AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
PLEASE COME BACK



Dari arah samping, si pengkhianat yang memegang pedang Kapten Jeffry roboh seketika dan membuat Kapten Jeffry menengok ke sampingnya. Olivia membawa rekannya Tim Pasukan Elit dan prajurit profesional dari pusat menggunakan portal milik Olivia sendiri.


"Maaf, kami terlambat, Kapten!" ucap tegas dari salah satu rekannya yang bernama Malik.


Kapten Jeffry dibantu bagun berdiri oleh Malik dan membawa Kapten Jeffry pergi dari kastil. Anggota perempuan dari Tim Pasuka Elit bernama Olla memerintahkan untuk memblokir portal sihir di kastil supaya tidak kabur si prajurit penyihir pengkhianat tersebut. Lalu Olla menyerang prajurit tersebut dan dibantu oleh prajurit profesional dari pusat.


Kapten Jeffry dilarikan ke tabib profesional yang pernah menangani Putri Blue yang pada saat itu kakinya berdarah. Olivia mengikuti Kapten Jeffry sampai kesana bahkan ia juga menunggu sang kapten diobati oleh tabib. Ia menunggu diluar ruangan sampai pada akhirnya si Malik dan tabib itu keluar ruangan dan Malik menyuruh Olivia masuk.


Olivia masuk dan disambut oleh pertanyaan, "Apakah kau melihat gadis yang tinggal di ujung kastil dekat kejadian itu?"


"Kenapa kau memikirkan gadis? Jangan-jangan kau sedang jatuh cinta," jawab Olivia.


Kapten Jeffry menunduk dan tidak berbicara sepatah katapun yang terlontar keluar dari bibirnya. Olivia berjalan mendekati Kapten Jeffry sambil berkata, "Ya, aku melihatnya. Ia sangat ketakutan apalagi ketika mereka berdua bertengkar sambil membunuh kemudian gadis itu lewat tepat dihadapannya lalu hampir saja ia tertusuk dan untung saja aku datang lalu menyelamatkannya."


"Dia terkena cipratan darah dimukanya dan membuat dia menangis. Aku menyuruhnya untuk berlari ke portalku dan membawanya ke tempat aman," sambung Olivia.


"Dimana dia sekarang?" tanya Kapten Jeffry yang berusaha duduk dari tidurannya tersebut karena mendengar berita Olivia tentang Putri Blue.


Sontak saja, Olivia langsung mengarahkan tangannya untuk mendorong Kapten Jeffry supaya tetap berbaring lalu menyuruhnya untuk jangan banyak bergerak dan berkata dengan posisi wajahnya berdekatan dengan Kapten Jeffry.


"Aku akan membawanya ke tempat jualan makanan yang kau bawa tadi dan aku akan berusaha membuat dia melupakan kejadian ini," ucap Olivia.


Tiba-tiba Olla masuk ke ruangan tanpa permisi terlebih dahulu dan melihat Kapten Jeffry bersama gadis sexy yang hampir membuatnya salah paham karena menyakini jika Kapten Jeffry bukan pria hidung belang. Olla melihat Olivia dengan tatapan sinis sekali, tetapi Olivia tersenyum ramah terhadap Olla.


"Ada apa, Olla?" tanya Kapten Jeffry yang merasa kejadian ini sungguh memalukan dan bisa mencoreng reputasinya.


"Kedua pelaku tersebut sudah diamankan, tetapi mereka sudah mati," jawab Olla. "Ah ... sayang sekali kita tidak bisa menemukan motif mereka berdua, tetapi kita punya saksi."


Olla melirik kearah Olivia dan Olivia berkata, "Aku tidak tahu apa-apa, aku kesana karena aku ingin berkeliling ke kastil dan ada gadis yang ketakutan dan hampir terbunuh disana. Untung aku datang dan menyelamatkan gadis itu."


"Gadis?" tanya Olla yang sedang mikir orang-orang yang tinggal di kastil.


Kapten Jeffry langsung menyuruh Olivia untuk pergi dan berkata kepada Olivia. "Aku mempercayakan dia kepadamu."


"Baiklah, Kapten Jeffry," ucap Olivia yang tersenyum kemudian mengeluarkan tongkatnya dan membuat portal lalu masuk ke dalam portal tersebut.


Olla bertanya kepada Kapten Jeffry siapa yang dimaksud dengan 'gadis' yang hampir di bunuh. Kapten Jeffry menjawab, "Gadis itu adalah misi kita."


"Kita harus membawa gadis itu kesini dan menginterosi gadis itu," kata Olla lalu menepuk tangannya sekali. "Dan kita bisa tahu motif dari kejadian ini."


"Tunggu! Dia sedang terluka, nanti saja jika lukanya sudah membaik," jawab Kapten Jeffry. "Dia adalah tanggung jawabku dan aku harus kembali kesana."


Kapten Jeffry bangkit berdiri dan membuat si Olla khawatir lalu membantunya berdiri. "Aku bisa sendiri, apakah portal di kastil sudah tidak di blokir lagi? Aku ingin kesana dengan portal itu."


"Baiklah, aku akan menyuruh prajurit penyihir profesional itu untuk tidak memblokir lagi. Kapten tunggu saja disini bersama Malik, akan ku suruh dia kesini," kata Olla. "Oh ya, soal pacarmu itu, aku tidak akan memberi tahu siapapun."


Ketika Olla pergi dengan berlari sambil menahan tertawa dan menyuruh si Malik datang. Malik terheran karena Olivia tertawa tercicikan setelah keluar dari ruangan. Malik langsung masuk dan melihat Kapten Jeffry sedang duduk diatas kasur.


"Kau datang," ucap Kapten Jeffry. "Aku ingin sendirian. Tolong jika ada informasi tentang pembukaan portal sihir ke kastil, segera beritahuku."


"Baiklah," jawab Malik yang setelah itu ia pergi.


Kapten Jeffry berada diruangan yang sunyi dan ia hanya bisa melihat kearah luar jendela sambil berharap sang putri akan baik-baik saja walaupun perasaan Kapten Jeffry sungguh kacau sekaligus khawatir yang menderai pikiran dan perasaannya. Sampai pada akhirnya Kapten Jeffry bisa kembali ke kastil dengan portal sihir, dan ia menunggu Putri Blue kembali ke kamarnya.


Tetap saja, rasa khawairnya belum hilang sampai ia harus melihat Putri Blue dengan mata kepalanya sendiri. Nyonya Anna datang dengan raut wajah sedih ke kamar Putri Blue dan ia mendapatkan Kapten Jeffry yang sedang merenung di balkon kamar Putri Blue.


"Dimana tuan putri?" tanya Nyonya Anna. "Apakah ia baik-baik saja?"


Kapten Jeffry menyembunyikan semua perasaannya dan tersenyum. "Dia sedang berjalan-jalan, tenang saja."


Nyonya Anna memukul lengan kanan Kapten Jeffry dan sang kapten merasakan kesakitan lalu ia tahan. Nyonya Anna menitihkan air matanya. "Ah!! Aku khawatir dengannya sampai-sampai aku harus buru-buru ke sini!"


"Dia akan pulang, Nyonya Anna silahkan istirahat saja."


Nyonya Anna melihat pakaian yang dikenakan Kapten Jeffry berdarah. "Itu! Kenapa pakaianmu berdarah? Jangan-jangan ... Hei! Kau harus pulang dan mandi!"


Nyonya Anna menyeret tangan Kapten Jeffry untuk keluar dar kamar Putri Blue. Kapten Jeffry hanya bisa menahan sakit karena tangan yang diseret oleh Nyonya Anna adalah tangan kanannya.


"Pantas saja putri Blue sering mengeluh dan tidak suka dengannya. Wanita ini ringan tangan dan bertindak tanpa mengetahui kondisi seseorang," batin Kapten Jeffri.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, ia langsung menuju kastil, ia melihat lorong taman tersebut telah bersih dari noda darah bahkan mayat sekaligus. Ia menunggu Putri Blue datang di kamar sang putri dan ia telah menyiapkan makan malam untuk Putri Blue. Putri Blue tidak kunjung datang dan Kapten Jeffry memutuskan untuk mencari udara segar.


Ia hendak keluar dari kastil dan melihat Pangeran Alex berserta rombongannya. Kapten Jeffry terdiam dan Pangeran Alex menghampirinya sedangkan Zefron dan pengawal Pangeran Alex disuruh meletakkan barang sang pangeran ke kamarnya.


Kapten Jeffry menunduk hormat kepada Pangeran Alex lalu menegakkannya kembali. Pangeran Alex memulai pembicaraannya dengan Kapten Jefry dengan menatap mata Kapten Jeffry dengan tatapan santai. Ia tersenyum dan menengok kanan dan kirinya.


"Kenapa Kapten Jeffry disini? Bukannya tugasmu sudah selesai, kan?"


"Aku sedang menjalankan tugas, seharusnya aku yang bertanya seperti itu," jawab Kapten Jeffry dengan tegas.


"Ini salah satu hasil dari rapat, kau tahukan ujian seleksi prajurit diadakan seminggu sebelum ulang tahun putri Alonia. Jadi, aku menginap disini."


"Itu bukan hasil keputusan rapat melainkan hasil dari permintaanmu," ucap Kapten Jeffry yang langsung menusuk tepat sasaran ke Pangeran Alex.


"Anggap saja kalau aku sedang berlibur ke sini," jawan Pangeran Alex sambil memegang bahu dang kapten.


Lalu Pangeran Alex melangkahkan kakinya dan melewati Kapten Jeffry. Kapten Jeffry mengepal kedua tangannya dan ia takut jika Pangeran Alex tahu tentang Putri Blue. Beban pikirannya bertambah lagi, ia berharap Putri Blue bisa kembali dengan secepat mungkin.