
Datanglah sebuah bayangan besar dari arah belakang Putri Blue dan Olivia yang membuat si Peri itu ketakutan. Ketika Olivia dan Putri Blue membalikkan badannya, mereka melihat hewan yang tampak tidak asing dimatanya. Sontak saja si Peri dan Olivia terduduk dan memberikan salam hormat dan Putri Blue hanya terbengong melihat hewan yang pernah diceritakan oleh Kapten Jeffry.
"Berdirilah," kata Blue. "Aku tidak pantas diperlakukan seperti itu ..."
"Karena aku bukan Tuhan." potong Putri Blue.
Olivia dan si Peri terkaget dan berdiri lalu si Peri tersebut mulai terbang kembali ke udara sedangkan Putri Blue tidak berani menatap Blue karena ia tadi memotong pembicaraan Blue selain itu, ia juga takut kepada Blue sebab badannya yang besar dan suara si Blue seperti seseorang yang tegas dan berwibawa.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Blue yang melihat ke arah mereka bertiga.
"Ayahku terjebak di reruntuhan pohon ini dan mereka yang membantuku untuk menyelamatkan Ayahku," jawab si Peri kecil. "Bisakah Blue membantu mengobati Ayahku?"
"Bawa dia dihadapanku."
Perasaan Putri Blue tidak karuan dan ia sangat gugup sekali dihadapan Blue. Ia menghela nafasnya yang dalam dan pergi ke arah Blue. Ketika sang putri sudah dihadapan si Blue dan Blue melihat peri tua itu tengah sekarat lalu meniupnya.
Langsung saja si Ayahnya peri kecil tersebut bisa bangun dari telapak tangan Putri Blue dan bisa terbang di udara. Melihat itu, si Peri kecil langsung memeluk Ayahnya dengan erat sekali. Putri Blue tampak bahagia, tetapi ia juga iri dengan Peri kecil itu, begitu pula dengan Olivia yang tampak cemburu karena ia tidak memiliki keluarga.
"Terima kasih, Blue. Aku tidak tahu harus membalaskannya dengan apa. Aku sangat-sangat berterima kasih," ucap Peri kecil itu.
"Iya, berkat Bue, aku bisa sembuh dan bertemu dengan anakku," sahut Ayahnya si Peri kecil.
Si Blue tersenyum dan berkata, "Kalian harus bertema kasih dengan Tuhan dan bukan dengan aku karena aku adalah ciptaan Tuham."
"Gadis bertiga yang di pertemukan oleh takdir yang tak terduga. Tetapi sayangnya kurang seorang."
"Apa maksudnya?" tanya Olivia dengan tegas.
"Hati yang tertutup oleh masa lalu dan ingin membalas masa lalu tidak akan gunanya di masa depan, kecuali si pemilik hati itu ingin berubah."
Olivia hanya terdiam dan ia tidak dapat berbicara apapun, ia berfikir seolah jika Blue ini sedang menyindir dirinya yang malang. Ia tersenyum dan bermimik baik dihadapan Blue padahal didalam hatinya ia memiliki rasa jengkel.
"Apakah Blue sedang menyindirku?" Batin Olivia.
"Kalian harus segera pergi dari sini karena hari sudah mau petang," kata Blue.
"Baik, Blue."
Mereka pergi menjauh dari tengah-tengah hutan, tetapi di saat mereka pergi meninggalkan Blue, si Blue ternyata menggunakan telepati terhadan Putri Blue. Pada awalnya ia kaget karena ia dapat mendengar suara Blue di pikirannya.
"Ini aku, kau harus menemui besok disini tanpa teman-temanmu itu."
"Apa?" batin Putri Blue. "Eh ... ini suara Blue?! Ba-baik."
Putri Blue menoleh ke belakang dan si Blue sudah menghilang dari hadapannya. Ia bertanya-tanya kenapa Blue ingin bertemu dengannya padahal menurutnya ia tidak melakukan kesalahan. Olivia yang menyadari si Putri Blue sedang gelisah lantas ia menanyakan dengannya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
Si Peri kecil itu mendekati Putri Blue dan Olivia, ia terbang di tengah-trngah mereka lalu memperkenalkan namanya saat di perjalanan, "Kita kan sudah betemu, tetapi kita belum kenalan. Perkenalkan namaku Suci."
"Suci? Nama yang imut," kata Putri Blue. "Namaku Blue."
"Wah ... kenapa namamu sama seperti Blue?" tanya si Peri kecil yang menahan tawa.
"Aku tidak tahu."
"Aku sangat berterima kasih denganmu, Blue."
Olivia langsung cemberut karena usahanya tidak dianggap oleh Suci. Dia kesal sekali bahkan ia memandang sinis ke arah mereka berdua lalu ia menyindir. "Terkadang usaha di depan mata, hanya di pandang sebelah mata."
Hari semakin gelap, mereka baru tiba di kota Liary. Sang Putri Blue cemas dengan dirinya sendiri karena ia tidak pulang ke kastil apalagi si Kapten Jeffry pasti menunggunya dengan perasaan yang sama.
"Ini sudah malam, bagaimana jika kalian pulangnya besok pagi?" tawar Ayahnya si Suci.
"Tetapi ada seseorang yang menunggu pulang," jawab Putri Blue.
"Kita tidak bisa keluar hutan karena terlalu gelap," kata Olivia. "Seandainya sihirku berfungsi di dalam hutan ini, kita akan pulang malam ini. Aku butuh istirahat untuk menstabilkan sihirku yang terkuras habis saat ini."
"Kau benar, Olivia," jawab Putri Blue yang murung.
Putri Blue terpaksa mengikuti mereka ke rumah si Suci dan Ayahnya yang terletak di atas pohon. Ketika sampai disana, Putri Blue sangat kebingungan karena rumah Suci sangatlah kecil. Ia pun bertanya kepada Olivia yang berada disampingnya.
"Dimana kita akan tidur?" bisik Putri Blue ke telinga Olivia.
"Lihat saja, kau pasti akan tahu jawabannya."
Si Suci terbang ke dalam rumahnya dan Ayahnya mempersilahkan mereka untuk menunggu di luar lalu masuk ke dalam rumahnya. Beberapa menit kemudian, si Suci dan Ayahnya membawakan sebuah berry berwarna merah muda yang masing-masing mereka pegang
Mereka menyuruh Olivia dan Putri Blue memakan buah tersebut. Putri Blue sangat ragu memakan buahnya, tetapi ketika ia melihat Olivia yang langsung memakan buah berry itu dengan lahap. Ia memutuskan untuk ikut memakannya juga.
"Rasanya manis dan sedikit asam," kata Putri Blue. "Ini sangat enak!"
"Baguslah jika kamu menyukainya. Aku mau masuk ke rumah dulu," ujar Ayahnya Suci yang kembali terbang ke rumahnya.
Tiba-tiba tubuhnya menyusut mengecil begitu pula dengan Olivia akibat memakan buah berry tersebut. Putri Blue terkejut karena ia berukuran sama dengan seorang kaum peri. Tetapi sayangnya baju mereka berdua tidak ikut mengecil jadi, bajunya meluncur bebas ke bawah dan mereka langsung menutupi badannya dengan secuil baju tersebut.
"Bisakah kau meminjamkan kami baju?" tanya Olivia.
"Oh iya, aku lupa. Tunggu sebentar."
Si suci itu datang lagi membawa baju yang cocok untuk mereka. Langsung saja mereka memakai pakaian tersebut setelah itu, Suci pun memegangi tangan Putri Blue lalu membawanya terbang ke rumahnya. Putri Blue sangat senang sekali karena ia baru pertama kali terbang dan merasakan angin yang berhembus tenang pada saat terbang.
Ketika sudah di teras, si Suci berkata, "Aku ingin berbicara berdua denganmu."
Lalu si Suci terbang ke bawah lagi untuk menjemput Olivia yang sedang menunggu. Sesampainya Olivia di teras, si Suci mempersilahkan mereka berdua masuk ke rumahnya. Suci juga menunjukkan kamar tidur Olivia dan Putri Blue yang bersebelahan dengan kamar tidur Suci.
Ayahnya Suci telah menyiapkan makanan untuk mereka semuanya dan memanggil Suci untuk menyuruh Olivia serta Putri Blue makan malam bersama. Mereka makan malam dengan suasana hangat, seperti keluarga bahagia dan itu yang sempat dirasakan oleh Olivia dan Putri Blue.
Olivia dan Putri Blue dari dulu tidak bisa makan dengan keluarganya dan mereka sudah terbiasa makan sendirian. Baru kali ini mereka berjumpa dengan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Mereka berdua sangat senang bisa diajak makan oleh keluarga Suci.
Mereka semua tertawa dan mengobrol saat di meja makan lalu si Suci memanja kepada Ayahnya dan membuat Putri Blue serta Olivia ikut tersenyum sendiri.
Setelah makan, Putri Blue balik ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Tiba-tiba Olivia datang dan membuat terkejut sang Putri Blue yang langsung duduk diatas kasur.
"Kau kenapa?" tanya Olivia.
"Tidak ada, hanya saja aku tidak terbiasa membagi kamar dengan orang asing."
"Tenang saja, aku kalau tidur itu tidak bergerak sama sekali," kata Olivia. "Aku mau tidur dulu."
"Aku masih belum mengantuk. Aku akan keluar sebentar," ucap Putri Blue yang turun dari kasur lalu pergi.
Putri Blue membuka pintunya dan menutupnya kembali. Ia keluar dari kamar menuju depan teras rumah. Si suci datang menghampiri sang putri yang sedang duduk di teras rumahnya sembari menatap langit. Ia berjalan lalu duduk disamping sang putri.
"Langitnya indah bukan?"
"Indah, tetapi aku memandang bintang dan bukan langit," kata Putri Blue.
Si Suci memandang wajah Putri Blue dan bertanya, "Blue, apakah kau seseorang yang diutus untuk perdamaian di kerajaan ini?"