
Kyra yang selesai mengobrol dengan Nyonya Besar, kembali ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan untuk mengecek apakah Aditya masih didalam menunggunya. Saat membuka pintu, ia memasukkan kepalanya kedalam sambil memegang gagang pintu untuk melihat Aditya dan tentu saja Aditya masih ada dikamarnya. Ia tengah duduk disofa dengan baju kemeja putihnya dipadu dengan celana coklat panjang berwarna khaki sambil memainkan HP-nya. Aditya tersadar dengan kehadiran Kyra diluar pintu.
“Kenapa tidak masuk......?” ucapnya yang masih sibuk dengan HP-nya.
Kyra kaget saat Aditya tersadar dengan kehadirannya tapi tidak melihat dirinya dan hanya menunduk sambil sibuk dengan HP-nya. Ia lalu masuk kedalam kamarnya itu.
Ia berjalan pelan mendekati Aditya. Saat didepan Aditya, ia menunduk sambil menaruh kedua tangannya didepan saling berpegangan. Ia terus memainkan kedua tangannya itu karena canggung ditambah ia masih takut dengan tingkah Aditya tadi. Aditya yang sudah merasa Kyra berdiri didepannya langsung mendongak dan melihat Kyra yang sedang menunduk.
“Duduklah....aku ingin mengatakan sesuatu” pinta Aditya.
Kyra langsung duduk didepan Aditya setelah mendengar ucapannya.
“Kamu mau mengatakan apa. Kalau masalah mobil miniatur itu aku akan menggantinya. Uang tabunganku masih ada 15 juta, biarpun itu masih jauh dari harga mobil miniaturnya” ucapnya dengan pelan.
“Aku tidak ingin membicarakan itu tapi ingin membicarakan masalah kita”
“Masalah kita” balasnya dengan ekspresi bingung.
“Dengarkan aku baik – baik” sambil menatap Kyra dengan serius. “Aku memang bukan pria baik –baik tapi aku tidak pernah menganggap enteng sebuah pernikahan meskipun pernikahan ini terjadi bukan kehendakku tapi aku akan bertanggung jawab padamu sebagai suami. Aku sangat menghargai sebuah pernikahan jadi tenang saja, selama kita menikah aku tidak akan selingkuh dengan wanita lain begitupun dengan dirimu. Kamu harus tahu jika kamu sekarang sudah berstatus istriku jadi jagalah sikapmu diluar sana. Kamu sendiri yang memutuskan menikah denganku kan jadi kamu harus melakukan kewajibanmu sebagai istriku dan juga kamu berhak atas hakmu sebagai istriku tapi jangan berharap banyak padaku untuk mencintaimu karena aku sudah mencintai wanita lain. Kamu juga punya orang yang kamu cintai kan”
“Ia...”
“Satu lagi.....kalau kamu merasa sudah tidak tahan dengan pernikahan ini, kamu bisa minta cerai padaku. Aku memang tidak suka padamu tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu duluan tanpa ada alasan yang jelas. Apa kamu mengerti dengan semua yang aku katakan”
“Ia....aku mengerti” jawabnya pelan.
Aditya lalu mengeluarkan sebuah Kartu Kredit The Black Card dari dompetnya yang jumlahnya sangat terbatas itu. Ia lalu berjalan menghampiri Kyra yang sedang duduk didepannya.
“Ambillah....” sambil menyodorkan Kartu Kreditnya pada Kyra.
Kyra sangat kaget melihat Kartu Kredit yang diberikan Aditya karena itu merupakan Kartu Kredit yang langkah, hanya orang – orang super kaya yang bisa memilikinya. Bagi pemegang Kartu Kredit seperti itu bisa menutup sebagian toko demi privasi mereka dalam berbelanja.
“Kenapa kamu memberiku Kartu Kredit seperti itu?” tanya Kyra penasaran.
“Bukankah....aku harus melakukan tugasku sebagai suamimu” jawab Aditya dengan wajah datarnya.
“Tapi...aku tidak bisa menerimanya...kalau kamu ingin memberikan aku Kartu Kredit berikan saja yang biasa, yang sesuai dengan kebutuhanku”
“Ambil saja...tidak usah banyak bicara” ketusnya. “Kartu ini memang bukan milikku. Ini sudah dibuat khusus untukmu”
“Tapi..aku....
Kyra belum menyelesaikan ucapannya tapi dipotong lagi oleh Aditya.
“Hei...apa kamu lupa dengan ucapanku tadi. Apa setiap kata yang kuucapkan tadi hanya kamu dengar dan masih tidak mengerti...hah” jelasnya dengan wajah yang kesal.
“Baiklah.....aku akan mengambilnya” sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil Kartu Kreditnya dari tangan Aditya.
“Siap – siaplah....” perintah Aditya.
“Kita mau kemana?” tanya Kyra penasaran.
“Ke Apartemen lah...kemana lagi” ketusnya.
“Dia itu setiap hari marah – marah terus. Apa dia tidak capek memasang wajah dinginnya itu” dalam hati Kyra.
“Memangnya kamu sudah memberitahu nenek dan mami kalau kita akan pergi dari sini” tanya Kyra.
“Sudah....aku sudah bilang pada nenek sebelum kita menikah kalau kamu akan tinggal di Apartemenku bukan disini”
Setelah mendengar itu, Kyra pun pergi menyiapkan semua barangnya. Setelah semua sudah siap, ia dan Aditya pergi ke kamar neneknya untuk minta ijin. Kyra berhenti saat ingin keluar kamarnya. Ia membiarkan Aditya berjalan duluan lalu mengambil miniatur mobil Aditya yang masih ada diatas meja dan memasukkan ditasnya.
Ia lalu berlari mengejar Aditya yang tak jauh darinya. Mereka berdua masuk ke kamar neneknya dan meminta ijin pada neneknya itu, tentu saja neneknya masih ingin jika mereka tinggal di Rumah Keluarga Sinatria tapi Aditya terus membuat banyak alasan didepan neneknya itu dan akhirnya Nyonya Besar setuju tapi mereka harus sering datang menjenguknya.
Setelah pamit pada Nyonya Besar, mereka pun pergi meninggalkan Rumah Keluarga Sinatria dengan mengendarai salah satu mobil sport milik Aditya. Selama beberapa menit perjalanan, mereka sampai disebuah Apartemen miliknya yang berada dilantai 3. Aditya langsung masuk kedalam Apartemennya disusul oleh Kyra. Ia mengajak Kyra masuk kedalam kamarnya.
“Simpan barang – barangmu disitu” sambil menunjuk sebuah Ruang Ganti yang ada dikamarnya.
Kyra langsung masuk dan melihat semua barang – barang mewah yang dimiliki Aditya tapi ia masih bingung dimana ia bisa meletakkan pakaiannya.
“Aku simpan dimana pakaianku?” gumamnya.
“Sebelah kiri itu milikmu...simpanlah semua barang – barangmu disitu. Itu semua sudah aku kosongkan” ucap Aditya yang berdiri didepan pintu. Kyra yang mendengar itu langsung berbalik melihat Aditya.
Setelah selesai merapikan bajunya, ia keluar dan melihat Aditya sedang menelfon Rey temannya untuk tidak menunggunya dilapangan futsal. Setelah selesai menelfon, Kyra datang mendekatinya.
“Apa kita akan tidur bersama dalam satu kamar?” tanya Kyra yang penasaran.
“Memangnya kamu mau tidur dimana. Disini hanya ada satu kamar, kamar tamunya kujadikan penyimpanan miniatur mobilku” jawabnya dengan serius.
“Oh....baiklah”
“Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?” tanya Aditya dengan serius.
“Tidak apa – apa”
“Oooo....aku tahu. Kamu takut aku melakukan hal aneh padamu ya” sambil tersenyum mengejek.
“Siapa yang takut. Aku kan hanya bertanya saja?” sambil memalingkan wajahnya karena malu.
“Benarkah...” sambil tersenyum menggoda. “Tapi bukannya kamu harus melayaniku ya. Aku kan sudah memenuhi tanggung jawabku sebagai suami sekarang giliranmu untuk memenuhi kewajibanmu itu”
“Ia....aku akan melakukannya” balasnya dengan pelan sampai tak terdengar jelas ditelinga Aditya.
“Apa....aku tidak dengar?” ucapnya sambil menyodorkan telinganya pada Kyra.
“Aku bilang...akan melakukannya” ucapnya dengan keras. Ia lalu berlari ke kamar mandi karena tidak tahan dengan rasa malunya didepan Aditya. Sementara Aditya tertawa melihat tingkah Kyra yang gugup.
“Gadis tomboi itu gampang sekali dipermainkan. Memangnya aku mau melakukannya dengan paksaan. Huh” gumamnya.
Aditya lalu keluar kamarnya menuju sebuah ruangan tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya untuk menggambar desain sebuah mobil.
Sedangkan Kyra yang keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Aditya tetapi ia tidak melihat keberadaan orang yang baru dinikahinya itu. Ia pun keluar kamarnya dan masih mencari Aditya karena tidak menemukan Aditya, ia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memasak beberapa makanan tapi saat membuka kulkas yang ada didepannya itu, membuatnya bernafas panjang.
“Haaaaa.....tidak ada bahan makanan. Aku lapar sekali, isinya hanya air mineral semua. Bagaimana dia bisa hidup sih?” gumamnya.
Ia lalu berjalan kesamping kulkas dan membuka semua isi lemari dapur. Ia menemukan satu bungkus mie instan yang ada dilemari itu. Ia masaklah mie instan itu diatas kompor yang menyala.
Aditya yang mencium bau mie instan yang dimasak Kyra langsung keluar dari ruangan itu. Ia melihat Kyra sedang sibuk masak mie, ia duduk dimeja dapur yang bentuknya seperti meja Bartender itu sambil melihat Kyra yang sibuk masak. Saat Kyra berbalik, ia sangat kaget dengan kedatangan Aditya yang sudah duduk manis didepannya.
“Mengagetkan saja....tiba – tiba datang tanpa bersuara” ucap Kyra yang kaget melihat Aditya.
“Sedang apa kamu?” tanya Aditya dengan wajah datarnya itu.
“Memangnya kamu tidak lihat kalau aku sedang masak mie?”
Tanpa menghiraukan Kyra, ia langsung mengeluarkan HP-nya dikantong calana dan memesan makanan lewat HP-nya itu.
“Kamu sedang apa?” tanya Kyra penasaran.
“Pesan makanan....kita makan pizza saja” ucapnya yang sibuk dengan HP-nya.
“Terserahlah....tapi aku tetap mau makan mie instanku”
“Buat apa makan itu....aku sudah memesan Pizza. Buang saja” ucapnya sambil mengerutkan keningnya.
“Sayang kalau dibuang dan tidak dimakan”
“Terserahlah”
Setelah 30 menit, makanan yang dipesan Aditya datang. Ia menyantap Pizzanya itu sambil menonton tv sedangkan Kyra tengah sibuk mencuci mangkuk bekas pakainya tadi. Setelah itu...ia berjalan menghampiri Aditya, Aditya langsung menyodorkan Pizza pada Kyra tapi ia menolaknya karena sudah kenyang dengan mie instan yang ia makan tadi dan akhirnya hanya ia saja memakan Pizza yang dipesannya itu
Bersambung.
Author sangat senang jika kalian:
LIKE
COMMENT
VOTE
RATE 5