
Seperti biasa setelah pulang sekolah Kyra pergi menjenguk adiknya tapi kali ini ia ditemani pacarnya. Ia masih memakai seragam sekolahnya itu dan langsung ke Rumah Sakit. Ia dan Ivan masuk membawa makanan untuk Zahila.
“Hai sayang” Teriak Kyra saat masuk ke kamar pasien tempat Zahila dirawat.
“Kakak....kamu sudah datang” Balas Zahila dengan wajah kegirangan.
“Ia...kakak datang bersama kak Ivan”
“Hai Zahila...apa kabar?” Sapa Ivan yang berdiri disamping Kyra.
“Hai kak.....kak Ivan lama sekali baru datang jenguk Zahila”
“Maaf ya dek. Kakak sibuk belajar karena sebentar lagi ujian sekolah. Jadi sebagai penebusan atas kesalahan kak Ivan. Kak Ivan sudah membawakanmu makanan yang enak” Sambil menyodorkan makanannya pada Zahila.
“Wah....terima kasih banyak ya kak makanannya”
Zahila pun makan sambil bercanda dengan Kyra dan Ivan. Setelah mengobrol lama dengan Zahila. Kyra dan Ivan minta pamit karena Kyra harus bekerja part time lagi di Cafe Shop. Kyra keluar dari Rumah Sakit dan pergi menuju tempat kerjanya diantar motor oleh Ivan. Saat sampai di Cafe Shop, Kyra masuk kedalam ditemani Ivan. Tiba – tiba datang wanita paru baya kearah mereka ditemani Rena. Wanita paru baya itu berjalan masuk dengan gaya sombongnya dan menghampiri Kyra yang tengah berdiri didepan kasir bersama Ivan. Wanita itu langsung menampar keras pipi mungil Kyra. Ivan sangat kaget melihat wanita paruh baya itu yang ternyata ibunya sendiri.
“Dasar gadis murahan. Beraninya kamu mendekati putraku” Ucapnya dengan marah.
“Ma...apa yang mama lakukan. Kenapa mama menampar Kyra?” Tanya Ivan.
“Kamu masih membela gadis miskin ini” Ucapnya sambil menunjuk kearah Kyra.
“Ma....dia pacar Ivan. Jangan bicara kasar padanya”
“Huh....pacar, kamu bilang. Apa dia pantas menjadi pacar kamu. Dia saja tidak punya orang tua tapi masih berani mendekati pria kaya?”
“Ma...” teriak Ivan.
"Diamlah Ivan" Teriaknya pada Ivan.
Ia lalu menunjuk - nunjuk kearah Kyra.
"Dan kamu, dengarkan baik – baik ya. Kamu tidak pantas dengan anak saya. Saya sudah menjodohkan dia dengan Rena anak rekan bisnis saya. Kamu hanyalah gadis murahan yang tidak pantas dengan anak saya.” Ucap ibu Ivan dengan mata melotot pada Kyra.
Kyra hanya diam sambil memegang pipinya yang habis ditampar.
Tiba – tiba datang Nyonya Sintya yang langsung menampar ibu Ivan.
“Hei....kenapa Anda menampar saya?”
“Seharusnya Anda tidak pantas mengatakan hal buruk didepan mereka”
“Anda siapa...datang – datang langsung nampar saya?”
“Saya bukan siapa – siapa nyonya, saya hanya orang lewat saja tapi saya paling tidak suka dengan orang yang main hakim sendiri apalagi sampai memukul seorang gadis remaja. Itu sudah melanggar hukum”
Ibu Ivan tidak menanggapi lagi ucapan Nyonya Sintya karena ia memang salah karena sudah berkata kasar pada Kyra. Ia pun menarik Ivan pergi dari Cafe itu.
“Ivan....ayo pulang” Sambil menarik tangan Ivan tapi Ivan tidak bergerak sama sekali.
“Ivan.....”teriak Ibu Ivan.
Ia berbalik dan menunjuk kearah Kyra.
“Dan kamu....jangan pernah mendekati anak saya. Kalau kamu masih ingin sekolah, kamu jauhi anak saya” Ucap ibu Ivan.
Ia kemudian menarik paksa anaknya pergi dari Cafe itu.
Setelah mereka pergi, Nyonya Sintya mencoba berbicara pada Kyra yang tengah sedih karena habis dipukul dan dimaki – maki oleh ibu pacarnya.
“Kamu tidak apa – apa nak?” Tanya Nyonya Sintya.
“Tidak apa – apa nyonya. Saya baik – baik saja” Sambil tersenyum didepan Nyonya Sintya.
“Tidak usah panggil nyonya panggil saja tante”
“Oh....ia tante. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi tapi kenapa tante bisa disini. Apa tante mau bertemu saya?”
“Oh.....tante tadi kebetulan lewat terus lihat kamu didalam sedang bertengkar jadi tante masuk” Sambil tersenyum pada Kyra.
“Tante ini baik sekali.....beda dengan anaknya yang mesum itu” Dalam hati Kyra.
“Kalau begitu tante pergi ya karena masih ada urusan”
“Ia tante...saya juga harus bekerja lagi disini. Dan terima kasih sekali lagi karena sudah membela saya tadi”
“Ia....hati – hati tante”
“Ia”
Nyonya Sintya lalu pergi meninggalkan Cafe tempat Kyra bekerja. Saat diluar, ia melambaikan tangan pada Kyra sambil tersenyum padanya.
Dimobil.......Nyonya Sintya memandang kaca jendela mobil sambil terus memikirkan Kyra yang diperlakukan kasar oleh orang tua pacarnya.
“Kasihan sekali gadis itu. Dia tidak harus menerima perlakuan kasar wanita tadi” Dalam hati Nyonya Sintya.
Haaaaaaa.......Ia menghelah nafasnya dengan panjang.
“Ada apa nyonya. Apa yang membuat Anda melamun sampai menghela nafas?” Tanya Pak Mustang.
“Aku kasihan sekali dengan gadis itu. Dia harus menerima perlakuan buruk dari orang tua pacarnya itu. Kalau itu aku, aku pasti akan memberikannya uang daripada harus memukulnya seperti itu”
“Tapi bukankah memberinya uang sama saja dengan melukainya nyonya bahkan menurut saya itu lebih melukai perasaannya daripada tamparan yang dia terima dari wanita tadi” jelas Pak Mustang yang sedang menyetir didepan Nyonya Sintya.
“Benarkah”
“Ia nyonya”
“Lalu kenapa kamu dulu ingin membiarkanku mengetes gadis itu dengan memberikannya uang. Bukankah itu sama saja dia akan membenciku. Kalau sudah seperti itu, bagaimana bisa dia akan menerima tawaranku untuk menikah dengan Aditya”
“Hehehehe....maaf nyonya. Dulu saya tidak memikirkan akibatnya tapi untung saja nyonya tidak melakukannya”
“Huh.....aku pikir kamu sudah pintar ternyata masih bodoh” Sambil memalingkan wajahnya ke jendela kaca mobilnya.
“Lalu....apa rencana nyonya selanjutnya?”
“Cari gadis yang lain saja. Dia tidak mungkin mau menikah dengan Aditya”
“Kenapa Anda tiba – tiba menyerah nyonya. Bukankah gadis itu paling cocok untuk Tuan Muda?”
“Mau bagaimana lagi. Memangnya kamu tidak lihat kalau dia sudah punya pacar?”
“Tapi menurut saya....mereka tidak akan bertahan lama nyonya”
“Kenapa kamu bisa bilang begitu. Aku lihat tadi, pacarnya itu sangat menyukainya?”
“Tapi melihat tatapan mata Nona Kyra, saya bisa menyimpulkan jika dia tidak ingin mencari masalah. Mungkin beberapa hari lagi dia akan putus dengan pacarnya itu nyonya”
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?” Tanya Nyonya Sintya.
“Nyonya lupa ya. Anda menyuruh saya menyelidiki tentang Nona Kyra jadi saya tahu semua tentang Nona Kyra termasuk sekolahnya, dan wanita tadi adalah salah satu pemegang yayasan disekolah Nona Kyra. Jadi untuk menjaga ketenangannya agar bisa lulus dengan baik disekolah itu, saya bisa yakin jika Nona Kyra akan mencari jalan terbaik dengan meminta putus dari pria tadi”
“Huh....kamu itu sok tahu”
“Saya hanya mengatakan berdasarkan situasi yang dialami Nona Kyra sekarang nyonya”
“Sudahlah jangan bicara lagi. Semua ucapanmu itu tidak ada yang benar”
“Baik nyonya”
Sementara di cafe, Kyra tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya karena memikirkan perkataan ibunya Ivan, apalagi ibunya Ivan mengancamnya. Ia memikirkan jika ia masih pacaran dengan Ivan maka ia harus bersedia dikeluarkan dari sekolah karena ibunya Ivan salah satu pemegang yayasan di sekolahnya itu. Namun dilain sisih ia tidak ingin menyakiti perasaan Ivan yang baru saja menjadi pacarnya itu. Ia terus melamun memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
“Apa yang harus aku lakukan, melihat ibunya Ivan yang marah sampai memukulku. Aku tidak yakin dia bisa menerima kami. Jika aku meminta putus pada Ivan mungkin ibunya berhenti mengusikku tapi itu bisa menyakiti perasaan Ivan. Selama ini aku tidak pacaran karena tidak ingin mendapat masalah pada sekolahku. Kalau pacaran dengan Ivan membuat sekolahku terbengkalai lebih baik aku putus dengannya lagipula kami belum lama pacaran” Dalam hati Kyra.
Tiba – tiba seorang pelanggan datang memanggilnya membuat lamunannya buyar seketika.
“Mba.....mba...hallo mba” Sambil melambaikan tangan didepan wajah Kyra.
“Eh...ia. Mau pesan apa mba?”
“Saya pesan Americano satu ya”
“Oh....ia. Tunggu sebentar ya mba”
Tak menunggu lama, pesanan pelanggan itu pun jadi. Kyra dengan sigap memberikan pelanggannya itu coffe pesanannya.
Setelah berganti sift dengan temannya, Kyra melanjutkan pekerjaannya ditempat lain. Malamnya ia pergi ke Rumah Sakit untuk menemani adiknya bermalam karena ia sudah lama tidak bermalam dengan adiknya karena kesibukannya kerja part time.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah karena Like itu gratis.