Beautiful Romance

Beautiful Romance
BAB 51 Beautiful Romance



Saat di Villa, para senior melakukan pembagian kamar. Setiap kamar diisi tiga orang.


Setelah Kyra sudah mendapat kamarnya, ia menyimpan semua barang – barangnya di kamar dekat kasur yang akan ia tempati tidur. Ia sekamar dengan kedua temannya yang bernama Lea dan Nanda.


Kyra tak pernah sekalipun mengajak mereka bicara, ia hanya sibuk sendiri. Ia seperti itu karena sudah biasa dipandang rendah oleh teman sekolahnya sewaktu ia masih SMA. Jika bukan mereka yang mengajaknya bicara, ia tidak akan pernah mendekatinya terlebih dahulu apalagi ia hanyalah anak yatim piatu yang tidak punya apa – apa dimata mereka.


Lea yang melihat Kyra yang sudah duduk di tepi tempat tidurnya sambil memainkan HP-nya datang menghampirinya.


“Hai.....aku Lea.”sambil mengulurkan tangannya di depan Kyra.


Kyra mengangkat kepalanya melihat Lea yang sedang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar diwajahnya.


Ia terdiam sejenak melihat Lea lalu secara perlahan mengulurkan tangannya didepan Lea.


“Kyra...”balasnya sambil tersenyum.


“Apa aku boleh duduk di dekatmu?”tanya Lea.


“Boleh.....silahkan.”


Lea duduk disamping Kyra tapi Kyra masih sibuk dengan HP-nya tanpa mempedulikan Lea yang duduk di sampingnya.


“Gadis ini sombong sekali, aku sudah duduk di dekatnya tapi dia cuek begitu, Apa anak orang kaya memang seperti itu yah?”dalam hati Lea.


“Oyah....Kyra, orang tua kamu kerja dimana?”tanya Lea.


“Apa....?”sambil menengok kearah Lea.


“Pekerjaan orang tuamu, apa dia pengusaha?”tanya Lea.


“Oh.....orang tuaku, aku sudah tidak punya orang tua.”


“Hah....dia anak yatim piatu, jadi dia bukan anak orang kaya, tapi kenapa tingkahnya cuek sekali?”dalam hati Lea.


“Aku pikir kamu anak orang kaya karena sejak tadi kamu hanya duduk tanpa bicara sekalipun pada kita seperti anak orang kaya yang sombong. Maaf....aku hanya mengatakan pendapatku saja.”


“Oh....apa aku terlihat sombong yah?”tanya Kyra.


Lea hanya mengangguk padanya.


“Aku sebenarnya tidak bicara hanya menghindari konflik saja. Aku hanya ingin damai tanpa membuat masalah.”jelasnya.


“Kenapa dia bicara seperti itu, apa karena dia sering disalahpahami orang yah?”dalam hati Lea.


“Oooo jadi seperti itu....apa kamu sering bertengkar dengan gadis yang tidak menyukaimu?”tanya Lea penasaran.


Kyra hanya tersenyum mengangguk tanpa membalas ucapan Lea.


“Haaaa....aku pikir kamu begitu karena sombong, maaf...yah.”


“Tidak apa – apa”balasnya sambil tersenyum.


“Oyah....kamu kenal dengan Kak Adit.”


Kyra mengerutkan keningnya melihat Lea.


“Kenapa kamu menanyakan itu padaku. Kamu kenal dengannya?”tanya Kyra penasaran.


“Oh.....aku tidak kenal dengannya, aku hanya mendengar beberapa gadis diluar memanggilnya Kak Adit jadi aku juga ikut memanggilnya begitu dan sepertinya Kak Adit itu banyak disukai gadis di kampus kita yah. Aku saja yang baru pertama kali melihatnya, suka.”ucapnya sambil tersenyum senang.


“Eh....jangan salah paham, aku tidak seperti gadis diluar sana yang suka pacar orang. Aku hanya sekedar mengaguminya saja karena dia selalu dibicarakan diluar. Gadis – gadis diluar selalu memujinya.”ucap Lea sambil tersenyum pada Kyra.


“Tidak masalah kalau banyak yang mengagumi dia, yang penting mereka tidak mencari masalah denganku. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan damai di kampus.”balasnya.


“Sepertinya hidup damai yang kamu katakan itu tidak ada, karena kamu sudah masuk dalam daftar hitam mereka. Kamu harus hati – hati dengan gadis – gadis itu. Mendengar pembicaraannya tadi saat kita sampai, sepertinya mereka iri dan benci padamu yang pacaran dengan Kak Adit.”jelasnya.


“Kamu pikirnya aku pacaran dengan Kak Adit.”


“Ia......semua yang melihatmu tadi saat di pantai berpikir begitu. Gadis yang tidak suka dengan kedekatanmu dengan Kak Adit mengatakan kalau kamu hanya mendekatinya karena uang bahkan ada yang mengatakan kalau kamu cuma gadis panggilan untuknya. Jangan tersinggung yah, aku hanya mengatakan yang aku dengar dari mereka.”


“Orang ini cerewet juga. Apa yang ada dihatinya semua dia katakan tanpa berpikir jika ucapannya itu menyinggung, tapi aku suka orang yang cerewet seperti dia daripada orang yang hanya diam saja, sangat menakutkan.”dalam hati Kyra sambil melirik Nanda.


“Kenapa kamu diam saja, apa kamu tersinggung dengan ucapanku?”tanya Lea.


“Oh....tidak kok. Aku hanya berpikir kalau ternyata aku sudah menjadi musuh mereka.”


“Itu resiko karena kamu pacaran dengan orang yang terkenal di kampus. Maaf.... aku hanya mengatakan yang kupikirkan.”


“Tidak masalah.”


“Ucapannya benar – benar menusuk hati. Setelah mengatakan kata – kata menyinggung begitu, dia langsung minta maaf. Orang yang aneh.”dalam hati Kyra.


Nanda yang sejak tadi hanya duduk mendengarkan pembicaraan mereka tanpa sekalipun mengajaknya bicara, ia hanya sesekali melirik kearah mereka berdua.


***


Lea yang melihat Nanda hanya duduk di tepi tempat tidurnya tanpa sekalipun bicara mencoba mengajaknya bicara padanya.


“Hai....”panggilnya.


Nanda menengok kearah Lea.


“Sejak tadi kamu hanya duduk disini tanpa bicara pada kita.”


“Ah.....aku takut mengganggu kalian jadi hanya diam saja mendengarkan kalian bicara.”


“Ooo....aku pikir kita yang mengganggumu karena terlalu berisik.”


“Tidak kok..”


Lea kemudian sadar jika mereka sudah terlalu lama berada di kamar, ia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


“Sebaiknya kita keluar sekarang karena ini sudah jam makan siang. Nanti kita dimarahi lagi karena terlambat keluar.”ucapnya.


“Baiklah....kalian duluan saja keluar, nanti aku menyusul.”sahut Nanda.


“Oke....Ayo Kyra, kita keluar makan.”pinta Lea sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Ah....baiklah.”


Mereka berdua keluar kamarnya menuju tempat makan meninggalkan Nanda yang masih berada di kamarnya.


Saat di ruang makan, sudah terlihat para mahasiswa berdiri mengambil makanan mereka yang disajikan di sebuah meja yang cukup panjang, diatasnya sudah berjejer beberapa makanan dan lauk. Mereka berbaris panjang di samping meja sambil menyendok makanan ke piring mereka.


Kyra dan Lea ikut berbaris diantara teman - temannya, tiba – tiba Andi datang dari luar dan menghampiri Kyra.


“Kakak ipar....”panggilnya yang sudah ada di depannya.


Mahasiswa yang lain mendengar Andi memanggilnya kakak ipar langsung berbalik melihatnya dengan tatapan tak percaya tapi Kyra tidak mempedulikan mereka dan hanya fokus pada Andi yang memanggilnya.


“Ada apa?” tanya Kyra penasaran.


“Kakak menyuruhku menjemputmu ke penginapan sebelah. Disana sudah disiapkan banyak makanan enak. Ayo”ajaknya.


“Bilang padanya kalau aku ingin makan disini bersama temanku.”


“Pergi saja Kyra....aku tidak masalah kok makan sendiri.”sahut Lea.


“Bawa saja temanmu daripada kakak marah lagi terus datang kesini.”ucap Andi.


“Haaaa....baiklah. Ayo Lea.”


“Tidak usah Kyra....aku makan disini saja.”


“Tidak apa – apa....ayo.”ucap Kyra sambil menarik tangan Lea.


“Tapi....


Dengan sigap Andi menarik pundaknya membuat Lea kaget dan malu.


“Ayo...ikut saja, tidak apa - apa.”


“Oh....baik senior.”


Kyra tersenyum melihat Lea yang terlihat menunduk malu saat di pegang Andi.


Mereka bertiga kemudian pergi ke Villa sebelah tempat senior mereka berkumpul. Andi langsung mengajak mereka berdua naik ke lantai dua tanpa mempedulikan pandangan anggota BEM-nya yang memandang Kyra dan Lea naik keatas.


Mereka hanya melihat Kyra dan Lea tanpa berani bicara ataupun berbisik karena mereka takut jika pembicaraannya sampai ke telinga Aditya dan sahabatnya.


Terlihat Melia yang sedang duduk berkumpul dengan teman – temannya dan seniornya begitu kesal saat melihat Kyra naik ke lantai dua bersama Andi.


Sandi datang menghampirinya dan mengajaknya bicara tapi tidak ia pedulikan, ia hanya memasang wajah marahnya sambil terus menatap keatas.


“Awas kamu Kyra.....”dalam hati Melia.


“Melia....Melia...”panggil Sandi yang sudah berada di samping Melia.


“Eh....ia senior.”balas Melia sambil menengok ke samping.


“Kamu kenapa diam saja dari tadi, aku panggil – panggil tapi kamu tidak menengok?”tanya Sandi penasaran.


“Oh....maaf senior. Saya memang sedikit pusing.”sambil tersenyum paksa didepan Sandi.


“Kamu baik – baik saja kan”


“Sebaiknya saya keluar cari angin dulu. Disini pengap membuat kepala saya pusing”


“Ia....silahkan.”


“Cih....dasar senior penjilat. Kamu itu tidak sebanding dengan Kak Adit tapi berani mendekatiku.”dalam hati Melia.


Melia keluar Villa bersama teman – temannya, ia berjalan menuju tempat penginapan sebelah menemui Nanda sepupunya.


Bersambung.


Jangan lupa Like yah.