ia juga menanyakan tentang adik Kyra sampai mereka tak sadar jika mereka mengobrol selama dua jam. Tiba – tiba terdengar suara motor besar dari luar rumah.


“Sepertinya Aditya sudah datang bu.” ucap Nyonya Sintya yang tersadar dengan suara motor Aditya.


Kyra yang mendengar itu sangat terkejut, jantungnya sampai berdetak kencang karena sangat gugup dan sedikit takut. Sesaat kemudian, Aditya masuk kerumah dan berjalan menuju Ruang Keluarga.


“Nenek......aku sudah datang.” ucap Aditya yang sudah berdiri didepan neneknya.


Sementara Kyra berusaha menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.


“Kenapa kamu baru datang sekarang.... kami semua sudah menunggumu selama dua jam?” tanya Nyonya Besar dengan wajah sedikit kesal karena keterlambatan Aditya.


Aditya lalu duduk disamping kanan neneknya tapi ia masih tak sadar dengan keberadaan Kyra karena sejak tadi Kyra hanya duduk menunduk disamping kiri Nyonya Besar.


“Maaf nek.....Aditya sibuk kuliah.” sambil tersenyum pada neneknya.


“Huh...” sambil memalingkan wajahnya dari Aditya.


“Sudahlah bu....Aditya sudah minta maaf kan sama ibu. Ibu jangan marah lagi, mendingan ibu kenalin tuh Aditya sama Kyra.” ucap Nyonya Sintya.


“Baik nek” balas Aditya.


Ia langsung berdiri didepan Kyra sambil mengulurkan tangannya didepan Kyra yang masih menunduk.


“Halo...aku Aditya” dengan wajah datarnya.


Kyra yang mendengar suara Aditya langsung berdiri dan membalas uluran tangan Aditya.


“Kyra....” balas Kyra sambil mengangkat kepalanya dengan pelan – pelan.


Sontak saja membuat Aditya sangat terkejut dibuatnya.


“Kamu......kenapa kamu bisa disini” sambil melepaskan tangannya dari Kyra dan menunjuk wajah Kyra dengan ekspresi kaget.


Nyonya Besar terlihat bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan Aditya pada Kyra tapi tidak dengan Nyonya Sintya karena ia memang sudah tahu, ia hanya tersenyum melihat mereka berdua.


“Kalian berdua saling kenal?” tanya Nyonya Besar.


“Ia bu....Kyra itu pacarnya Aditya.” sahut Nyonya Sintya seakan tidak tahu kebohongan Aditya.


“Bukan nek....dia bukan pacarku.” sahut Aditya.


“Loh..bukannya kamu sendiri yang bilang pada Manda kalau Kyra pacarmu.”


“Mami menyelediki gadis tomboi ini?” tanya Aditya dengan ekspresi kesal didepan ibunya.


“Ia....mami tahu semua tentang Kyra makanya mami menjodohkanmu dengannya” jawab Nyonya Sintya.


“Tapi mi...dia ini gadis tidak benar”


“Darimana kamu tahu kalau dia gadis tidak benar?” tanya Nyonya Sintya dengan serius.


“Kalau aku beritahu mami jika pernah bertemu dengannya di Bar. Bisa – bisa gadis ini beritahu semua orang disini kalau aku pernah melecehkannya” dalam hati Aditya.


“Hei....kamu belum jawab pertanyaan mami?”


“Pokoknya dia ini gadis tidak benar” sambil menunjuk kearah Kyra tapi Kyra hanya diam saja karena tak ingin memperkeruh suasana.


“Huh...kamu tuh yang bukan pria baik – baik. Malah menyalahkan aku” dalam hati Kyra.


“Kamu tidak usah berpikiran negatif sama orang Aditya, hanya karena kamu menilai dari penampilannya saja. Kyra gadis baik – baik kok. Mami tahu semua tentang Kyra” jelas ibunya.


“Pokoknya Aditya tidak mau menikah dengan gadis tomboi ini...namanya saja perempuan tapi kelakuannya seperti laki – laki” ucap Aditya kesal.


“Idih...siapa juga yang mau menikah dengan orang mesum sepertimu. Kalau bukan Zahila....aku juga malas bertemu denganmu apalagi harus menikah” dalam hati Kyra.


“Sudah...kalian tidak usah bertengkar lagi...dan kamu Aditya, nenek sudah sangat menyukai Kyra. Jadi kamu tidak usah membantah ibumu lagi. Kami semua sudah sepakat kan kalau kamu akan menyetujui menikah dengan orang yang nenek pilihkan” ucap Nyonya Besar dengan serius.


“Tapi nek”


“Aditya...” panggil Nyonya Besar sambil memasang tatapan tajam pada Aditya.


Aditya tidak bisa lagi membantah neneknya itu.


“Baiklah...terserah nenek”


“Kalian semua....duduklah kembali...” perintah Nyonya Besar.


Mereka semua duduk kembali tapi kali ini Aditya duduk didepan Kyra sambil menatap tajam Kyra. Kyra juga melempar pandangan tajam pada Aditya.


“Apa?” dalam hati Kyra.


“Apa yang dilakukan gadis tomboi ini pada nenek sampai nenek sangat menyukainya. Dasar sialan?” dalam hati Aditya.


Tiba – tiba seorang pelayan memanggil mereka untuk makan. Meskipun belum waktunya makan malam tapi Nyonya Sintya sudah menginstrusikan para pelayannya untuk menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Mereka semua pergi ke meja makan. Nyonya Sintya berusaha mendekatkan Aditya dan Kyra dengan membuat mereka duduk berdampingan dimeja makan.


Bersambung.


Jangan lupa like and koment karena like itu gratis.


Terima kasih