Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 67 Beautiful Romance



Kyra berlari bersama dengan Rey disusul Andi, Aura dan Santi menuju lapangan kampus.


Ketika sampai di lapangan kampus, Kyra sangat kaget melihat suaminya memukul Sandi sampai berdarah – darah. Ia langsung berlari menarik tubuh Aditya.


“Dit....hentikan....dia sudah tidak berdaya.” Teriaknya sambil menarik tangan Aditya.


Aditya tidak menghiraukan istrinya itu dan  malah menghempaskan tangan Kyra untuk melanjutkan aksinya memukul Sandi.


Kyra langsung memeluk erat suaminya dari depan sambil menangis karena tidak tahan melihat Aditya yang tidak berhenti memukul. Apalagi itu pertama kalinya ia melihat suaminya semarah itu.


“Hiks.....hiks....hiks....dia tidak menyentuhku Dit. Sungguh.....dia tidak menyentuhku, jadi tolong hentikan. Aku mohon hentikan, demi aku.” Ucapnya sambil terus memeluk erat suaminya.


Aditya memejamkan matanya sambil memegang kepalanya dan menarik nafasnya dari dalam mencoba menenangkan dirinya. Ia kemudian membalas pelukan Kyra dengan erat.


“Jangan menangis.....aku tidak akan memukulnya lagi.” Ucapnya sambil mengusap kepala Kyra yang masih berada dalam pelukannya.


Kyra mengangkat kepalanya melihat suaminya dengan wajahnya yang basah karena air mata.


“Apa kita bisa pulang sekarang?” Tanya Kyra.


“Ia....kita pulang.” Ucapnya sambil mengusap lembut air mata dipipi Kyra.


Ia kemudian melihat kearah Rey.


“Rey....bawa dia ke Rumah Sakit.” Ucapnya dengan tegas.


“Oke...” Balasnya sambil mengangguk.


Aditya menggendong istrinya meninggalkan lapangan kampus yang masih dipenuhi mahasiswa.


Sementara Rey  mendatangi Sandi yang terbaring di lapangan kampus, ia hanya menghela nafasnya melihat keadaan Sandi apalagi Sandi sudah pingsan saat itu. Ia kemudian melihat kearah mahasiswa yang masih berada di lapangan kampus itu.


“Kenapa kalian masih disini.....cepat bubar?” Teriaknya dengan marah.


Ketika mereka semua sudah pergi. Rey dan Bagas mengangkat tubuh Sandi yang sudah terkapar tidak berdaya di lapangan kampus.


***


 Diparkiran mobil, Aditya menurunkan tubuh istrinya di dalam mobil.


“Dit....aku bisa sendiri.” Ucapnya yang melihat Aditya ingin memasangkan sabuk pengaman untuknya.


“Diamlah.....biar aku melakukannya untukmu.” Ucapnya sambil tersenyum.


Ia kemudian memasang sabuk pengamannya pada Kyra.


Setelah selesai, Aditya mencium kening istrinya kemudian berjalan kearah pintu mobilnya dan masuk ke dalam.


Ia mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Sesekali ia melirik kearah Kyra yang tengah tertidur. Ia kemudian membelai rambut Kyra dengan lembut.


“Dia langsung tidur yah. Pasti dia sangat lelah, maaf yah sayang....aku tidak melindungimu dengan baik. Aku suami yang tidak becus, membiarkanmu disakiti orang.” Dalam hati Aditya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di Apartemennya. Aditya memarkirkan mobilnya diparkiran Apartemennya. Ia membangunkan Kyra yang tengah tertidur dimobilnya itu.


“Kyra....kita sudah sampai.” Ucapnya dengan lembut sambil memegang pipi Kyra.


Kyra menengok kearah suaminya sambil membuka matanya secara perlahan.


“Ini sudah dirumah.” Ucapnya dengan pelan.


“Ia...ayo turun.”


Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Apartemennya. Kyra duduk disofa sambil menyenderkan kepalanya disofa. Aditya berjalan ke dapur mengambilkan air untuk istrinya dan berjalan kembali kearah Kyra yang tengah duduk di sofa.


“Minumlah.” Sambil duduk disamping Kyra dan menyodorkan air pada istrinya itu.


Kyra mengambil air yang diberikan suaminya itu dan langsung meminumnya.


“Apa tubuhmu baik – baik saja....tidak ada yang sakit kan?” Tanya Aditya sambil melepaskan jaketnya ditubuh Kyra.


Ia sangat sedih melihat baju Kyra yang dirobek Sandi memperlihatkan bahunya. Apalagi bahunya itu ada bekas cakaran yang membuat bahunya memerah.


“Apa ini sakit?” Tanya Aditya sambil memegang bahu istrinya.


“Tidak apa – apa kok. Itu Cuma goresan kecil saja.”


Aditya mencium bahu istrinya yang ada bekas cakarannya itu dengan lembut membuat Kyra kaget tapi ia hanya diam saja tanpa mengatkan apa – apa.


Setelah mencium bahu istrinya, Aditya berjalan ke dapur untuk mengambil P3K dilemari kecil yang ada di dapurnya itu. Ia mengobati luka Kyra sambil sesekali menatap Kyra untuk memastikan jika istrinya itu merasa kesakitan.


“Maafkan aku....aku tidak bisa melindungimu dengan baik.”


Kyra melepaskan tangan Aditya dari tubuhnya lalu memegang kedua pipi suaminya.


“Siapa bilang kamu tidak melindungiku. Kamu sudah sangat melindungiku, Dit. Jadi kamu jangan minta maaf begitu, aku tidak suka?”


“Tapi....


Dengan sigap Kyra menutup mulut Aditya dengan tangannya.


“Jangan bicara lagi.....itu bukan salahmu. Kita tidak tahu kalau hal itu akan terjadi lagipula dia tidak menyentuhku sama sekali. Aura datang menolongku saat itu dan yang paling penting adalah kamu datang menolong kami berdua.”


“Ia sayang....” balasnya sambil memeluk Kyra.


Ia kemudian tersadar dengan kejadian Sandi yang berusaha menyakiti Kyra. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Kyra dengan serius.


“Ada apa?” Tanya Kyra penasaran melihat ekspresi serius suaminya.


“Aku ingin bertanya....kenapa kalian bisa bertemu di Gedung Theater?” Tanya Aditya sambil mengerutkan keningnya.


“Aku  juga merasa bingung...saat aku keluar kelas, ada mahasiswa perempuan yang mengatakan padaku kalau kamu mengajakku bertemu di Gedung Theater. Aku merasa tidak curiga sama sekali, tapi ketika berada di Gedung Theater, aku sangat kaget kalau yang datang adalah Sandi bukan kamu. Dia mengatakan kalau aku dan dia selalu kirim – kirim pesan bahkan dia bilang kalau aku dan dia sudah pacaran. Kamu tahu sendiri kan kalau sekarang aku masih tidak punya HP gara – gara kamu lempar.” Jelasnya dengan serius.


“Berani sekali mereka menyakitimu sampai menjebakmu begitu....tenang saja aku akan mencari tahu semuanya sampai menemukan pelakunya. Aku tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah menjebakmu.” Ucapnya dengan marah.


“Ia....tapi aku rasa Sandi itu juga dijebak karena sepertinya dia tidak berbohong dengan apa yang dikatakannya padaku.”


“Sandi memang laki – laki yang suka menyombongkan dirinya pada gadis – gadis dikampus tapi dia tidak akan pernah mengusik wanita yang pernah punya hubungan denganku kalau tidak ada yang mendorongnya. Aku bisa yakin kalau ada orang yang berusaha menjebak kalian berdua dan orang itu pasti orang yang tidak suka padamu dan Sandi.” Ucapnya dengan serius.


“Apa kamu sudah tahu siapa orangnya?” Tanya Kyra penasaran.


“Ia....tapi sekarang kita membutuhkan bantuan mami. Aku ingin orang itu merasakan rasa sakit yang dia berikan padamu.”


“Dit....apa sebaiknya kita jangan beritahukan ini pada mami?”


“Tidak Kyra.....mami harus tahu. Ini tidak bisa dibiarkan, orang seperti itu harus menerima akibat dari perbuatannya. Dia harus dipenjara, ancaman tidak akan mempan padanya.”


“Baiklah itu terserah padamu saja. Aku akan mengikuti semua ucapanmu.”


“Terima kasih sayang....kalau begitu kamu istirahat dulu dikamar. Aku menghubungi mami dulu.”


“Baiklah...” Balasnya sambil mengangguk.


Kyra berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke kamarnya.


Setelah Aditya melihat istrinya masuk ke kamar, Aditya menghubungi ibunya. Ia menceritakan semua kejadian yang terjadi di kampusnya tadi siang. Nyonya Sintya sangat kaget sampai berteriak marah – marah pada Aditya.


Selesai bicara pada ibunya ditelfon, Aditya berjalan menuju dapur memasak makanan untuk dirinya dan Kyra.


***


Sedangkan di Kediaman Sinatria, Nyonya Sintya menghubungi Andi setelah berbicara pada anaknya ditelfon untuk menanyakan semua kejadian yang terjadi di kampus karena ia merasa kalau masih ada yang tidak dikatakan Aditya padanya. Tentu saja Aditya hanya mengatakan kejadian di kampus tapi tidak menceritakan masalah Kyra yang dihina dipantai karena baginya masalah sekarang yang paling penting.


Andi menceritakan semuanya sampai tidak ada yang tersisa membuat Nyonya Sintya semakin marah.


“Kurang ajar mereka....beraninya mengusik keluargaku.” Gumamnya dengan marah.


Ia kemudian memanggil Pak Mustang, asistennya.


“Pak Mus....Pak Mus.” teriaknya dengan keras.


Pak Mustang berlari dari lantai bawah menuju lantai atas ke kamar Nyonya Sintya. Ia langsung masuk karena pintu kamar Nyonya Sintya terbuka lebar.


“Ada apa nyonya?”


“Kita ke rumah Pak Kurniawan sekarang.”


“Kebetulan nyonya, saya menerima telfon dari Pak Kurniawan kalau anaknya habis dipukul sama Tuan Muda sampai masuk Rumah Sakit. Dia bilang, tangannya sampai patah nyonya. Dia ingin saya menyampaikan ini pada Anda.”


“Kalau gitu kita ke Rumah Sakit sekarang.”


“Baik nyonya.”


Nyonya Sintya pergi ke Rumah Sakit bersama dengan asistennya dengan wajahnya yang sangat marah.


Bersambung.


Jangan lupa Like karena Like itu gratis.