AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
GO HOME



Putri Blue kembali masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Raja Carles dengan sopan. Ia menundukan kepalanya dan kemudian pergi, diluar ruang makan, ia bertemu Mark yang sedang berjalan ke arah ruang makan. Sang putri menghentikan langkahnya dan memanggil nama Mark ketika Mark sedang melewatinya.


"Mark, aku ingin membuat kesepakatan."


Mark berhenti berjalan dan menoleh wajahnya ke arah Putri Blue dengan tersenyum miring. "Aku telah bosan dengan ucapanmu."


Putri Blue menatap mata Mark dan menjawab, "Cincin yang kau berikan ini adalah cincin kematianku atas kesepakatanku dengan raja Carles, bukan? Jadi, jika aku ingin hidup maka aku harus menuruti perintahnya. Dan itu perbedaanmu denganku."


"Apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Mark yang tidak mengerti maksud ucapan sang putri.


"Aku telah terjebak dengan kesepakatanku, jadi kita adalah teman dan bukan lawan. Itu saja kesepakatanku dengan mu dan aku harap kita tidak pernah saling membunuh karena kau bukan tandinganku," jelas Putri Blue yang tahu semua tentang cincin yang ia pakai karena ia diam-diam membaca pikiran Raja Carles ketika ia menatap mata sang raja dan dipertegas kembali dengan membaca pikiran Mark.


Putri Blue menghela nafasnya sambil memegang kantung yang berisikan mutiara hitam. Ia baru menyadari jika ia benar-benar terjebak di Kerajaan Penyihir Hitam serta akan mati beneran ketika ia berkhianat.


"Aku benar-benar sudah menawarkan nyawaku demi Kerjaan Zarqo," batin Putri Blue.


_________________________________________


KERAJAAN ZARQO


Putri Alonia sedang tersenyum bahagia ketika nanti malam adalah pesta impiannya telah terwujud, pesanan kuenya juga sudah datang dan piring-piring telah disiapkan oleh para pelayan serta tidak ketinggalan gelas-gelas bening yang kelilap telah dipersiapkan di atas meja yang besar.


"Akhirnya keinginanku terwujud, pesta idamanku," ucap Putri Alonia menepuk tangannya.


Putri Alonia sangat selektif sekali terhap semuanya dan menginginkan pesta malam yang sempurna. "Akhirnya aku bisa berpasangan dengan pangeran Alex."


Sedangkan Raja Juftin memerintahkan Malik untuk menjaga kondisi istana ketika pesta berlangsung dan membuka sihir di perbatasan karena perang sudah berakhir dan Putri Yuna sudah meninggal beneran ditangan Raja Carles demi perdamaian Kerajaan Zarqo.


Malik menjalankan perintahnya dan segera menghilangkan sihir yang di perbatasan serta memperketat penjagaan istana. Putri Alonia yang tahu karena banyaknya prajurit yang di dalam istana itu, ia langsung emosi kepada si Malik dengan berkata, "Kenapa kau melakukan ini?! Ini membuat pestaku jelek!"


"Maaf, tuan putri. Ini pertintah dari Yang Mulia Raja."


"Apa kau bilang? Siapa yang akan menyerang acara pestaku? Ini bukan pesta para prajurit, tetapi pesta umum dan semua nama yang ada di pestaku telah terdaftar disini, jadi tidak ada penyerang. Tarik pasukanmu atau aku akan mengusir kalian semua sebagai penyusup di pestaku!" perintah Putri Alonia.


"Baik, tuan putri."


Malik memerintahkan para pasukannya agar tidak menjaga istana, tetapi di wilayah perbatasan harus dijaga sihir kembali sampai pesta selesai sehingga tidak ada penyusup maupun penyerangan yang dilakukan pada saat pesta berlangsung.


____________________________________


KERAJAAN PENYIHIR HITAM.


Putri Blue melemparkan kantung mutiaranya ke arah kasur dan pergi ke kamar mandinya untuk menemui Peri Naiad disana. Putri Blue berkata, "Aku akan membawa kalian pulang nanti malam. Oh ya, kalian baik-baik saja waktu aku berisik? Aku lupa kalau kalian ada disini."


"Tenang saja, kami pikir kau itu gila," ucap salah satu peri.


"Kalian benar," jawab Putri Blue yang tersenyum.


Ketika malam telah menyapa dan bintang telah bertebaran, sang putri sudah bersiap dengan mengenakan jubah hitam dan ingin membawa para peri Naiad keluar dari kamar mandi. Dan tiba-tiba sang putri dikejutkan oleh para pelayannya ketika ia membawa satu kandang berisikan peri Naiad dari kamar mandi.


"Tuan putri, apa yang tuan putri lakukan?"


"Aku? Melepaskan mereka ke hutan terlarang."


"Apa? Tuan putri sudah lupa kalau hari ini tuan putri harus pergi ke pesta?" tanya Ambert kepada Putri Blue.


Putri Blue dengan santainya menjawab, "Aku tidak memiliki gaun dan aku harus pergi, katakan kepada raja Carles kalau aku pergi ke pesta."


Chycy merebut kandang tersebut dari tangan sang putri dan berkata, "Tidak bisa. Tuan putri, kami telah membuat gaunmu."


Dengan wajah terkejutnya ia bertanya, "Kapan? Apakah seharian kalian membuat gaun itu? Uang dari mana untuk membuat gaun itu? Jangan-jangan ..."


"Uang kami, kami lakukan yang terbaik untuk tuan putri. Sekarang pakai gaun ini dan kami akan merias wajah tuang putri," jelas Chycy.


Putri Blue tidak menyangka jika para pelayannya menghabiskan uang mereka hanya untuk dia. Sang putri tidak enak hati menerima gaun tersebut ketika diberikan kepadanya. Gaun itu ditutupi kain sutra yang sangat halus berwarna putih.


Ketika Putri Blue membuka bungkusan kainnya, ia melihat gaun panjang yang panjang berwarna biru yang dipadu dengan warna putih. Ia sungguh terharu mendapatkan gaun secantik ini dan ingin menangis sewaktu melihat gaun tersebut.


"Kalian merubah gaunnya," kata Putri Blue. "Ini bagus sekali dari rencangan kita dulu."


Putri Blue mengenakan gaun tersebut dan melihat dirinya ke arah cermin dan gaun tersebut terdapat seperti selendang yang melilit di pinggangnya yang terurai panjang. Gaun tersebut sedikit mengembang dan sang putri terlihat anggun nan cantik.


Pinggangnya terlihat kecil dan ketika Putri Blue berbalik untuk melihat belakang gaun tersebut, ternyata gaun tersebut tidak melepaskan aura sexy. Punggungnya terlihat putih mempesona yang tertutupi kain tipis transparan yang memiliki motif.


"Rambutku diurai saja, aku tidak nyaman dengan belakangku."


Para pelayan langsung tersenyum karena Putri Blue terlihat sangat cantik dan gaunnya sangat sesuai. Salah satu dari pelayan tersebut melihat kantong yang tergeletak diatas kasur dan bertanya, "Kantong apa ini?"


Semua pelayan dan Putri Blue melihat ke arah Gina yang memegang kantong itu. Putri Blue menjawab, "Itu mutiara hitam."


"Mutiara hitam? Itu langka sekali. Hanya Duyung Samudra Hope yang bisa menghasilkan mutiara itu ketika suasana Duyung itu sangat ..." kata Hana yang langsung mendekati Putri Blue. "Sangat bersedih, tuan putri baik-baik saja?"


Putri Blue yang mengetahui Hana sedang mengkhawatirkan dirinya langsung tersenyum dan berkata, "Aku sedang bersedih karena memikirkan Peri Naiad. Otaku rasanya ingin pecah."


Gina langsung berbicara, "Kalau begitu, kita harus meringankan beban tuan putri."


"Kalau begitu, kalian harus merias wajahku terlebih dahulu," jawab Putri Blue.


Para pelayan yang setuju untuk membantu Putri Blue untuk menolongnya membuat hati kecilnya merasa senang sekali karena ia masih berada di sekitar orang-orang yang memperdulikannya dan menolongnya. Putri Blue dihias secantik mungkin dan tak lupa memakaikan mahkotanya.


"Bagaimana kalau mutiara ini dijadikan kalung dan hiasan digaun?"


"Itu ide yang bagus," puji Putri Blue yang menyutujui ide tersebut.


Dengan tongkat sihir milik Chycy, ia merubah mutiara terbut menjadi kalung mutiara hitam yang indah lalu si Ambert merubah mutiara tersebuut sebagai hiasan gaun sehingga gaun tersebut terlihat menarik dan menambah keanggunan gaun itu.


Putri Blue memakai kalungnya dan melihat dirinya di dalam cermin lalu tersenyum. "Terima kasih semuanya."


"Bagaimana kita bisa pergi ke hutan terlarang jika Putri Blue akan pergi bersama Mark?" tanya Gina dan membuat sadar para pelayan dan Putri Blue yang lupa ketika itu.


"Aku pernah dengar, katanya ada sihir yang bisa menduplikat wajah," kata Putri Blue dan langsung dijawab oleh Chycy. "Hanya sihir tingkat tinggi tanggi yang bisa melakukan itu."


"Ambert, kau jadi aku karena tinggi kita sama dan kau pakai mahkota ini ..." Putri Blue melepaskan mahkotanya dan mengasihkan ke Ambert.


"Aku akan menyihirmu suapaya mirip denganku dan pakailah gaunku yang lain," sambung Putri Blue.


"Tapi, tuan putri ..." kata Ambert yang tidak bersedia menjadi Putri Blue dan sang putri sudah mengeluarkan sihirnya yang berwarna biru ke arah Ambert.


Seketika saja si Ambert berubah wajahnya menjadi Putri Blue dan para pelayan lain tertegun ketika melihat kejadian itu. Mereka benar-benar melihat jika sihir berwarna biru memang ada dan Putri Blue menguasai sihir biru. Putri Blue sangat puas karena sihirnya bekerja dengan sempurna.


"Kalian rias si Ambert dan setelah itu bawa dia ke Mark," perintah Putri Blue.


Dengan terpaksanya si Ambert menjalankan tugas dari Putri Blue yang sebenarnya ia tidak mau menjadi Putri Blue. Ia telah dirias cantik dan menemui Mark diluar kamarnya. Putri Blue hanya menahan tertawa ketika wajah Ambert terlihat ketakutan ketika si Ambert diantar ke luar oleh para pelayan.


Putri Blue segera memakai jubah hitamnya yang kemudian memakai sihirnya untuk melayangkan semua kandang yang berisikan Peri Naiad. Sang putri juga tidak lupa memasang tudung untuk menutupi wajahnya dan membuka portal untuk menuju Kerajaan Zarqo.


Ia segera memasuki ke portal sihirnya sambil membawa semua kandang dengan sihir berwarna biru miliknya. Putri Blue keluar dan ia berada di perbatasan Kerjaan Zarqo dan berkata, "Bukannya sihir pelindung Kerajaan Zarqo sudah tidak ada? Aku tidak percaya, pangeran Alex menipuku."


"Butuh bantuan, tuan putri?" tanya seseorang dari belakang sang putri.


Putri Blue langsung melihat dari belakang dan menjawab. "Pangeran Alex?"


"Aku bukan pangeran, tetapi seorang penipu," jawab Pangeran Alex yang mendekati Putri Blue.


"Kau mendengarkan perkataanku. Tapi kenapa kau disini?" tanya Putri Blue.


Pangeran Alex melirik ke arah belakang lalu berjalan menuju Putri Blue dan langsung memeluknya tanpa memberi aba-aba. Putri Blue yang terkejut langsung memberontak dengan cara memukuli punggung Pangeran Alex karena menganggap sang pangeran tidak sopan dengannya.


"Hentikan, Mark akan menuju kesini dan aku akan melindungi aura birumu untuk tidak ketahuan. Lalu lepaskan Peri Naiad dari kandangnya supaya kau tidak menggunakan sihirmu," ucap Pangeran Alex yang membut Putri Blue diam dan menyembunyikan tangannya ke arah belakang punggungnya.


"Tapi mereka akan terbang bebas," jawab Putri Blue.


"Kami tidak akan pergi bebas karena kami percaya kepadamu," sahut para peri Naiad.


Putri Blue melepaskan Peri Naiad dari kandang dengan sihirnya dan semua para peri terbang bebas kemudian bersembunyi dibalik semak-semak maupun dedauan pohon. Dan Putri Blue tidak lagi menggunakan sihirnya sehingga kandang yang melayang diudara langsung berjatuhan kebawah yang bertepatan dengan Mark yang lewat menggunakan kereta berkudanya.


Si Ambert yang melihat kandang peri bertebaran di jalan dari dalam kereta tersebut dan melihat dua orang yang berpelukan erat di bawah pohon dan berkata, "Aku tidak mengerti lagi, kenapa seorang pasangan bermesraan dibawah pohon? Apakah tidak ada tempat lain?"


Ambert yang tersadar langsung kembali melihat jendela kembali ke belakang karena tersadar sesuatu. "Tunggu, itu kandang ... berarti itu tuan putri."


Ambert melihat aura sihir putih saja dan bertanya-tanya didalam hatinya. "Siapa penyihir putih itu?"


Ketika Mark sudah lewat, kedua bola mata Putri Blue melirik wajah Pangeran Alex dengan malu, tetapi Pangeran Alex meligat terus wajah sang putri dan berkata, "Aku akan membantumu."


Pangeran Alex melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Putri Blue. "Aku akan mengurus para penjaga dan kalian akan menyusup ketika aku berhasil mengalihkan pandangan mereka."


Kemudian para peri Naiad keluar dari tempat persembunyian mereka dan berkata, "Terima kasih, Pangeran Alex."


"Kalian seharusnya berterima kasih kepada Putri Blue karena dia memikirkan nasib kalian," ujar Pangeran Alex yang merangkul pundak Putri Blue sambil tersenyum kearah para peri Naiad yang kemudian pergi ke tempat perbatasan yang dijaga oleh penjaga perbatasan.


Disana sang pangeran disambut hanget oleh para penjaga ketika melihat Pangeran Alex berjalan kaki kearah perbatasan. Para penjaga berkumpul dan memberikan penghormatan kepada Pangeran Alex kemudian mereka bertanya, "Kenapa pangeran disini? Dimana pengawal pangeran?"


"Sepertinya setiap aku kesini, aku selalu terpisah dengan pengawalku," ucap Pangeran Alex. "Bisakah kalian berbicara santai kepadaku sambil makan atau berkumpul denganku. Aku sepertinya harus menunggu Zefron disini."


"Kami sangat terhormat, pangeran."


Ketika penjagaan telah melonggar, Putri Blue dan para peri Naiad beraksi untuk memasuki perbatasan. Dan saat mereka berhasil melewati perbatasan, Putri Blue langsung meneluarkan portal sihirnya dengan diam-diam sehingga mereka bisa masuk ke dalam portal tanpa adanya suara apapun.


Portal tersebut tertutup cepat ketika mereka semuanya berada didepan hutan terlarang. Putri Blue yang sangat senang itu, berteriak, "Hah! Akhirnya! Kalian bebas!"


Putri Blue mengeluarkan sihir lagi berbentuk cahaya biru terang yang melayang di udara dengan cantik dan berkata kepada para peri Naiad. "Ikuti cahaya ini, kalian akan ke tempat para peri tinggal dan sampaikan salamku kepada para peri disana."


Para peri Naiad berkumpul dihadapan Putri Blue dan semuanya kompak mengucapkan terima kasih kepada Putri Blue. "Putri Blue, kami sangat berterima kasih."


"Wah, kalian bilang kalau aku ini putri? Aku jadi terharu, terima kasih kembali dan sampai jumpa," ucap Putri Blue sambil melambaikan tangan kearah Peri Naiad yang mulai pergi mengikuti sihir cahaya biru, tetapi ada satu peri Naiad yang tidak pergi dan membuat Putri Blue bertanya, "Kenapa kau masih disini?"


"Cincin itu," ucap Peri Naiad.


"Kenapa?" tanya Putri Blue yang penasaran.


Peri Naiad itu menangis sambil berkata, "Sisa hidupmu tidak akan lama lagi karena kami."


Putri Blue mencoba menenangkan si peri kecil tersebut dan berkata, "Aku tidak akan mati karena aku tidak melawan raja Carles."


"Tetapi kau tidak langsung telah melawannya, maka dari itu kau tidak mati secara langsung, hiks ..."