
Aditya dan Kyra sekarang sedang menikmati makan malam di kamarnya. Saat Kyra mandi tadi, Aditya melakukan layanan pesan antar karena ia sudah tak punya tenaga jika harus turun ke Restoran yang letaknya ada di lantai bawah.
Setelah makan, mereka duduk di sofa sambil menonton Tv. Sementara Kyra sibuk dengan HP-nya, ia menerima sebuah pesan masuk dari Dokter Aris jika ia akan menjemputnya di Hotel besok untuk bertemu dengan adiknya. Ia terlihat sangat senang menerima pesan dari Dokter Aris itu. Sementara Aditya terlihat penasaran dengan ekspresi Kyra yang tersenyum sambil melihat HP-nya.
“Kenapa kamu terlihat senang sambil memegang HP-mu itu?” tanya Aditya yang tengah duduk didepannya sambil makan.
“Oh......ini.” sambil melihat Aditya dan menunjukkan HP-nya. “Aku baru saja dapat pesan masuk dari Dr. Aris kalau besok dia akan datang ke Hotel untuk menjemputku bertemu dengan adikku. Besok ikut ya, aku perkenalkan adikku padamu” ucapnya sambil tersenyum.
“Buat apa kamu memperkenalkan adikmu padaku?” ketusnya.
“Kamu kan sudah menjadi kakak iparnya jadi aku harus perkenalkan kalian. Tapi adikku itu belum tahu kalau aku sudah menikah”
“Kamu mau memperkenalkan aku pada adikmu tapi kamu tidak memberitahunya kalau kamu sudah menikah. Terus kamu mau perkenalkan aku sebagai apa?” tanya Aditya.
“Tidak tahu karena aku masih khawatir dengan kesehatannya jika aku mengatakan yang sebenarnya, dia pasti sedih karena aku menikah tanpa memberitahunya”
“Katakan saja padanya kalau kita berteman”
“Memangnya tidak apa - apa?” tanya Kyra.
“Terus....kamu ingin mengatakan apa padanya. Sedangkan kamu mau memperkenalkan aku dengannya. Ya tentu saja itu jalan satu – satunya” ucapnya sambil berdiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Kyra.
“Tidur....aku capek”
Aditya lalu melemparkan tubuhnya di kasur. Tak menunggu lama, ia pun tertidur pulas karena dari tadi ia memang sudah sangat lelah apalagi tubuhnya yang sakit gara – gara duduk lama di pesawat sedangkan Kyra masih tengah duduk sambil sibuk mengirim pesan pada Dr. Aris.
Setelah selesai kirim pesan, ia pun naik ke kasur dan merebahkan tubuhnya disamping Aditya yang sudah tidur. Sekilas ia melihat Aditya yang tidur terlentang sambil memejamkan matanya.
“Dia itu tampan kalau sudah tidur tapi kalau sudah membuka matanya, wajah tampannya berubah menjadi sangat menyebalkan” dalam hati Kyra.
Ia pun menggerakkan tubuhnya membelakangi suaminya itu lalu memejamkan matanya yang sudah mengantuk dari tadi.
***
Keesokan paginya Kyra bangun, ia merasakan sesuatu yang berat didadanya. Ia pun melihat tangan Aditya yang berada di atas dadanya itu, betapa kagetnya ia sampai membuat matanya melotot. Ia lalu mengangkat pelan tangan Aditya dan meletakkannya di sampingnya lalu bangun dari kasur. Ia berdiri disamping kasur sambil melihat Aditya yang masih tertidur.
“Huuufff” sambil mengelus dadanya. “Mengagetkan saja, aku hampir teriak tadi gara – gara tangan nakalnya itu” gumamnya.
Ia mengambil pakaiannya di koper lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk siap – siap bertemu dengan adiknya.
Selama satu jam di kamar mandi, ia keluar dengan pakaian rapi yang sudah menempel ditubuhnya. Ia melihat Aditya sedang duduk di sofa sambil sibuk dengan HP-nya. Aditya langsung melihat Kyra saat ia keluar dari kamar mandi.
“Kamu lama sekali di kamar mandi” ucap Aditya yang terlihat kesal.
“Pagi begini sudah marah – marah” balasnya.
Aditya berdiri dari tempat duduknya menuju kamar mandi sementara Kyra sibuk dengan HP-nya, ia mengirim pesan pada Dr. Aris kalau ia sudah siap.
Setelah beberapa menit, Aditya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menempel ditubuh bagian bawahnya. Ia lalu mengambil baju di kopernya dan memakainya didepan Kyra saat itu.
“Kenapa kamu ganti baju disini sih?” tanya Kyra yang melihat Aditya memasang bajunya.
“Aku lupa bawa baju masuk lagian tidak masalah kan kalau aku berganti baju disini”
“Memangnya kamu tidak malu dilihat seorang wanita memakai baju”
“Kenapa aku harus malu, kita Cuma berdua disini kan?” tanya Aditya sambil melihat Kyra. “Oooo....aku tahu kalau yang malu disini bukan aku tapi kamu” ucapnya yang berusaha menggoda Kyra.
“Idih....siapa yang malu?” sambil memalingkan wajahnya.
“Terus kenapa kamu memalingkan wajahmu?”
“Aku tidak malu, aku hanya kesal melihatmu”
“Benar....kalau kamu tidak malu” ucapnya sambil tersenyum nakal.
“Tidaklah”
Tiba – tiba Aditya memegang handuknya, ia ingin melepaskan handuknya itu didepan Kyra untuk menggodanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kyra sambil menatap Aditya memegang handuk dipinggangnya.
“Melepaskan handukku lah....katanya kamu tidak malu sama sekali”
“Dasar gila” sambil berlari ke kamar mandi.
Aditya tertawa melihat tingkah Kyra yang tiba – tiba berlari ke kamar mandi. Ia lalu melanjutkan kegiatannya tadi. Setelah berpakaian rapi, ia memanggil Kyra yang masih berada di kamar mandi.
“Kyra....berapa lama kamu dikamar mandi terus. Aku sudah selesai berpakaian, keluarlah” teriaknya.
Kyra pun keluar dari kamar mandi, ia melihat Aditya sedang berdiri menunggunya.
“O...ia, aku lupa” ucapnya dengan wajah kaget. Kyra pun berlari mengambil HP-nya yang ia letakkan tadi di sofa.
“Astaga....Dr. Aris sudah ada dibawah menunggu” gumamnya yang melihat pesan masuk Dr. Aris.
Kyra dan Aditya pun berjalan keluar meninggalkan kamarnya menuju lantai bawah dimana Dr.Aris menunggunya. Saat sampai dibawah, Kyra melihat Dr. Aris sedang duduk di Ruang Tunggu Hotel. Ia langsung berjalan cepat ke arahnya sambil tersenyum melihat Dr.Aris berada di depannya. Sedangkan Dr.Aris langsung berdiri saat melihat Kyra.
“Sudah lama nunggu dok” ucap Kyra.
“Oh.....aku barusan datang kok. Baru beberapa menit yang lalu, terus kamu datang sama siapa” sambil melihat ke arah Aditya yang berdiri di samping Kyra.
“Oh....ini Aditya, anaknya Tante Sintya” sambil mengarahkan tangannya pada Aditya. “Dit....kenalkan. Dia Dr. Aris, dokter pribadi adikku”
“Halo....Tuan Aditya. Saya Dr. Aris” sapa Dr. Aris sambil mengulurkan tangannya.
“Aditya...” sambil berjabat tangan dengan Dr. Aris.
“Saya sudah banyak mendengar kabar pernikahan kalian dari Nyonya Sintya....selamat ya Kyra, Tuan Aditya” sambil tersenyum.
“Terima kasih” balas Aditya dengan wajah datarnya.
“Terima kasih dok...tapi bisakah Anda merahasiakannya dari adik saya” pinta Kyra pada Dr. Aris.
“Oh....tentu saja Kyra”
“Terima kasih dok”
“Ia..” balasnya sambil tersenyum. “Ayo....sekarang kita ke Rumah Sakit. Zahila sudah menunggumu, tadi dia sangat senang saat tahu kalau kamu datang ke Amerika”
“Ia dok....saya juga sangat senang bisa bertemu dengan Zahila”
“Mari Tuan Aditya” ucapnya sambil melihat Aditya. Aditya hanya membalas dengan mengangguk.
Mereka bertiga naik taksi menuju Rumah Sakit tempat dimana Zahila dirawat. Didalam mobil Kyra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya itu sampai membuatnya gugup.
Hanya beberapa menit saja, mereka sampai di sebuah Rumah Sakit ternama di Kota New York Amerika Serikat. Mereka bertiga langsung masuk ke dalam Rumah Sakit untuk bertemu dengan Zahila.
Dr. Aris berjalan di depan mereka berdua dan membawa mereka ke kamar pasien tempat dimana Zahila di rawat. Saat masuk, Kyra langsung berlari ke arah Zahila yang tengah bersandar di kasur.
“Zahila....kakak sangat merindukanmu” ucapnya. Ia memegang erat tubuh adiknya itu sambil meneteskan air matanya.
“Kakak....aku juga sangat merindukanmu. Kamu lama sekali baru datang” sambil tersenyum senang.
“Maaf ya sayang.....” sambil menghapus air matanya.
Kyra lalu melepaskan pelukannya dari adiknya itu. Zahila lalu tersadar dengan kehadiran Aditya yang berdiri di samping kakaknya.
“Kakak datang bersama siapa?”tanya Zahila penasaran.
“Oh....ia. Kakak mau kenalkan kamu sama seseorang yang sangat spesial” ucapnya sambil memegang lengan Aditya.
Sontak saja membuat Aditya kaget, bukan karena Kyra memegang lengannya tapi ia kaget dengan ucapan Kyra yang mengatakan kalau dirinya adalah orang yang spesial sampai membuat jantungnya berdetak cepat.
“Orang spesial” ucap Zahila bingung.
“Ia.....dia ini teman kakak, anaknya Tante Sintya yang sudah menolong kita. Orangnya sangat baik sayang, kakak datang bersamanya ke Amerika” ucap Kyra sambil tersenyum pada adiknya. Zahila langsung menatap kearah Aditya sambil tersenyum.
“Halo kak Adit......aku Zahila” sambil mengulurkan tangannya pada Aditya.
“Oh....halo Zahila”
“Terima kasih karena kakak sudah menolong kami bahkan mengantar kakakku kesini. Kalau tidak ada Tante Sintya dan kakak, aku tidak tahu sampai kapan aku di operasi, itu juga mengurangi kerja keras kakak selama ini yang sudah banting tulang mencari uang hanya untuk mengobatiku saja. Kalau tidak ada Tante Sintya, aku tidak tahu sampai kapan kakakku harus bekerja setiap hari tanpa henti hanya untukku. Aku sangat berterima kasih pada keluarga kakak karena kakakku tidak akan susah lagi untuk mengobati penyakitku”
“Apa aku sudah salah paham padanya, selama ini dia mencari uang hanya untuk adiknya saja. Aku pikir dia sangat menyukai uang sampai bekerja dimana – mana bahkan menerima tawaran mami untuk menikah denganku. Dia memang mengatakannya kalau dia menerima tawaran mami karena adiknya tapi aku tidak pernah menyangka kalau selama ini, dia bekerja keras dimana – mana karena membiayai pengobatan adiknya” dalam hati Aditya.
Aditya lalu duduk disamping Zahila sambil memegang kepalanya dengan wajah yang tersenyum pada Zahila membuat Kyra kaget dengan sikap lembut Aditya pada adiknya itu.
“Tidak masalah adik kecil....itu tidak seberapa dibanding dengan kesehatanmu.”
“Terima kasih kakak. Kakak memang sangat baik” sambil memeluk Aditya membuat Aditya kaget. Ia lalu membalas pelukan Zahila sambil mengelu – elus kepalanya.
“Cepat sehat ya...biar kamu bisa bermain dan bersekolah” ucap Aditya.
“Apa dia benar – benar Aditya yang aku kenal.....kenapa bisa sebaik itu pada Zahila?” dalam hati Kyra.
Mereka berdua pun mengobrol asyik sambil tertawa, sedangkan Kyra duduk di sofa bersama Dr. Aris menyaksikan mereka berdua tertawa. Wajah Kyra masih terlihat bingung dengan tingkah Aditya, apakah itu pura – pura atau ia memang tulus pada Zahila.
Bersambung.
Biasakan LIKE setelah membaca ya karena LIKE itu gratis guys.