Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 47 Beautiful Romance



Pukul 8:00 malam, Aditya duduk di sofa sambil menunggu Kyra pulang. Ia sudah mulai jengkel karena sudah lewat makan malam tapi istrinya itu belum kembali juga. Terakhir ia bertemu dengan Kyra saat tadi pagi ia pergi ke kampus.


“Dia kemana sih.....jam segini belum pulang. Kalau dia ke tempat kerjanya, dia pasti akan langsung pulang karena sudah kusuruh bosnya untuk membuat dia tidak bekerja lagi di sana?” gumamnya sambil terus menatap jam tangannya.


Di luar, terlihat mobil Nyonya Sintya berhenti di depan Apartemennya. Kyra langsung turun dari mobil ibu mertuanya itu. Ia habis bertemu dengan neneknya di Kediaman Sinatria.


Saat ingin masuk ke dalam Apartemennya, Nyonya Sintya menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Kyra.


“Kyra.....sayang” panggilnya.


“Ia mi...” balas Kyra sambil menengok kearah Nyonya Sintya.


“Sini sebentar.”


Kyra berjalan menghampiri ibu mertuanya itu.


“Ada apa mi?” tanya Kyra.


Nyonya Sintya mengeluarkan botol yang berisi pil penunda kehamilan.


“Ambil ini.”


Kyra mengambil pil yang diberikan ibu mertuanya itu. Sekali lihat, bisa tahu kalau itu adalah pil KB. Tapi Kyra merasa penasaran maksud dari ibu mertuanya memberikan pil KB padanya.


“Ini apa mi?” tanya Kyra.


“Itu pil KB sayang.....kalau kamu tidak siap hamil, kamu tinggal makan itu. Mami tidak ada maksud apa - apa, mami hanya tidak tega kalau harus melihatmu hamil saat kuliah apalagi kalian masih muda. Mami ini pernah diposisi kamu, jadi mami bisa mengerti perasaanmu.”


“Terima kasih mi...” balas Kyra yang meneteskan air matanya karena terharu dengan kasih sayang ibu mertuanya itu.


“Loh....kenapa kamu menangis?” tanya Nyonya Sintya.


“Aku seperti mendapatkan kasih sayang seorang ibu lagi. Mami sangat menyayangiku, terima kasih mi.”


Nyonya Sintya turun dari mobil dan langsung memeluk menantunya itu dengan erat.


“Kyra....kalau kamu merasa tertekan dengan Aditya, kamu curhat saja pada mami, anggap saja mami adalah ibumu sendiri. Mami itu ada di pihakmu tapi satu hal yang harus kamu ingat, mami tidak akan pernah setuju kalau sampai kalian berpisah. Jadi kalau kalian punya masalah sebaiknya dibicarakan baik – baik yah.”


“Ia mi” jawab Kyra sambil mengangguk.


“Jangan lupa katakan pada Aditya tentang pil KB yang mami berikan yah. Kamu tanyakan dulu padanya sebelum memakannya, bagaimana pun juga dia adalah suamimu. Kalau dia tidak setuju, kamu tidak usah memakannya.....yah.” ucapnya sambil memegang pipi Kyra.


“Ia mi.”


“Masuklah”


Nyonya Sintya pergi setelah melihat Kyra masuk ke dalam Apartemennya.


***


Saat sampai, Kyra langsung membuka pintu Apartemennya. Ia masuk ke dalam dan sudah melihat Aditya sedang duduk di sofa sambil melihatnya dengan tatapan tajam.


“Darimana saja jam segini baru pulang?” tanya Aditya dengan wajah datarnya.


“Habis menjenguk nenek.” balas Kyra sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Aditya mengikuti Kyra masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi marah karena merasa dirinya diabaikan. Kyra langsung meletakkan tasnya dan memasukkan pil KB-nya ke dalam laci.


Aditya langsung merebut pil KB yang di pegang Kyra.


“Ini apa?” tanya Aditya sambil menunjukkan botol pil-nya.


“Itu Pil KB....” jawabnya dengan santai.


“Jadi selama ini kamu makan ini” ucap Aditya yang sudah mulai marah.


“Aku belum makan pil-nya....aku baru dapat itu tadi.”


“Jangan bohong....kamu pasti sudah lama memakannya. Ya kan.”ucapnya dengan tegas.


“Aku benar – benar baru mendapatkannya, Dit”


Aditya langsung melempar pil KB-nya itu di dinding sampai obatnya semua tergeletak di lantai. Kyra sampai kaget melihat Aditya seperti itu.


“Kamu pikir, aku tidak bisa mengurusmu saat kamu hamil, jadi kamu memakan itu.” ucap Aditya yang sangat kesal.


“Bukan begitu Dit.....aku baru berencana memakannya setelah meminta persetujuanmu, lagipula kita itu masih muda. Tidak seharusnya aku hamil disaat kita masih kuliah.”


Kyra mulai menangis melihat Aditya yang membentaknya dengan keras apalagi ia tidak percaya dengan ucapannya dan hanya marah – marah saja.


“Ooooo....jangan – jangan kamu berencana menyusul mantanmu itu yang kamu kejar di bandara setelah kamu dapat uang banyak dari mami. Ya kan.” ucap Aditya sambil menyeringai.


Plak.....Kyra langsung menampar Aditya dengan keras membuat Aditya semakin marah dan langsung mencium Kyra dengan paksa. Kyra menggigit bibir Aditya sampai berdarah.


“Kamu berani menggigitku.” teriaknya sambil mengusap darah di bibirnya.


Kyra hanya menatapnya dengan penuh air mata.


“Apa aku begitu di matamu. Meskipun kita menikah karena terpaksa tapi aku sama sekali tidak punya pikiran seperti itu. Harusnya aku yang marah, kamu membayangkan wanita lain disaat kamu berhubungan denganku. Aku punya harga diri Dit. Kamu terus mengingatkanku untuk tidak berhubungan dengan pria lain tapi kamu sendiri apa.”


“Kamu bilang aku membayangkan wanita lain.”


“Ia...” tegasnya sambil menatap Aditya.


Aditya hanya menyeringai sambil menatap Kyra. Ia langsung memasang wajah dinginnya itu pada Kyra.


“Keluar...” teriaknya dengan mata melotot.


Kyra langsung berlari keluar setelah dibentak keras oleh Aditya. Ia mengambil dompetnya dan meninggalkan Apartemen Aditya sambil menangis terseduh - seduh. Ia naik taksi menuju rumah lamanya.


Sedangkan Aditya duduk di sofa sambil memegang kepalanya mencoba menenangkan dirinya.


Ia sangat marah hanya karena Kyra mengabaikannya seharian. Ia bahkan kesal karena Kyra pulang terlambat apalagi saat melihat pil KB yang di pegang Kyra. Ia sangat kecewa dengan Kyra yang tidak ingin memiliki anak darinya, apakah Kyra benar – benar tidak menyukainya sampai tidak ingin hamil anaknya. Begitu pikirnya.


Ia duduk lama mencoba menenangkan dirinya. Saat amarahnya sudah reda. Ia sadar jika perbuatannya tadi karena ia benar – benar sudah jatuh cinta pada Kyra sampai membuatnya sangat marah saat diabaikan Kyra, saat Kyra pulang terlambat dan saat ia melihat pil KB yang di pegang istrinya.


Ia tidak ingin diperlakukan seperti itu pada wanita yang sudah memenuhi hatinya. Ia sangat sakit hati saat diperlakukan seperti itu pada Kyra makanya ia sangat marah pada istrinya itu.


“Aditya...kamu benar – benar sudah dibutakan cinta. Aku harus minta maaf atas perbuatan yang kulakukan tadi, jangan sampai dia minta cerai gara – gara aku membentaknya.” gumamnya.


Ia berjalan keluar kamarnya dan mencari keberadaan Kyra di dalam Apartemennya.


“Kyra.....Kyra....” panggilnya.


Aditya tidak melihat keberadaan istrinya itu.


“Sial....dia benar – benar pergi.” gumamnya.


Ia berlari mengambil kunci motornya di kamar dan langsung berlari keluar. Ia buru – buru keluar Apartemennya dan langsung mengendarai motor Harley-nya menelusuri jalan mencari Kyra.


Selama satu jam, ia mengendarai motornya mencari Kyra tapi tidak menemukan keberadaannya. Ia berhenti lalu menelfon ibunya.


“Halo Dit...ada apa?” tanya Nyonya Sintya.


“Apa Kyra ada disitu mi?”


“Tidak ada sayang.”


“Mami tahu tidak alamat rumah lamanya.”


“Dit....apa yang terjadi. Kamu melakukan apa pada istrimu?”


“Aku tidak melakukan apa – apa, dia hanya kesal padaku. Berikan saja alamatnya.”


“Mami kirimkan lewat pesan yah. Kamu cepat cari dia, kalau sudah ketemu, kamu hubungi mami.”


“Ia...”


“Mami tunggu loh Dit....5 menit kamu harus hubungi mami kalau tidak mami akan buat perhitungan padamu.”


“Ia....mi” balasnya dengan suara keras.


Aditya langsung menutup telfonnya dan memasukkan HP-nya dalam kantong jaketnya.


“Kalau dia benar – benar tidak tahan denganku, bagaimana?. Aditya.....kamu bodoh sekali. Buat apa juga kamu mengatakan padanya dulu, kalau sudah tidak tahan dia boleh minta cerai.” gumamnya.


Tiba - tiba HP-nya berbunyi, ia menerima pesan dari ibunya. Ia langsung naik  ke motornya menuju rumah lama Kyra.


Bersambung.


Jangan lupa Like....Commment.....and Vote yah.