
Putri Alonia tak kuasa menahan amarahnya dan bertanya dengan suara yang tinggi kepada Ratu Gloria. "Kenapa? Kenapa Ibu menyembunyikan ini?!!"
Putri Alonia langsung perfi dari kamar Ratu Gloria karena sudah mendapatkan jawaban sebenarnya. Ia juga langsung pergi ke penjara bawah tanah dan menemui gadis yang bertekuk lutut di hadapan raja serta ratu bersama para pelayannya yang selalu setia mendampinginya.
Putri berjalan menelusuri penjara bawah tanah dan akhirnya ia bisa menemui gadis yang dimaksud dalam gosip. Sang putri meminta prajurit penjaga itu membuka pintu penjara supaya bisa secara langsung berbicara kepada gadis itu.
Olivia tersenyum kepada sang putri sebab ia mengetahui kalau dikunjungi oleh Putri Alonia dan Putri Alonia tidak membalas senyuman dari gadis itu. Ia masuk dengan begitu dingin dan gaya berjalannya mencerminkan gadis bangsawan yang terhormat.
"Apakah Anda sang pengkhianat dan penyebar informasi dari putri Yuna?" tanya Putri Alonia yang sangat baku.
"Dia sungguh berbeda dengan Kakaknya," batin Olivia yang menahan tertawanya karena ucapan Putri Alonia dianggap kaku sekali.
"Ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya Putri Alonia sungguh kesal karena gadis itu terlihat jelas tersenyum tidak karuan terhadap dirinya.
"Coba deh kalau ngomong jangan seperti itu ..." jawab Olivia "Kau sangat aneh, kita akan mengobrol santai tanpa bahasa yang aneh itu."
"Beraninya Anda mengajarkan saya seperti itu!" Menampar Olivia dengan keras karena dianggap telah mengejek Putri Blue sebab ia merasa statusnya lebih tinggi daripada gadis itu.
Olivia tersenyum miring setelah ditampar dan menoleh ke wajah Putri Alonia dengan tatapan meremehkan. "Sifat dan sikapmu sungguh berbeda dengan Kakakmu. Dia lebih baik daripada kau."
Putri Alonia memalingkan mukanya dan pergi begitu saja lalu sang pelayannya mengikutinya dari belakang. Putri Alonia kesal sekali karena ada yang berani membandingkannya dengan Putri Yuna karena ia paling kesal jika ada yang melebihi dirinya sendiri.
____________________________________
ISTANA KERAJAAN ZARQO.
Kapten Jeffry mengikuti Raja Juftin pergi dan sang raja memperilahkan masuk Kapten Jeffry ke ruangan kerjanya lalu mereka duduk bersama di kursi sofa yang empuk. Sang Raja Juftin ingin sekali membahas masalah ini bersama Kapten Jeffry karena permasalahan ini sudah serius.
"Kita akan batalkan pergi ke Kerajaan Penyihir Putih, lalu kirimkan burung merpati ke Kerajaan Penyihir Hitam dan tuliskan surat berisikan permohonan pengembalian rakyat Kerajaan Zarqo," ujar Raja Juftin tanpa basa-basi lagi.
"Rakyat? Jadi, Yang Mulia menganggap dia hanya rakyat?" tanya Kapten Jeffry yang tidak terima dianggap begitu saja oleh Raja Juftin.
"Permasalahannya akan rumit jika aku mengakui dia sebagai anakku. Jika dia tidak mau, maka terpaksa kita akan berperang besok," jelas Raja Juftin.
"Perang? Besok dia umur 17 tahun, haruskah ada perang?" tanya Kapten Jeffry.
"Iya, kita akan perang diam-diam tanpa diketahui oleh rakyat karena kita harus menyembunyikan identitasnya dari rakyat. Rakyat harus tetap tahu jika putri Yuna telah meninggal dan aku tidak ingin mengganggu suana perayaan kematian putri Yuna."
"Ini tidak masuk akal, bagaimana jika merenggut nyawa? Bahkan rakyat itu saja tidak tahu jika ada perang esok, apakah pantas dikenang sebagai pahlawan di hati rakyat?" tanya Kapten Jeffry yang bertubi-tubi.
"Dia akan dimakamkan sebagai pahlawan dan akan dikuburkan dengan proses yang terhormat."
Kapten Jeffry sebenarnya kecewa berat atas penyataan yang dilontarkan Raja Jeffry. Ia sama sekali tidak menyetujui adanya perang diam-diam, apalagi ia kasihan dengan tuan putri karena ia hidup dalam persembunyian identitas.
Raja Juftin hanya terdiam ketika Kapten Jeffry berbicara seperti itu. Lalu Kapten Jeffry pergi dari ruang kerja Raja Juftin menuju ke markas Tim Pasukan Elit, disana ia menyuruh Malik untuk membawakannya merpati pengirim surat.
Kapten Jeffry mengambil kertas lalu ia mengambil sebuah pena bulu kemudian ia celupkan ke wadah yang beisikan tinta berwarna hitam pekat. Ia menggoreskan bulu tersebut di atas kertas yang berisikan pesan kepada Raja Carles dan tak lupa pula ia mengecap lambang Kerajaan Zarqo diakhir pesan.
Dan pas sekali, ketika Kapten Jeffry selesai menulis surat, Malik datang membawakan merpati putih dengan ukuran lebih besar ketimbang merpati pada umumnya. Kapten Jeffry menggulung surat tersebut dan memasukannya kedalam wadah tabung yang kemudian dipasangkan di punggung merpati tersebut.
Si Malik mengangkat merpati tersebut dan pergi ke luar markas lalu ia melepaskan merpati ke udara. Sang merpati tersebut terbang tinggi mengarah ke arah perbatasan. Setelah melepaskan merpati, Malik masuk ke dalam dan ia langsung di perintahkan lagi oleh Kapen Jeffry.
"Besok siapkan pasukan untuk berperang."
"Perang? Kenapa perang?" tanya Malik dengan rasa penasaran yang amat mendalam.
"Blue diculik oleh Mark dan aku akan menemui Olivia itu sekarang untuk mencari informasi. Jangan beri tahu rakyat jika ada perang di esokan hari," jelas Kapten Jeffry memberikan jawaban kepada Mali.
"Siap, laksanakan!" ucap Malik dengan tegas.
Kapten Jeffry pergi dari markas dan menuju ke ruang bawah tanah untuk menemui Olivia sesuai dengan perkataannya. Sesampainya disana, ia melihat Olivia sedang duduk jongkok sambil bersender di dinding yang dingin dan Kapten Jeffry masuk ke dalam sel tersebut.
Olivia melihat sepatu prajurit dihadapannya lalu ia mendongak keatas kemudian tersenyum kepada Kapten Jeffry. Sang kapten melihat Olivia yang sungguh menyedihkan. Ia menarik tangan Olivia dan menyuruhnya untuk berdiri."Cepat berdiri."
"Untuk apa berdiri?" tanya Olivia.
"Kau yang seharusnya duduk disini," sambungnya.
Kapten Jeffry mengalah dan melepaskan pegangan tangannya dan duduk di lantai disamping Olivia. Kapten Jeffry melirik Olivia dengan muka melas dan beberapa kali ia menghela nafas panjang sebelum berbicara kepadanya. Tetapi Olivia memulai perbincangan tersebut.
"Kau disini pasti ingin menanyakan sesuatau, kenapa aku mengakui identitasku, kenapa aku membongkar rencana Mark dan memberi tahu posisi si Blue," ucap Olivia yang memandang datar mata Kapten Jeffry.
"Kau tahu tujuanku, tetapi kau tidak bisa membohongiku," kata Kapten Jeffry, "Aku tahu kau siapa dan aku juga tahu apa rencanamu sekarang dan juga Mark. Dan satu lagi, Mark tidak akan menolongmu apalagi raja Carles."
Kapten Jeffry berdiri dan berkata, "Setiap aku bersentuhan denganmu, aku bisa membaca masa lalumu. Hidupmu
sungguh menyedihkan."
"Benarkah?" jawab Olivia yang berdiri tegak lalu menatap Kapten Jeffry. "Tetapi memang benar hidupku menyedihkan dan jika kau tahu rencanaku, maka kau sudah terjebak di rencanaku."
"Tenang saja, aku akan memastikan peperangan ini akan dimenangkan oleh Kerajaan Zarqo."
"Baiklah, aku akan menantikannya dan kau akan menang di dalam mimpimu yang terakhir ini sebab aku akan membunuhmu," ancam Olivia.