
Pagi hari pukul 7:00, Kyra membuka matanya secara perlahan. Ia merasakan hembusan nafas Aditya di dekat wajahnya, tangannya melingkar di dadanya. Ia tidak bisa bergerak karena pelukan erat Aditya ditubuhnya. Ia hanya membiarkannya begitu saja sambil memikirkan kejadian tadi malam yang membuatnya tidak menyangka akan perasaan Aditya padanya.
“Mengingat semalam seperti mimpi, aku tidak menyangka kalau dia punya perasaan padaku. Apa benar dia mencintaiku, aku masih tidak percaya dengan ucapannya semalam. Tapi jika ini mimpi aku seperti tidak ingin bangun dari mimpi ini. Entah sejak kapan, aku mulai menyukainya dan entah sejak kapan dia menyukaiku. Aku ingin bertanya padanya tapi aku takut jika dia tiba – tiba bilang kalau dia tidak pernah mengatakan cinta padaku. Aku tidak bisa menebak isi pikirannya yang selalu berubah – ubah itu.” dalam hati Kyra.
Ia menengok sambil tersenyum memandangi suaminya yang masih tertidur sambil memeluknya dengan erat.
“Dit....semoga yang kamu katakan tadi malam itu benar adanya dan jika itu benar semoga kita terus seperti ini.....selamanya selalu bersama. Aku mencintaimu, Aditya.” dalam hati Kyra sambil menatap Aditya.
Ia kemudian menengok kearah jam kecil yang ada di sampingnya. Ia raih jam yang ada di meja samping kasurnya itu.
“Astaga...sudah jam segini.”gumamnya.
Kyra berusaha memindahkan tangan Aditya dari dadanya. Tapi tangannya kembali melingkar di dada Kyra. Ia kembali memindahkan tangan Aditya karena ia sudah ingin sekali bangun dari tempat tidurnya apalagi ia harus ke kampus tapi Aditya kembali memeluknya dengan erat membuatnya semakin susah lepas.
“Dit....kamu sudah bangun yah.” Ujarnya sambil melirik suaminya yang ada di sampingnya.
“Eem...” balas Aditya yang masih dalam keadaan mata terpejam.
“Ayo lepaskan tanganmu....aku ingin bangun.”
“Eem...sebentar dong sayang, aku masih ingin memelukmu.” balas Aditya
Ia menggesek – gesekkan kepalanya di telinga istrinya sambil menghujaninya dengan ciuman membuat Kyra merasa geli.
“Dit....apa sih yang kamu lakukan pagi – pagi begini. Aku geli tahu?” ucapnya sambil menaikkan dan memutar pundaknya karena merasa geli.
“Sayang......aku masih kangen.” Ucap Aditya dengan suara seraknya.
“Ini sudah pagi Dit....aku harus ke kampus. Ini hari pertama ospek, kalau aku di hukum sama senior, bagaimana?”
Aditya membuka matanya dan memutar posisinya diatas Kyra. Kyra langsung kaget melihat Aditya berada di atasnya.
“Kamu mau apa lagi?” tanya Kyra dengan wajahnya yang memerah karena malu.
“Wajahmu merah yah.” jawab Aditya dengan senyuman nakalnya.
“Apanya yang merah.?” ucapnya sambil memalingkan wajahnya karena malu.
“Manis sekali sih dia. Aku ingin sekali menggigitnya.”dalam hati Aditya.
Aditya memegang dagu Kyra menghadap kearahnya dan langsung mencium bibirnya dengan penuh gairah. Ia ingin melanjutkan aksinya itu tapi tubuhnya di dorong Kyra.
“Ada apa?” tanya Aditya serius.
“Dit.....aku benar – benar harus ke kampus. Hari ini kan hari ospek, kalau aku ditertawakan gara – gara terlambat hari pertama, bagaimana?”
“Haaaaa......baiklah.” jawabnya.
Ia mencium kening Kyra dengan lembut lalu turun dari tempat tidurnya. Saat itu Aditya hanya memakai celana Boxer hitam tanpa memakai baju. Kyra sampai menelan ludahnya melihat tubuh berotot suaminya itu.
“Aku baru menyadari kalau dia begitu tampan dengan tubuhnya yang berotot itu. Astaga Kyra.....kamu sudah mulai berpikiran kotor seperti dia.” dalam hati Kyra yang terus menatap tubuh Aditya.
Aditya membungkuk dan memajukan wajahnya di depan Kyra sampai Kyra merasakan hembusan nafasnya. Jantungnya sampai berdetak kencang.
“Ya tuhan....jantungku. Aku tidak tahan dengan tatapannya itu.” dalam hati Kyra.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Ah....ti...dak.” balasnya dengan gugup.
“Tenang saja....kamu akan menikmati tubuhku nanti malam bahkan membuatmu sangat puas.” Ucapnya dengan nada pelan.
“Apa sih Dit.....?” sambil memasang ekspresi malu di depan Aditya.
Aditya kembali menegakkan tubuhnya sambil tertawa lebar karena senang melihat ekspresi Kyra yang malu – malu itu.
“Cih...” sambil memalingkan wajahnya karena kesal melihat tawa Aditya yang seperti mengejeknya itu.
Setelah tertawa senang, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba – tiba Kyra memanggilnya.
“Dit....Dit.”
Aditya langsung menengok kearahnya.
“Ada apa.....mau dilanjutkan yang tadi?” tanya Aditya sambil berjalan mendekatinya.
“Siapa juga yang mau melakukan itu. Aku cuma mau bilang kalau selama dua hari ini, aku ada kegiatan kampus dan harus bermalam, tidak apa – apa kan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu darimana?” tanya Kyra penasaran.
“Apa sih yang tidak kuketahui di kampus?”
“Jadi kamu mengijinkanku pergi kan.”
“Tentu saja.....buat apa aku melarangmu pergi. Itu kegiatan kampus kan. Tapi aku sendiri yang akan mengantarmu sampai ke sana.”
“Tidak bisa.....kampus sudah menyediakan mobil Bus untuk kita semua.”
“Ya sudah....kalau tidak mau kuantar maka tidak usah pergi.”
“Gimana sih....katanya tadi tidak dilarang, kenapa sekarang kamu larang lagi?”
“Mau pilih yang mana, pergi denganku atau tinggal di rumah melayaniku. Kalau kamu tidak pergi juga tidak masalah, kamu tetap akan kuliah tanpa kegiatan begitu.”
“Baiklah....aku pergi denganmu.”
“Begitu dong sayang.” sambil memegang kapala istrinya.
Ia kemudian mencium bibir Kyra sambil mengusap pipinya dengan lembut. Ialu melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
Kyra hanya tersenyum malu sambil memegang bibirnya yang habis dicium Aditya.
Setelah Aditya masuk ke kamar mandi, Kyra turun dari tempat tidurnya dengan selimut di tubuhnya. Ia berjalan menuju Ruang Ganti dan memakai baju mandinya.
Tak lama kemudian, Aditya keluar dari kamar mandinya dan berjalan ke Ruang Ganti sedangkan Kyra langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah melihat Aditya keluar.
Setelah berganti pakaian, Aditya duduk di sofa menunggu Kyra selesai mandi.
Hanya beberapa menit saja, Kyra keluar dari kamar mandinya dan melihat Aditya sedang duduk di sofa sambil memainkan HP-nya.
Saat itu, Aditya menghubungi Bagas jika acara penyambutannya di undur sampai ia datang, ia juga memberitahu kalau Kyra akan datang bersamanya dan tidak akan ikut bersama mereka naik mobil kampus.
***
Ya...Kyra memang tidak tahu kalau suaminya Ketua BEM dikampusnya yang bisa mengatur anggotanya kapan saja. Ia hanya tahu kalau ia satu kampus dengan Aditya.
***
Kyra langsung masuk ke Ruang Ganti tanpa mempedulikan Aditya yang tengah sibuk itu. Ia memakai pakaian setelan training kaos olahraga yang dibagikan saat ia pergi ke kampusnya kemarin bersama ibu mertuanya.
Kyra keluar dengan pakaian seragam olahraga yang membuat penampilannya terlihat culun. Ia duduk di depan cermin sambil berusaha mengepang dua rambutnya agar penampilannya semakin terlihat culun. Itu memang persyaratan ospek yang harus ia lakukan. Aditya melihat Kyra yang tengah kesusahan mengepang rambutnya langsung datang menghampirinya.
“Sini...biar aku saja yang melakukannya.” Ucapnya sambil memegang rambut panjang Kyra.
“Tentu saja bisa....aku bisa melakukan segalanya.” Jawab Aditya sambil menghapus air liur dengan ibu jarinya lalu menciumnya dengan lembut diikuti senyuman kecil dibibirnya.
Kyra langsung menunduk malu melihat tingkah mesum Aditya padanya. Ia tersenyum sambil memegang bibirnya yang habis dicium itu.
Ia kembali mengangkat kepalanya melihat Aditya di cermin yang sibuk mengepang rambutnya.
“Aku bingung dengan si Ketua panitianya itu.”
“Ada apa?” tanya Aditya.
“Bikin ide kekanak – kanakan seperti ini. Masa gadis – gadis di suruh kepang dua begini, disuruh berpenampilan culun, kan aneh.” Ucap Kyra dengan kesal.
“Kamu tidak suka.”
“Ia...idenya benar – benar murahan. Memangnya kita anak SD berpenampilan seperti ini”
“Oyah....jadi kamu menganggap ini seperti anak SD.”
“Tentu saja.....pasti si Ketua panitianya itu orang yang kampungan.”
“Siapa sih yang punya ide begini, kalau saja aku tahu ini murahan dimatanya aku tidak mungkin menyetujui ide mereka yang seperti ini. Nama baikku jadi tercemar kan di depan istriku gara – gara ini. Awas saja kalau sampai aku tahu.” dalam hati Aditya.
“Dit....Dit.” panggil Kyra membuyarkan lamunannya.
“Yah....”
“Apa belum selesai juga?” tanya Kyra.
“Oh.....sudah selesai kok. Mana pitanya.”
“Nih...” sambil menyerahkan pada Aditya. “Lihat saja pengikatnya....masa harus pakai pita merah begitu. Dasar kampungan.”
Aditya semakin kesal mendengar ucapan Kyra yang menghina, ia ingin sekali memukul orang yang sudah memberikan ide seperti itu kepada para mahasiswa baru. Tapi ia menyembunyikan kekesalannya itu didepan Kyra.
“Sudah sayang...” ucapnya sambil mencium kepala istrinya.
Kyra memegang rambutnya yang habis di kepang rapi oleh Aditya.
“Wah....kamu pintar sekali. Berapa gadis yang sudah kamu kepang rambutnya?” tanya Kyra dengan serius.
“Aku baru pertama melakukannya padamu sayang.”
“Cih....bohong.”
“Ya sudah....kalau kamu tidak percaya.”
Kyra berdiri sambil menatap Aditya dengan senyuman manisnya.
“Aku percaya kok.”
Aditya hanya membalas senyuman sambil memegang lembut kepala Kyra.
Kyra membalikkan badannya kearah cermin sambil melihat penampilan culunnya. Ia sangat tak suka dengan training longgar yang dipakainya ditambah dengan rambutnya yang di kepang dua membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Tapi mau tidak mau ia harus terima, apalagi bukan hanya ia yang seperti itu tapi semua mahasiswa yang akan ikut ospek.
“Sudah....jangan dilihat lagi. Cepat ambil barang – barangmu, baru kita pergi.”
“Oke..”
Kyra mengambil koper kecilnya di dalam kamar ganti dan keluar menghampiri Aditya. Mereka kemudian keluar dari Apartemennya.
Di luar, mereka melihat Nyonya Sintya yang baru sampai di depan Apartemennya. Nyonya Sintya datang menghampiri mereka berdua dengan wajah yang terlihat khawatir.
“Kyra....kamu baik – baik saja sayang.” Ucap Nyonya Sintya.
“Eh..mami.”
“Kamu tidak teluka kan”
Ia memegang pundak Kyra sambil memutar – mutar tubuhnya melihat apakah ada yang terluka.
“Mi...aku baik – baik saja.”
“Tadi malam....kenapa kamu sampai keluar meninggalkan Apartemen Adit. Apa Aditya memperlakukanmu dengan buruk?” tanya Nyonya Sintya penasaran.
“Tidak mi.....kami hanya salah paham saja.”jelasnya.
“Benarkah.”
“Ia...”
Orang yang dibicarakan, hanya berdiri dengan tangan melingkar di dadanya sambil menatap mereka dengan wajah datarnya.
“Apa kalian sadar kalau aku disini?”
Nyonya Sintya langsung menengok kearah Aditya dengan tatapan kesalnya.
“Kamu benar – benar keterlaluan yah. Mami semalaman tunggu kabar kamu tapi kamu sama sekali tidak pernah kasih kabar tentang Kyra.”
“Tadi malam aku lupa menghubungi mami.” balasnya dengan santai.
“Mami jangan marah yah. Aditya tidak salah, aku yang salah karena pergi dari rumah begitu saja.” Ucap Kyra yang berusaha membela Aditya.
“Ya sudahlah....karena kamu yang bilang seperti itu jadi mami tidak akan memperpanjangnya lagi.”
Nyonya Sintya tiba – tiba sadar dengan penampilan aneh Kyra. Ia menatap menantunya itu dari ujung bawah ke atas.
“Kenapa penampilanmu aneh begini, rambut kepang seragam training seperti orang yang tidak terurus?” tanya Nyonya Sintya.
“Ini bagian dari ospek mi.”
“Jelek sekali sayang.” Ucapnya sambil menutup mulutnya karena menahan tawanya.
“Mau bagaimana lagi, ini perintah dari senior di kampus.”
“Kampungan sekali.”balas Nyonya Sintya.
Aditya langsung mengerutkan keningnya melihat mereka mengobrol tanpa mempedulikannya.
“Egehm.....sampai kapan kalian bicara berdua begitu seolah - olah aku tidak ada. Ayo cepat...kita pergi.”
Mereka berdua langsung melihat Aditya yang tengah berdiri didepannya sambil memasang wajah kesalnya.
“Pergilah sayang. Suamimu sudah kesal tuh.”bisiknya.
“Ia mi....aku pergi dulu yah, Daaa....mami.”
“Daaa....sayang”
Aditya naik mobilnya bersama Kyra. Ia mengendarai mobil sport hitamnya menuju tempat kegiatan ospeknya.
Bersambung.
Jangan lupa like yah.