AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
UNEXPECTED MEETING



Putri Blue melihat arah sekitarnya dan ada seorang pemuda yang lewat dengan pakaian yang bagus, langsung saja ia buru-buru memalingkan badannya lalu metupi wajahnya dengan rambut. Ia menundukkan kepalanya supaya tidak ketahuan wajahnya.


"Olivia, cepat datang kesini," batin Putri Blue yang takut terhadap orang asing, apalagi ia tahu kalau wajahnya terkena cipratan darah saat bertarung.


"Permisi, numpang tanya, jalan ke arah Istana Kerajaan dimana ya?"


Sontak saja sang putri terkejut dan langsung menjawab, "Aku tidak tahu karena belum pernah kesana."


"Aneh, masa rakyat sini tidak tahu ke arah istananya lalu ia berbicara kepadaku dengan membelakangiku. Apa mungkin dia penyusup?" batin pemuda itu yang curiga.


"Baiklah kalau gitu."


Pemuda itu berjalan ke arah gadis itu dan sengaja melewati gadis itu supaya bisa melihat wajahnya. Ia tampak kebingungan dengan gadis aneh yang ia jumpai di jalan dan karena gadis itu menutupi wajahnya dengan rambut. Ia sempat berfikir kalau gadis ini menyembunyikan wajahnya karena buruk rupa atau benar-benar penyusup.


Pemuda itu membalikkan badannya lalu mendekati gadis itu untuk memastikan kalau gadis itu tudak penyusup. Putri Blue tahu kalau orang asing itu berada di hadapannya, ia merasa tidak nyaman lalu ia memutuskan ntuk memutarkan badannya kemudian pergi.


Tetapi tangan Putri Blue dipegangi oleh pemuda tersebut lalu Putri Blue secara reflek membalikan badannya dan berdapan langsung dengan pemuda tersebut. Aingin datang ke arah belakang pemuda tersebut yang berarti angin tersebut menyapu rambut dari muka Putri Blue.


Pemuda tersebut kaget karena wajah gadis tersebut sungguh cantik, tetapi ada bercak darah di wajah gadis tersebut. Kecurigaan pemuda tersebut semakin besar sedangkan Putri Blue tidak berani menatap wajah Pemuda tersebut, ia tetap saja melirik ke arah lain.


"Bisakah nona melihatku?" tanya Pemuda tersebut.


"Tidak bisa, maaf. Bisakah kau melepaskan tanganku?"


"Tidak bisa, maaf," jawab Pemuda.


Putri Blue menghela nafasnya dan menatap pemuda tersebut, langsung saja si pemuda tersebut berdebar jantungnya karena ia menatap wajah bersih nan elok di mata. Kelihatan jelas wajah memerahnya karena kulitnya putih.


Pemuda itu secara tidak sadar, ia membersihkan cipratan darahnya menggunakan sapu tangannya yang ia simpan di kantung celananya. Dengan sepontan si Putri Blue menghindarnya dan berkata, "Maaf, kenapa Anda bersikap seperti ini?"


"Kenapa aku bersikap seperti ini? Seharusnya aku membaca pikiran dia," batin pemuda tersebut yang sedang bertanya-tanya dalam dirinya.


Pemuda tersebut salah tingkah dan melepaskan tangan Putri Blue, tiba-tiba dari arah belakang si pemuda tersebut, terdengar suara yang cukup lantang di dengar.


"Lepasin Adikku! Mentang-mentang kau dari sosial bangsawan jadi, seenak hatimu ingin mendekatinya!"


"Olivia," ucap Putri Blue.


Pemuda itu melihat ke belakang dan melihat gadis di sana sambil menodongkan tongkat sihir. Olivia terkejut kalau pemuda pria yang dekat dengan Putri Blue adalah bukan seorang bangsawan lagi melainkan seorang pangeran.


"Pa-pangeran Alex?!" kata Olivia yang lalu menurunkan tongkatnya dan menghilangkannya tongkat tersebut.


"Anda mengenalku?" tanya Pemuda yang bernama Alex dengan gelar Pangeran dari Penyihir Putih, anak satu-satunya dari Raja Azka.


"****** ... ada apa dengan kehidupanku? Kenapa aku bertemu dua musuh sekaligus?" batin Putri Blue melotot tajam kearah Pangeran Alex.


"Saya mengetahui Anda, Pangeran Alex," jawab Olivia.


Olivia membungkukkan badannya dan berkata, "Perkenalkan, nama saya Olivia."


"Kalau begitu, bisakah kau tunjukkan aku jalan ke arah istana?"


"Dengan senang hati, pangeran," jawab Olivia menegakkan kembali badannya.


"Tetapi tunggu dulu, aku tidak bisa membiarkan adikku ditinggal sendirian disini dan tidak bisa pergi dengan wajah seperti itu," sambungnya.


Pangeran Alex memunculkan tongkatnya di atas telapak tangannya. Di ujung tongkat tersebut ada cahaya putih yang berkilauan kemudian ia mengetuk ke tongkatnya ke arah dahi Putri Blue.


TUK.


"Aww, sakit tahu!" keluh Putri Blue.


Cahaya putih yang berkilauan tersebut menyerap ke kult sang putri kemudian noda darah yang berada di wajah Putri Blue terangkat dan menghilang di udara.


"Lebay! Aku mengetuknya pelan," jawab Pangeran Alex yang tersenyum ke arah Putri Blue.


"Pelan katamu?! Sini aku ketuk balik dengan tongkat sihirmu!" kesal Putri Blue.


Putri Blue teringat jika lawan bicaranya tersebut adalah Pangeran Alex, langsung saja ia menutup mulutnya menggunakan tangan dan meminta maaf. "Eh ... maafkan aku, Pangeran Alex."


Pangeran Alex tersenyum melihat perubahan drastis gadis tersebut sedangkan Olivia menggelengkan kepala melihat tingkah laku Putri Blue dan Pangeran Alex. Lalu ia  mendatangi mereka dan mengajak mereka untuk berjalan kaki mengikuti dirinya.


Mereka bertiga berjalan kaki dan suasana canggung meliputi mereka semuanya. Putri Blue tidak berani melirik ke arah sampingnya karena disampingnya ada Pangeran Alex. Ia merasa terkepung oleh musuhnya dan ia ingin sekali ke kastil.


Putri Blue khawatir jika Kapten Jeffry akan mencari dirinya. Ia ingin berbicara kepada Olivia, tetapi ia merasa takut dengan Pangeran Alex, Kapten Jeffry pernah bilang jika Pangeran Alex memiliki kekuatan yang sungguh hebat dan kekuatan Putri Blue tidak sebanding dengannya. Ia hanya bisa menunduk sambil berjalan.


Pangeran Alex melirik kesampingnya dan ia tahu jika gadis itu telah membunuh para pasukan Kerajaan Zarqo dengan sebilah pedangmya.


"Namamu siapa?" tanya Pangeran Alex.


Putri Blue menoleh kesampingnya dan ia langsung menghadap ke depan karena ia tahu Pangeran Alex bisa membaca pikirannya jika ia berhasil melihat matanya. Ia teringat jika ia pernah melihat wajah Pangeran Alex saat pertama kali bertemu.


"Jangan-jangan dia melihat isi pikiranku?! Apa yang ia lihat?" batin Putri Blue.


Olivia merasakan jika Pangeran Alex telah dicuekin oleh tuan putri. Ia tersenyum dan berfikir jika tuan putri adalah gadis yang sombong dengan para pria asing.


"Namaku Blue," jawab Putri Blue.


"Blue?" batin Olivia. "Memangnya ada nama anak dari keluarga besar kerajaan bernama Blue? Aku baru pertama kali mendengarnya."


"Namamu seperti makhluk serigala penunggu Kerajaan Zarqo," jawab Pangeran Alex.


Putri Blue tersnyum sambil melihat ke depan. Lalu Olivia bertanya kepada Pangeran Alex untuk memecahkan suasana dinginnya obrolan.


"Dimana pengawalmu?" tanya Olivia.


"Aku terpisah dengan pengawalku."


Putri Blue sangat pendiam sekali ketika itu, tetapi didalam hatinya sungguh kacau dan pemikiraannya sudah gundah. Ia tidak bisa berfikir jernih lagi dan untuk bisa menahannya, ia memandang pedesaan yang ia lewati bersama dua musuhnya.


Ketika mereka berjalan, mereka bertiga dihadapi oleh jalan yang bercabang dua. Olivia berkata, "Maafkan aku Pangeran Alex, Pangeran bisa pergi ke arah jalan sebelah kanan. Aku tidak bisa mengantarkanmu lebih jauh lagi karena tujuan kita berbeda."


"Terima kasih, tetapi tunggu dulu. Aku ada urusan dengan Blue," jawab Pangeran Alex.


Hati Putri Blue langsung berdegup kencang dan seketika badannya langsung bergetar ketika namanya disebut oleh Pangeran Alex.


"Gawat, kalau ia tahu tentang pembunuhan di kastil* bisa bahaya, aku bukanlah tandingan untuknya*," batin Olivia.