
Keesokan harinya pukul 2:00 siang, Kyra pergi bertemu dengan Nyonya Sintya dan Pak Mustang disalah satu Hotel terbesar milik Nyonya Sintya yang bernama Hotel Permata. Ya....Nyonya Sintya memang seorang wanita karir. Ia memiliki bisnis sendiri tanpa campur tangan dari keluarga Sinatria.
Saat sampai, Kyra langsung menuju meja Resepsionis yang ada dilantai bawah Hotel. Ia mengkonfirmasi kedatangannya pada salah satu Karyawan Resepsionis yang ada di Hotel itu jika ia punya janji dengan Nyonya Sintya.
“Permisi mba” sapa Kyra.
“Ia nona. Ada yang bisa saya bantu” balas salah satu Karyawan Resepsionis.
“Saya ingin bertemu dengan Nyonya Sintya mba”
“Anda sudah punya janji nona”
“Oh....ia mba. Saya sudah punya janji dengannya. Beliau bilang kalau saya sudah sampai, saya harus melaporkan kedatangan saya disini” ucap Kyra sambil tersenyum.
“Baik nona, saya akan menghubungi sekretaris nyonya dulu. Anda silahkan tunggu ya nona” balasnya dengan ramah.
“Baik mba”
Karyawan Resepsionis pun menghubungi sekretaris Nyonya Sintya sedangkan Kyra tengah sibuk melihat sekeliling Hotel.
“Hotelnya benar – benar mewah seperti yang dibilang orang - orang......aku baru pertama kali masuk kesini tapi sudah sangat takjub. Pasti orang yang punya adalah orang yang sangat kaya raya” dalam hati Kyra.
Setelah selesai menghubungi sekretaris Nyonya Sintya. Ia kemudian berbicara kembali pada Kyra.
“Nona.....nona Kyra” panggilnya membuyarkan lamunan Kyra.
“Eh...ia mba. Maaf saya tadi melamun. Bagaimana mba?” tanya Kyra.
“Anda tunggu di Restoran saja nona, nanti Nyonya akan turun menemui Anda karena beliau masih sibuk rapat” jelasnya.
“Baik mba....tapi Restorannya dimana ya?” tanya Kyra.
“Mari saya antar nona”
Karyawan Resepsionis itupun mengantar Kyra ke Restoran yang ada di Hotel itu. Setelah sampai, ia duduk disalah satu meja Restoran, dan Karyawan Resepsionis itu pergi setelah mengantar Kyra. Kyra terus menunggu kedatangan Nyonya Sintya. Namun ia tak tahu jika orang yang ditemuinya adalah Nyonya Sintya, ibu dari Aditya karena saat pertemuan mereka, ia tidak tahu nama ibu Aditya.
Hanya sepuluh menit, Nyonya Sintya datang bersama Pak Mustang. Ia sudah melihat Kyra duduk disalah satu meja Restoran, namun Kyra masih belum menyadari kedatangannya karena ia duduk membelakangi Nyonya Sintya. Nyonya Sintya datang menghampirinya dan sudah berdiri didepannya. Sontak saja membuat Kyra terkejut dan berdiri saat melihat Nyonya Sintya.
“Tante....” panggilnya dengan ekspresi terkejut.
“Ia.....ternyata kamu ya Kyra.” memasang wajah pura – pura tidak tahu.
“Ia tante” sambil tersenyum.
Nyonya Sintya duduk setelah Pak Mustang menarik kursi untuknya.
“Ayo duduk...kenapa berdiri saja” sambil melihat kearah Kyra.
“Ia tante” sambil duduk.
“Waktu kamu menelfon kamu bilang namamu Kyra. Tante kira hanya namanya saja yang mirip dengan orang yang pernah tante temui ternyata benar – benar kamu.” Sambil tersenyum. Padahal sih Nyonya Sintya cuma pura – pura tidak tahu biar si Kyra tidak curiga padanya kalau ia memang sengaja mengatur semuanya.
“Saya juga tidak menyangka kalau itu tante”
“Terus ada masalah apa kamu mengajak tante bertemu?” tanya Nyonya Sintya seolah – olah tak tahu maksud kedatangan Kyra.
“Seperti saya bilang ditelfon tante, kalau ini masalah adik saya”
“Adik kamu” dengan pura – pura bingung.
“Ia tante.....adik saya..” Kyra belum menyelesaikan omongannya namun dipotong oleh Nyonya Sintya.
“Bagaimana kalau kita pesan makanan sama minuman dulu. kamu pasti haus kan?”
“Oh...silahkan tante” sambil tersenyum.
Ia lalu menyuruh Pak Mustang memanggil pelayan Restoran. Pelayan Restoran datang dan sudah berdiri disamping mereka menunggu makanan yang akan mereka pesan.
“Pesanlah makanan yang kamu suka” ucap Nyonya Sintya.
“Tidak usah tante. Saya pesan minum saja” balas Kyra.
“Kenapa?” tanya Nyonya Sintya.
“Saya masih kenyang”
“Baiklah”
“Jadi....kenapa dengan adik kamu?” tanya Nyonya Sintya.
“Eem begini tante......Adik saya dirawat di Rumah Sakit Sejati, dan dia menderita penyakit jantung bawaan. Kebetulan saya menerima pemberitahuan dari Rumah Sakit kalau dia sudah mendapatkan donor jantung yang cocok untuknya. Tapi saya masih belum mendapatkan biaya untuk operasi adik saya jadi saya ingin meminta bantuan dari tante kalau bisa saya diberi keringanan”
“Jadi...adik kamu yang menerima donor jantung itu”
“Ia tante......kalau bisa saya minta keringanan dari tante” dengan ekspresi khawatir.
“Kamu minta keringanan apa dari saya?” tanya Nyonya Sintya dengan wajah serius.
“Kalau bisa saya ingin mencicil biayanya atau kalau bisa saya minta keringanan waktu dari tante. Itu saja yang mampu saya lakukan saat ini” dengan wajah serius.
“Kalau itu....tante tidak punya wewenang Kyra.”
Kyra menunduk dengan wajah kecewa didepan Nyonya Sintya.
“Kenapa kamu tidak minta pada pihak Rumah Sakit supaya mereka bisa membantu kamu mencicil biayanya?” tanya Nyonya Sintya.
“Saya sudah meminta bantuan dari mereka tapi pihak Rumah Sakit juga tidak punya wewenang. Dokter yang merawat adik saya malah memberikan kartu nama asisten tante pada saya. Dia bilang, saya bisa minta bantuan dari tante”
“Kyra.....saya bisa saja membantu kamu untuk memberikan waktu tapi tante hanya perantara saja bagi orang – orang yang membutuhkan dan pihak mereka hanya memberikan waktu satu minggu. Diluar itu, tante sudah tidak punya kuasa lagi” jelasnya.
Kyra hanya menunduk kecewa mendengar ucapan Nyonya Sintya, matanya sudah berkaca – kaca. Ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi.
“Tante bisa bantu kamu dengan cara yang lain tapi tante punya syaratnya”
Kyra tiba – tiba menegakkan kepalanya dan menatap Nyonya Sintya dengan mata merahnya yang hampir menangis.
“Apa tante......Kyra akan melakukan apa saja agar adik saya bisa dioperasi?” tanya dengan wajah senang.
“Kamu harus bersedia menikah dengan anak saya” dengan wajah serius.
“Apa...menikah” Kyra sangat terkejut mendengar ucapan Nyonya Sintya. Ia lalu terdiam mencoba mencerna ucapan Nyonya Sintya tadi.
“Ia...menikah. Kalau kamu bersedia menikah dengan anak tante. tante akan membawa adikmu ke Amerika untuk di operasi. Bukan hanya itu, tante juga akan membayar semua kebutuhanmu dan adikmu seperti biaya pendidikanmu dan biaya adikmu. Sementara adikmu dirawat di Amerika, dia juga akan sekolah disana”
“Kenapa tante meminta syarat ini dari saya?”
“Ibu mertua tante ingin sekali melihat cucunya menikah apalagi sekarang ia tengah sakit – sakitan. Mau tidak mau tante harus menuruti kemauannya”
“Tapi kenapa tante memilih saya, orang yang baru tante kenal. Padahal kan tante bisa cari gadis yang lebih baik dari saya?” tanya Kyra.
“Itu karena tante melihat kalau kamu adalah gadis yang mandiri dan bertanggung jawab, jarang sekali ada gadis seperti kamu. Tante banyak kenalan gadis yang berpendidikan dan sopan, tapi mereka itu tidak seperti kamu yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap orang yang kamu sayang diusia kamu yang masih muda.” Jelasnya.
“Apa tante tahu kalau saya itu anak yatim piatu.?” Tanya Kyra
“Tante tahu.....saat tante mengira kamu pacarnya Aditya, tante sudah menyelidiki latar belakang keluarga kamu dan tante tidak mempermasalahkan jika kamu anak yatim piatu, selama tante menyukai kamu. Apalagi tante tahu kalau kamu adalah gadis yang baik”
“Apa tante tidak takut kalau apa yang tante pikirkan tentang saya itu tidak benar?”
“Kalau kamu bukan gadis yang baik seperti yang tante pikirkan. Kamu tidak akan mengatakan ini pada tante”
“Tapi pernikahan itu harus didasari dengan cinta. Bagaimana bisa saya menikah dengan orang yang sama sekali tidak saya cintai apalagi saya dan anak tante tidak terlalu akrab”
“Apa yang kamu katakan itu benar? Tapi Kyra, tante juga orang yang menikah dengan perjodohan hasilnya sekarang kami saling mencintai dan tante adalah orang yang percaya tentang adanya cinta dalam setiap perjodohan bahkan tante tidak pernah bertemu dengan suami tante sebelum pernikahan. Kami bertemu saat hari pernikahan kami tapi kami bisa bertahan sampai sekarang” jelas Nyonya Sintya.
“Tante.....saya sebenarnya tidak pernah membayangkan jika saya harus menikah dengan orang lain apalagi saya masih SMA”
“Tante mengerti Kyra. Jadi untuk sekarang tante akan memberikan waktu tiga hari untuk memikirkannya dengan baik – baik....tapi jangan terlalu lama berpikir ya. Nanti setelah kamu menyetujui persyaratan tante, kamu bisa menghubungi nomor yang kemarin kamu telfon”
“Baik tante....saya akan menghubungi tante jika saya sudah bisa memutuskan” sambil menganggukkan kepalanya.
“Oke....kalau tidak ada lagi, kamu bisa pulang sekarang karena tante juga masih ada rapat” ucapnya dengan serius.
“Baik...terima kasih waktunya tante. Maaf karena sudah mengganggu Anda” sambil berdiri. Nyonya Sintya juga ikut berdiri setelah melihat Kyra berdiri.
“Ia...tidak masalah”
“Kalau begitu, saya permisi tante” sambil berjabat tangan.
Kyra pergi meninggalkan Nyonya Sintya yang masih berdiri bersama Asistennya. Setelah melihat kepergian Kyra, Nyonya Sintya kembali ke kantornya diikuti oleh Pak Mustang Asistennya.
Bersambung