
Kyra masih menangis histeris sambil memeluk tubuh kaku Nyonya Ambar. Sedangkan para dokter hanya diam melihat Kyra seperti itu.
“Nenek....hiks.....hiks....hiks...”
Aditya datang menghampiri istrinya yang tengah menangis keras.
“Sayang.....jangan menangis lagi. Nenek pasti sedih kalau melihatmu menangis. Ayo lepaskan pelukanmu dari nenek.” Ucapnya pelan sambil menarik tubuh istrinya.
Kyra semakin erat memeluk tubuh Nyonya Ambar.
“Kyra....lepaskan tubuh nenek sekarang.” Ucap Aditya sambil berusaha menarik tubuh istrinya.
Nyonya Sintya yang melihat itu semakin sedih. Ia terus menangis sedih melihat menantunya tidak ingin melepaskan pelukannya dari neneknya.
Aditya terus berusaha menarik tubuh Kyra, karena tidak tahan melihat Kyra yang seperti itu. Ia akhirnya berteriak didepan istrinya.
“Kyra....cukup. Lepaskan nenek sekarang, kamu seperti itu hanya membuatnya tidak bisa pergi dengan tenang.”
Nyonya Sintya datang menghampiri menantunya sambil memeluknya dengan erat. Kyra pun melepaskan pelukannya dari tubuh neneknya dan memeluk erat ibu mertuanya. Aditya sebenarnya masih sangat sedih dengan kepergian neneknya tapi ia berusaha kuat karena ada dua wanita didepannya sekarang yang harus ia tenangkan.
Aditya kembali menenangkan istrinya.
“Sudah....biarkan nenek pergi. Kalau kamu menangis, dia hanya merasa sedih dan tidak tenang disana. Oke.” Ucapnya sambil mengelus kepala istrinya.
Kyra hanya mengangguk dengan wajahnya yang penuh air mata.
Para Dokter kembali membawa tubuh Nyonya Ambar keluar Rumah Sakit dan langsung dimasukkan ke mobil Ambulance.
Mobil Ambulance meninggalkan Rumah Sakit menuju Kediaman Sinatria disusul dengan Aditya, Kyra dan Nyonya Sintya.
Ketika sampai dirumah....mereka sudah disambut oleh beberapa pelayan dengan pakaian hitam ditubuhnya. Mereka berpakaian hitam setelah mendengar kabar kematian Nyonya Besar.
***
Tubuh Nyonya Besar dibawah masuk ke dalam rumah dan diletakkan dikasur yang sudah disediakan para pelayan di sebuah Ruangan luas yang terlihat kosong. Tidak ada prabotan rumah yang menghiasi ruangan itu.
Nyonya Sintya mengajak Kyra untuk mengganti bajunya dengan pakaian hitam untuk menghormati orang yang sudah meninggal.
Tak lama kemudian....Kyra turun kebawah bersama dengan Nyonya Sintya dengan wajahnya yang terus diam tanpa bicara sedikitpun, begitupun dengan Nyonya Sintya.
Orang – orang mulai berdatangan ke rumah Kediaman Sinatria setelah mendengar berita kematian Nyonya Ambar. Termasuk ketiga teman Aditya, Aura, Santi dan Lea juga hadir saat itu.
Tuan Agung yang baru datang dari luar negri langsung mendatangi ibunya sambil menangis sedih. Setelah melepaskan kesedihannya itu, ia duduk bergabung dengan istrinya.
***
Tiba waktunya tubuh Nyonya Besar dimakamkan....beberapa orang mengangkat tubuh Nyonya Ambar untuk dimandikan. Nyonya Sintya ikut bersama mereka, setelah selesai dimandikan dan dibungkus kain putih, tubuhnya kemudian dishalatkan.
Selama satu jam lebih....tubuh Nyonya Ambar sudah siap untuk dimakamkan. Mereka semua mengantar Nyonya Ambar untuk dimakamkan dipemakaman keluarganya.
Setelah Nyonya Ambar dimakamkan....mereka kembali ke rumah masing – masing.
Aditya yang pulang dari pemakaman....berjalan pelan menuju kamarnya. Ia duduk dilantai sambil bersandar dipinggir tempat tidurnya. Ia terus diam dengan tatapan kosong diwajahnya. Kyra merasa kasihan melihat suaminya yang terlihat sedih. Ia pun datang menghampirinya untuk berusaha menghiburnya. Meskipun ia marah pada suaminya karena masalah Aura tapi ia sangat mencintai suaminya itu. Ia tidak tega melihat Aditya yang terpuruk dan sedih karena kematian neneknya.
Ia kemudian masuk ke dalam dan berusaha berbicara pada Aditya.
“Dit....” Panggilnya.
“Kyra....aku butuh waktu sendiri.” Ucapnya sambil menatap lurus kedepan tanpa melihat istrinya.
Kyra yang mendengar ucapan suaminya.....berjalan keluar dengan perasaan sedih karena melihat keadaan suaminya.
***
Selama satu jam....Aditya masih duduk termenung dengan posisinya tadi. Aura masuk ke dalam, ia duduk disamping Aditya sambil menyenderkan kepalanya dibahu Aditya.
Aditya hanya diam saja dengan tatapan lurus kedepan......ia hanya membiarkan Aura bersandar dibahunya karena mengira itu adalah istrinya.
Dari luar pintu, Kyra melihat kejadian itu. Ia terlihat sangat sedih menyaksikan suaminya bersama Aura. Ia merasa kalau yang dibutuhkan Aditya bukan dirinya melainkan Aura. Ia pun meninggalkan mereka yang masih duduk berdampingan.
Sedangkan Aura terlihat senang ketika melihat Kyra menyaksikan kejadian itu.
Aura pergi meninggalakan kamar Aditya setelah puas membuat Kyra salah paham tanpa bicara sekalipun pada Aditya atau mengeluarkan suaranya.
Sementara Aditya masih terus terdiam, ia terhanyut dalam kesedihannya sampai ia tidak sadar dengan apa yang terjadi sekarang.
***
Kyra yang berada diluar.....langsung pergi meninggalkan Kediaman Sinatria menuju Apartemennya.
Saat berada di Apartemennya, ia langsung masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan air sambil menangis keras agar tidak ada yang mendengar suara tangisannya meskipun ia cuma sendiri dirumah itu.
Setelah menangis...ia membersihkan dirinya kemudian keluar sambil duduk terdiam dikasur. Ia memikirkan semua kejadian yang terjadi padanya, tiba – tiba ia mendengar suara pintu terbuka.
Kyra keluar kamarnya dan sudah melihat Aditya didepannya dengan keadaan berantakan, wajahnya terlihat pucat.
Aditya masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sedikitpun pada istrinya. Ia baring dikasur sambil menarik selimut menutupi tubuhnya, ia kemudian memejamkan matanya secara perlahan.
Kyra khawatir melihat wajah suaminya yang pucat, ia kemudian memegang kepala suaminya. Betapa kagetnya ia ketika mendapati tubuh Aditya yang sangat panas.
“Dia demam tinggi...” Gumamnya.
Kyra bergegas mengambil air hangat untuk mengompres suaminya. Selama satu jam ia merawat dan menemani Aditya sampai demamnya turun. Ia pun merasa lega melihat demam Aditya sudah turun.
Ketika melihat suaminya menderita seperti itu....ia merasakan sakit dihatinya. Ia tidak tega kalau harus melihat Aditya menderita begitu.
***
Sementara Kyra hanya tinggal dirumah karena ia masih cuti dari kampusnya. Ia jarang bicara pada suaminya itu. Sesekali Lea datang ke Apartemennya atas permintaan Aditya untuk menemani istrinya. Ketika Lea pertama kali datang untuk menemaninya, ia menceritakan semua yang terjadi di hotel.
Ia menangis sambil menceritakan itu pada Lea, apalagi ia melihat suaminya dikamar bersama Aura saat hari kematian neneknya. Ia semakin yakin kalau Aditya tidak mencintainya ditambah Aditya seolah – olah menganggap masalah itu tak pernah terjadi karena tidak pernah mengungkitnya.
Aditya tidak mengungkit masalah itu karena mendengarkan nasihat dokter, jika istrinya tidak boleh emosi. Ia takut kalau ia sampai mengungkit masalah itu membuat istrinya emosi lagi sampai pingsan apalagi Kyra tak pernah membahasnya.
Ia ingin memberikan Kyra waktu untuk tenang apalagi neneknya baru saja meninggal. Mereka sekarang masih dalam keadaan berkabung.
Sementara Kyra merasa terbebani dengan semua keadaan yang terjadi antara dirinya dan Aditya.
Hingga akhirnya ia mengambil keputusan sendiri untuk pergi ke Amerika.
***
Saat ini, ia sudah mulai merencanakan kepergiannya ke Amerika. Ia mendatangi Apartemen Bagas untuk meminta bantuan Bagas agar membawa Zahila pergi dari rumah Nyonya Sintya di Amerika karena hanya Bagas lah yang bisa membantunya untuk membawa Zahila mengingat Bagas akan pergi ke Amerika, setelah Bagas membawa Zahila, barulah ia akan meninggalkan Indonesia.
***
Suara bel Apartemen Bagas berbunyi, Bagas berjalan untuk membuka pintu Apartemennya. Ia sangat kaget melihat kedatangan Kyra di Apartemennya.
“Kyra.....sedang apa kamu disini?”
“Apa aku boleh masuk kak?”
“Masuklah....Kamu ingin minum apa?”
“Air putih saja.”
“Baiklah....”
Kyra duduk disofa sambil menunggu Bagas mengambil air minum untuknya.
“Ini....” sambil menyodorkan air didepan Kyra.
“Terima kasih...”
“Ini sudah kedua kalinya kamu kesini....waktu itu kamu datang bersama Aditya dan yang lainnya kan?”
“Ia kak...itu sudah lama. Waktu itu kami berdua habis merayakan hari Anniversary yang pertama.”
“Terus....apa yang membuatmu datang kesini sendiri?” Tanya Bagas penasaran.
“Aku selalu menganggap Kak Bagas sebagai kakakku sendiri.”
“Ia aku tahu Kyra....”
“Aku berencana ingin pergi ke Amerika kak. Aku ingin meminta bantuan Kak Bagas untuk membawa Zahila ke tempat Kak Bagas sebelum aku pergi.”
“Apa maksudmu Kyra....?” Tanya Bagas yang masih bingung dengan ucapan Kyra.
“Aku berencana cerai dengan Aditya dan pergi ke Amerika. Aku ingin tinggal disana bersama Zahila.”
“Kyra....apa kamu sadar dengan ucapanmu itu?”
“Aku sadar....bukankah Kak Bagas tahu sendiri tentang semua kejadian perselingkuhan mereka. Aku tidak bisa tinggal bersama dengan orang yang tidak mencintaiku. Dia bertahan denganku hanya karena aku hamil, setelah aku melahirkan dia akan menagmbil anakku dan menceraikanku. Aku tidak bisa melakukannya kak, buat apa lagi aku hidup dengannya. Beberapa hari kematian nenek, dia tidak pernah mengungkit masalah itu lagi, seperti tidak ada yang terjadi diantara kita. Aku sudah menyaksikan semuanya kalau bukan aku yang dia butuhkan melainkan Aura apalagi nenek sudah tidak ada. Dia menikah hanya karena nenek saja.”
“Kyra....apa kamu sungguh tidak percaya dengan Aditya?”
“Aku tahu seharusnya aku tidak boleh begini. Tapi kak, bukankah kita harus percaya dengan apa yang kita lihat didepan. Aku sudah menyaksikan semuanya lagipula Kak Bagas pernah bilang kalau Kak Bagas adalah teman yang paling mengerti dia tapi Kak Bagas juga pernah bilang kalau Kak Bagas tidak bisa tahu isi hatinya. Mungkin dengan kepergianku, dia akan bahagia bersama dengan cintanya daripada dia harus hidup menderita denganku. Aku hanya sebatas tanggung jawabnya saja, tidak lebih.” Ucapnya sambil meneteskan air matanya.
“Apa kamu merasa bahagia kalau kamu meninggalkannya?”
Kyra mengangguk sambil meneteskan air matanya. “Ia.....asalkan dia bisa bahagia, aku pun ikut bahagia kak.”
“Itu terserah padamu Kyra...kalian berdua adalah orang yang penting dalam hidupku. Kalau keputusanmu itu membuat kalian bahagia maka aku akan mendukungmu.”
“Terima kasih kak. Beberapa hari lagi aku akan menyelesaikan semuanya dan ke Amerika bertemu Zahila. Aku hanya meminta Kak Bagas membawa Zahila tinggal beberapa hari sebelum aku ke Amerika.”
“Apa visamu sudah diperpanjang?”
“Beberapa bulan yang lalu Aditya memperpanjang visanya saat kita merencanakan untuk pergi bertemu dengan Zahila.”
“Baguslah kalau begitu....kamu bisa pergi denganku.”
“Tidak kak....aku tidak ingin membuat orang salah paham lagi. Lagipula aku datang kesini karena ingin meminta bantuan Kak Bagas untuk membawa Zahila pergi dari rumah mami. Masalah ke Amerika, aku ingin pergi sendiri setelah mengurus surat ceraiku dengan Aditya.”
“Tidak usah pedulikan semua orang, selama kamu menganggapku sebagai kakakmu, itu sudah cukup. Apalagi kamu sedang hamil muda, disana ada Tante Rosa yang bisa membantumu. Kalau kamu sudah merasa bisa hidup sendiri, aku akan membiarkanmu pergi tapi kalau kamu ingin pergi kesana sendiri, aku tidak akan membiarkannya Kyra dan tentang masalah adikmu aku akan mengurusnya tapi kamu harus tetap dibawah pengawasanku, aku tidak bisa membiarkanmu hidup berdua dengan adikmu di negri orang apalagi kamu hamil.”
“Baik...itu terserah Kak Bagas, yang penting aku bisa membawa Zahila pergi, dan jangan beritahukan siapapun kalau aku ingin pergi ke Amerika.”
“Ia...tenang saja, aku akan mengubah jadwal penerbanganku. Empat hari lagi kita akan pergi.”
“Terima kasih banyak kak karena sudah membantuku.”
“Santai saja Kyra....”
Setelah mengobrol....Kyra pamit pada Bagas dan kembali ke Apartemennya, ia sudah mulai mempersiapkan semuanya sebelum berangkat ke Amerika.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah karena Like kalian sangat berarti untuk Author.