AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
LEARN BLACK MAGIC



Putri Blue mulai belajar sedangkan Nyonya Anna pergi dari kamar sang putri. Putri Blue membuka buku sihir tersebut, ia membolak balik lembaran demi lembaran yang ternyata isinya hanyalah tulisan demi tulisan.


"Kenapa tidak ada gambar yang berwarna? Ini malah ada simbol-simbol yang aneh," gerutu Putri Blue.


Sang putri menyenderkan kepalanya di tangan kirinya sembari menghafal dihalaman pertama. Kegiatan menghafal ini mulai membosankan sedangkan waktu menghafal hanya sebentar menurutnya dan Putri Blue merasa mengantuk. Tangan kirinya yang menjadi senderan kepalanya mulai goyah.


Matanya kedap kedip menahan rasa jenuh yang menyelimuti pikirannya. Ia menahan rasa kantuk yang mulai menyerang sehingga beberapa kali ia bersikap duduk menegakkan kepala dan mulai menghafal, tetapi tetap saja rasa kantuknya tak menghilang.


Ia terus berusaha menghilangkan rasa kantuknya dengan menghafal sembari berjalan berkeliling ruangan belajarnya, tetapi bukannya hilang kantuknya, ia malah merasa kakinya capek. Putri Blue mendongak ke atas plafon ruang belajarnya  sembari menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Ia merasa usahanya sangat sia-sia bahkan ia tidak bisa menghafal dalam waktu secepat itu.


"Seandainya aku pintar," kata Putri Blue menghela nafasnya.


"Kenapa bermalasan lebih menggoda ketimbang belajar?" tanya Putri Blue pada dirinya yang mulai terduduk di atas lantai.


Ia duduk dengan kepala menunduk beralaskan kedua tangan yang dilipat serta kedua lutut kakinya menjadi tumpu kedua tangan tersebut. Buku yang terbuka berada di atas meja belajarnya mulai mengeluarkan cahaya hijau dari lembaran buku tersebut, tetapi itu tidak disadari oleh sang putri.


Kata demi kata di dalam buku mulai keluar mengikuti cahaya hijau tersebut yang mengambang di atas udara, begitu pula dengan simbol-simbol yang ada di dalam buku. Perlahan sang putri menegakkan kepalanya dan melihat semuanya yang mengambang di atas udara. Sang putri terkejut sampai matanya membesar dan berulang kali ia menggosokkan matanya dengan tangannya.


"Ini pasti halusinasi, ah ... akibat mengantuk saat belajar," ujar Putri Blue.


Bulatan kecil cahaya hijau mendekatinya dan sang putri menyentuh cahaya tersebut dengan jari telunjuk tangan kanannya. Dan bulatan kecil cahaya hijau tersebut menghilang, sang putri merasakan kehangatan dan ketika ia melihat di depannya, semua tulisan, simbol, dan cahaya tersebut menuju dirinya.


"Ya Tuhan ..."


Sang Putri menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya karena ia ketakutan, terlalu banyak tulisan, simbol serta cahaya yang menyerang dirinya sehingga ia tidak ingin melihat sama sekali dan berharap jika ini adalah mimpi belaka yang berasa kenyataan. Saat ia merasa suasana aman, ia mulai mengintip di sela-sela jarinya untuk memastikan tidak ada kejadian itu lagi.


"Syukurlah, huft ..."  kata Putri Blue yang menghela nafas dan mengelus dadanya seakan ia selamat dari suatu kejadian yang mengerihkan.


Sang putri berdiri dan melangkahkan kakinya menuju buku sihir hitam yang ada di atas meja. Alangkah terrkejutnya ia ketika mendapatkan bukunya kosong tanpa tulisan. Ia membolak-balik lembaran-lembaran buku tersebut dan tidak ada tulisan maupun simbol yang ada disitu. Semuanya hilang dan lenyap bak ditelan bumi dengan sekejap mata.


Putri Blue tercengang seakan tidak percaya, ia menampar pipinya hingga memerah untuk memastikan kalau ini hanya mimpi. Tetapi ia menyadari kalau ini bukanlah mimpi dan ia hanya bisa duduk dikursi sembari menatap bukunya yang kosong melompong.


"Bagus, terus aku mau menghafal apa? Aku bakalan dipukul pakai rotan," kata Putri Blue.


"Waktumu sudah habis, tuan putri."


Putri Blue menoleh kebelakang dan melihat Nyonya Anna yang membawa rotan dan dia bersiap untuk siap memeriksa hafalan Putri Blue.


"Selamat datang di neraka, Blue," gumam Putri Blue yang menutup buku sihirnya dengan segera.


Nyonya Anna berjalan ke samping sang putri dan melihat tangan sang putri berada di atas buku sihir tersebut seakan menghalanginya untuk melihat buku sihir hitamnya. Dengan tatapan curiga terhadap sang putri, ia menatap wajah sang putri yang sedang tersenyum dihadapannya.


"Sini bukunya, aku akan mengetes hafalanmu," ucap Nyonya Anna.


"Aku belum menghafalnya."


"Bagaimana bisa tuan putri belum menghafalnya?! Apa yang dilakukan dari tadi?!" bentak Nyonya Anna.


Nyonya Anna menggelengkan kepalanya, ia kehabisan kata karena perbuatan sang putri yang menyalahi aturan saat belajar berlangsung. Nyonya Anna mengambil paksa buku itu, tetapi ditahan oleh sang putri


"Jangan diambil." Memohon sang putri kepada Nyonya Anna karena bukunya tidak ada tulisan.


"Tidak, tuan putri benar-benar tidak bisa menjadi seorang penyihir!"


"Apa?" kata Putri Blue yang tangannya mulai lemas dan perlahan bukunya bisa diambil oleh Nyonya Anna.


Dengan sihirnya, Nyonya Anna menghilangkan buku sihir hitam tersebut dan mulai proses hukuman terhadap sang putri. Nyonya Anna memerintahkan sang putri berdiri tegak dihadapannya dan kayu rotannya siap melucuti tubuhnya. Dia memukulkan rotannya ke paha dan telapak tangan sang putri dengan kerasnya sehingga sang putri mau tidak mau harus menahan rasa sakit.


Nyonya Anna memukul Putri Blue sampai 15 kali sehingga membuat kulit sang putri memerah dan lecet. Sebenarnya hukuman seperti ini sudah biasa bagi sang putri, tetapi tetap saja ia harus merasakan rasa sakit pukulannya. Bedanya dulu masih kecil, ia kerap kali menangis saat menjalani proses hukuman dan ketika saat ini ia tidak lagi menangis.


Saat sudah selesai masa hukumannya, sang putri terdiam dan duduk sedangkan Nyonya Anna mulai mengomeli sang Putri yang dianggapnya pemalas di matanya.


"Aku tidak tahu apa pikiranmu saat ini? Tuan Putri ingin belajar sihir, tetapi saat belajar malah tidur, apa gunanya keinginan itu?" omel Nyonya Anna. "Keinginan tuan putri akan menjadi angan belaka jika tidak berusaha, apakah tuan putri ingin hidup tidak berguna?"


Nyonya Anna pergi dengan rasa kecewa dan marah terhadap sang putri. Putri Blue hanya terdiam dan menangis  menunduk meratapi sakit yang ia alami bahkan ia merasa bahwa 'kejadian buku' itu membuatnya kaget dan sekarang ia harus menanggung risiko dari 'kejadian buku' tersebut.


Ia tidak tahu apa-apa dan ia tidak tahu harus berbagi cerita ini dengan siapa karena kejadian hari ini sangat cepat dan suatu ketika ia mendengar langkah kaki berlari ke arahnya. Putri Blue perlahan mengangkat kepalanya dan melihat sang kapten yang telah tegak berdiri di belakangnya.


"Kapten Jeffry?"


Sang kapten menemui Putri Blue dan memeriksa telapak tangan sang putri. Tangan sang kapten begitu besar dibanding dengan sang putri dan begitu kasar saat bersentuhan dengan tangan sang putri. Sang kapten meniup telapak tangan sang putri.


"Jangan menangis, tuan utri harus menjadi wanita yang tegar," ucap Kapten Jeffry.


Sang Putri tersenyum dan senyumannya di ikuti oleh sang kapten karena ia turut tersenyum juga. Sang kapten mengelapi pipi sang putri yang basah karena air matanya yang berjatuhan.


"Aku gagal jadi penyihir, dan kata nyonya Anna, aku tidak bisa menjadi penyihir," kata Putri Blue.


"Kamu pasti bisa jika berusaha," jawab kapten.


Sang putri terdiam dan ia tidak ingin orang lain tahu jika buku sihirnya telah kosong. Ia berdiri dan mencoba berjalan seperti biasa karena ia tidak ingin kapten khawatir tentangnya.


"Kau pasti capek karen bekerja menjadi seorang kapten lalu kau jauh-jauh mendatagiku, pulanglah," suruh Putri Blue.


"Tidak, aku kesini hanya ingin melihatmu," ucap sang kapten yang pipinya merona secara tiba-tiba.


"Ah ... aku tidak menyangka, tetapi aku butuh istirahat," jawab Putri Blue yang terkesan judes.


"Baiklah kalau begitu," kata sang kapten yang menuruti keinginan Putri Blue selayaknya anjing menuruti majikannya.


"Kau begitu menggemaskan untuk menjadi Abangku," kata Putri Blue melihat Kapten Jeffry yang sudah pergi meninggalkannya sendiri.


Putri Blue kembali duduk dan memikirkan bagaimana ia belajar sihir sedangkan buku sihir hitamnya saja sudah kosong, ia tidak mungkin harus pergi ke Kerajaan Penyihir Hitam. Memikirkan itu membuatnya sakit kepala dan ia juga merasa bersalah.