AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
BLUE PRINCESS ABDUCTION



Kapten Jeffry pergi meninggalkan Putri Blue dengan menahan tawa dan pipi yang merona menghiasi wajah tampannya itu. Ia tidak langsung keluar dari kastil, tetapi ia berbelok ke ruangan makan prajurit untuk menemui Olivia.


Sesampainya ia disana, ia langsung berhadapan dengan Olivia yang sedang keluar dari ruangan tersebut. Kapten Jeffry mengajaknya untuk berbicara di luar kastil. Olivia menyetujuinya dan mereka pergi keluar kastil bersama-sama.


"Terima kasih sudah menjaga dia," ucap Kapten Jeffry yang memulai pembicaraannya.


"Oh ... tidak usah berterima kasih," jawab Olivia yang berjalan disamping Kapten Jeffry.


"Tidak, kau sudah menyelamatnya dua kali, walaupun dia tidak menyukaimu, tetapi kau tetap menyelamatkannya dari Montaur itu di hutan," jelas Kapten Jeffry.


"Huh?" Olivia menatap Kapten Jeffry dengan mengkerutkan dahinya.


"Tidak usah kaget, aku sudah mendengarkannya dari dia."


Olivia cengengesan mendengar hal itu dan memilih menyembunyikan cerita sebenarnya kepada Kapten Jeffry. Ia mengajak Kapten Jeffry makan, tetapi sang kapten menolaknya dan memilih kembali ke Istana Kerajaan Zarqo. Jadi, mereka berpisah setelah berada di persimpangan perempatan jalan.


Olivia disana juga bertemu dengan Mark yang berada kerumunan makhluk-makhluk yang sedang berjalan kaki. Olivia menemui Mark dan mereka berjalan ke gang yang sepi lalu mereka berbincang disana.


"Tangkap gadis itu dan bawa dia dihadapan raja Carles karena aku sudah tahu siapa dia sebenarnya."


"Apa maksudmu?"


Mark menggelengkan kepalanya dan meremehkan Olivia di depan matanya. "Kau lupa denganku? Ah ... aku lupa, kau itu hanya penyihir pencuri informasi yang masih ulung."


"Aku sudah lama mengumpulkan informasi dari kerjaan ini dan aku sudah memiliki mata-mata yang lebih bagus daripadamu. Hasilnya tidak ada khasus ditemukannya anak haram dari kerjaan ini dan kemungkinan besar dia adalah Putri Yuna yang sudah meninggal 16 tahun yang lalu," jelas Mark. "Jika kau tidak bisa menangkapnya maka aku akan menangkapnya. Dan ingat, aku selalu mengawasimu."


Olivia tertegun meratapi tugasnya yang begitu sulit. Ia tidak bisa berbuat banyak dan seketika ia mematung nan membisu. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya dan ia menundukkan kepalanya atas ancaman yang diberikan oleh Mark.


"Sebaiknya kau cepat dan aku menunggu aksimu karena aku memiliki rencana yang cukup matang," perintah Mark kepada Olivia.


Mark lalu pergi dan Olivia termenung, selama ini yang dimaksud dengan 'Tuan Putri' adalah Tuan Putri yang berasal dari keturunan Raja Juftin. Ia menghela nafasnya dalam-dalam sembari kepalanya mendengak ke atas langit. "Cuaca yang cerah."


________________________________________


BACK TO SCENE.


Seorang berjubah hitam datang dari arah belakang Putri Blue melalui portal sihir. Sang Putri Blue melihat kearah belakangnya dan seseorang itu membuka tudung dari jubahnya tersebut. "Siapa kau?!"


Ada topeng yang menghalangi wajah seseorang tersebut yang sangat menyeramkan berwarna merah dan memiliki taring. Penyihir itu langsung membaca mantra dan mengarahkan tongkatnya ke Putri Blue kemudian Pangeran Alex memberhentikan waktunya.


Pangeran Alex berlari dan mengangkat Putri Blue lalu menggendongnya. Pangeran Alex membawa Putri Blue keluar dari lapangan, tetapi sayangnya ia tidak bisa keluar karena ada sihir tersebut memagari keliling lapangan.


"Ternyata ini jebakan yang sudah direncanakan."


Pangeran Alex melihat kearah atas dan ia melihat sihir hitam meliputi langit-langit. "Ini bukan sihir pelindung dari Kerajaan Zarqo, tetapi ini sihir perangkap dari penyihir hitam!"


Waktu kembali berjalan dengan normal kembali dan serangan sihir dari penyihir hitam itupun meleset. Putri Blue kaget karena berada di gendongan Pangeran Alex dan matanya melotot tajam ke arah Pangeran Alex. Putri Blue memberontak untuk meminta turunkan dirinya.


"Hei! Turunkan aku!" teriak Putri Blue sembari kedua kakinya yang bergerak ke atas dan ke bawah serta tangannya menepak-nepak Pangeran Alex


"Diam!" seru Pangeran Alex.


"Turunkan nggak?!"


Pangeran Alex melepaskan tangannya dan Putri Blue merosot dan terjatuh ke bawah. Putri Blue meresakan kesakitan akibat jatuh ke tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.


"Dasar tidak memiliki rasa kemanusiaan!"


"Aduh ... sakit," kata Putri Blue yang segera berdiri tegak.


Putri Blue menyorot muka Pangeran Alex dengan tajam lalu menahan emosinya dan melihat serangan yang meleset dari penyihir hitam itu mendarat ke tanah dan mengebulkan asap yang mulanya sedikit, tetapi lama-lama asap semakin tebal dan berwarna abu-abu.


"Jangan menghirup asap ini!" tegas Pangeran Alex.


"Apa?! Kenapa?!" kata Putri Blue yang panik lalu dengan segera ia menahan nafasnya.


Pangeran Alex memunculkan tongkatnya dan membuat portal untuk mengeluarkan mereka berdua, tetapi sayangnya tidak bisa. Putri Blue melihat pangeran yang begitu emosional menggunakan sihirnya, tetapi selalu gagal.


Penyihir hitam itu melancarkan lagi serangan dengan bentuk bola sihir mengarah kepada Putri Blue. Pangeran Alex menahannya dengan sihir putih pelindung. Dan bola sihir hitam itu memantul dan mengarahkannya ke udara lalu meledak sehingga menimbulkan asap yang sama.


Asap itu semakin lama semakin pekat dan menghitam, Putri Blue tak kuasa menahan nafasnya lagi dan akhirnya ia menghirupnya lalu pingsan. Pangeran Alex langsung menangkap Putri Blue dan pandangan Pangeran Alex menjadi kabur lalu ia juga ikut pingsan.


Mark melihat kejadian itu dari atas pohon dan ia berubah menjadi burung gagak lalu mendarat di luar lapangan. Ia berubah wujud lagi menjad dirinya dan menghilangkan perangkap sihir tersebut dari lapangan. Lalu asap yang mengepung seluruh lapangan tersebut keluar dengan bebas ke udara.


"Kerja yang bagus," ucap Mark ke penyihir hitam yang bertopeng.


Penyihir hitam bertopeng itu menuruti seruan Mark dan ia menyihir badan Putri Blue lalu badan sang putri melayang di udara dengan posisi ia berbaring. Kemudian penyihir hitam bertopeng itu membuka blokiran portal sihir dengan cara ia memancarkan cahaya ke atas langit kemudian cahaya itu pecah menjadi bulatan kecil berwarna hijau yang melayang di udara.


Setelah itu, Mark dan penyihir hitam bertopeng itu masuk ke dalam portal yang tak lupa juga si Putri Blue mengikuti mereka dari belakang. Mereka berdua pergi ke perbatasan dan Mark merubah wujud mukanya lagi sedangkan penyihir hitam itu melepaskan topengnya lalu membakar topengnya dengan sihirnya.


Mark juga telah mempersiapkan dua ekor kuda dan mereka menaikinya. Mark sudah akrab dengan para prajurit perbatasan dan ia leluasa keluar-masuk. Hanya saja kali ini bukan urusan bisnis melainkan adiknya sedang sakit parah yang harus di bawa ke Kerajaan Penyihir Putih. Yang dimaksud dengan adiknya yang tidak lain si Putri Blue.


Dengan gampangnya mereka bisa keluar dari pengawasan penjaga lalu Mark membuat portal yang menghubungkannya lagi ke Kerajaan Penyihir Hitam. Sesampainya disana, Putri Blue dibawa ke sel penjara bawah tanah dan tangannya diikat dengan bogol yang menggantung ke atas.


Lalu mereka pergi keluar dan meninggalkan Putri Blue disana sendirian diruangan sel yang begitu dingin nan lembab dengan dinding yang dari tanah serta pencahayaannya dari obor api.