
Teman – teman kampus Aditya masih berada di Bas Champ, ia sedang berpesta sedangkan Bagas sedang menelfon dengan Tante Rosa. Tante Rosa menyuruhnya untuk segera kembali ke Amerika.
Setelah selesai menelfon dengan tantenya, ia kembali bergabung dengan teman – teman kampusnya. Rey langsung mengajaknya bersulang, tanpa sadar ia letakkan HP-nya di meja dan mengambil minumannya. Ia bersulang dengan temannya itu.
Tunangan Aura yang bernama Haris, mengambil HP Bagas secara diam – diam tanpa Bagas sadari.
Saat itu, Haris ikut bergabung dengan mereka tujuannya memang mengambil HP Bagas ketika ia lengah.
Setelah berhasil mengambil HP milik Bagas, ia cepat - cepat meninggalkan mereka secara diam – diam dan bertemu dengan Aura dikelas seni.
Haris masuk ke dalam kelas dan datang menghampiri Aura yang tengah sibuk melukis.
“Kamu sudah dapat HP-nya si Bagas itu?” Tanya Aura ketika melihat Haris didepannya.
“Ia....nih.” Balasnya sambil menyodorkan HP Bagas didepannya.
“Tidak ada yang melihatmu kan.”
“Tenang saja, mereka sedang asyik berpesta.”
“Oke....aku buka dulu HP-nya.”
Aura berusaha ingin membuka HP Bagas yang menggunakan kata sandi keamanan. Pertama, ia membukanya dengan ulang tahun Bagas tapi tidak berhasil. Kedua, tanggal pertemanan mereka berempat, tapi tidak berhasil juga.
“Ah....sial, kenapa bukan itu semua. Bukannya dia pernah bilang kalau dia selalu mengingat disaat mereka berempat melakukan sumpah pertemanan mereka. Kenapa ini juga salah?” Ucapnya dengan kesal.
“Kenapa kamu tidak coba dengan ulang tahun Biangka. Bukankah dia sangat sayang dengan adiknya yang sudah meninggal itu?” Sahut Santi.
“Kalau salah lagi kali ini.....kita tidak bisa membukanya lagi.”
“Cobalah....aku yakin itu pasti kodenya.”
Aura kemudian membuka HP milik Bagas menggunakan tanggal ulang tahun Biangka. Ia sangat senang ketika berhasil membuka kata sandi HP Bagas.
“Astaga.....kamu benar, aku bisa membuka HP-nya.”
“Cepat kamu kirim pesan pada Aditya sekarang, sebelum Bagas sadar.” Sahut Haris
“Ia...sabar dong.”
Aura pun mengirim pesan pada Aditya atas nama Bagas.
Isi pesan.
“Dit....bisakah kamu datang ke Hotel dekat Apartemenmu, Hotel Golden. Aku ingin bicara berdua denganmu, ini sangat penting. Sebentar lagi aku kembali ke Amerika, aku juga tidak bisa mendatangimu karena aku minum sedikit tadi. Aku berada di kamar 304.”
Setelah mengirim pesan ke Aditya, Aura mengirim pesan ke nomornya.
“Datang ke Hotel Golden sekarang...Kyra membutuhkanmu, kami semua ada disini.”
Pesan itu....akan ia tunjukkan pada Aditya ketika Aditya tidak percaya padanya.
Setelah mengirim pesan, Aura menghapus kotak terkirim di HP Bagas agar Bagas tidak tahu kalau HP-nya habis di pakai, ia kemudian menyuruh Haris mengembalikan HP Bagas. Ia kembali ke Bas Champ dan langsung masuk ke dalam. Ia melihat Bagas yang sudah menyadari HP-nya hilang. Karena tidak ingin dicurigai, ia langsung meletakkan HP Bagas disembarang tempat.
Tak lama kemudian, Bagas menemukan HP-nya tergeletak dilantai. Ia ambillah HP-nya itu dengan ekspresi bingungnya.
“Kenapa HP ku bisa ada dilantai?” Gumamnya.
“Gimana kak....kamu sudah menemukan HP mu?” Tanya Andi.
“Ia....aku menemukannya dilantai....tapi kenapa bisa ada di lantai?” Tanya Bagas dengan bingung.
“Mungkin tadi jatuh tanpa kamu sadari.”
Ia memasukkan HP-nya ke dalam kantong celananya tanpa curiga sedikit pun. Ia kembali bergabung dengan teman – temannya.
Di Apartemen Aditya.
Aditya selesai memasak makanan untuk istrinya. Ia meletakkan semua makanannya di meja makan. Tiba – tiba ia mendengar bunyi getaran HP dikantong celananya.
Ia melihat sebuah pesan masuk dari nomor Bagas. Ia bukalah pesan itu yang ada di HP-nya tanpa merasa curiga sedikitpun.
Ia membaca pesan Bagas yang dikirim Aura tadi. Ia mengira kalau temannya itu habis tidur lagi dengan seorang gadis, ia tidak curiga sama sekali karena itu sudah biasa terjadi ketika Bagas mabuk, ia akan memanggil salah satu dari mereka.
“Dia mengajakku bertemu di Hotel, apa dia habis tidur dengan seorang gadis lagi. Anak ini....mau mengatakan hal penting padaku di hotel harusnya kan besok saja. Dia benar tidak sabar untuk kembali ke Amerika?” Gumamnya.
Aditya kemudian berjalan ke kamarnya untuk membangunkan istrinya makan.
“Sayang....ayo bangun, aku sudah memasak makanan untukmu.” Ucapnya sambil mengusap kepala istrinya.
Kyra masih diam tanpa bicara karena ia masih tak sanggup menatap suaminya, ia ingin sekali membicarakan tentang Aura pada suaminya itu tapi ia menunggu dirinya sampai tenang mengingat dirinya yang tengah hamil muda. Ia tidak ingin emosinya yang memuncak mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya. Aditya kembali berbicara pada istrinya yang masih memejamkan matanya itu.
“Sayang....aku keluar sebentar yah, mau bertemu dengan Bagas. Dia ingin membicarakan hal yang penting, sepertinya masalah keluarganya. Tidak apa – apa kan kalau aku tinggal sendiri, aku janji tidak akan lama, atau kamu mau aku memanggil Lea untuk menemanimu mengobrol.”
“Tidak usah....pergilah.”
“Aku janji tidak akan lama......kalau ada apa – apa hubungi aku yah. Lagipula aku bertemu dengannya didekat Apartemen kita kok.”
“Eem....”
Aditya mencium kening istrinya dengan lembut kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya, ia berhenti sebelum sampai dipintu. Ia kembali bicara pada istrinya.
“Oyah.....aku sudah memesan tempat untuk acara Anniversary kita di pantai. Kamu suka kan dengan pantai.”
Ia kembali berjalan setelah bicara pada istrinya, ia membuka dan menutup pintu kamarnya secara perlahan sambil melihat Kyra yang masih berbaring dikasur.
Ia keluar Apartemennya dengan mengendarai mobil sportnya menuju Hotel Golden.
Setelah sampai di Hotel....Aditya masuk ke dalam Hotel. Ia melapor di bagian resepsionis untuk menanyakan kamar 304 yang dipesan atas nama Bagas.
“Selamat sore tuan....apa yang bisa saya bantu?”
“Mba...apa teman saya benar ada didalam.”
“Atas nama siapa tuan?”
“Tuan Bagas Pamungkas.”
“Oh....Tuan Bagas.”
“Ia...apa dia masih didalam?”
“Mari saya antar....”
“Tidak usah....”
“Tidak apa – apa tuan, saya mengantar Anda kekamarnya karena dia sendiri tadi yang menginstruksikan kalau ada yang mencarinya langsung antar ke kamar, tuan.”
“Baiklah...antar aku ke kamarnya sekarang.”
“Mari....”
Pegawai Resepsionis itu mengantar Aditya menuju kamar 304.
Setelah sampai didepan kamar, pegawai resepsionis itu langsung membuka pintu kamar 304.
“Silahkan masuk tuan, sepertinya Tuan Bagas ada didalam.”
Aditya masuk ke dalam kamar sedangkan pegawai resepsinonisnya pergi meninggalkan kamar hotelnya.
Aditya sama sekali tidak curiga pada pegawai resepsionis yang sudah dibayar oleh Aura. Ia hanya percaya pada pesan yang dikirim sahabatnya, apalagi nomor yang mengirim pesan padanya adalah nomor sahabatnya sendiri.
Aditya melihat sekeliling mencari keberadaan Bagas.
“Dia dimana sih?” Gumamnya.
Terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
“Apa dia ada didalam kamar mandi untuk menghilangkan mabuknya?” Gumamnya.
Ia kemudian melihat bercak merah dikasur.....itu adalah bekas anggur yang sengaja ditumpahkan Aura.
“Cih, anak itu. Dia pasti tidur lagi dengan seorang gadis tadi?” Gumamnya.
Sedangkan Kyra yang sedang berbaring dikasurnya, tiba – tiba menerima pesan singkat dari seseorang yang tak ia kenal. Pesan itu mengatakan kalau ia melihat Aditya masuk ke dalam Hotel Golden bersama dengan Aura. Tentu saja.....Kyra ingin mempercayai suaminya dan akan membahas masalah Aura ketika suaminya pulang tapi karena rasa penasarannya mengalahkan segalanya, ia akhirnya menghubungi Bagas untuk membuktikan apakah suaminya sedang bersamanya.
“Halo kak.”
“Ada apa Kyra?”
“Apa Aditya ada disitu kak?”
“Tidak ada....aku baru mau ke tempatmu sekarang untuk bertemu Aditya, ada yang ingin kuberikan padanya sebelum pergi ke Amerika.”
“Terima kasih kak....aku tutup telfonnya.” Ucapnya tanpa peduli dengan Bagas yang masih ingin bicara padanya.
Setelah menelfon Bagas...Kyra bergegas keluar Apartemennya untuk pergi ke Hotel Golden. Diluar, ia bertemu dengan Bagas yang baru masuk ke dalam lingkungan Apartemen.
Bagas melihat Kyra keluar dengan berjalan terburu – buru. Ia kemudian mengeluarkan kepalanya di jendela kaca mobilnya dan berteriak memanggil Kyra.
“Kyra...kamu mau kemana?”
Kyra yang melihat Bagas langsung berlari kearahnya.
“Kak tolong antar aku ke Hotel Golden.”
“Buat apa?”
“Antar saja aku kesana.”
“Baiklah....”
Kyra masuk ke dalam mobil Bagas menuju Hotel Golden. Setelah sampai di Hotel, Kyra menyuruh Bagas berhenti didepan Hotel.
“Aku turun disini saja kak.”
“Baiklah....aku parkirkan mobilnya dulu. Nanti aku menyusul masuk.”
“Ia...”
Bagas memarkirkan mobilnya diparkiran Hotel tanpa tahu alasan Kyra datang ke Hotel. Kedatangan Bagas tentu saja bukan bagian rencana Aura.
Bersambung.
Jangan lupa Like yah kakak ganteng dan cantik, hari ini author crazy up buat kalian sampai tamat. Bacanya selow ajah karena season 2 up date hari rabu.