Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 44 Beautiful Romance



Pukul 7:00 malam, Kyra sedang menyiapkan makan malam untuk Aditya. Ia tengah sibuk memasak di dapur sambil menunggu kedatangan suaminya, ia merasa sangat bahagia saat itu. Ia memasak banyak makanan untuk berterima kasih pada Aditya karena sudah mendatangkan ibu mertuanya ke sekolah.


Setelah masak, ia meletakkan semua makanannya di meja dan melepaskan celemeknya sambil menatap jam dinding yang ada di depannya.


“Kenapa dia belum pulang jam segini?” gumamnya.


Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan duduk di sofa menonton Tv sambil menunggu Aditya pulang.


***


Sementara di Cafe milik Rey, sudah terlihat sangat ramai. Cafenya di penuhi dengan teman – teman kampus Rey yang merupakan Anggota BEM yang dipimpin oleh Aditya. Ada sekitar 100 orang Anggota BEM yang hadir, sebagian anggotanya adalah wanita yang mengagumi Aditya. Biasanya sih hanya ada 60 orang yang hadir jika mereka berpesta tapi saat mereka tahu jika Aditya akan datang, mereka semua hadir tanpa terkecuali apalagi mereka berkumpul di Cafe milik Rey yang merupakan sahabat baik Aditya.


Mereka memang berpesta sebelum melatih para mahasiswa baru yang akan masuk di Universitas Treeya ternama di Jakarta.


Aditya sudah terlihat duduk di sebuah meja yang panjang bersama Rey, Bagas dan yang lainnya.


Beberapa gadis yang datang saat itu saling berbisik sambil menatap Aditya.


“Kak Adit memang sangat tampan, aku senang sekali bisa bergabung di BEM apalagi saat tahu kalau dia datang ke pesta hari ini.” bisik seorang gadis junior pada temannya.


“Aku bahkan berdandan cantik untuk bisa dilihatnya tapi dia tidak pernah melirik kita sekalipun” ucap gadis yang disampingnya


“Kalian itu suka sama Aditya yah” sahut gadis senior yang ada di sampingnya.


“Eh....Kak Santi mendengarnya yah”


“Tentu saja aku mendengarnya....tapi asal kalian tahu yah. Aditya itu sering gonta ganti wanita, ia hanya ingin menidurinya saja tapi tidak ingin memacarinya jadi kalian lupakanlah rasa suka kalian itu karena kalian tidak akan mendapatkan perhatiannya. Hanya satu gadis yang ada di hatinya.” jelas Santi.


“Siapa kak?” tanya gadis junior yang bernama Sesa itu.


“Namanya Aura....mereka bersama saat SMA. Setelah lulus, Aura pergi belajar ke luar negeri.”


“Jadi mereka itu masih pacaran kak”


“Sudahlah...jangan dibahas lagi, kalian perhatikan saja senior kalian yang ingin menyampaikan sesuatu”


“Baik kak” balas bersamaan.


Santi adalah teman baik Aura sejak SMA jadi ia bisa tahu tentang kisah Aditya dan Aura yang tidak banyak diketahui orang.


***


Terlihat seorang pria yang tengah berdiri sambil memegang gelas birnya yang tak jauh dari tempat duduk Aditya. Ia adalah Sandi, anak dari Direktur Universitas Treeya yang berusaha mendekati Aditya agar dirinya bisa seperti Aditya yang dikagumi banyak wanita di kampusnya bahkan sering kali ia menyombongkan dirinya dihadapan para gadis terutama di depan Melia, primadona kampus.


Ia sudah menjabat sebagai Anggota BEM selama dua tahun semenjak Aditya masuk kuliah.


“Kita semua berterima kasih pada Ketua BEM kita karena sudah bersedia hadir di pesta hari ini. Ini merupakan kehormatan bagi kita semua selama dua tahun ini.” ucap Sandi sambil mengangkat gelas birnya dan melihat kearah Aditya.


Aditya hanya memasang wajah dinginnya tanpa merespon teman kampusnya itu yang tidak terlalu ia kenal. Itu menurutnya tapi beda lagi dengan Sandi, yang menganggap dirinya sudah berteman dengan Aditya.


Aditya sebenarnya tidak ingin datang ke pesta mereka tapi ia di paksa oleh Bagas dan Rey sahabatnya apalagi ia adalah Ketua BEM-nya, mau tidak mau ia harus hadir.


Sandi kembali bicara pada teman – teman kampusnya itu.


“Lusa kita akan memulai pembantaian kita untuk para mahasiswa baru yang akan masuk ke Kampus Treeya. Kalian semua harus bersikap tegas jika kalian menghadapi para mahasiswa baru yang berlagak sombong pada seniornya. Berikan mereka pelajaran.” ucap Sandi dengan suara lantang.


“Berisik....aku ingin sekali memukul wajahnya itu sampai dia tidak berani menyombongkan dirinya lagi.” gumam Aditya.


“Biarkan saja dia bersenang – senang, kalau sudah mulai melanggar aturan kita baru kubereskan dia” balas Rey yang mendengarkan ucapan Aditya.


“Cih.....aku sudah tidak tahan melihat wajahnya itu.” Ucap Aditya sambil meneguk gelas birnya.


Sandi kembali bicara, ia memperkenalkan seorang gadis yang paling di sukainya itu.


“Hari ini kita juga kedatangan tamu spesial, gadis yang paling cantik di kampus” ucap Sandi sambil melihat kearah Melia. “Dia adalah gadis primadona kampus kita, Melia.”


Melia langsung berdiri memperkenalkan dirinya pada anggota yang lain.


“Halo semuanya....kenalkan aku Melia. Tahun ini baru bergabung dengan kalian semua.” sapa Melia sambil tersenyum.


“Selamat bergabung Melia” sapa secara bersamaan para Anggota BEM.


“Terima kasih” balas Melia yang terus melihat kearah Aditya.


Tapi Aditya tidak memperhatikannya, pikirannya ada di tempat lain. Ia terus menatap jam tangan yang melingkar di tangannya sambil memikirkan istrinya yang berada di rumah sendirian.


Aditya kemudian mengambil HP yang ada di kantong celananya, ia berencana menghubungi istrinya itu. Ia mencari nomor Kyra di HP-nya dan baru tersadar jika ia tidak punya nomor Kyra.


“Sial....aku tidak punya nomornya, lucu sekali...nomor istriku sendiri tidak kusimpan. Bagaimana aku bisa menghubunginya.”dalam hati Aditya.


Karena kesal, ia terus minum bir yang di tuangkan Rey padanya. Teman – temannya juga sudah mulai minum – minum sambil bercanda satu sama lain.


Sementara Melia mulai terlihat kesal dengan Aditya yang tidak melihatnya atau sekalipun meliriknya biarpun hanya sekali. Ia lalu datang menghampiri Aditya yang tengah sibuk minum.


“Halo senior....” sapa Melia sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Aditya.


Aditya hanya menatap Melia dengan tatapan dingin tanpa membalas ucapan Melia ataupun membalas uluran tangannya.


Melia tidak ingin di permalukan saat itu, ia menarik kursi dan duduk di samping Aditya. Tapi Aditya masih tidak mengubrisnya dan hanya minum bir yang diberikan Rey disampingnya.


Tak lama kemudian, Aditya sudah mulai merasa pusing begitupun dengan Rey dan yang lainnya. Aditya ingin sekali pulang apalagi ia sudah mulai mabuk saat itu.


“Hei....antar aku pulang.” ucap Aditya pada Rey yang duduk di sampingnya.


“Senior....biar aku saja yang mengantarmu pulang, Kak Rey sudah mulai mabuk juga. Aku sama sekali belum minum apa – apa” sahut Melia.


“Aku tidak biasa di antar wanita” ucap Aditya dengan wajah dinginnya.


Tiba – tiba ia menjatuhkan kepalanya di meja karena sudah tidak bisa menahan mabuknya.


Bagas yang melihat sahabatnya yang sudah mabuk langsung datang menghampirinya.


“Biar aku saja yang mengantarnya pulang, dia sepertinya sudah tidak sadar.” ucap Bagas sambil memegang pundak Aditya.


“Oh....ia senior.” balas Melia.


Bagas membantu Aditya bangun dari tempat duduknya sambil memegang kepalanya yang sudah mulai pusing. Ia berjalan keluar bersama Bagas tanpa berpamitan pada yang lainnya.


***


Setelah Bagas dan Aditya keluar, wajah Melia terlihat sangat kesal. Ia langsung meneguk satu gelas bir yang ada didepannya.


“Dia itu sangat dingin, sama sekali tidak memperhatikanku. Tapi aku suka dengan cowok dingin seperti dia karena sekali cowok dingin itu jatuh cinta pasti dia akan setia pada satu wanita. Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan perhatiannya itu. Dia tidak mungkin menolak gadis secantik diriku” dalam hati Melia.


***


Sekarang Bagas sudah berada di dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya itu dengan cepat menuju Apartemen Aditya. Ia melihat Aditya di sampingnya yang sudah tak sadarkan diri.


“Sial....si bocah dingin ini sudah tidak sadarkan diri.” Gumamnya.


Tak lama kemudian, Bagas sampai di Apartemen elit milik Aditya. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus Apartemen. Ia turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Aditya.


“Dit....Dit” panggil Bagas sambil memegang pundak Aditya.


“Eem...” balas Aditya tanpa menggerakkan tubuhnya.


“Ayo bangun, kita sudah sampai rumah.”


Aditya menggerakkan kepalanya dengan pelan kearah Bagas tapi dalam keadaan mata setengah terpejam.


“Mana Kyra....” ucap Aditya dengan suara seraknya.


“Kyra ada di dalam....ayo kita masuk”


Aditya menggerakkan tubuhnya dalam keadaan sempoyongan. Ia lalu di bantu oleh Bagas masuk ke dalam Apartemennya.


Bersambung.


Author sangat berterima kasih jika kalian bisa:


LIKE


VOTE


COMMENT


RATE 5