
Kyra yang sudah puas mengobrol dengan neneknya, keluar dari kamarnya setelah melihat neneknya itu tertidur. Ia turun kebawah dan melihat para pelayan tengah sibuk menyiapkan beberapa cemilan dan minuman. Ia datang menghampiri pelayannya itu yang sedang sibuk didapur.
Para pelayan yang melihat Kyra mendatanginya, langsung menyapanya.
“Selamat siang Nyonya Muda.” Sapanya bersamaan sambil membungkuk hormat.
“Ia....siang” balasnya sambil tersenyum.
“Apa Anda butuh sesuatu, nyonya?” tanya salah satu pelayannya.
“Oh...Aku hanya ingin minum. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian.” Ucapnya sambil berjalan ke meja mengambil air.
Tapi salah satu pelayan menuangkannya air digelas.
“Silahkan....ini airnya nyonya.” Ucapnya sambil menyodorkan gelas yang berisi air pada Kyra.
“Terima kasih.....tapi kenapa kalian sibuk sekali?” tanya Kyra penasaran.
“Oh....ini untuk teman – teman Tuan Muda yang ada dibelakang.” Jawab pelayan itu.
“Memang apa yang mereka lakukan dibelakang?” Tanya Kyra penasaran.
“Tuan Muda sedang main futsal dengan temannya dibelakang...nona.” sahut Maria yang berjalan dari arah belakangnya.
“Eh....Maria.” Balas Kyra sambil berbalik melihat Maria.
“Anda ingin makan apa....nona. Biar saya yang buatkan?” tanya Maria dengan serius.
“Tidak usah Maria....” Jawab Kyra sambil tersenyum.
“Kalau Anda butuh sesuatu, Anda tinggal panggil saya saja tidak usah turun sendiri mengambilnya, nona.”
“Tidak apa – apa Maria, aku bisa sendiri kok.”
“Itu sudah tugas saya melayani Anda kalau Anda disini, nona.”
“Ia....terima kasih.”
Kyra melihat salah satu pelayan memegang nampang yang berisi makanan untuk Aditya. Ia kemudian mengambil makanan itu dari tangan pelayannya.
“Sini mba.....aku bantu bawa makanannya ke belakang.” Ucap Kyra sambil mengulurkan kedua tangannya.
“Tidak usah Nyonya Muda.....kami saja.” Balasnya dengan suara pelan.
“Tidak apa – apa kok. Kalian bawa yang lain saja.” Ucap Kyra sambil tersenyum kepada pelayannya itu.
"Baik....Nyonya Muda." Balasnya sambil menunduk hormat.
Kyra kemudian membawa makanannya itu ke belakang.
Saat dibelakang, Kyra sudah melihat Aditya dan teman – temannya sedang asyik main futsal. Ia menaruh makanannya di meja yang letaknya tak jauh dari lapangan futsal.
Aditya melihat istrinya yang sedang berdiri tak jauh darinya. Ia menghampiri istrinya itu dengan keringat yang bercucuran diwajahnya. Karena melihat keringat Aditya yang terus menetes, Kyra pun langsung melapnya dengan tangannya sendiri.
“Kamu sudah selesai mengobrol dengan nenek.” Tanya Aditya sambil memegang kepala istrinya.
“Ia....” balasnya sambil mengusap keringat diwajah Aditya.
“Sudah....memangnya kamu tidak jijik melapnya dengan tanganmu sendiri.” Ucap Aditya dengan santai
“Kenapa harus jijik sama suami sendiri. Ini tuh romantis sayang?”
“Kamu belajar romantis darimana, kamu itu kan istri yang sama sekali tidak romantis?” Tanya Aditya dengan santainya.
“Jahat sekali sih ngomongnya.” Jawabnya dengan ekspresi cemberut.
“Aku hanya bercanda." Ucapnya sambil memegang kepala Kyra. "Sudah....ambilkan saja handuk disana.” Tunjuknya disebuah ruangan ganti yang ada dibelakangnya.
“Hah.....kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Kalau aku tahu kan, aku tidak susah melapnya dengan tanganku?”
“Cih....dasar. Baru saja bilang romantis tapi sekarang sudah menyesal melakukannya.”
“Siapa yang menyesal....aku tidak menyesal kok. Aku senang melakukannya...cuma aku tidak tega melihatmu berkeringat begitu. Pasti tidak nyaman. Kalau ada handuk kan keringatmu bisa cepat hilang.”
“Ia.....cepat sana ambilkan aku handuk.” Pintanya sambil tersenyum.
“Baiklah...”
Tiba – tiba Rey berteriak dari lapangan futsalnya.
Aditya langsung berlari setelah mendengar suara teriakan Rey sedangkan Kyra berjalan masuk ke ruang ganti untuk mengambil handuk untuk suaminya.
Mereka kembali bermain futsal bersama sementara Kyra duduk manis melihat mereka main futsal dengan handuk yang dipegangnya.
Ia tersenyum melihat mereka yang tengah asyik bermain....
Para pelayan masuk membawa beberapa makanan dan minuman untuk Aditya dan teman – temannya.
“Nyonya Muda.....kami membawa camilan untuk Tuan Muda dan temannya.” Sapa salah satu pelayannya yang membawa makanan.
“Ia...simpan saja disini. Nanti mereka makan kalau sudah selesai main.” Balasnya.
“Baik....Nyonya Muda.” Sambil menganggukkan kepalanya.
“Oyah....dimana Maria?” Tanya Kyra pada pelayannya itu.
“Maria sedang mengganti sprai tempat tidur Anda, nyonya.” Jawab salah satu pelayannya itu.
“Oh....ia. Kalian boleh pergi. Terima kasih karena sudah mengantar makanan untuk mereka.”
“Itu memang tugas kami....Nyonya Muda. Kalau begitu kami permisi.”
“Ia....”
Aditya melihat makanan dan minuman sudah memenuhi meja bundar yang ada di tempat istirahat mereka. Ia menghentikan permainannya dan menyuruh semuanya istirahat tanpa terkecuali.
Mereka datang menghampiri Kyra yang tengah duduk saat itu. Ia langsung berdiri dan melap keringat suaminya dengan handuk yang dipegangnya.
“Kamu pasti kelelahan yah.” Tanya Kyra sambil melap keringat diwajah suaminya.
“Eem” balasnya dengan nafas yang masih terengah – engah karena kelelahan.
Ketiga temannya duduk di kursi sambil meneguk air botol yang sudah disediakan para pelayan tadi.
“Kami permisi dulu Tuan Muda.” Ucap salah satu pelayannya yang ia ajak bermain tadi.
“Eh....kenapa kalian mau pergi. Minuman kalian kan sudah disiapkan disini?” sahut Kyra sambil melihat kearah pelayannya itu.
“Kami cukup mengambil air botol saja Nyonya Muda.” Balasnya sambil meraih botol air minum yang ada di meja.
“Terus.....bagaimana dengan minumannya. Mereka tadi menyiapkan juga untuk kalian?” Tanya Kyra dengan serius.
“Kalian duduk saja menghabiskan minumannya baru pergi.” Sahut Aditya dengan serius.
“Baik Tuan Muda.” Sapanya bersamaan.
Dengan sigap mereka meneguk minumannya sampai habis membuat Kyra dan ketiga teman Aditya sampai terkejut melihat mereka.
“Kami sudah meminumnya....kami permisi Tuan Muda.”
Mereka pun pergi meninggalkan Aditya dan teman – temannya yang masih diam melihat mereka.
“Dit......apa kamu pernah memukul para pelayanmu itu. Mereka takut sekali sampai tidak ingin duduk bersamamu walau sedetikpun.” Sahut Bagas sambil tersenyum mengejek.
“Tidak pernah.” Balasnya dengan datar.
“Kasihan mereka yah. Pasti berat hidup dengan majikan yang pemarah seperti dirimu.” Sahut Rey sambil tersenyum.
“Cih....”
Aditya kemudian duduk dikursi sambil menarik tubuh istrinya duduk dipangkuannya.
“Dit....apa – apaan sih. Aku bisa duduk dikursi.”
“Diamlah.....duduk saja disini.”
“Aku malu tahu dilihat mereka.” Bisiknya dengan wajah malunya.
“Kenapa harus malu dengan mereka?” Tanya Aditya dengan santai.
“Ia Kyra....tidak usah malu. Mulai sekarang kami semua akan berusaha membiasakan diri melihat kemesraan kalian.” Sahut Rey sambil tersenyum.
Mereka kemudian bercanda bersama sambil tertawa sampai membuat gelak tawa mereka terdengar Tuan Agung yang saat itu baru pulang dari kantornya.
Tuan Agung sempat melihat mereka dibelakang yang sedang asyik tertawa. Ia tersenyum senang melihat gelak tawa mereka yang mengisi suasana rumahnya yang sunyi. Ia kemudian naik keatas kamarnya untuk berganti pakaian.
Bersambung.