Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 72 Beautiful Romance



Aura dan Santi sudah menunggu kedatangan Kyra dikelas seni. Ketika Kyra sudah dekat dari kelasnya, Santi dengan sigap duduk didekat Aura.


“Dia sudah datang.”Bisik Aura.


Santi hanya mengangguk.


Ketika Kyra sudah berada didepan pintu. Santi mulai berbicara pada Aura yang sedang sibuk melukis.


“Jadi selama ini kamu berhubungan dengan Aditya dibelakang Kyra dan tunanganmu” Ucapnya.


“Ia...”Balasnya dengan lembut sambil melihat Santi.


Kyra yang mendengar itu, berhenti didepan pintu bersama Lea karena mendengar pembicaraan mereka.


Santi melanjutkan obrolannya dengan Aura.


“Kamu sudah gila yah. Bagaimana bisa kamu kembali pada orang yang sudah menikah apalagi kamu itu sudah punya tunangan?”


“Maaf....Santi. Aku juga tidak bisa menghindarinya, setelah kembali dari sini aku sangat kecewa ketika melihat Aditya dan Kyra. Aku berusaha menerima semuanya sampai kejadian Melia terjadi. Aditya mulai melihatku, kami sering kirim pesan...disitulah kami berdua merasa nyaman. Aditya bilang padaku kalau dia akan mencari alasan untuk menceraikan Kyra. Tapi....aku tidak menyangka kalau Kyra sampai hamil. Lalu aku bilang padanya untuk berhenti berhubungan dibelakang Kyra, tapi dia terus bilang dia akan menceraikan Kyra setelah Kyra melahirkan. Dia hanya ingin bertanggung jawab pada wanita yang ia hamili. Aditya juga bilang kalau dia bertahan dengan Kyra karena hanya ingin mengambil anaknya saja.”


“Bagaimana bisa kamu begitu pada Kyra, bukankah dia temanmu?”


“Aku tahu.....dia tetaplah temanku sampai kapanpun. Aku berteman dengannya tulus tidak pernah pura – pura. Aku tidak tahu kalau Kyra sampai tahu hubungan kami apalagi kalau sampai dia tahu kalau Aditya tidak mencintainya lagi. Dia pasti akan sangat sedih, aku harus bagaimana Santi, apakah aku keluar negri lagi untuk menghindari Aditya. Kamu juga tahu sendiri kan sifat Aditya itu suka memaksa. Aku juga tidak tega dengan Kyra yang sudah menjadi temanku, aku sudah menjadi wanita jahat....hiks....hiks.” Ucapnya sambil menangis pura – pura.


“Sudah jangan menangis lagi.” Balasnya sambil mengusap punggung Aura.


“Aku tidak tega dengan Kyra yang tengah hamil muda. Apalagi kalau sampai dia tahu kalau Aditya itu hanya menganggapnya sebagai ibu dari anaknya, aku harus bagaimana supaya membuat Aditya tidak mencintaiku.”


“Jangan sedih begitu Aura. Ini semua bukan salahmu, kalian dari awalkan sudah bersama tapi si Kyra itu tiba – tiba datang dalam hubungan kalian. Aku sekarang bisa memaklumi kalian berdua yang tiba – tiba kembali bersama. Seharusnya yang pergi itu Kyra bukan kamu.” Ucapnya.


“Ia....tapi itu semua gara – gara aku. Kalau saja aku tidak mengatakan padanya kalau aku meninggalkannya karena ke luar negri untuk menyembuhkan penyakit jantungku, mungkin dia tidak bersamaku sekarang.”


“Jangan menangis Aura.”


Kyra tidak tahan mendengar pembicaraan mereka, ia pun pergi meninggalkan kelas seni bersama dengan Lea.


Mereka berdua pergi menuju Bas Champ Aditya. Kyra langsung masuk bersama Lea. Ia menangis sedih karena tidak tahan dengan rasa sakitnya mendengar pembicaraan Aura dan Santi. Ia langsung duduk disofa sambil menangis. Lea pun duduk disamping temannya itu.


“Hiks....hiks....hiks....” suaranya yang menangis sambil menutup wajahnya.


“Kyra tenanglah....apa yang kamu dengar tadi itu pasti semuanya bohong. Kamu jangan berpikiran yang tidak – tidak dulu. Sebaiknya kamu bicarakan dengan Kak Adit. Kak Adit tidak mungkin seperti itu.” Ucap Lea sambil memegang pundak Kyra.


“Aku juga tidak ingin mempercayainya Lea.....tapi mendengar ucapan Aura rasanya sakit sekali seperti ada seribu jarum yang menusuk ke dalam jantungku. Sakit sekali rasanya.” Ucapnya sambil melihat Lea.


“Tenang kan dirimu dan bicarakan baik – baik dengan Kak Adit tentang apa yang kamu dengar tadi. Kalian berdua harus membicarakannya berdua, jangan hanya mendengarnya dari satu sisi.”


“Ia....aku akan mencoba bicara padanya nanti.”


“Aku percaya sama Kak Adit kalau dia tidak akan melakukan hal itu padamu.”


“Aku tidak tahu aku harus pecaya pada siapa lagi. Hatiku merasa ragu sekarang.”


“Kenapa kamu bisa bicara begitu. Bukankah kamu harus mempercayai suamimu sendiri daripada orang lain yang tiba – tiba masuk dalam kehidupan kalian berdua?”


“Beberapa bulan terakhir ini aku sering melihat dia membaca pesan dari HP-nya sampai wajahnya kaget ketika aku mendatanginya. Aku tidak punya kecurigaan sama sekali padanya. Tapi itu terjadi beberapa kali Lea, apalagi setelah mendengar ucapan Aura, pikiranku kemana – mana. Seharusnya aku tidak meragukannya bukan. Tapi kenapa sekarang hatiku sangat rapuh, aku tahu kalau dari awal aku hanya menikah dengannya karena terpaksa bahkan dia pernah mengatakan padaku kalau ada wanita yang dia cintai dan wanita itu sekarang muncul dalam kehidupannya. Seharusnya memang aku yang pergi bukan....hiks...hiks..” Ucapnya yang masih menangis sedih.


“Kamu tidak harus meragukan suamimu. Kamu harus percaya padanya, Kyra.”


Memang Aditya selalu melihat pesan dari HP-nya secara sembunyi – bunyi tapi itu bukan karena pesan dari Aura tapi melainkan email masuk dari Ivan untuk istrinya.


Kyra kembali berbicara pada temannya itu.


“Ia....aku juga ingin Lea. Tapi aku mengingat ucapan yang dia katakan padaku. Meskipun dia tidak mencintaiku, dia tidak akan menceraikanku. Apa semua perbuatan yang selama ini dia lakukan padaku hanya karena merasa kasihan padaku yang tidak punya siapa – siapa apalagi dia pernah bilang kalau aku sudah tidak tahan dengannya, aku boleh meminta cerai padanya. Apa sekarang dia sedang menunggu aku meminta cerai padanya, Lea?”


“Kyra...aku mohon jangan berpikiran seperti itu. Kamu hanya mendengar ucapan Aura saja tapi kamu tidak memiliki bukti kalau mereka berhubungan. Kalau cuma karena alasan pesan itu saja, itu belum bisa menjadi buktinya...Kyra. Kamu harus mempercayai suamimu, Kak Adit bukan pria hina seperti yang dikatakan Aura.”


“Ia.....aku harus mempercayainya. Harus.....” Ucapnya yang masih meneteskan air matanya.


“Aku tahu...kamu wanita yang kuat, Kyra.” Ucapnya sambil mengusap punggung Kyra dan menghapus air mata temannya itu.


“Aku tidak menyangka kalau Aura bisa berbuat seperti itu, aku pikir dia adalah orang yang baik ternyata dia lebih licik dari Melia. Kalau dia wanita baik – baik, dia tidak mungkin punya pikiran untuk kembali pada Aditya yang sudah punya istri. Kita tertipu dengannya.” Ucapnya sambil menatap Kyra.


Lea kemudian memeluk Kyra dengan erat yang masih menangis sedih.


“Sudah.....jangan menangis.”


“Aku tidak bisa menahan air mataku, aku sangat sedih karena tidak menyangka kalau orang yang kuanggap teman ternyata menusukku dari belakang.”


“Sudahlah....hapus air matamu. Wanita seperti itu tidak pantas kamu tangisi.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya dari Kyra.


Setelah berpelukan.....Kyra menghapus air matanya dan merapikan penampilannya.


“Kamu sudah merasa baikan.”


“Ia...” Balasnya sambil tersenyum.


Padahal ia masih sedih memikirkan pembicaraan Aura tapi ia berusaha menutupi dari temannya itu.


Tak lama kemudian, Aditya datang bersama dengan Andi, Rey dan Bagas bersama teman seangkatannya. Ia langsung mendatangi istrinya yang tengah duduk bersama Lea.


“Ia...”


Aditya sadar dengan wajah sembab istrinya itu.


“Kamu habis menangis lagi.”


“Ia....moodku hari ini tidak bagus.” Ucapnya dengan datar.


“Kalau begitu kita pulang saja.”


“Tidak usah....bukankah kamu ingin berpesta dulu dengan teman – temanmu.”


“Kita semua memang berencana makan – makan untuk merayakan kelulusan disini. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa pulang.”


“Tidak apa – apa.” Balasnya dengan wajah datarnya.


Aditya menghela nafasnya dengan pelan. “Baiklah....tapi kalau kamu sudah tidak tahan berada disini. Kamu panggil aku yah.”


“Eem...” Balasnya dengan wajahnya yang datar.


“Kalau begitu....kamu duduk disini saja bersama Lea, aku kesana dulu.”


Kyra hanya mengangguk.


“Lea....temani Kyra dulu yah.”


“Ia....kak.”


Aditya berjalan kearah teman – teman seangkatannya yang tengah berkumpul di ruangan yang tak jauh dari Kyra. Banyak teman seangkatan Aditya berdatangan, Aditya sudah memesan beberapa makanan dan minuman untuk merayakan wisuda mereka.


Sebenarnya Aditya punya perayaan pesta tiga hari lagi atas perintah ibunya yang ingin sekali mengadakan pesta perayaan yang besar – besaran untuk anaknya itu yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Tapi Aditya ingin merayakannya sekarang, menurutnya sekarang lebih dapat momennya daripada harus menunggu tiga hari.


Kembali ke Aditya.


Bas Champnya sudah dipenuhi oleh teman – teman seangkatannya. Hanya jurusan otomotif saja saat itu yang hadir kecuali Andi, hanya dia sendiri saja yang bukan jurusan otomotif. Andi memang seperti itu, meskipun bukan jurusannya tapi ia selalu mengikuti kemanapun sepupunya itu pergi.


Terlihat Santi, Aura dan juga laki – laki yang ia sebut tunangannya itu masuk kedalam Bas Champ Aditya. Aura datang menghampiri Kyra yang sedang duduk bersama Lea.


“Kyra....aku mencari – carimu tadi. Kenapa kamu tidak pergi ke Ruang Seni?” Tanya Aura dengan nada lembutnya.


“Cih.....dasar wanita licik.” Dalam hati Lea.


“Ada apa?” Tanya Kyra dengan wajah dinginnya.


“Ini....aku punya hadiah untukmu.” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah didepan Kyra.


“Untuk apa kamu memberikanku hadiah seperti itu?” Tanya Kyra dengan wajah dinginnya.


“Ini sebagai ungkapan rasa bahagiaku karena kehamilanmu.”


Kyra berdiri dari tempat duduknya dan mengambil dengan kasar kotak hadiah yang diberikan Aura. Ia langsung melempar kotak hadiah itu ke lantai membuat semua orang terkejut melihat kearahnya.


“Anakku tidak butuh hadiah murahanmu itu.” Ucapnya dengan wajahnya yang marah.


Aditya yang melihat istrinya sedang marah langsung datang menghampirinya.


“Kyra....kamu kenapa?” Tanya Aditya dengan wajahnya yang panik.


Kyra hanya menatap suaminya dengan wajah amarahnya. Aditya kemudian melihat kearah Aura karena ia melihat tadi Aura berbicara pada Kyra.


“Apa yang sudah kamu lakukan padanya?” Tanya Aditya dengan serius pada Aura.


Kyra tidak menghiraukan suaminya yang bertanya pada Aura. Ia hanya berjalan meninggalkan mereka dengan perasaan marahnya. Tiba – tiba Aditya menarik tangannya.


“Sayang....kamu mau kemana?”


“Aku ingin pulang...rasanya sesak kalau tinggal terus disini.”


“Oke....kita pulang sekarang. Jangan marah yah.” Ucapnya sambil berjalan mendekati Kyra dan mengusap lembut rambut istrinya.


Aditya pamit pada semua teman – temannya.....itu pertama kalinya ia pamit pada teman – teman kampusnya. Biasanya ia hanya pergi begitu saja tanpa berpamitan pada mereka.


Aditya pergi meninggalkan mereka semua bersama dengan istrinya. Saat dimobil, Kyra tidak pernah bicara pada suaminya, ia hanya memejamkan matanya saja sambil menyenderkan kepalanya dikaca jendela.


Setelah sampai dirumah pun, Kyra tidak bicara apa – apa pada suaminya. Ia hanya berjalan ke kamarnya untuk istirahat, ia ingin menenangkan pikirannya sebelum bicara pada suaminya.


Aditya yang melihat perubahan sikap istrinya mengira kalau istrinya itu bersikap seperti itu akibat dari kehamilannya, karena dokter pernah mengatakan padanya kalau ibu hamil itu sering berubah – ubah sikap. Ia hanya memakluminya saja.


Aditya menyusul Kyra masuk ke dalam kamar, ia terus menemani istrinya yang sedang berbaring dikasurnya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia hanya ikut berbaring tanpa mengganggu istirahat istrinya.


Bersambung.


Jangan lupa Like karena Like itu gratis.


Ini masih ada beberapa episode kedepan baru tamat yah jadi sabar menunggu. Author tidak bisa masukkan semua karena masalah waktu yang tidak bisa author bagi dengan baik. Maklum....karena kesibukan author didunia nyata...Hehehhe....