Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 42 Beautiful Romance



Kyra dan Aditya sekarang sudah sampai di Indonesia. Perbedaan waktu Indonesia dan Amerika yang sangat besar membuat mereka sampai ke Indonesia pukul 1:00 siang esok harinya. Mereka di jemput langsung oleh Nyonya Sintya. Aditya saat itu terlihat kesal melihat ibunya, bagaimana ia tidak kesal. Semenjak ia pergi liburan sampai pulang pun semuanya di urus oleh ibunya itu.


Di dalam mobil.


“Bagaimana keadaanmu selama liburan disana sayang?” tanya Tante Sintya pada menantunya itu.


Kyra baru ingin menjawab ibu mertuanya tapi sudah di jawab oleh Aditya bahkan tidak sesuai dengan apa yang akan dikatakannya pada ibu mertuanya itu.


“Tidak baik” sahut Aditya dengan wajah kesalnya.


Kyra langsung melihat Aditya yang sedang duduk di depan bersama Pak Mustang dengan tatapan tajam.


“Kalian tidak bahagia disana” ucap Nyonya Sintya.


“Bahagia kok mi....Aditya hanya bercanda saja” balas Kyra.


“Siapa yang bercanda. Memang tidak baik kan?” sahut Aditya dengan kesal.


“Apa kamu marah gara – gara mami yang mengurus liburanmu?” tanya Nyonya Sintya.


“Huh....”


“Mami tuh hanya ingin membuat kalian saling mengerti satu sama lain makanya mami berbuat seperti itu, Dit” jelasnya.


“Sudahlah....jangan dibahas lagi. Kepalaku malah tambah pusing mendengarnya” ketusnya.


“Dit....kamu kok marah – marah begitu sih sama mami” ucap Kyra dengan kesal.


Aditya hanya diam saja mendengar Kyra yang kesal padanya. Ia tidak membalas ataupun menengok kearahnya.


“Sudah sayang.....biarkan saja” ucap Nyonya Sintya sambil mengelus kepala Kyra.


“Dia itu sudah keterlaluan mi”


“Sudah sayang...jangan diambil hati. Aditya memang seperti itu” ucap Nyonya Sintya.


Mereka sampai di Apartemen mewah milik Aditya, Kyra dan Aditya langsung turun dari mobil Nyonya Sintya. Ia hanya menurunkan jendela kaca mobilnya sambil melihat Kyra masuk tanpa turun dari mobil. Kyra tak lupa mencium tangan ibu mertuanya itu dan masuk bersama Aditya.


Setelah melihat Kyra dan Aditya masuk ke dalam, ia pergi dengan mobil yang dikendarai Pak Mustang.


Sedangkan Kyra dan Aditya sekarang sudah berada di dalam Apartemennya, Aditya langsung melempar tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya sementara Kyra masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.


Saat Kyra tengah mandi di kamarnya dan Aditya merebahkan tubuhnya di sofa. Tiba – tiba bel Apartemennya berbunyi, Aditya langsung membuka matanya dan mengerutkan keningnya.


“Siapa sih....siang - siang begini datang bertamu?” gumamnya dengan kesal.


Ia memaksakan tubuhnya bangun dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu Apartemennya itu.


Saat Aditya membuka pintu Apartemennya, ia kaget melihat ketiga temannya datang dengan membawa makanan dan minuman.


“Selamat siang kakak pertama” sapa Andi sambil tersenyum.


“Hai Dit...” sapa Bagas, sedangkan Rey hanya tersenyum saja sambil melambaikan tangannya.


“Sedang apa kalian disini?” tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.


“Tentu saja merayakan kepulanganmu bersama kakak ipar, terus merayakan dirimu yang sudah menikah” sahut Andi.


“Kami juga membawa beberapa minuman dan makanan” sambung Rey sambil mengangkat kantong plastik yang berisi minuman.


“Aku tidak butuh perayaan kalian. Cepat pergi sana” ketusnya.


“Kita itu sudah jauh – jauh datang kesini hanya untukmu tapi kamu malah menyuruh kami pulang” sahut Bagas.


“Cih....”


Pertemanan mereka memang tidak seperti pertemanan orang pada umumnya yang saling menghargai dan bicara sopan sesama temannya, mereka berbeda apalagi Aditya orangnya suka marah - marah. Biarpun mereka selalu bicara seperti itu terutama Aditya tapi mereka sudah berjanji tidak akan saling menghianati satu sama lain dan tidak akan bertengkar hanya dengan seorang gadis bahkan mereka tidak boleh jatuh cinta dengan gadis yang sama.


***


Setelah mandi, Kyra keluar kamarnya dan mencari Aditya. Ia melihat Aditya berdiri didepan pintu bersama teman – temannya tadi tapi Kyra tidak melihat jelas ketiga teman suaminya itu.


“Siapa Dit?” tanya Kyra penasaran.


Aditya kaget mendengar suara Kyra, ia langsung menengok kearah istrinya itu sedangkan Andi langsung menerobos masuk saat Aditya menengok pada istrinya.


“Hai kakak ipar....” sapa Andi sambil mengangkat rendah tangannya dan melambaikan tangannya itu pada Kyra. “Kami semua datang menyambutmu tapi kakak pertama malah mengusir kami, sepertinya dia tidak ingin mengenalkanmu pada kami, temannya sendiri”


Kyra hanya tersenyum mendengar ucapan Andi, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Andi saat itu.


Sedangkan Aditya mengerutkan keningnya melihat pakaian yang di pakai Kyra, baju kaos dengan celana pendek yang memperlihatkan pahanya yang putih. Ia langsung manghampiri Kyra dan mendorongnya masuk ke dalam kamar.


“Ada apa sih Dit?” tanya Kyra penasaran setelah berada di kamar.


“Ganti pakaianmu baru keluar. Jangan pakai celana seperti itu” ucap Aditya dengan ekspresi datarnya.


“Memang kenapa dengan celanaku, biasanya kan aku memang berpakaian seperti ini. Saat diluar juga seperti itu” ucap Kyra sambil melihat pakainnya.


“Aku bilang ganti ya ganti” ucap Aditya tegas.


“Ia...ia. akan aku ganti” balas Kyra dengan wajah cemberut.


“Ganti dengan celana yang panjang” ucap Aditya sambil berjalan keluar.


“Ia....dasar cerewet”


“Ada apa sih dengannya. Tiba – tiba melarangku pakai celana pendek begini. Wanita diluar sana juga banyak yang berpakaian sexi kan, aku juga dulu sering memakai celana pendek atau rok pendek keluar rumah.” Gumamnya dengan kesal.


Kyra pun berganti pakaian dengan setelan Hoody. Setelah berganti pakaian, ia langsung keluar dari kamarnya. Ia melihat Bagas, Rey dan Aditya sedang duduk di sofa, sedangkan Andi tengah asyik bermain Game ProVR. Kyra langsung menghampiri mereka semua.


“Eh...Kyra, ayo duduk sini.” sahut Bagas saat melihat Kyra.


“Terima kasih kak.” balas Kyra sambil melirik Aditya yang tengah sibuk dengan HP-nya. “Kalian ingin minum apa, biar aku buatkan?” tanya Kyra sambil tersenyum.


“Tidak usah, kami sudah bawa minuman dan makanan. Kamu bergabung saja dengan kami” sahut Bagas sambil tersenyum.


“Oh...oke. Tapi aku ambilkan piring dulu untuk kuenya.” ucap Kyra.


Kyra melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil piring. Bagas datang menghampirinya dengan membawa kuenya.


“Eh....kenapa kak?” tanya Kyra yang kaget melihat Bagas datang menghampirinya.


“Kuenya belum dipotong jadi aku bawa kesini untuk dipotong dulu” jawab Bagas.


“Oh....ia kak. Biar aku saja yang potongkan kuenya, kakak duduk saja bersama mereka”


“Tidak apa – apa Kyra, aku senang bisa bantu kamu”


“Ia kak”


Kyra meletakkan piringnya didepan Bagas dan mengambil pisau lalu memotong kue bolu yang berbentuk segiempat itu.


“Oyah Kyra....aku ingin bertanya padamu.”


“Tanya apa kak?”


“Kamu gadis yang pernah aku panggil untuk menjadi supir pengganti Aditya kan.”


“Kak Bagas tahu kalau itu aku padahal waktu itu kan aku sudah pakai topi untuk menutupi wajahku”


“Berarti kamu juga gadis yang pernah memukul hidung Aditya yah”


Hehehe.....Kyra tersenyum paksa karena ia merasa canggung ketahuan oleh Bagas. “Ia....itu saya. Tapi kenapa Kak Bagas bisa tahu semua masalahku dengan Aditya” ucap Kyra dengan wajah bingung.


“Aditya selalu membicarakan gadis yang selalu memukulnya itu tapi setelah dia dijodohkan denganmu, dia tidak membicarakan gadis yang memukul hidungnya itu tapi malah terus membicarakan gadis yang akan dinikahinya. Aku langsung bisa menebak kalau orang yang memukulnya itu adalah orang yang sama yang akan dia nikahi.”


“Kalau Kak Bagas sudah tahu, kenapa malah menayakannya lagi padaku?” tanya Kyra penasaran.


“Maaf....aku hanya ingin memastikannya darimu dan ternyata tebakanku benar kalau gadis itu adalah kamu”


“Kak Bagas sepertinya sangat dekat dengannya”


“Ia....kami berempat berteman sejak kecil, tapi aku orang yang paling mengerti sifat dia”


“Aku salut sama Kak Bagas karena bisa tahan selama bertahun – tahun dengan si kakek tua itu”


“Kenapa kamu bilang dia kakek tua?” tanya Bagas sambil tersenyum.


“Ya....karena dia setiap hari hanya marah – marah seperti kakek – kakek yang sudah pikun”


Bagas langsung tertawa mendengar ucapan Kyra. Kyra juga ikut tertawa karena tidak bisa menahan tawanya itu melihat Bagas. Aditya, Andi dan Rey langsung menengok kearah mereka dengan tatapan aneh. Terutama Aditya, ia memasang wajah kesalnya pada kedua orang yang sedang berada di dapur. Kyra dan Bagas langsung berhenti tertawa saat mereka tersadar dengan tatapan ketiga orang yang tak jauh darinya itu.


“Hei......sedang apa kalian disana. Cepat kesini” teriak Aditya pada mereka berdua.


Bagas lalu mengambil piring yang berisi kue di meja depan Kyra.


“Ayo Kyra....kita kesana. Suamimu sudah terlihat ingin memakan orang jika kita masih disini” ucap Bagas sambil tersenyum.


“Ia...kak”


Bagas berjalan menghampiri ketiga temannya itu yang sedang sibuk bermain game disusul Kyra di belakangnya.


“Apa yang kalian bicarakan sampai tertawa begitu?” tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya karena penasaran ditambah kesal melihat tawa mereka tadi.


“Tadi Kyra menceritakan tentang kakek yang sering memarahinya. Aku sampai tertawa mendengarnya”


“Astaga.....dia malah membahas itu dengannya, semoga saja dia tidak bilang kalau kakek yang aku maksud adalah dia” dalam hati Kyra.


“Sejak kapan kamu punya kenalan kakek?” tanya Aditya penasaran.


Bagas dan Kyra saling melihat satu sama lain.


“Oh..itu kakek di sebelah rumahku yang dulu” sambil tersenyum paksa.


Tiba – tiba Rey melepaskan alat game yang ada di kepalanya dan melihat kearah Kyra.


“Kyra...kamu ingin main game seperti ini” ucap Rey.


“Tidak usah kak. Aku tidak tahu cara main game seperti itu, kakak saja yang main.” Balas Kyra sambil tersenyum.


“Coba saja. Ini seru, kami semua sudah mencobanya tadi” sambung Andi.


Kyra melihat kearah Aditya mencoba meminta persetujuannya.


“Kenapa malah melihatku, main saja kalau kamu ingin main?” ucap Aditya dengan wajah datarnya.


“Astaga kakak ipar, kamu takut padanya” sahut Andi.


Rey tersenyum seringai melihat Aditya, ia mulai ingin menggoda temannya itu.


“Dit....tega sekali kamu pada istrimu sendiri, jadi kamu selalu menindasnya selama ini” ucap Rey.


“Kapan aku menindasnya?”


“Buktinya....dia main game harus melalui persetujuanmu dulu” ucap Rey.


“Aduh....kenapa mereka bicara saling sindir begini sih di depanku. Apa mereka berempat benar bersahabat dari kecil” dalam hati Kyra.


“Sudahlah.....tidak usah bicara begitu di depan Kyra. Kalian tidak lihat kalau Kyra terlihat bingung melihat cara bicara kalian yang seperti bukan teman” ucap Bagas.


“Sini....” panggil Aditya sambil menepuk bantal sofa disampingnya. “Kamu duduk saja melihat mereka main game. Tidak usah ikut main dengan mereka”


“Baiklah”


Kyra pun duduk di samping Aditya sambil menyaksikan mereka bermain. Mereka tertawa lepas menyaksikan permainan game yang sangat menguras pikiran dan tenaga itu. Hanya Aditya saja yang tidak menyaksikan permainan game mereka tapi malah tersenyum melihat istrinya yang tertawa lepas.


Bersambung.


Tinggalkan like yah setelah membaca karena like kalian membuat Author semangat menulis. Like itu gratis loh.


Vote juga yah kalau kalian suka dengan Kyra dan Aditya.