
Putri Blue terlalu banyak memikirkan kehidupan naiad sehingga ia tidak bisa tidur di malam hari, perasaannya gelisah dan ia memutuskan untuk bangun dari tempat tidur kemudian menggunakan portal sihirnya ke Pangeran Alex untuk membantunya.
Ketika sampai ke Istana Kerajaan Penyihir putih, sang putri tidak menemukan pangeran di dalam kamarnya. Ia melihat ke arah luar jendela kamar sang pangeran dan melihat jika Pangeran Alex bersama dengan Putri Alonia yang sedang berjalan di malam hari.
Putri Blue tidak mengerti dengan perasaannya yang ketika itu sangat marah dan cemburu ketika sang pangeran berada di wanita lain. Putri Blue mengepal tangannya dan berkata, "Dia menemukan yang lebih baik daripadaku dan aku bukan siapa-siapa dia."
Sang putri menghela nafasnya dan menggunakan sihirnya untuk pergi dari kerajaan ini. Ketika ia hendak berjalan ke portal, tiba-tiba tangan kanannya dipegang oleh seseorang sehingga Putri Blue melihat kearah belakang untuk mengetahui siapa yang menarik tangannya dan langsung saja kedua mata sang putri melotot kearah orang itu yang tidak lain adalah Pangeran Alex itu sendiri.
"Kenapa kau disini? Sudahku peringatkan jangan masuk ke kamar pria sembarangan," kata Pangeran Alex.
"Tapi kau bukan pria sembarangan."
"Kata siapa?" Pangeran Alex dengan cepat menarik tangan kanan sang putri yang membuat tubuh Putri Blue terjatuh dipelukan sang pangeran dan berkata, "Aku juga bisa berubah lebih dari serigala."
Rasa hangat dan nyaman membuat Putri Blue tersenyum dan bertanya, "Apakah kau marah denganku kalau aku ke sini karena membutuhkan bantuanmu?"
Pangeran Alex melepas pelukannya yang kemudian menjawab, "Kau kesini karena membutuhkan bantuanku? Kau pikir aku itu apa?"
"Tunggu dulu, jangan emosi. Jadi, aku membeli semua para Peri Naiad yang sedang dijual belikan untuk budak kemudian aku berencana melepaskan mereka semua di hutan terlarang, disana tempat hidup para peri dan aku yakin para Peri Naiad akan senang," jelas Putri Blue.
"Peri Naiad? Itukan hanya di Kerajaan Penyihir Hitam, kau tinggal disana?" tanya Pangeran Alex yang membuatnya penasaran tempat tinggal Putri Blue karena tidak lagi tinggal di Kerajaan Zarqo.
"Aku tidak yakin untuk menjawabnya, tetapi kau bisa membantuku? Aku ingin membebaskan para budak. Aku juga pernah melihat sebagian para peri maupun golbin yang dipenjara di bawah tanah. Jadi, ingin membebaskan semuanya."
Pangeran Alex menghela nafasnya dan kedua tangannya dipinggang. "Aku tidak bisa membantumu karena yang aku tahu kalau Kerajaan Zarqo tidak menerima lagi pendatang penduduk dari luar dan aku memiliki informasi jika sihir untuk menjaga Kerajaan Zarqo akan tidak digunakan lagi ketika pesta ulang tahun putri Alonia."
"Bagus, aku bisa memanfaatkan waktu itu," jawab Putri Blue yang punuh dengan kelegaan serta ia mulai bersemangat lagi.
"Kau yakin untuk membawa mereka?" tanya Pangeran Alex. "Lagipula, auramu yang berwarna biru akan menarik banyak makhluk lain karena hanya kau yang memiliki aura yang mirip dengan Blue. Apa kau yakin dengan itu semuanya?"
"Iya, demi mereka ... aku akan rela menolonnya karena mereka juga makhluk hidup yang ingin bebas juga. Lagipula mereka peri air dan air itu penting bagi kehidupan makhluk lain. Ya udah, aku pergi dulu."
Putri Blue pergi ke portalnya dengan bergumam, "Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang."
"Kenapa kau mempercayaiku untuk meminta bantuan? Bukankah kau sudah menganggap aku musuhmu? Dan bisa jadi aku akan melaporkan rencanamu ke raja Juftin," ucap Pangeran Lex yang membuat Putri Blue terdiam dan langah kakinya seketika berhenti.
"Kau sepertinya sangat dekat dengan raja Juftin dan bahkan dengan putri Alonia juga. Aku cemburu kepadamu karena kau tidak bisa dekat kepadaku."
Pangeran Alex tertawa kecil mendengar perkataan Putri Blue dan memeluk dari belakang tubuh Putri Blue yang membuat sang putri terkejut. Sang pangeran memeluk dengan erat dan berkata, "Kau cemburu kalau aku dekat dengannya?"
"Cemburu? Apa itu? Sejenis makanan?" tanya Putri Blue yang mengelak dari pertanyaan sang pangeran yang diajukan kepadanya.
Pangeran Alex tertawa dan sehingga mepelaskan kembali pelukannya lalu Putri Blue membalikan badannya yang kemudian menatap mata Pangeran Alex sambil tersenyum dengan pipi yang kemerahan terlihat jelas di pandang. Badan sang pangeran agak membungkuk dan wajahnya langsung mendekatkan ke arah wajah Putri Blue dan membuat sang putri memejamkan matanya.
Dan akhirnya kedua bibir mereka langsung bertemu didalam kecupan. Putri Blue baru pertama kalinya merasakan ciuman sehingga detak jantungnya berdegup dengan kecang dan perlahan sang pangeran menarik kembali wajahnya dan melihat Putri Blue yang masih terpejam. Ia mengelus kepada sang putri dan berkata, "Pulanglah, ini sudah malam dan jangan masuk ke kamarku lag."
Putri Blue membukakan kedua kelopak matanya dan tersipu malu yang kemudian pergi kembali ke portal dan tidur di kamarnya. Sang putri tidak bisa tidur dan terus memegangi bibinya serta pikirannya yang selalu saja menampilkan adegan yang membuat dirinya tidak nyaman dan salah tingkah serta gelisah.
Putri Blue terus saja berguling-gulih diatas ranjang kasurnya yang kemudian kedua kakinya mengayun ke atas dan ke bawah dan setiap kali ia ingat kejadian itu dengan Pangeran Alex, ia akan berkata, "Ku mohon, hentikan itu. Aku tidak bisa tidur."
Kedua pipi Putri Blue masih memerah dan ia tersenyum sendiri tanpa ia sadari. Suara Putri Blue terdengar sampai ke kamar mandinya yang dihuni oleh para Peri Naiad. Dan salah satu diantaranya bertanya, "Ada apa dengan pemilik kita?"
"Aku tidak tahu, mungkin dia gila," jawab salah satu peri Naiad.
"Kasihan, masih muda, tetapi udah gila," ucap salah perti Naiad yang merasa perihatin kepada Putri Blue tentang kondisi kejiwaan sang putri.
Putri Blue akhirnya bisa tidur hingga mentari mulai menapakan jati dirinya dengan sinarnya yang menerangi belahan Auresta dan para pelayannya kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah kotak besar dan gaun. Putri Blue yang pada saat itu masih tidur dan langsung dibangunkan oleh para pelayannya.
"Tuan putri! Cepat bangun!" kata Hanna.
Putri Blue yang masih terlelap dan tidak mendengarkan suara salah satu pelayannya yang membangunkannya itu. Para pelayannya penasaran karena Putri Blue tertidur dengan senyuman yang melekat di wajahnya seakan ia bahagia didalam tidurnya.
"Tuan putri? Kenapa tuan putri terlihat manis saat tidur?" tanya Gina yang iri dengan wajah Putri Blue yang tetap cantik walaupun sedang tidur.
"Tuan putri sedang bahagia didalam mimpinya, aku senang karena setiap kali kita merias wajahnya pasti matanya sembab karena menangis," kata Chyhy.
"Kira-kira tuan putri memimpikan apa?" tanya Hanna kepada teman-temannya.
Tiba-tiba raut wajah Putri Blue berubah total menjadi sedih, ia mengerutkan kedua alisnya dan matanya mengeluarkan air mata. Putri Blue menggelengkan kepalanya dan terbangun dari tidurnya. Para pelayan teriak karena kaget bergitu juga dengan Putri Blue yang ikutan kaget dan teriak.
"Sepertinya mereka semua gila," ucap salah satu Peri Naiad yang mendengar tidak tahan mendengar teriakan sang putri berserta para pelayan.
"Stop!" kata Putri Blue dengan tegas. "Kenapa kalian disini?"
"Kami hanya ingin mengantarkan kotak ini bersama gaun yang kami bawa." Menyerahkan gaun berserta kotak yang berwarna emas kepada Putri Blue. "Kami juga memohon libur untuk tidak melayani tuan putri karena kami ada urusan yang penting."
Putri Blue menerima barang pemberian para pelayannya dan berkata, "Tumben sok sibuk. Ya sudah, pergilah lagipula aku hanya di istana aja."
"Terima kasih, tuan putri."
Para pelayan sang putri keluar dari kamar tersebut dan sang putri langsung membuka kotak itu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika isinya mahkota yang termahal di Auresta telah berada di tangannta. Putri Blue segera melangkahkan kakinya di hadapan cermin rias dan memakaikan mahkota kecil yang indah.
"Ini cantik, baru pertama kalinya makai mahkota selama aku hidup."
Putri Blue dengan hati-hati meletakan mahkota yang ditaburi permata indah itu ke dalam kotaknya dan menaruhnya di meja hiasnya. Putri Blue tersenyum sendiri dan meloncat-loncat kecil sambil pergi ke arah kamar mandi. Ia lupa kalau kamar mandinya ada Peri Naiad dan sempat membuatnya terkejut ketika ingin mandi.
Putri Blue malu ketika ia bertingkah konyol dihadapan para Peri Naiad dengan sikap yang sangat tidak dewasa. Putri Blue meminta maaf kepada para peri dan mengambil handuk piyama mandinya lalu keluar dari kamar mandi segera mungkin. Setelah keluar dari kamar mandi, ia kebingungan karena ia akan mandi dimana.
Ketika Pangeran Alex hendak ke kamarnya dan ia menemukan Putri Blue ang berdiri didepan pintu sambil membawa handuk piyamanya. Pangeran Alex yang terkejut langsung membawa masuk Putri Blue itu didalam kamarnya.
"Kau gila, ya? Kenapa kau berdiri didepan pintu kamarku?"
"Katanya tidak boleh ke kamarmu lagi. Aku kesini cuman numpang kamar mandi, kamar mandiku lagi penuh gitu. Aku mohon, bantuin aku. Aku mandi sebenatar kok ... kurang dari lima menit," jawab Putri Blue dengan muka yang melas.
"Ya sudah, aku siapkan sarapan untukmu," ucap Pangeran Alex.
"Jangan, aku hanya sebentar. Kalau ingin makan denganku, makan siang saja atau setelah aku sarapan, aku akan kesini lagi," kata Putri Blue. "Ngomong-ngomong dimana kamar mandinya?"
Pangeran Alex menunjukan kamar mandinya dan Putri Blue mandi. Sambil nunggu sang putri mandi, Pangeran Alex pergi dari kamarnya dan tersenyum dan berkata, "Baru kali ini bertemu dengan gadis yang sangat polos dan bersikap apa adanya tanpa menutupi jati dirinya."
Pangeran Alex pergi ke ruangan meja makan dan hanya sendirian menyantap sarapan paginya. Zaefron datang dan berkata, "Pangeran, Anda sepertinya akan dijodohkan dengan putri Alonia dari Kerajaan Zarqo."
"Aku tahu, dia sendiri sudah mengatakannya dan membawa baju akan kupakai di pestanya," jawab Pangeran Alex. "Aku tidak menyukainya sama sekali."
"Kenapa? Apakah putri Alonia masih kecil? Setidaknya kalian akan bertunangan terlebih dahulu dan pangeran akan menunggu ia dewasa," ucap Zefron.
Pangeran Alex meminum minumannya dan meletakan kembali diatas meja yang kemudian ia berkata, "Aku masih menyukai seorang gadis itu. Tetapi kami sadar kalau kami tidak bisa bersama karena satu alasan dan aku mencoba memikirkan jalan keluarnya."
"Gadis itu lagi, sudah aku katakan, lupakan gadis itu. Kita tidak tahu asal usul gadis itu dan Orang tuamu juga tidak akan setuju."
"Hah, lucunya ... masa depan, tujuan hidup, Orang tua, bahkan takdir saja tidak menyetujui kisah cinta kami."
Putri Blue yang mendengar percakapan Pangeran Alex bersama Zefron di balik tiang yang besar. Ia pun pergi kembali ke dalam kamar pribadi milik Putri Blue dan berkata, "Tunangan?"
Putri Blue segera mengenakan gaunnya lalu pergi sarapan. Ia tidak selera dengan makannya dan hanya memakan dua sendok makan. Raja Carles yang memerhatikan Putri Blue yang terus saja memainkan makannya langsung bertanya, "Ada apa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Jika seseorang menyukai benda, ia tetapi tidak bisa milikinya walaupun banyak emas ataupun permata yang ia keluarka karena takdir menolak mereka untuk bersama. Tetapi disisi lain ada seseorang juga yang menginginkan benda itu dan dengan mudahnya ia bisa memilikinya. Aku menjadi kasihan dengan orang yang tidak bisa memiliki benda itu," jelas Putri Blue sambil menangis.
Putri Blue menangis dan tanpa sadar mengeluarkan mutiara hitam kecil di matanya. "Aku ingin membenci cerita ini, tetapi setiap kali aku membenci... aku merasa tidak berhak untuk membenci karena aku tahu alasan sebenarnya kenapa seseorang itu tidak bisa memiliki benda itu," sambungnya.
Raja Carles yang menyaksikan itu terlihat terkesima karena biasanya seorang duyung akan mengeluarkan air mata mutiara berwarna putih, tetapi tidak untuk Putri Blue dan ia berkata, "Kau memiliki kekuatan duyung Samudra Hope."
Kemudian, Putri Blue berhenti menangis setelah mendengar ucapan Raja Carles dan melihat ke bawah pangkuannya yang berisikan mutiara hitam kecil. Raja Carles memunculkan kantung kain dari sihirnya dan menyuruh Putri Blue untuk memungut mutiara terebut dan masukan ke dalam kantung.
"Masukkan semuanya ke kantung ini dan kau seharusnya sudah siap untuk belajar untuk menjadi duyung. Dikarenakan Duyung Samudra Hope termasuk bangsa yang langka dan harus pergi ke tengah-tengah samudra untuk mempelajari sihirnya, setidaknya kau harus belajar berenang terlebih dahulu. Tidak lucu jika ikan tidak bisa berenang di air."
Putri Blue merasa tersinggung karena Raja Carles mengaggap jika bangsa Duyung hanyalah ikan. Duyung bukanlah hewan seperti itu, walaupun mereka berwujud setengah manusia dan memiliki ekor, tetapi mereka bukan ikan. Mereka juga bisa berbicara dan di dalam air mereka menggunakan telepati untuk berkomunikasi.