Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 13 Beautiful Romance



Aditya sekarang tengah berada dikampus Treeya, ia sedang bermain biliar di Ruangan tempat biasa ia berkumpul dengan teman – temannya itu, sebut saja dengan Base camp karena tempat itu memang seperti Base Camp. Lengkap dengan tempat tidurnya, sofanya dan lain – lainnya. Semuanya ada disitu.


***


Sejak tadi ia bermain biliar sendiri tapi tak bisa fokus. Ia selalu memikirkan tentang neneknya yang menyuruhnya untuk menikah apalagi ia harus menikahi wanita yang ia tidak kenal. Meskipun Aditya orang yang suka main wanita, suka melakukan apa yang ia mau tapi jika menyangkut masalah pernikahan, ia tidak bisa anggap enteng karena baginya pernikahan itu hanya satu kali dalam seumur hidup. Jadi jika ia harus menikah maka ia harus menikah dengan wanita yang dicintainya tapi apalah daya, wanita yang ia cintai pergi ke luar negeri meninggalkan ia hanya demi karirnya.


Disaat ia masih tengah bermain, tiba – tiba ketiga temannya masuk dan menghampirinya.


“Kamu bermain sendiri” sahut Rey sambil duduk disofa.


“Apa kamu tidak lihat kalau aku sendiri. Malah tanya lagi?” ketusnya.


“Ada apa denganmu. Wajahmu terlihat marah sekali. Adik ketiga kan hanya bicara seadanya?” tanya Bagas yang berada disamping Rey.


Aditya langsung meletakkan Stik Billiarnya lalu berjalan kearah mereka. Ia langsung melemparkan tubuhnya ke sofa.


“Haaaaaaa....aku lagi bad mood” sambil merenggangkan tubuhnya.


“Ada apa kakak pertama?” tanya Andi.


“Di umur semuda ini, aku harus bertanggung jawab pada anak orang” ucapnya.


Sontak saja membuat ketiga temannya itu kaget. Mereka langsung menatap kearah Aditya. Mereka menunggu penjelasan maksud dari ucapan Aditya tapi Rey tiba – tiba menanyakan hal yang tak terduga.


“Kamu menghamili anak gadis orang” sahut Rey.


Bagas dan Andi secara bersamaan menatap tajam kearah Rey begitupun dengan Aditya.


“Ada apa. Memangnya pertanyaanku salah?” tanya Rey membenarkan dirinya.


Bagas dan Andi kembali menatap Aditya dengan tatapan mencurigakan.


“Tenanglah....aku tidak sekejam itu sampai menghamili anak orang” jelas Aditya pada ketiga temannya itu.


“Lalu kenapa kamu tadi bilang harus bertanggung jawab, kalau bukan menghamili terus apalagi. Ya kan” sahut Bagas sambil melihat Rey dan Andi.


“Apa diotak kalian itu hanya ada pikiran kotor?” tanya Aditya ketus.


“Kami tidak berpikiran kotor kawan tapi hanya mengatakan fakta saja. Kalian kan sering meniduri para gadis diluar sana” balas Rey.


“Hei...aku memang sering tidur dengan para gadis murahan itu tapi sebelum meniduri mereka, aku sudah mengatakan jelas pada mereka jika mereka tidak boleh hamil. Lagian aku memberikan mereka banyak uang” jelas Aditya.


“Lalu apa yang kakak pertama maksud dengan bertanggung jawab?” tanya Andi.


Aditya hanya diam sambil merebahkan kepalanya disofa sambil memandang langit - langit diruangan itu sementara ketiga temannya melihat kearahnya menunggu jawaban dari pertanyaan Andi.


“Hei....apa jawabanmu?” tanya Bagas.


“Aku akan menikah dengan gadis yang tidak kukenal”


“Apa...” teriak ketiga temannya dengan wajah terkejut.


“Jangan kaget begitu....” ucap Aditya sambil memejamkan matanya yang masih menyenderkan kepalanya disofa.


“Bagaimana kita tidak terkejut.....kamu akan menikah. Seorang Aditya yang suka main perempuan?” tanya Bagas.


“Hei...kamu jangan bicara begitu kakak kedua. Dia main perempuan kan hanya melampiaskan sakit hatinya pada Aura” sahut Rey.


Sontak saja membuat Aditya dan kedua temannya itu terkejut mendengar perkataan Rey. Aditya membuka matanya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kakak pertama kamu mau kemana?” tanya Andi.


“Pulang” teriaknya sambil membuka pintu.


Bagas dan Andi langsung menatap tajam Rey setelah melihat Aditya pergi.


“Kenapa kamu harus menyebut nama Aura sih?” tanya Andi.


“Memangnya salah dengan ucapanku tadi. Tidak kan. Dia itu harus menerima kenyataan kalau si Aura meninggalkannya hanya demi mengejar karirnya sendiri. Wanita seperti dia itu tidak pantas dia ingat terus kan” jelas Rey.


“Sudahlah jangan berdebat lagi. Mendingan kita main billiar sekarang” ucap Bagas sambil menepuk punggung kedua temannya itu.


Sementara ditempat lain, Kyra sedang sibuk melayani pelanggannya yang sedang mengantri untuk membeli Bolu Cukke. Sejak ia datang tadi, toko Bolu Cukke itu sudah dipenuhi oleh para pelanggan setianya. Bagaimana tidak, karena itu satu – satunya toko yang menjual Bolu Cukke di Kota itu apalagi banyak yang suka dengan Bolu Cukke yang dibuat oleh bosnya itu. Kyra sudah berbulan – bulan bekerja ditoko itu atas rekomendasi dari Ivan.


 ***


Saat tengah sibuk melayani pelanggan, datanglah Aditya yang juga ingin memesan Bolu Cukke untuk neneknya karena itu adalah salah satu kue kesukaan neneknya. Kyra yang melihat Aditya langsung menunduk dan bersembunyi dibawah. Salah satu teman kerjanya bingung dengan tingkah Kyra yang aneh.


“Hei ada apa denganmu. Kenapa kamu bersembunyi?” tanya salah satu teman kerjanya yang bernama Sindy.


“Huussstt” sambil meletakkan jari telunjuknya dibibirnya. “Jangan berisik” ucapnya dengan suara pelan.


“Kamu bersembunyi dari siapa Kyra?” tanya Sindy sambil ikut berjongkok disamping Kyra.


“Dari iblis.....sebaiknya kamu bantu aku layani para pelanggan. Kalau kak Mira cuma sendiri kan kasihan”


“Eem oke”


Teman kerjanya yang bernama Sindy itu kembali berdiri dan membantu Mira yang sejak tadi sibuk membantu para pelanggan.


Aditya sudah berdiri didepan Sindy dan Mira. Mereka berdua melayani Aditya yang memesan satu kotak Bolu Cukke untuk neneknya. Aditya mencoba berbicara pada Sindy.


“Hai nona....sini” sambil menjentikkan jemarinya didepan Sindy. Sindy pun memajukan kepalanya mencoba mendengarkan apa yang dikatakan Aditya.


“Bilang pada temanmu yang dibawah itu. Kalau dia tidak usah bersembunyi seperti itu” ucapnya dengan nada keras.


Ia memang sengaja berbicara keras supaya Kyra mendengarnya. Gayanya sih kayak bisik – bisik gitu sama Sindy tapi tetap saja ucapannya itu bisa didengar oleh seisi toko.


Sontak saja orang yang dimaksud Aditya itu langsung berdiri didepannya seolah – olah tidak ada yang terjadi. Ia bahkan berusaha tidak melihat wajah Aditya. Sedangkan Aditya hanya menatapnya dengan tatapan tajam. Ia tidak mengatakan apa – apa dan langsung keluar dari toko itu. Ia masih melihat Kyra yang tidak ingin menatapnya dan hanya sibuk melayani pelanggan.


“Apa sekarang dia mengabaikanku. Huh dasar gadis tidak tahu terima kasih. Dimana – mana selalu ada dia. Apa dia sangat mencintai uang sampai semua tempat ia selalu datangi untuk bekerja?” gumamnya sambil menaiki motor besarnya.


Ia lalu meninggalkan toko kue itu dengan wajah kesal. Sementara Kyra masih sibuk didalam toko. Sindy mulai berbicara padanya tentang Aditya.


“Hei....apa dia pacarmu yang berusaha kamu hindari itu?” tanya Sindy.


“Pacar” sambil menengok kearah Sindy. “Jangan asal bicara deh. Dia itu bukan pacarku tapi sumber masalahku” ucapnya dengan nada sedikit kesal.


“Biasa ajah dong. Jangan memasang wajah kesalmu itu. Itu jelek sekali” balasnya.


“Huh....”


“Tapi dari wajahmu itu sepertinya kamu itu sangat kesal ya padanya” tanya Sindy dengan penasaran.


“Bukan kesal lagi tapi aku sangat benci padanya” balas Kyra.


“Wah...Kyra....benci sama cinta itu beda tipis loh. Jangan sampai kebencianmu itu turun ke hatimu” ucap Sindy sambil tersenyum menggoda teman kerjanya itu.


“Huh...cinta kamu bilang. Idih...ngebayanginnya saja buatku mual”


“Iyakah” sambil menyenggol tubuh Kyra.


“Hai apa – apaan sih kamu. Sudahlah jangan bicara lagi. Kalau bos dengar kita bicara bisa dikurangi lagi gaji kita” ucapnya sambil sibuk memasukkan kuenya kedalam kantong plastik.


“Oke....Nona Kyraku yang cantik”


Mereka pun kembali sibuk dan tidak membicarakan tentang Aditya lagi karena Kyra juga sudah muak mendengar teman kerjanya itu terus menanyakan tentang dirinya dengan Aditya. Sindy juga tidak ingin mengganggu Kyra lagi karena ia melihat wajah Kyra yang sudah mulai marah mendengar pertanyaannya itu.


Bersambung