
Setelah makan, mereka pergi berjalan-jalan keliling kota di Kerajaan Zarqo. Disana terdapat taman bermain, toko-toko yang berjualan, dan ramainya suasana perkotaan. Semua makhluk disana berjalan kaki dan Putri Bue tidak takut lagi dengan makhluk-makhluk yang dulu dianggapnya aneh.
Putri Blue mengerti dan merasakan jika makhluk-makhluk tersebut sama seperti dirinya walaupun memiliki fisik yang berbeda, tetapi mereka tetap memiliki hati serta perasaan selayaknya makhluk hidup. Putri Blue sudah melepaskan genggaman erat tangan Olivia ketika berjalan kaki.
Olivia merasakan perubahan dengan sang putri, ia berfikir jika sang putri berubah karena Putri Blue memerhatikan si Golbin yang kerja di kedai makanan. Tiba-tiba, ada peri yang berbangsa Dyart meminta tolong ke semua makhluk yang ada di kota.
Tetapi sayangnya tidak ada yang mendengarkan sama sekali karena badannya yang kecil dan suaranya juga kecil. Ia mencoba berusaha untuk meminta tolong dengan berusaha berteriak lebih tinggi lagi nadanya. Dan Putri Blue mendengar kata minta tolong.
"Olivia, kau mendengar sesuatu?" tanya Putri Blue untuk memastikan kalau si Olivia juga mendengarkan jeritan minta tolong.
"Dengar apaan? Disini lagi ramai."
"Itu ... ada yang minta tolong gitu."
"Aku ngga dengar tuh ..."
Putri Blue menghela nafasnya dan ia merasa kalau jeritan itu adalah perasaannya. Ia mencoba tenangkan pikirannya dan ketika ia berjalan, ia selalu dihantui dengan ucapan tolong. Putri Blue melihat ke arah atas dan mencari sesuatu.
"Aku yakin, suaranya ada disekitar sini," kata Putri Blue yang berjalan mengikuti suara permintaan tolong.
"Hei? Kau mau kemana? Jalan ke kastil lewat sini!" teriak Olivia yang mengejar Putri Blue.
"Aku harus menemukan suara itu," ucap Putri Blue yang kekeh terus berjalan kearah berlawanan.
Olivia mau tidak mau harus mengikuti Putri Blue, ia kesal karena ia tidak permendengarkan apa-apa. Putri Blue terus saja melihat ke arah langit dan tak jarang ia menabrak makhluk-makhluk yang berjalan kaki, ia pun harus meminta maaf atas kejadian itu setiap menabrak.
"Itu dia!" teriak Putri Blue ke Olivia sambil menunjuk sebuah peri kecil yang mondar-mandir terbang tak karuan.
"Kau bisa mendengar peri?" tanya Olivia.
"kan tadi dia teriak-teriak meminta tolong, tentu saja dengar."
Mendengar jawaban Putri Blue, Olivia semakin curiga dengan sang putri karena hanya bangsa perilah yang bisa mendengar teriakan peri dari jauh. Dan Putri Blue mendengarkan teriakan peri pada ujung jalan, ia juga berfikir ada aura biru dan aura hitam di dalam dirinya. Olivia mencoba menggabungkan kejadian aneh di hari ini.
"Nona Peri!" panggil Putri Blue.
"Kau mendengarkanku?" kata peri kecil nan cantik pun datang dengan raut wajah sedih.
Putri Blue tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Peri itu tidak percaya ada seorang manusia yang bisa mendengarnya. Peri tersebut menghampiri Putri Blue.
"Kenapa kau sedih?" tanya Putri Blue.
"Ayahku terperangkap di hutan terlarang."
"Ha?!" kejut Putri Blue yang langsung memegang tangan Olivia.
Olivia yang pada saat itu sedang memikirkan tentang siapa sebenarnya Putri Blue langsung berantakkan karena diganggu oleh Putri Blue itu sendiri. Ia ingin marah, tetapi dasar jika ketahuan maka rencana mendapatkan sang putri dan menghancurkan Kerajaan Zarqo pun pupus.
"Olivia, kita harus ke hutan terlarang." Memohon Putri Blue kepada Olivia.
"Apa?! Disana banyak hewan liar dan disana tempat hidup para peri, kenapa tidak meminta bantuan dengan peri disana?"
"Yang bisa menolong ayahku adalah makhluk yang berukuran besar seperti kalian," jawab Peri dengan menunjukkan muka kesedihannya.
Putri Blue sangat ingin membantu dan memaksa Olivia untuk membantunya dengan menarik tangan Olivia dan menunjukkan sikap manjanya. Olivia menatap jijik lalu ia berfikir, jika ia mengizinkan maka ia akan dapat melihat kejutan yang dilakukan oleh Putri Blue. Dan Olivia akhirnya menyetujuinya karena pemikiran itu.
"Baiklah."
Ia membalikkan badannya lalu menatap luasnya lapangan rerumputan hijau yang ada di luar hutan. Angin sepoi-sempoi datang seakan menyambutnya, udara sejuk dan dingin menambah keasrian hutan tersebut.
"Ayo lewat sini!" teriak Peri yang mulai panik dan terbang masuk kedalam hutan.
Putri Blue yang sadar langsung bejalan cepat menyusul Peri dan Olivia. Ketika sesampainya di suasana kota Peri didalam hutan, Putri Blue dan Olivia kaget karena mereka baru pertama kali masuk ke daerah para Peri.
"Jadi, ini kota Liary." kata Olivia.
"Liary?" gumam Putri Blue.
"Ayo! Ikuti aku," seru Peri tersebut.
Mereka masuk ke hutan yang lebih dalam lagi dan Putri Blue merasakan bulu kuduknya berdiri kerena suasana hutan yang sepi dan mencekam, ia takut ada hewan yang tiba-tiba menyerangnya. Sang Putri Blue mencoba berusaha tenang dan berifikir positif.
Peri kecil itu terbang ke arah pohon besar yang tumbang dan berkata, "Ayahku ada disini."
"Berarti Ayahmu sudah mati tergencet batang pohon itu," sahut Olivia.
"Tidak! Ayahku masih hidup! Aku mendengarkan suaranya yang meminta tolong!" jawab Peri tersebut yang emosi karena perkataan Olivia.
"Coba buktikan? Tidak ada suara meminta tolong! Sadarlah! Ayahmu sudah mati."
Putri Blue melihat mata sang Peri sudah berkaca-kaca lalu suasan hati Putri Blue berubah menjadi kasihan dan tidak tega dengan Peri tersebut. Putri Blue mendekati pohon tersebut dan bertanya, "Apakah kau masih hidup? Tolong jawab aku."
Tedengarlah suara dari dalam pohon itu dengan suara yang tersedu-sedu akibat tangisan yang menderai mata Ayahnya. "Iya, aku masih hidup."
"Ayah!" teriak Peri.
"Aku tidak bisa menolongmu," kata Putri Blue. "Tetapi Olivia bisa menolongmu."
"Aku tidak mau!" tegas Olivia.
"Kenapa?" tanya Putri Blue yang berjalan menuju Olivia.
Olivia menunjuk si Peri kecil tersebut dan menyuruhnya meminta maaf, si Peri tersebut tidak mau karena ia merasa tidak bersalah kepada siapapun. Mereka berdua bertengkar hebat di tengah-tengah hutan. Putri Blue mulai terpancing emosinya karena Olivia dengan si Peri tersebut seperti anak kecil. Ia tidak tahan lagi dan berteriak di dalam hutan.
"DIIAAAAMMM!!!!"
"Kalian bertengkar disaat nyawa Ayahmu berada di ujung tanduk! Dia bisa saja mati karena tidak ada oksigen dan untung saja ada lubang di dalam tanah. Jadi, Ayahmu bisa hidup tidak tertimpa pohon," sambung Putri Blue.
Olivia dan Peri pun tercengang atas pernyataan sang putri seakan ia telah menguasai ilmu peri tentang alam. Seorang Peri bisa mengetahui kondisi sekitar karena mereka menyatu dengan alam.
"Kena! Inilah petunjuk berikutnya tentang dirimu, Blue," batin Olivia.
Olivia mengeluarkan tongkat sihir hitamnya dan mengangkat pohon besar tersebut lalu memindahkannya ke samping. Sontak saja si Peri tersebut langsung menemui sang Ayahnya yang telah lemas. Putri Blue mengangkat tubuh Ayahnya si Peri kecil dan ia rela menjadikan telapak tangannya sebagai alas tidurnya.
"Aku rasa Ayahmu beneran kekurangan oksigen, kita harus memanggil tabib."
"Disini tidak ada tabib," jawab si Peri kecil. "Kita harus ke kota Zarqo"
Putri Blue mulai panik dan berkata, "Olivia, buka portalmu! Kita harus bawa dia ke tabib."
"Tidak bisa, batas sihir hitam dan putih hanya sampai pada luar hutan. Kita harus ke luar hutan dulu, tetapi aku rasa hanya membuang waktu karena jarak dari sini ke luar hutan cukup jauh."
Si Peri kecil itu tak kuasa menahan tangisan dan ia menumpahkan air matanya hingga membasahi pipinya. Putri Blue mulai ikut bersedih hati dan ia mencoba untuk tidak menangis.