Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 55 Beautiful Romance



Aditya berjalan masuk ke dalam Villa dengan wajah yang penuh amarah. Ia melihat semua mahasiswa baru sedang duduk di lantai sambil menunduk sedangkan Anggota BEM yang lainnya berada di depan mereka semua bersama dengan Rey. Rey dan Andi langsung datang menghampiri Aditya ketika Aditya masuk ke dalam Villa.


“Dit...kamu sudah datang. Bagaimana dengan kakak ipar?”tanya Rey dengan serius.


Aditya tidak mengubrisnya dan hanya berjalan kearah para mahasiswa yang sedang duduk dilantai. Semua orang sudah mulai ketakutan karena melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan Aditya. Mereka tidak ada yang berani melihatnya begitupun dengan Anggota BEM-nya.


Rey dan Andi juga sudah mulai takut melihat ekspresi Aditya apalagi saat Rey bertanya padanya tapi Aditya malah mengabaikan dirinya, itu pertanda jika dia sudah sangat marah.


Saat berdiri di depan mereka semua, Aditya mulai berbicara tanpa menghiraukan Rey dan Andi yang ada di sampingnya.


“Semuanya yang menyaksikan perkelahian tadi duduk bersama mereka tanpa terkecuali.”teriak Aditya dengan tegas.


“Ketua....apa kami juga harus ikut duduk dengan mahasiswa baru itu?”sahut Sandi.


“Aku bilang semuanya....kamu tidak dengar..hah.”teriaknya dengan marah.


Dengan cepat, mereka semua duduk bergabung dengan para mahasiswa baru itu.


Andi melihat teriakan Aditya yang sangat keras mencoba menenangkannya.


“Kak...tenanglah.”sahut Andi.


Aditya langsung melihat Andi dengan tatapan marah.


“Apa aku menyuruhmu untuk bicara?”tegasnya.


Andi langsung diam saat melihat tatapan marah Aditya. Aditya kembali melihat kearah mereka yang sedang duduk di depan mereka.


“Siapa yang bernama Melia disini?”tanya Aditya dengan tegas


Mereka semua terus menunduk diam tak berani melihat wajah murka Aditya. Sedangkan Melia yang mendengar namanya disebut sudah mulai ketakutan. Ia tidak berani menunjukkan dirinya saat itu.


“Aku bilang....siapa yang bernama Melia disini?”teriaknya dengan keras membuat semua orang kaget.


Melia yang sangat ketakutan berdiri dengan pelan sambil menunduk. Aditya yang melihat Melia berdiri langsung menatapnya dengan tatapan marah.


“Kau yang bernama Melia.”ucap Aditya dengan nada kerasnya.


“I...ia senior.”balas Melia dengan nada gemetar karena takut.


“Siapa yang memasukkanmu menjadi Anggota BEM?”tanya Aditya dengan tegas.


Melia hanya diam menunduk tanpa menjawab pertanyaan Aditya. Aditya semakin geram karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Melia.


“Hei....apa kamu tidak punya telinga. Hah.”teriaknya dengan keras membuat tubuh Melia kaget.


Sandi yang duduk di belakang Melia, berdiri sambil mengangkat tangannya di depan Aditya.


“Itu saya ketua.”sahut Sandi.


Aditya menatap dingin Sandi, ia kemudian memberikan isyarat dengan menggerakan jari telunjuknya kearah Sandi menyuruhnya ke depan. Sandi pun berjalan ke depan Aditya, saat Sandi sudah berada di depan Aditya. Aditya langsung melayangkan tinjunya dengan keras.


Bruuk....suara benturan keras dari Sandi yang jatuh tersungkur ke lantai karena menerima pukulan keras dari Aditya. Semua yang menyaksikan itu sangat ketakutan. Apalagi Melia, ia sangat takut melihat Sandi dipukul tanpa ia tahu alasan sebenarnya.


“Bangun.”tegasnya yang menyuruh Sandi bangun.


Saat Sandi bangun dan berdiri, Aditya kembali memukul wajahnya sampai membuat ujung bibirnya berdarah. Sandi merasa bingung, kenapa ia sampai dipukul padahal bukan ia yang bertengkar.


“Ketua.....saya tidak tahu kenapa saya sampai dipukul?”tanya Sandi sambil memegang wajahnya yang habis dipukul.


“Oooo......kamu ingin tahu alasannya.”ucap Aditya dengan wajah dinginnya.


“Ia....ketua, karena saya merasa tidak punya salah sama sekali.”


“Kesalahanmu sangat besar....karena kamu sudah memasukkan perempuan ****** itu menjadi Anggota BEM.”


“Tapi ketua...saya....


“Diam....”teriaknya dengan keras. “Aku paling tidak suka ada orang yang membantahku. Kalau kamu tidak suka aku pukul, kamu beritahukan pada ayahmu yang direktur kampus itu. Aku malah senang jika berurusan dengannya dibanding dirimu yang lemah.”ucapnya dengan tegas.


“Tidak ketua....saya minta maaf. Ini kesalahan saya, tolong jangan beritahukan pada ayah saya. Saya mohon.”ucapnya sambil menunduk memohon.


“Cepat pergi dari sini. Kalau tidak, aku akan menghabisimu disini.”teriaknya dengan marah.


“Baik....saya pergi.”


“Kau....cepat kesini.”pintanya sambil menggerakkan jari telunjuknya kearah Melia.


Karena takut Melia langsung berjalan dengan pelan kearah Aditya. Aditya tidak tahan melihat Melia berjalan dengan pelan kearahnya.


“Cepat kesini.....lambat sekali.”teriaknya.


Melia kaget dan langsung berjalan cepat kearah Aditya. Setelah berada di depan Aditya, ia hanya menunduk tanpa mengangkat kepalanya melihat Aditya. Sedangkan Aditya sudah sangat marah melihat Melia di depannya. Ia ingin sekali memukul Melia dengan tangannya sendiri tapi ia berpikir jika Melia itu adalah seorang perempuan.


“Harus ku apakan dirimu yah.”ucapnya dengan wajah dinginnya yang tidak tahan untuk memukul Melia.


“Maaf senior....apa saya punya kesalahan?”tanya Melia dengan nada gemetar.


Aditya langsung memegang dagu Melia dengan sangat erat untuk melihat dengan jelas wajah orang yang sudah menghina Kyra. Melia sampai meringis karena genggaman Aditya yang sangat erat.


“Kesalahanmu sangat banyak......kamu berani menghinanya di depan banyak orang sampai melukai wajahnya.”ucapnya dengan marah.


Aditya kemudian melepaskan tangannya dari dagu Melia. Melia yang merasa tidak terima dengan Aditya yang membela Kyra mulai berbicara pada Aditya dengan tubuh yang gemetar.


“Maaf senior......saya tidak menghinanya. Saya hanya mengutarakan pendapat mahasiswa disini yang malu karena kelakuan gadis yang bersama senior itu. Tapi dia malah marah pada kami semua.”ucapnya dengan suara pelan.


“Beraninya kau menyangkal. Siapa kau bisa bicara seperti itu padanya?”ucapnya dengan marah.


“Saya...hanya..


“Diam....jangan menguji kesabaranku yah.”teriaknya


Melia langsung diam melihat Aditya berteriak padanya.


“Hei....kalian berdua, cepat kesini.”panggil Aditya sambil menunjuk kearah kedua teman Melia yang duduk di dekat Santi.


Alini dan Sarla mulai ketakutan dengan Aditya yang tiba – tiba memanggilnya.


“Senior..... memanggil kami berdua.”sahut Sarla.


“Ia kalian.....cepat kesini.”tegasnya.


Dengan sigap Alini dan Sarla berjalan kearah Aditya. Saat mereka berdua berdiri di depan Aditya. Aditya langsung menyuruh mereka memukul Melia.


“Tampar dia.”pinta Aditya dengan tegas sambil menunjuk kearah Melia.


Alini dan Sarla sangat syok mendengar Aditya menyuruhnya menampar Melia begitupun dengan Melia.


“Senior...kami...


“Aku bilang tampar dia.”teriaknya dengan keras.


Alini dan Sarla kaget mendengar teriakan Aditya yang begitu keras di depannya.


“Kalian tidak mau menamparnya kan. Baiklah, kalau begitu kalian berdua lebih memilih dikeluarkan dari kampus ternyata.”


“Jangan senior.....tolong jangan keluarkan kami. Kami akan melakukannya sesuai perintah senior.”ucap Sarla yang ketakutan.


“Kalau begitu......ayo mulai. Kalian akan berhenti menamparnya setelah aku bilang berhenti.”


“Baik senior..”sahut Alini dan Sarla secara bersamaan.


“Maaf Melia....kami tidak ingin dikeluarkan dari kampus, aku harap kamu mengerti dengan kami.”dalam hati Sarla.


“Melia....aku minta maaf, tapi aku tidak ingin dihukum orang tuaku gara – gara aku dikeluarkan dari kampus.”dalam hati Alini.


“Kenapa kalian diam saja.....cepat mulai?”teriak Aditya.


Alini dan Sarla langsung menampar Melia secara bergantian. Sedangkan Melia hanya diam saja ditampar oleh kedua temannya. Ia ingin sekali melawan kedua temannya itu tapi ia takut kalau Aditya malah semakin marah dan akan semakin kejam padanya.


Alini dan Sarla menampar Melia sampai wajah Melia kemerahan dan berdarah. Semua orang yang menyaksikan itu sangat ketakutan. Mereka hanya diam saja tanpa menolong Melia, seperti saat Kyra di hina – hina oleh mereka bertiga.


“Cukup....”teriak Aditya.


Alini dan Sarla langsung berhenti saat mendengar teriakan Aditya. Mereka berdua merasa kasihan melihat Melia memegang wajahnya yang kemerahan. Melia sangat kesakitan saat itu.


Bersambung.


Jangan Lupa Like yah karena Like itu gratis