AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
THE RAIN



Ketika selesai mandi dan memakai gaun lamanya, Putri Blue menaruh gelas minumannya di dapur dan tidak sengaja melihat lukisan bayi mungil yang sangat lucu. Di beawah lukisan itu terdapat nama dirinya, yaitu Blue Princess. Putri Blue hanya tersenyum dan memandang lukisan dirinya.


"Ah ... dia menyimpan ini karena wajahku terlalu imut."


"Kata siapa? Cepat tidur!" seru Nyonya Anna dari dalam kamarnya yang membuat Putri Blue kaget.


"Hisst ..." desis Putri Blue karena kesal.


Putri Blue masuk kembali ke ruangan yang berisikan barang pribadinya dan menemukan buku peri miliknya. Putri Blue mengambil buku tersebut yang kemudian duduk diatas kasurnya yang sangat keras sekali baginya mirip seperti kasur lamanya.


Ia mematikan penerangan di ruangan itu menggunakan sihirnya dan membesarkan buku peri tersebut dikarenakan ukuran buku peri itu sangat kecil. Dengan bantuan sihir yang telah ia kuasai, ia dapat membaca buku itu dengan nyaman dibawah sinar rembulan dan bintang yang tembus lewat kaca jendela.


Putri Blue juga mengeluarkan sihir cahaya biru kecil yang bertebaran di kamarnya sehingga belajarnya menjadi tenang, ia menghafal sihir peri tersebut dengan sungguh-sungguh disepanjang malam tanpa adanya rasa kantuk yang menyerang dirinya.


___________________________________


KERAJAAN PENYIHIR PUTIH.


Raja Azka memanggil anaknya, yaitu Pangeran Alex ke ruangannya dan mengintrogasinya. "Sejak kapan kau kenal dengannya?'


"Blue? Aku sudah lama mengenalnya," jawab Pangeran Alex.


"Kenapa kau tidak memberi tahu Ayah jika kau menemuinya! Kau tahu dia itu siapa? Dia itu musuhmu! Kau tidak terbuai dengan kecantikannya, bukan?" tanya Raja Azka.


"Aku menyukainya dan dia bukan musuhku, dia mengajariku banyak hal, seperti aku sadar jika selama ini Ayah telah salah. Ayah mengatas namakan bisnis untuk menguasai obat-obatan herbal milik Kerajaan Zarqo. Apakah Ayah pernah berfikir ten-" kata Pangeran Alex yang dipotong oleh Raja Azka. "Aku tidak butuh penjelasanmu, kau hidup karena kau makan uang bisnisku."


"Aku tidak percaya, gadis itu telah mencuci otakmu. Kau dilarang keluar istana sampai kau benar-benar sadar dengan ucapanmu," sambung Raja Azka yang memberi hukuman kepada Pangeran Alex.


Pangeran Alex menerima keputusan Ayahnya dan kembali ke kamarnya dengn wajah tidak penuh menyesalan. Ia malah tersenyum sambil berjalan dan membuat Zefron merasakan keanehan ketika Pangeran Alex melewati dirinya. Pangeran Alex tersenyum dengan lebar menuju kamarnya.


Setelah Pangeran Alex telah pergi, si Zefron bertanya kepada Raja Azka. "Kenapa pangeran tersenyum, Yang Mulia?"


"Tersenyum? Itu tidak mungkin," jawab Raja Azka. "Kau salah lihat."


Pangeran Alex masuk kedalam kamarnya dan berkata, "Akhirnya, aku merasakan apa yang dirasakanmu, Blue. Kau terkurung di kastil dan aku terkurung di istana. Ini lucu sekali."


_______________________________


KERAJAAN PENYIHIR HITAM.


Dipagi hari, cuaca sedang tidak bersahabat. Awan kegelapan datang diiringi oleh hujan yang deras sekali. Petir menyambar-nyambar hingga suara guntur menggelegar menjadi suasna yang semakin mencekam. Walaupun seperti itu, tak akan menghalangi perintah dari Raja Carles.


Para pelayan Putri Blue diikat tangannya dan berjalan di lapangan dengan mata yang tertutup dan mulut yang dibungkam dengan seutas tali yang mengikatnya. Hati mereka sugguh ketakutan karena kematian telah berada dihadapan mata ketiga pelayan tersebut. Sedangkan Ambert hanya dihukum cambuk.


Mereka semua berharap sang putri datang dan menyelamatkan mereka, tetapi Chycy, Hana, dan Gina berjalan menuju tangga untuk ke tempat yang lebih tinggi. Gantungan tali telah tepat di hadapan mereka dan segera menjerat leher mereka. Para algojo telah bersiap untuk mendorong mereka agar jatuh.


Raja Carles pelaksanaan hukuman tersebut. "Sepertinya anakku telah lupa siapa aku, dorong mereka bertiga."


Sesuai dengan perintah Raja Carles, mereka bertiga jatuh dan leher mereka tersangkut ditali yang menggantung diatas. Mereka mati tercekik. Ambert menangis yang diiringi dengan jeritan hatinya karena temannya telah mati semua.


Dan para algojo membawa Ambert untuk melepaskan ikatan tangannya yang kemudian diikatkan kembali oleh tali dari sisi kanan maupun kiri. Kedua kakinya diikat rantai dengan besi yang dikaitkan dengan bola besar yang terbuat dari baja.


Algojo tersembut telah menyiapkan cambuk dan beriap untuk printah Raja Carles. Sang raja tertawa karena tangisan Ambert yang dinilai tidak berguna. "Kau menutupi fakta demi melindungi mereka, bukan? Cambuk seratus kali."


Algojo itu menuruti perintah Raja Carles dan sang raja kembali ke dalam istana melewati portal sihirnya. Raja Carles duduk di meja makannya dan Mark datang menghampirinya dengan membawa laporan. Mark bercerita tentang kejadian pesta kemarin malam.


"Yang Mulia, putri Blue telah membuat kekacauan di pesta, ia melawan putri Ravta berserta ketiga prajuritnya dan juga putri Alonia," kata Mark. "Raja Thaison dan raja Azka marah kepada raja Juftin karena raja Juftin telah menciptakan kekuatan baru tanpa diketahui oleh mereka. Aku baru saja mendapatkan laporan jika raja Thaison sudah menyatakan berperang kepada raja Juftin."


"Apakah putri Blue sudah pulang?" tanya Raja Carles.


"Belum, Yang Mulia. Kemungkinan dia masih berada di Kerajaan Zarqo dan aku juga tidak bisa ke Kerajaan Zarqo dengan penyamaran lagi karena penjagaan disana lebih ketat daripada biasanya. Aku bisa mendapatkan informasi dari para penyusup disana dan putri Blue sudah menguasai kekuatan peri."


"Apa?!"


____________________________________


KERAJAAN ZARQO.


Dikarenakan petir menyambar membuat Putri Blue terbangun dari tidurnya dan langsung melihat ke jendela. Hujan semakin deras dan angin semakin kencang menggoyangkan pepohonan. Putri Blue segera pergi keluar kamarnya dan mencari Nyonya Anna.


Tetapi ia tidak menemukan Nyonya Anna dan hanya menemukan sebuah roti selai nanas tersaji diatas piring serta segelas air putih. Putri Blue memakan roti tersebut dan meminum air putih dengan nikmat. Ia melihat Nyonya Anna baru saja pulang dengan bajunya yang sedikit kebasahan.


Putri Blue bergegas bertanya, "Nyonya Anna darimana?"


"Ini gawat, penjagaan perbatasan semakin diperketat dan raja Thaison sudah menyatakan perang, besok Kerajaan Zarqo akan perang karena khasus tadi malam dan Raja Thaison mengincarmu dalam peperangan kali ini. Putri Alonia masih pingsan, katanya dia kekurangan darah dan juga lukanya sangan dalam," jelas Nyonya Anna.


"Ini semua karena permasalahan itu. Aku harus memperbaikinya supaya tahu siapa yang salah dan siapa yang benar," ucap Putri Blue. "Aku akan menyamar menjadi makhluk lain untuk pergi ke Kerajaan Polip."


Putri Blue teringat ucapan para peri dan berniat untuk ke hutan terlarang dengan meminta bantuan kepada mereka. Putri Blue mencoba membuka portal sihirnya, tetapi tidak bisa dan membuat Nyonya Anna kebingungan melhat tingkah sang putri.


"Apa yang tuan putri lakukan?"


"Tidak bisa," ucap Putri Blue. "Nyonya Anna, coba keluarkan sihirmu untuk membuat portal."


Nyonya Anna menuruti permintaan Putri Blue, ia mengeluarkan tongkatnya dari dalam tasnya yang ia bawa serta mengayunkan tongkat tersebut. Portal sihir pun tidak bisa ia buka dan Nyonya Anna mengulanginya lagi hingga beberapa kali, tetapi tetap gagal.


"Raja Carles memblokir semua portal sihir," ucap Putri Blue bergegas pergi ke menuju keluar pintu dan berpamitan kepada untuk pergi keluar rumah.


"Aku harus pergi."


"Mau kemana? Hujan deras ini!"


Putri Blue menghiraukan omongan Nyonya Anna dan ia rela kebasahan serta kedinginan akibat angin yang menerpa dirinya. Putri Blue melihat patroli penjaga keamanan berada di samping kirinya dan membuat ia harus mencari tempat persembunyian.


Tetapi sayangnya penjaga tersebut melihatnya dan berlari kearah dirinya ketika sang putri hendak berjalan ke samping rumah Nyonya Anna. Putri Blue berlari sekuat tenaga untuk bisa lolos dari pengejaran. Para penjaga tersebut melaporkan kejadian ini ke seluruh tim untuk menangkap Putri Blue yang masih berkeliaran di Kerajaan Zarqo melalui telepati.


Laporan ini diterima oleh rekan si Malik dan segera melaporkannya kepada Malik karena lokasi pengejaran Putri Blue tidak jauh dengan lokasi keberadaan Tim Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Malik. Malik menginstruksikan semua anggota Tim Pasukan Khusus yang terdiri dari empat orang itu segera menangkap Putri Blue.


"Tidak boleh pakai kekerasan, tidak boleh, tidak boleh ..." ucap Putri Blue ketika berlari menghindari mereka semuanya.


Putri Blue melewati gang kecil dan masih diikuti oleh mereka dan sang putri melihat pohon besar yang berdiri kokoh dihadapannya, Putri Blue sengaja menumbangkan pohon tersebut agar mereka terhalang dan tidak dapat mengejarnya lagi.


Tetapi langkah Putri Blue harus berhenti dikarenakan ia sudah dihalang oleh sebuah tim yang tidak asing lagi dikarenakan Putri Blue mengenal seragam tim tersebut. Putri Blue berbalik arah dan melihat petugas patroli tersebut sudah mengeluarkan tongkat sihir mereka.


Putri Blue terkepung dan berkata, "Aku tidak ingin menyakiti kalian, tetapi aku ingin bilang kalau Olla tidak berkhianat kepada kerajaan ini."


"Ucapan apa itu? Apakah itu ucapan terakhirmu sebelum ditangkap?" tanya Malik melihat Putri Blue yang sangat menyedihkan berdiri dihadapannya.


"Ayolah, itu faktanya sebelum aku kabur dari kalian dan yang membunuh Olla adalah aku."


Petugas tersebut diam-diam menyerang dari belakang sang Putri Blue, tetapi Putri Blue tahu dan menghindari sihir putih yang bisa melumpuhkannya. Malik langsung menyambut Putri Blue dengan sebetan pedang yang ia miliki. Sang putri langsung memegang tangan Malik untuk menahan ayunan pedang tersebut kemudian ia menendang kearah perut si Malik.


Malik terjatuh, tetapi anak buahnya tidak ambil diam. Mereka semuanya menyerang Putri Blue dari berbagai arah dan membuat sang putri kewalahan untuk menghindar dari banyaknya anak buah Malik serta Malik juga ikut bertarung dengannya. Putri Blue terpaksa menggunakan kekerasan dan ia tidak segan untuk melawan mereka semua tanpa menggunakan sihir dan hanya bermodalkan seni bela dirinya yang ia pelajari dari Kapten Jeffry.


Tiba-tiba lengan kiri sang putri terkena sebilah pedang tajam dari Malik dan membuatnya menendang kepala Malik dengan kakinya yang kuat. Darah sang putri mulai terlarut dengan air hujan sehingga warna air pun menjadi merah setiap kali menetes dari setiap jari tangan kirinya.


Kepedihan tidak berarti baginya lagi karena ia pernah seperti ini sebelumnya, ia terus melawan dan pada akhirnya punggungnya terkena sihir yang membuatnya seperti tersetrum. Putri Blue terjatuh dan ia memutuskan untuk menggunakan sihirnya.


Dengan sihirnya, ia dapat melumpuhkan mereka semua termasuk si Malik dan membuat mereka terpelanting ke sisi tembok gang kecil tersebut. Putri Blue mengambil pedang yang tergeletak jatuh diatas tanah dan berjalan kearah Malik.


Putri Blue juga mengeluarkan sihirnya untuk mengikat mereka agar tidak kabur serta menghilangkan tongkat sihir yang mereka miliki, ketika ia sudah didepan Malik yang terduduk dengan wajah yang merah akibat darah yang mengalir.


Putri Blue mengacungkan pedang tersebut dihadapan Malik dan berkata, "Aku tahu kalau kau adalah pemimpin pasukan ini dan bilang kepada rajamu untuk menguburkan Olla ketempat pemakaman pahlawan."


"Kenapa kau mengatakan semua ini? Kau berada dipihak siapa?" tanya Malik.


"Kau menyerangku padahal aku sudah memenangkan kerajaan ini dari perang perebutan wilayah selatan. Beginikah kau berterima kasih? Ah ..." Putri Blue menurunkan pedang tersebut dan berkata lagi. "Atau begini caranya kalian berterima kasih? Rajamu sudah membentak aku jika aku tidak sopan dengannya padahal kalian lebih tidak sopan."


"Jadi, menurutmu aku berada dipihak mana atas perlakuan kalian semua?" tanya Putri Blue sambil tersenyum dan Malik tidak menjawab sepatah katapun.


Putri Blue melepaskan pedang tersebut lalu pergi dan ia juga tidak lupa untuk menghancurkan pedang tersebut menjadi lelehan besi yang panas dengan sihirnya. Mereka semua terkejut dengan kekuatan sihir sang putri yang begitu kuat.


"Kau ingin ucapan terima kasih? Yang Mulia akan memberikan segalanya untukmu!" ucap Malik yang berteriak ditengah derasnya hujan.


Putri Blue menghiraukan ucapan Malik dan wajah sang putri sudah pucat pasih. Putri Blue mengingat jika Raja Juftin memanggilnya dengan sebutan 'iblis' dan membuat hatinya hancur kembali seakan diiris terlebih lagi Raja Juftin telah mengusirnya.


"Bohong, dia tidak akan bisa memberikan segalanya untukku."


Sihir ikatan sang putri mulai pudar sehingga Malik dan anak buahnya bisa lepas dari jeratan sihir tersebut dan Malik menyuruh anak buahnya untuk mengejar Putri Blue kembali. Dan mereka berhasil menemukan sang putri sudah tidak sadarkan diri. Malik menyuruh kembali anak buahnya untuk membawa Putri Blue ke tabib.


Raja Juftin telah mendapat laporan tentang penangkapan Putri Blue dari Malik dan ia dirawat di samping ruangan Putri Alonia. Malik juga melaporkan jika Putri Blue telah membunuh Olla dan mengatakan jika Olla tidak berkhianat dan sang putri memohon untuk memakamkannya ke tempat pahlawan.


Raja Juftin hanya tertawa mendapat pelaporan seperti itu. Ia yang kala itu sedang berada di istana dan langsung pergi ke tempat tabib tersebut bersama Ratu Gloria yang ikut mendampinginya. Tidak lama kemudian, Putri Blue terbangun dari pingsannya.


Putri Blue melihat baju yang ia kenakan bukanlah baju miliknya dan ia didatangi oleh tabib yang ia kenal, yaitu tabib yang sering dibawa oleh Kapten Jeffry ketika ia sedang terluka. Tabib itu berkata, "Apakah Nona sudah baikkan?"


Putri Blue menganggutkan kepalanya yang berarti sudah baik. Dan tiba-tiba dari arah pintu datanglah Raja Juftin berserta pengawalnya dan membut sang putri malas menatap wajah raja tersebut. Tabib tersebut permisi untuk pergi karena Raja Juftin telah datang. Raja Juftin berjalan menghampiri Putri Blue dan berdiri disamping sang putri.


"Aku kira kau mati, tetapi kau datang membawa kejutan besar," ucap Raja Juftin dan membuat Putri Blue terdiam dan tidak menatap wajah sang raja. "Kau mengakui jika kau membunuh Olla dan mengatakan jika ia tidak berkhianat. Apa maumu sebenarnya? Kau tidak puas dengan kelakuanmu yang mengakibatkan kekacauan ini?"


"Kau mau harta? Atau pengakuan sebagai seorang putri dari kerajaan ini?" tanya Raja Juftin yang membuat mata sang putri memerah menahan tangisan.