Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 58 Beautiful Romance



Kyra masih berada di teras atap bersama Bagas. Ia masih mengobrol tentang Aditya dan dirinya.


“Sepertinya aku salah karena sudah marah padanya tadi.”ucap Kyra sambil menatap Bagas.


“Apa sekarang kamu sudah mengerti dengan perasaannya padamu?”tanya Bagas dengan serius.


Kyra menganggukkan kepalanya. “Ia kak....terima kasih karena sudah menceritakannya padaku. Tapi kenapa Kak Bagas bisa sebaik ini padaku.”


Bagas tersenyum mendengar ucapan Kyra lalu kembali berbicara padanya.


“Kita sama Kyra....aku juga anak yatim piatu. Aku punya orang tua dan seorang adik perempuan. Tapi mereka meninggal dalam kecelakaan mobil tiga tahun yang lalu, bedanya aku masih punya tante meskipun aku tidak tinggal bersama dengannya. Dia ada di Amerika mengurus bisnisnya. Apalagi kamu mengingatkanku dengan Biangka adikku. Kalau dia masih hidup mungkin dia bisa menjadi temanmu karena kalian seumuran.”jelasnya.


“Maaf kak karena aku sudah mengingatkanmu dengan kenangan yang menyakitkan.”balas Kyra dengan ekspresi rasa bersalahnya.


“Tidak masalah, aku memang ingin mengatakannya padamu. Kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.”


“Terima kasih karena sudah menganggapku adik, aku merasa bahagia mendengarnya.”


“Ia....”balasnya sambil tersenyum melihat Kyra. “Oyah Kyra.....cita – cita kamu apa?”tanya Bagas.


“Cita – cita yah”balasnya sambil berpikir. “Kalau cita – cita dari kecil sih....mungkin jadi seorang penyanyi.”


“Pantas saja kamu dulu jadi penyanyi Bar ditempatku. Ternyata itu hobimu”


“Ia kak.”


“Tapi sepertinya kamu harus melupakan cita – citamu itu.”


“Ia....aku tahu. Pasti Adit melarangnya kan. Aku belum memulainya saja tapi aku harus menguburnya. Lagipula itu hanya sekedar cita - cita saja dari kecil. Sejak adikku sakit cita - cita itu berubah menjadi hobi. Aku hanya bertekad untuk menjadi pegawai kantoran biasa. Tapi.....semua itu harus kulupakan sekarang.”ucapnya sambil menunduk pasrah.


"Tidak apa - apa Kyra, masih ada aku dan Aditya. Kalau Aditya sampai menelantarkanmu, kan masih ada aku yang menganggapmu sebagai adikku. Kamu bisa datang padaku kapanpun, aku selalu siap mendengarkan keluh kesahmu."ucap Bagas sambil memegang bahu Kyra.


“Terima kasih kak....."balasnya sambil tersenyum. "Oyah kak.....aku masih bingung dengan kalian berempat.”


“Bingung kenapa?”tanya Bagas.


“Aku sering mendengar kalian menyebut kakak pertama atau adik keempat. Itu kenapa kalian bisa punya nama panggilan seperti itu?”tanya Kyra penasaran.


“Oh....itu. Itu semua ide Rey waktu kita pertama kali berteman. Dia ingin persahabatan kami punya arti yang akan selalu diingat meskipun Aditya tidak suka dengan nama panggilan itu tapi Rey tetap memanggilnya dengan sebutan kakak pertama.”


“Berarti Adit yang paling tua diantara kalian yah.”


“Oh....bukan. Nama panggilan itu diberikan beradasarkan keahlian kami saat main futsal, karena Aditya paling jago main futsal makanya dia dipanggil kakak pertama. Aku dan Aditya itu seumuran. Kalau Andi memang masih muda apalagi dia sepupu Aditya jadi dia yang paling sering memanggil Aditya kakak pertama.”jelasnya.


“Aku mengerti sekarang, aku pikir nama panggilan itu diurut dari yang paling tua ternyata hanya untuk menunjukkan keunikan kalian. Kalian berempat sungguh aneh.”ucapnya sambil tersenyum.


Bagas hanya membalas dengan senyuman sambil melihat kearah Kyra. Lalu ia mengajak Kyra masuk ke dalam.


“Ayo kita masuk....nanti kamu masuk angin lagi. Suamimu pasti marah – marah padaku karena membiarkanmu berdiri disini.”ucap Bagas sambil menarik bahu Kyra.


“Ia..kak.”balasnya sambil tersenyum.


Bagas dan Kyra masuk ke dalam setelah mengobrol lama di teras. Kyra tidak marah lagi pada suaminya bahkan ia akan menuruti semua permintaan suaminya itu jika suatu hari ia dilarang menjadi wanita karir dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus keluarganya.


***


Bagas mengantar Kyra menuju kamar Aditya.


Setelah mengantarnya, ia berpamitan pada Kyra untuk bergabung bersama yang lainnya di Villa sebelah.


“Kyra....aku pergi ke sebelah dulu yah. Nanti aku panggilkan Aditya datang menemanimu.”


“Tidak apa – apa. Mungkin dia sudah tidak sibuk lagi.”


“Terserah Kak Bagas lah.”balasnya sambil tersenyum.


“Aku pergi yah.”


“Ia kak”


Bagas pun pergi meninggalkan Kyra yang masih berdiri di depan pintu kamar Aditya. Setelah Bagas pergi, Kyra masuk ke dalam kamar. Ia langsung melemparkan tubuhnya dikasur sambil memejamkan matanya. Tubuhnya sangat lelah karena seharian tidak istirahat, ia pun tertidur pulas tanpa memperbaiki posisi tidurnya dengan baik.


***


Bagas yang sudah berada di depan Villa, langsung masuk ke dalam mencari Aditya. Saat melihat Andi dan Aditya sedang duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Ia langsung menghampirinya.


“Dit....”panggilnya.


Aditya membuka matanya dan melihat Bagas sedang berdiri di depannya.


“Ada apa?”tanya Aditya dengan serius.


“Kyra sudah tenang sekarang. Kamu bisa menemaninya sekarang, biar aku dan Andi yang mengawasi anak – anak.”


"Dia ada dimana sekarang?"tanya Aditya.


"Dia ada dikamarmu."


“Baiklah.....aku akan pergi sekarang.”ucap Aditya sambil berdiri dari tempat duduknya.


Setelah Aditya pergi, Andi langsung menghela nafasnya dengan panjang. Bagas merasa aneh dengan Andi apalagi tadi ia hanya diam saja waktu Aditya masih ada.


"Ada apa denganmu?"tanya Bagas.


"Kak....kamu itu darimana saja sih. Kakak pertama tadi marah sampai tidak ada yang bisa menenangkannya. Cuma kamu saja yang bisa menenangkan dia. Aku saja sampai dibentaknya."ucapnya


"Pantas saja tadi waktu aku datang, kamu hanya diam saja disampingnya tanpa bicara, ternyata kamu takut sama dia."ucap Bagas sambil tertawa mengejek Andi.


"Cih....sudahlah, kamu malah menertawakanku."ucapnya dengan kesal melihat Bagas tertawa.


"Dari ceritamu sepertinya saat dia marah tadi pasti ekspresinya ingin memakan kalian semua. Ah...sayang sekali aku tidak bisa melihat amarahnya itu. Sudah berapa tahun yah."ucap Bagas sambil tersenyum.


"Cih....kamu malah menikmatinya."


"Sudahlah.....aku tidak bercanda lagi. Ayo kita keluar. Kasihan Rey tidak ada yang menemaninya."


"Baiklah...."


Bagas dan Andi pun keluar untuk bergabung dengan Rey dan yang lainnya.


Saat di pantai, Bagas dan Andi sudah melihat Rey menghukum mereka dengan menyuruhnya merayap.


Setelah mereka kelelahan, Rey menyuruh Anggota BEM yang lain untuk memulai acara Api unggunnya sebagai tanda pembukaan Ospek mereka dimulai. Sesekali mahasiswa melihat kearah Villa tempat penginapan Aditya dengan yang lainnya. Mereka mencari keberadaan Kyra karena mereka ingin minta maaf padanya atas perbuatan mereka yang menghinanya.


Tentu saja karena mereka takut bermalam di pantai yang akan membuat mereka kedinginan sampai jatuh sakit. Jika saja mereka diberikan tenda atau pengalas, mungkin mereka tidak terlalu mempedulikannya tapi karena Aditya menyuruh mereka tidur tanpa persiapan apa – apa mereka sangat khawatir dan takut.


Sementara Melia dan kedua temannya meninggalkan tempat itu dengan mengendarai taksi yang sudah dipesan Melia. Perasaannya saat itu, kecewa, marah dan tidak terima karena dirinya di keluarkan dari BEM ditambah dipaksa pulang oleh Aditya.


Bersambung.


Jangan lupa Like yah karena Like itu gratis. Author semangat kalau kalian Like.