
Olivia melihat Kapten Jeffry datang ke ruang makan prajurit yang ada di kastil. Di sana banyak sekali prajurit yang menyatap sarapan pagi dan Kapten Jeffry memesan makanan ke seorang pelayan dan Olivia menghampirinya selayaknya tegur sapa. Kapten Jeffry pun tahu kehadiran Olivia dan menyapanya kembali.
"Kau ingin pesan makanan?" tanya Olivia.
"Iya."
"Apakah makanan itu untuk anggota kerajaan yang tinggal disini?"
Pertanyaan Olivia membuat Kapten Jeffry merasa risih karena menyinggung tuan putri, Ia hanya diam saja dan tidak memberikan jawaban.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan kau dengan pelayan kemarin tentang ada anggota kerajaan yang tinggal di kastil ini," sambung Olivia.
"Lalu, apa hubungannya denganmu?" tanya Kapten Jeffry yang dingin.
"Aku penasaran," jawab Olivia yang sambil tersenyum tipis.
Tidak lama kemudian pesanan makanan sang kapten datang dan diantarkan oleh pelayan, Kapten Jeffry menerima makanan tersebut dan pamit kepada Olivia sambil berkata, "Simpan saja rasa penasaranmu."
Olivia membisu mendengar lontaran perkataan Kapten Jeffry dan Kapten Jeffry pergi dari ruangan itu.
"Jadi, dia merahasiakannya," kata Olivia memandang Kapten Jeffry yang sedang berjalan keluar.
Kapten Jeffry kembali ke kamar Putri Blue dan didalam perjalanannya, ia memikirkan tentang Olivia yang penasaran terhadap Putri Blue, terlebih lagi sang putri menginginkan belajar sihir yang sebenarnya sang putri belum pantas untuk belajar sihir. Tetapi ia juga memikirkan sang putri dengan mata pandanya yang memungkin sang putri tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Sang kapten mengetuk pintunya. Putri Blue membuka pintunya dengan cepat dan sang kapten melihat kalau sang putri sudah mengganti baju dan sang putri mempersilahkan sang kapten untuk masuk ke kamarnya. Sayangnya sang kapten menolak dan langsung mengasihkan makanannya.
"Kau kelihatannya terburu-buru, apakah ada misi?" tanya Putri Blue.
Sang kapten menganggukkan kepalanya yang menandakan 'iya'. Putri Blue menerima makanannya dan berkata, "Terima kasih."
Putri Blue menutup pintunya kembali, tetapi ditahan kapten dengan tangannya. Dan itu membuat sang putri kebingungan dan bertanya, "Ada apa?"
"Tuan putri boleh belajar sihir," ucap Kapten Jeffry yang bola matanya menatap ke kanan dan menghindari tatapan wajah sang putri.
Sang putri kegirangan dan meloncat-loncat kecil, ia bersemangat sekali dan wajahnya memancarkan kebahagiaan. Sang putri memegang tangan sang kapten dan menunjukkan muka manisnya ke kapten,.
"Kapan kita belajarnya? Sekarang?" tanya Putri Blue.
"Ah... aku lupa, kau kan ada misi," sambung Putri Blue yang melepaskan pegangan tangannya.
"Tenang saja, tuan putri akan belajar hari ini,"
"Sungguh?"
Sang kapten menganggukan kepalanya kembali dan ia meminta izin untuk pergi. Putri Blue kembali menutup pintunya dan berjalan dengan senang. Bahkan sang putri berputar-putar dan meloncat kecil karena senangnya.
"Oh, ternyata dia," kata Olivia yang dari tadi bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan percakapan sang kapten dan putri Blue.
TOK TOK TOK
"Kenapa hari ini banyak sekali yang mengetuk kamarku," kata Putri Blue yang berjalan kembal kearah pintu dan membukanya.
Putri Blue kaget melihat Olivia dan ia tidak menyangka jika Olivia bisa menemukannya di sini.
"Selamat pagi, tuan putri," kata Oliva.
"Kau..."
Putri Blue menyuruh Olivia masuk. Olivia masuk ke kamar Putri Blue yang sungguh besar dan luas, sang putri membuatkan secangkir teh untuk Olivia. Putri Blue juga memikirkan bagaimana bisa Olivia menemukannya disini.
"Apakah ia mengikuti kapten? Dia wanita licik," kata Putri Blue yang mengaduk teh tersebut.
"Baiklah, akan aku ikuti alur ceritamu," sambung Putri Blue.
Putri Blue datang ke arah Olivia yang sedang duduk di ruang belajar Putri Blue. Putri Blue meletakan secangkir teh tersebut dan duduk menghadap Olivia.
"Ruangan ini sungguh luas, ada ruang tidur, kamar mandi, dapur dan ruang belajar," kata Olivia.
"Ternyata kau sudah mengelilingi ruangan ini tanpa seizinku."
"Maaf atas kelancancanganku tuan putri," kata Olivia yang muali mencicipi teh buatan Putri Blue.
"Apa maumu? Mau menghancurkan Kerajaan Zarqo dan sengaja mendekati aku?" tanya Putri Blue.
"Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan."
"Tapi bukankah kesimpulan aku benar, nona Olivia?"
Olivia hanya tertawa dan berkata, "Santai saja, kamu juga membenci anggota kerajaan, bukan? Sampai-sampa tuan putri harus tinggal ditempat ini? Seharusnya tuan putri hidup selayaknya putri kerajaan dan bukan diasingkan. Seorang putri hidup dengan rasa penghormatan, kemewahan, pelayan yang setiap saat melayani, sungguh indah bukan hidup seoran putri?"
Putri Blue hanya tersenyum dan memanggukan kepalanya lalu menjawab perkataan Olivia yang memancing emosinya untuk menumbuhkan rasa benci terhadap keluarganya sendiri.
"Kau benar, aku hidup tanpa semuanya itu. Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadapku?"
Putri Blue tertawa kecil dan memalingkan wajahnya, Ia sudah menduganya jika ada sesuatu yang tidak beres saat Olivia datang dengan tiba-tiba ke kamarnya.
"Aku tidak bisa menjawabnya. Lebih baik kau beristirahat di rumahmu," kata Putri Blue yang mengusir halus Olivia.
"Ah ... apakah tuan putri menolaknya?"
"Aku tidak tahu."
"Lalu, kenapa Anda ingin belajar sihir padahal tubuh tuan putri tidak memiliki aura sihir"
"Aku suka belajar banyak hal yang membuat aku tertarik," jawab Putri Blue dengan tegas.
"Baiklah," kata Olivia yang berdiri dan berjalan keluar sedangkan Putri Blue mengikutinya dari belakang.
Olivia berhenti melangkahkan kakinya dan memutarkan badannya ke belakang. "Aku bisa membantumu untuk menguasai sihir hitam bahkan sihir hitam yang terkuat sekalipun. Asalkan tuan putri mau bergabung dengan kami."
"Wanita ini tidak pantang menyerah," batin Putri Blue.
"Beri aku waktu tiga hari, akan aku jawab tawaranmu," kata Putri Blue ke Olivia, ia menganggap Oliva terkesan memaksa Putri Blue untuk bergabung dengannya.
"Okey, aku akan kembali mengunjungimu setelah tiga hari."
Putri Blue membukakan pintunya dan menutup kembali setelah Olivia pergi keluar dari kamarnya. Putri Blue menarik naasnya dan menghembuskannya kembali.
"Kenapa dia ke siini? Merepotkan saja."
Putri Blue membuka bungkusan makanannya yang dikasih Kapten Jeffry dan menumpahkannya ke piring. Ia makan di pintu yang menghubungkan balkon dengan kamarnya. Ia makan sambil memikirkan tawaran Olivia yang membuatnya tertarik karena akan diajarkan sihir hitam yang terkuat.
"Apakah aku harus menerima tawaran ini? Tapi sayang banget kalau ditolak."
TOK TOK TOK
"Siapa lagi yang datang?" omel Putri Blue yang membuka pintunya kembali.
"Nyonya Anna?" ucap Putri Blue.
"Kenapa? Tidak suka dengan kehadiranku ke sini?" kata Nyonya Anna yang sedang berdiri dihadapan Putri Blue sambil membawa rotan.
Putri Blue melihat rotan itu terus menerus dan berkata, "Ahh ... bukan itu maksudku, silahkan masik."
Nyonya Anna masuk dan melihat kamar Putri Blue yang berantakan dan ada gelas di meja belajar serta piring yang tergeletak dilantai. Putri Blue yang tahu jika Nyonya Anna akan marah jadi, ia membereskan semuanya dengan cepat sambil berkata, "Tadi lupa membersihkannya. Ngomong-ngomong ada apa ya?"
"Hari ini Anda belajar sihir denganku."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Putri Blue menghampiri Nyonya Anna setelah membersihkan kamarnya. Nyonya Anna dengan tanpa basa-basi, ia mengeluarkan tongkatnya dan menyuruh Purtri Blue untuk membuka kedua telapak tangannya dan mengulurkannya kedepan. Putri Blue melakukan perintahnya.
"Nyonya Anna, Anda sedang ngapain?" tanya Putri Blue yang penasaran karena Nyonya Anna membacakan mantra.
Dengan sihir hitamnya, Nyonya Anna memunculkan satu buku yang ke tangan Putri Blue yang sangat tebal dan ia juga memberikan sebuah kotak panjang.
"Bukunya cuman segini?" tanya Putri Blue yang terkesan meremehkan Nyonya Anna.
Nyonya Anna mengambil kotak tersebut yang ada di atas buku lalu dengan sengaja tongkat sihir milik Nyonya Anna menyentuh buku tersebut sehingga buku tersebut semakin tebal karena halamannya bertambah serta buku tersebut semakin berat.
"Ini buku atau besi?"
"Kebetulan sampulnya terbuat dari besi," ucap Nyonya Anna yang berjalan ke arah balkon kamarnya.
Jawaban Nyonya Anna membuat Putri Blue tercengang dan Putri Blue menaruh buku tersebut di lantai. Nyonya Anna membalikkan badannya dan menatap Putri Blue.
"Itu buku edisi terbatas. Hanya ada 2 di Auresta ini."
"Memang satunya lagi dimana?"
"Di Kerajaan Penyihir Hitam."
"Apa?!" kata Putri Blue yang terkejut. "Terus kenapa buku ini ada disini?"
"Ayahku seorang maha guru di Kerajaan Penyihir HItam. Jadi, aku mengambilnya di perpustakaan pribadinya saat masih seusiamu. Nih ..." Nyonya Anna melemparkan kotak panjang tersebut dan Putri Blue reflek untuk menangkapnya.
Putri Blue membuka kotak tersebut dan berisikan tongkat sihir. "Ini untukku?"
"Tidak, aku hanya meminjamkannya untukmu. Cepat kau hafalkan semua mantra di buku itu dan stor hafalannya ke aku. Aku kasih waktu 1 jam untuk menghafal 5 lembar buku itu."
"Apa? Nonya pikir otak aku secerdas itu?"
Nyonya Anna tidak membalas omongan sang putri malahan ia menunjukkan kayu rotan dihadapan Putri Blue. "Dan waktu menghafal dimulai dari sekarang, kalau tidak hafal Anda tahukan hukumannya?"
"Baiklah."