
Sore hari pukul 3:00.....Kyra sekarang berada dimobil Nyonya Sintya menuju Rumah Sakit Sejati. Kyra habis dijemput Nyonya Sintya ditempat kerjanya karena tadi malam saat ia menemani adiknya bermalam di Rumah Sakit, ia ditelfon jika besok sore Zahila akan dibawa ke Amerika. Saat itu Kyra sangat bahagia, ia memberitahukan kabar baik itu pada adiknya dan tentu saja adiknya sangat senang tapi ia juga merasa sedih karena kakaknya tidak ikut bersamanya.
Didalam mobil
“Tante....apa Kyra boleh bicara sesuatu?” tanya Kyra dengan serius.
“Katakanlah....”
“Kyra belum memberitahu Zahila tentang pernikahanku dengan anak tante. Apa boleh kalau tante merahasiakannya sampai dia selesai dioperasi karena aku tidak mau kalau dia berpikir aku menikah karena dia, dan pastinya saat dia tahu dia tidak akan mau untuk operasi” sambil menatap Nyonya Sintya.
“Ia....kamu tenang saja sayang. Tante tidak akan memberitahu Zahila tentang pernikahanmu dengan Aditya”
“Terima kasih banyak tante” sambil tersenyum.
“Apa kamu sudah memberitahu tentang keberangkatannya sore ini ke Amerika?” tanya Nyonya Sintya sambil melihat Kyra.
“Sudah tante...tadi malam aku menyuruhnya untuk siap – siap. Mungkin saat ini dia sudah siap untuk berangkat”
“Oh baguslah kalau begitu jadi kita tidak akan terlambat ke Bandara”
“Oh ia tante.....nanti Zahila ditemani siapa kesana?” tanya Kyra penasaran karena ia takut adiknya itu merasa takut atau kesepian apalagi itu pertama kalinya Zahila naik pesawat.
“Tenang saja sayang....Zahila ditemani beberapa pengawal laki – laki. Tante juga sudah menyiapkan seorang perawat pribadi yang lebih muda agar dia tidak kesepian disana. Kamu lihat kan beberapa mobil yang mengikuti kita dari belakang” sambil menengok kebelakang. Kyra juga menengok kebelakang mengikuti Nyonya Sintya. “Dokter Aris juga akan menemani Zahila karena dia adalah dokter yang merawat Zahila”
“Benarkah....jadi Dokter Aris juga ikut” sambil tersenyum lebar karena mendengar Dokter Aris ikut.
“Ia sayang....”
“Terima kasih tante”
Mereka pun sampai di Rumah Sakit......Dokter Aris dan Direktur Rumah Sakit sudah menunggu mereka didepan karena tadi Pak Mustang sudah memberitahu mereka jika mereka sudah dijalan menuju Rumah Sakit. Zahila juga sudah ada didepan Rumah Sakit. Ia duduk dikursi roda yang dipegangi oleh Dokter Aris.
Pak Mustang turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Nyonya Sintya dan Kyra. Mereka kemudian turun dari mobil. Kyra yang melihat adiknya langsung datang menghampirinya begitupun dengan Nyonya Sintya.
“Sayang....ini Tante Sintya yang sudah menolong kita. Dia yang mencarikan donor jantung untukmu” sambil memegang lengan Nyonya Sintya yang berdiri disampingnya.
“Halo tante....terima kasih banyak atas pertolongannya. Zahila sangat bahagia, semoga semua yang tante lakukan pada kami dibalas Allah swt. Amiiin”
“Terima kasih sayang.....tante sangat senang bisa menolongmu” sambil membungkuk dan memegang kepala Zahila dengan lembut. Ia kembali berdiri tegak dan melihat kearah Dokter Aris dan Direktur Rumah Sakit saat itu.
“Terima kasih ya dok....selama ini sudah merawat Zahila dengan baik. Anda juga dengan senang hati bisa menemani Zahila ke Amerika”
“Tidak masalah nyonya...itu memang sudah tugas kami sebagai dokter apalagi saya dokter yang merawat Zahila jadi saya harus ikut menemaninya walaupun tugas saya hanya menemani saja” ucap Dr. Aris.
“Saya juga selaku Direktur Rumah Sakit Sejati sangat berterima kasih atas bantuan nyonya terhadap Rumah Sakit kami” sambil menunduk hormat.
“Ia pak....itu tidak masalah buat saya. Saya disini hanya perantara saja, semua yang menentukan adalah Allah” sambil tersenyum. “Kalau begitu kami permisi pak ya karena Zahila harus berangkat secepatnya”
“Baik nyonya...silahkan” balas Direktur Rumah Sakit.
Mereka lalu naik mobil, Zahila naik mobil dibantu salah satu pengawal yang akan mengikutinya sampai ke Amerika.
“Tak heran jika Aditya itu orangnya sombong dan sesuka hatinya ternyata keluarganya benar – benar kaya sampai pesawat sendiri punya jadi mau kemana saja terserah dia” dalam hati Kyra.
“Kyra.....Kyra...” panggil Nyonya Sintya membuyarkan lamunannya.
“Eh..ia tante” melihat kearah Nyonya Sintya.
“Sudah waktunya sayang.....Zahila berangkat ke Amerika”
“Ia tante...” balasnya. Ia lalu jongkok didepan Zahila yang tengah duduk dikursi roda. “Sayang hati – hati disana ya. Setelah ujian kakak selesai kakak akan menyusul kamu ke Amerika” sambil mengusap pipi Zahila dengan mata yang sudah menangis.
“Jangan menangis kak....Zahila pasti baik – baik saja disana. Kakak juga jaga diri ya disini” sambil memegang kepala Kyra dengan kedua tangannya.
“Ia sayang....”
“Kyra.....” panggil Nyonya Sintya. Kyra pun berdiri kembali.
“Ia tante....”
“Kamu tenang saja ada banyak yang menemani Zahila kok.....saat sampai dibandara sana mereka akan disambut oleh beberapa dokter. Om Agung juga masih disana mengurus bisnisnya, tante sudah bilang padanya untuk menjemput Zahila dan ada Dokter Aris juga yang menemani Zahila jadi kamu tidak usah khawatir” jelasnya.
“Ia tante......terima kasih banyak”
“Sama – sama sayang” sambil mengelus kepala Kyra. Ia lalu jongkok didepan Zahila. “Semoga cepat sembuh ya Zahila....maaf ya kalau tante tidak bisa menemanimu kesana” sambil tersenyum pada Zahila.
“Terima kasih tante....tante sangat baik.” Membalas senyuman Nyonya Sintya. Nyonya Sintya kembali berdiri dan melihat kearah Dokter Aris yang memegang kursi roda Zahila.
“Terima kasih ya dok karena sudah membantu saya”
“Tidak masalah nyonya.....saya yang seharusnya berterima kasih pada nyonya karena sudah menjadikan saya dokter pribadi keluarga Anda” sambil menunduk hormat. Kyra yang mendengar itu kaget karena yang ia tahu mereka berdua tidak saling kenal tapi ia tak berani memotong pembicaraan orang dewasa.
“Tidak masalah dok.....saya melakukannya karena Anda sudah lama mengenal Zahila dan dia mungkin nyaman jika bersama dengan Anda”
“Ia nyonya”
Setelah mengobrol mereka pun naik pesawat dibantu oleh beberapa perawat dan pengawalnya. Dokter Aris juga sudah ikut naik pesawat. Kyra yang melihat adiknya naik pesawat menangis, ia melambaikan tangannya pada adik kesayangannya itu sambil tersenyum lebar dengan air mata mengalir dipipinya. Nyonya Sintya memeluk pundak Kyra mencoba menenangkannya yang menangis melihat kepergian Zahila.
Pintu pesawat pun ditutup dan pesawat sudah mulai jalan untuk lepas landas. Nyonya Sintya dan Kyra juga ikut meninggalkan bandara pribadi Keluarga Sinatria bersama Pak Mustang asisten Nyonya Sintya.
Nyonya Sintya dan Kyra masuk mobil....didalam mobil Kyra memikirkan adiknya dan Dokter Aris.
“Kenapa Dokter Aris mengatakan kalau dia menjadi dokter pribadi keluarga Tante Sintya ya.....apa dia dijadikan dokter pribadi karena adikku atau memang ia sudah menjadi dokter pribadi keluarga Sinatria dari dulu. Aku mau menanyakan pada Tante Sintya tapi aku tak berani menanyakan padanya tentang keluarganya karena aku masih belum menjadi bagian dari keluarga mereka....Aaah sudah lah nanti saja kalau waktunya tepat baru aku tanyakan padanya” sambil menatap luar jendela kaca mobil.
Sebenarnya sih Dokter Aris sudah disewa oleh Nyonya Sintya untuk menjadi dokter pribadi Zahila karena hanya Dokter Aris yang Zahila kenal dengan akrab. Nyonya Sintya tidak mau jika ia mengambil dokter lain yang tidak Zahila kenal untuk menemaninya ke Amerika membuatnya tidak nyaman. Cuma Nyonya Sintya tidak memberitahu Kyra karena takutnya Kyra merasa tidak enak pada Dokter Aris dan dirinya.
Bersambung
Jangan lupa like and koment ya karena like itu gratis.