AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
HAPPY



Putri Blue menynggupi semua keinginan dari sang Raja Carles walaupun risiko kematian mengintai dirinya kemudian ia keluar dari istana tersebut. Ia merubah penampilannya menjadi jubah hitam yang panjang serta tudungnya menutupi wajahnya menggunakan sihir.


Sebilah pedang ia ciptakan menggunakan sihir juga. Matanya merah, tetapi pupil mata birunya memancarkan kedendaman. Ia menghela nafasnya dan pergi ke Kerajaan Polip dengan portalnya. Ketika malam berlabuh di langit maka bintang serta bulan keluar.


Istana Kerajaan Polip berada di puncak gunung dan kerajaan tersebut dijuluki sebagai kerajaan awan karena letaknya yang seperti berada diatas awan jika dilihat dari kejauhan. Putri Blue tidak perlu mendaki gunung karena ia memiliki portal sihir.


Ia melihat Raja Thaison sedang berada diruangannya dan sedang berdiskusi bersama para kesatria. Putri Blue langsung mencari ruangan yang mana tempat sang Putri Ravta berada. Ia mengeluarkan seluruh kemampuan membaca kondisi disekitarnya dan akhirnya ia mendobrak salah satu pintu kerajaan.


Putri Ravta yang saat itu sedang berbaring di tempat tidurnya karena ia masih mengalami sakit, langsung terkaget melihat seorang berjubah hitam membawa pedang menghampiri dirinya. Matanya terbelalak dan ia pun berteriak, tetapi Putri Blue sudah menyihir ruangan itu supaya kedap suara dan terkunci rapat sehingga suara teriakannya tidak didengar oleh seisi istana.


"Takut?" ucap Putri Blue yang keluar dari bibirnya.


Putri Blue memegang kepala sang putri yang kemudian sang putri menangis sambil menggelengkan kepalanya. Putri Blue tersenyum dan berkata, "Aku ingin liat matamu, apa yang kau pikirkan dan apa yang kau sembunyikan, aku ingin melihat semuanya."


Putri Ravta ketakutan, ia melihat kedua bola mata berwarna biru yang menyorot tajam berada tepat dihadapannya. Setelah itu tidak lama kemudian ia terbebas dari tatapan mengerihkan itu. Putri Blue menjauh dari Putri Ravta karena sudah melihat kebenaran, Putri Ravta bersalah karena ia memulai duluan pertengkaran dan dia juga adalah dalang dari rencana pembunuhan.


Putri Ravta sengaja mengadu dombakan kedua kerajaan karena ia memiliki rasa keirian yang jauh lebih besar dibanding Putri Alonia. Putri Blue juga mengetahui jika Adiknya adalah seorang yang memiliki banyak teman dan juga pintar diakademi dan hal tersebut terbanding terbalik dengan Putri Ravta, makanya ia mengejek Putri Alonia.


"Kau memiliki dua pilihan; pertama, serahkan kerajaan ini dan kau harus menyerahkan diri serta mengakui kesalahanmu dan kedua, aku akan meembantumu berdiri, berjalan, dan lain-lain asalkan kau membunuh ayahmu malam ini serta kesalahanmu rahasia kita berdua."


"Apa? Tidak, aku tidak akan memilih keduanya!" jawab Putri Ravta.


"Kalau begitu," ucap Putri Blue yang mengangkan pedangnya dan membalikan badannya kehadapan Putri Ravta. "Sampai jumpa."


"Tidak, tunggu! Apa yang kau lakukan?!"


Putri Blue ingin menusuk pedangnya kearah bola mata Putri Ravta sebelah kanan dan membuat sang putri berkata, "Baiklah, aku akan memilih."


Putri Blue tersenyum dan berhenti menerjunkan pedang tersebut. Putri Ravta melanjutkan perkataannya dengan berkata, "Aku akan memilihan pilihan kedua."


Sang Putri Blue tertawa kecil dan berucap, "Baiklah."


Putri Blue mengeluarkan sihirnya dan membuat Putri Ravta bisa terbang ke udara kemudian dengan sihir biru yang menjadi alat pengokoh seluruh badannya. Putri Blue Blue memberikan pedang tersebut dan Putri Ravta menerima pedang itu yang kemudian Putri Blue melunturkan semua sihir yang berada diruangan tersebut agar Putri Ravta bisa pergi ke luar.


Putri Ravta pergi ke ruangan Raha Thaison yang banyak berisikan kesatria yan sedang berkumpul. Putri Ravta tidak malu-malu menunjukan pedang tersebut dihadapan semua orang, matanya terkunci ke Ayahnya, yaitu Raja Thaison dan berjalan menuju sang raja tersebut walaupun semua kesatria tersebut menghalang jalannya.


Dari arah belakang Putri Ravta, terdapat salah satu kesatria yang ingin mengambil pedang yang dipegang Putri Ravta, tetapi Putri Ravta dengan sigap menebas kesatria tersebut. Raja Thaison marah dan berteriak, "Putri Ravta! Sadarlah!"


Puri Ravta dengan lihainya membunuh para kesatria dengan bantuan sihir Putri Blue yang membuatnya pandai bermain pedang. Putri Blue mengendalikan gerak tubuh Putri Ravta seperti mainan dan menonton kejadian tersebut dengan ukuran tubuhnya yang menjadi kecil seperti peri dan duduk dipinggir meja.


"Ini menyenangkan," ucap Putri Blue.


Pada akhirnya Putri Ravta berhadapan dengan Raja Thaison yang tinggal sendiri. Raja Thaison mengambil pedang yang beada di laci mejanya dan berkata, "Ayah tidak menyangka kalau kau seperti ini! Ayah kecewa kepadamu!"


"Aku lebih kecewa kepada Ayah," jawab Putri Ravta yang iris matanya bergoyang dan wajahnya memencarkan kesedihan. "Jika saja Ayah memberi apa yang aku inginkan, aku tidak akan seperti ini!"


Putri Ravta dengan sendirinya bergerak tanpa bisa dikendalian oleh Putri Blue dan membuat Putri Blue bertepuk tangan sambil berkata, "Semangat terus kelahinya."


Raja Thaison berhasil menusuk perut anaknya dengan pedangnya dan ketika Putri Ravta terjatuh, ia berkata, "Ayah, peluk aku."


Raja Thaison langsung memeluk anaknya yang tengah sekarat, dengan cepatnya Putri Ravta menusuk jantung Ayahnya ketika sedang memeluknya. Putri Ravta tersenyum dan darahnya keluar dari mulutnya, Putri Blue yang melihat itu langsung menarik sihirnya dari diri Putri Ravta karena tugasnya sudah selesai.


Ia memakan buah berry tersebut untuk membesarkan kembali badannya dan ia menulis selembar kertas menggunakan pena yang dicelupkan dengan tinta lalu mengecapkan sidik jari jempol Raja Thaison dengan darah Raja Thaison sendiri di kertas tersebut.


Putri Blue kemudian menghubungkan portal ke kediaman Raja Carles. Ia kembali kehadapan Raja Carles dan berkata, "Raja telah mati, tidak ada yang memimpin perang untuk besok karena semua kesatria juga sudah mati. Ayah bisa menguasai kerajaan itu malam ini."


"Tidak aku sangka, kau bisa berbuat sejauh ini," ucap Raja Carles.


"Besok pagi, kuasai kerajaan tersebut dan jadikan itu tugas terakhir Mark," jawab Putri Blue. "Aku akan membunuhnya setelah selesai ia mengerjakan tugasnya."


"Apakah dengan membunuhnya maka dendammu terbalaskan atau bisa membangkitnya nyawa mereka yang telah mati?" tanya Raja Carles.


Putri Blue terdiam dan pergi meninggalkan Raja Carles. Ia melihat buah berrynya tinggal sedikit dan ia pergi ke ruang tahanan bawah tanah dan berkata dengan penjaga. "Lepaskan seluruh tahanan dan sekarang aku yang mengurus mereka."


Para penjaga tersebut melepaskan para tahanan dan raut senyum bahagia serta kebingungan menyertai diri mereka. Semua tahanan berkumpul dihadapan Putri Blue dan membuat mereka semua berhenti berjalan maupun terbang.


"Aku mengucapkan selamat buat kalian semua dan sekarang kalian bebas. Tetapi aku melepaskan kalian bukan untuk menjadikan budak karena Golbin dan Peri Naiad sekarang telah menjadi budak di daratan apalagi Duyung yang berada dilautan," jelas Putri Blue yang memberikan sambutan kemudian pergi dari hadapan mereka semua.


"Tunggu, jadi kau yang membebaskan kami? Aku tidak memiliki tempat tinggal lagi, rumahku habis di bakar oleh Penyihir Hitam," ucap Golbin tersebut.


Putri Blue menjawab, "Yang tidak memilik tempat tinggal, ikuti aku."


Semua tahanan mengikuti dirinya pergi ke perbatasan Kerajaan Zaqo menggunakan portal sihirnya dan membuat ia terkejut dengan banyaknya pengikut ke Kerjaan Zarqo. Putri Blue menepuk jidatnya dan berkata, "Kalian disini, aku akan kesana."


Putri Blue pergi ke perbatasan dan ia membuka tudung yang selama ini menutup wajahnya. Tangan Putri Blue sudah bersiap mengeluarkan sihir ketika mereka semua menangkapnya. Putri Blue berkata, "Ini aku."


Para penjaga mengeluarkan pedangnya serta tongkat sihir untuk menangkap Putri Blue. Tetapi karena kesiapan Putri Blue yang lebih dahulu, ia langsung mengarahkan sihir ke para penjaga dan membuat semua para penjaga terjatuh.


Putri Blue memberika terlepati kepada seluruh tahanan yang menunggunya untuk pergi ke perbatasan dan mereka menurutinya dan mebuat sebagian para prajurit perbatasan kewalahan untuk menahan mereka semua masuk. Para Golbin dengan sengaja menggigit tangan para prajurit dan para peri sengaja melemparkan batu kerikil kearah para penjaga.


Semua Duyung yang berubah menjadi manusia biasa hanya bisa mendorong para prajurit dan akhirnya mereka berhasil masuk dan Putri Blue adalah orang yang terakhir masuk ke dalam perbatasan Kerajaan Zarqo. Ia membuat portal dan berkata, "Masuklah ke portal dan aku selalu dibelakang kalian."


Putri Blue membalik badannya untuk mengetahui apakah seluruh tahanan sudah masuk semua atau belum dan ternyata semuanya sudah masuk semua yang bersamaan dengan anak buah Malik yang berada di belakangnya. Putri Blue memutarkan kepalanya sambil melindungi dirinya dengan sihir dari serangan pedang yang dapat mematikan dbagi dirinya.


Putri Blue sengaja menutup portal sihir dengan cepat dan melawan para pasukan Malik. Ia membuat pedang dari sihirnya yang bergagang bewarna biru dengan ukiran di setiap sisi pedang. Putri Blue menyerang kembali dengan mengayunkan pedangnya, tetapi dengan tiba-tiba ia tersadar jika berada ditahanan yang yang dilindungi oleh sihir putih dan dilapisi oleh sihir hitam.


Ia terjatuh karena tidak lawan didepan matanya, Putri Blue terjebak di ruangan kosong tanpa adanya barang maupun jendela dan hanya ada obor yang menyala untuk menerangi ruangan tersebut. Lantainya masih terbuat dari tanah dan hal ini membuat Putri Blue terduduk.


"Pasti dia pengendali waktu," ucap Putri Blue yang menancapkan pedangnya ke tanah.


Tiba-tiba pintu terbuka dan datanglah Raja Juftin ke ruangan tersebut, Putri Blue masih duduk sambil memainka batu-batu kecil disekitarnya. Raja Juftin berkata, "Kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa kau tidak dari awal berkata kalau kau tidak bersalah? Aku sudah memindahkan makan Olla ke pahlawan sesuai dengan keinginanmu."


"Seandainya kau berbicara seperti itu, aku tidak akan seperti ini," sambung Raja Juftin.


Raja Juftin dengan perlahan menuju Putri Blue dan membuat Putri Blue merasa tidak nyaman yang kemudian berdiri sambil mencabut pedang. "Jika kau maju selahkah lagi, aku tidak segan membunuhmu. Lepaskan aku, aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi."


Raja Juftin memberhentikan langkahnya dan berkata, "Keluargaku adalah keluargamu."


"Terserah kau, aku tidak peduli dengan keluargamu dan semoga ini terakhir kalinya aku berurusan dengan keluargamu," jawab Putri Blue.


Raja Juftin pergi dar ruangan tersebut dan berkata, "Keluarlah, kau bebas."


Putri Blue mengikuti Raja Juftin keluar dan melihat penjagaan yang ketat di sel tahanan. Disana juga ada Malik yang senan tiasa disisi Raja Juftin. Putri Blue berada di belakang Malik dan dibelakang Putri Blue ada prajurit. Putri Blue membayangkan jika Kapten Jeffry berada dibelakang Raja Juftin dan ia sebagai putri sungguhan dikerajaan ini.


Pasti saja Kapten Jeffry tidak akan membiarkan dirinya berada dibelakang dan Kapten Jeffry pasti selalu disamping dirinya dan Raja Juftin juga akan sayang kepadanya juga jika ia tidak dilahirkan seperti ini. Membayangkan hal itu membuat Putri Blue menangis.


Setelah keluar dari tahanan, mereka disambut oleh Putri Alonia dengan Ratu Gloria. Putri Alonia langsung memeluk Putri Blue dan berkata, "Maafkan aku, Kak."


Putri Blue melihat Ratu Gloria yang menangis dan Putri Alonia meleas pelukannya yang kemudian memegang tangan Putri Blue. "Kak, Ibu adalah orang yang selalu merindukan Kakak, tidak ada Orang tua yang dapat melupakan seorang anak, tetapi banyak anak yang melupakan Orang tua. Aku tidak ingin Kakak menjadi orang yang durhaka kepada Orang tua. Setiap Orang tua pasti punya salah, begitu pula dengan Kakak."


Putri Blue melepaskan pedangnya yang ia genggam dan berlari ke arah Ratu Gloria kemudian memeluknya. "Maafkan aku, aku benar-benar menyesal tentang ucapanku atau pun perbuatanku, Ibu."


Mereka berdua berpelukan sambil menangis dan saling meminta maaf. Putri Blue meihat kearah Raja Juftin dan bersujud dikaki Raja Juftin, tetapi sang raja menolaknya. Putri Blue meminta maaf kepada Raja Juftin sambil menahan isak tangisnya.


Raja Juftin langsung merangkul Putri Blue dan Putri Alonia juga ikutan diajak oleh Raja Juftin untuk ikut bergabung. Raja Juftin berkata, "Kalian berdua adalah tetap putri Ayah dan selalu menjadi putri Ayah."


Ratu Gloria tidak mau ketinggalan, ia menghapus air mata kedua anaknya dan berkata, "Akhirnya kita bisa berkumpul."


"Tapi ketika pagi hari, Ayah harus pergi berperang dengan Kerajaan Polip," ucap Putri Alonia.


"Tidak, Kerajaan Polip sudah dikuasai oleh raja Carles dan kau bisa membersihkan namamu dengan ini ..." Putri Bluemengasihkan surat kepada Putri Alonia yang berisikan jika Putri Ravta mengakui kesalahannya dan surat tersebut telah di cap oleh darah dari Raja Thaison yang berarti Raja Thaison mengakui kesalahan anaknya.


"Raja Thaison telah mati dibunuh oleh putri Ravta dan sekarang kalian tidak usah berperang lagi," sambung Putri Blue.


"Bagaimana kau tahu? Ini tidak bisa dibiarkan jika raja Carles menguasai Kerajaan Polip," kata Raja Juftin.


Putri Blue melepaskan tangan Raja Juftin dan perlahan ia mundur dan menjawab, "Misiku adalah menaklukan Kerajaan Polip untuk Kerajaan Penyihir Hitam."


"Apa? Kau bekerja sama dengan raja Carles?" tanya kembali Raja Carles.


"Iya, bahkan aku adalah putri dari Kerajaan Penyihir Hitam."


Putri Blue pergi ke arah portalnya yang terbuka lebar dan pergi dari hadapan mereka semuanya. Putri Blue menemui para tahanan yang menunggunya di depan hutan terlarang dan mereka semua mengkhawatirkan Putri Blue.


Dengan jiwa kepemimpinannya, ia membawa seluruh tahanan untuk masuk ke dalam hutan tersebut. Kedatangan Putri Blue disambut oleh Suci serta para peri lainnya termasuk peri Naiad yang ia bebaskan.


"Aku kembali," ucap Putri Blue.


Para tahanan Peni Naiad langsung kembali kepada keluarganya yang sudah menetap dahulu di Hutan Terlarang. Putri Blue tersenyum ketika mereka semua bahagia dan berkata, "Maaf telah membuat kalian semua khawatir, mereka adalah tahanan Kerajaan Penyihir Hitam."


"Kau mengembalikan keseimbangan alam kami, Blue." ucap Suci. "Terima kasih."


Putri Blue juga berkata untuk tahanan Duyung. "Besok pagi, kalian akan menjadi Duyung, akan aku antar ke pantai Kerajaan Zarqo."


"Apakah kau bisa menyelamatkan kerajaan kami?" ucap salah satu Duyung tersebut.


Suci menjawab, "Tentu, dia terlahir dengan kekuatan luar biasa!"


"Apakah kau adalah manusia yang memiliki kekuatan Duyung Samudra Hope?" ucap Duyung laki-laki yang berambut coklat. "Elle adalah Adikku, dia mengorbankan kekuatannya demimu untuk membuat kedamaian di Auresta ini."


"Jadi, kau adalah Abangnya Ellle? Duyung Samudra Hope?! Ini sulit dipercaya. Bisakah kau mengajari aku?" tanya Putri Blue.


"Tentu saja aku bisa, tapi kau harus memiliki mutiara hitam," jawab Abangnya Elle. "Perkenalkan, namaku Steven."


"Namaku Putri Blue dan aku memiliki mutiara itu," jawab Putri Blue yang berkenalan dengan Steven.


Putri Blue bertanya kepada Suci, "Bolehkah aku tinggal disini?"


"Tempat ini selalu terbuka untukmu! Jadi, aku harus manggil kamu seorang putri?" tanya Suci.


"Terserah, hahahaha."