
Pangeran Alex menunggu dengan kecemasan, ia berdiri dan berjalan diantara bunga-bunga aster yang indah lalu memetik bunga tersebut dan mengumpulkannya. Ia memimpikan jika Putri Blue datang kesini dengan wajah senyuman yang menhiasi wajah manisnya.
Pangran Alex memberikan bunga yang dipetiknya yang ditambah bunga mawar biru yang ia pungut ketika Putri Blue tidak sengaja menjatuhkannya saat kuda tersebut berdiri dengan kedua kakinya. Lalu sang putri menerimanya dan langsung memeluknya untuk pertama kalinya.
Tiba-tiba khayalannya berhenti setelah kupu-kupu yang menghinggap di hidungnya dan membuat dirinya terkaget dan jatuh. "Ah ...aku mau memikirkan dia saja dilarang, apakah aku benar-benar tidak berjodoh dengannya?"
Pangeran Alex teringat terus ucapan anak perempuan kecil yang mengatakan jika ia akan dipisahkan. "Apa maksudnya 'terpisahkan'? Aku harap jangan maut yang memisahkan."
Putri Blue menancapkan pedangnya ke tanah untuk membantunya berdiri, tetapi Mark telah dihadapan matanya dan Putri Blue menatap mata Mark dengan menahan rasa sakitnya. Beberapa kali ia melihat ke belakang karena Minotaur yang terluka karena dirinya padahal sang putri juga terluka karena terbentur baju zirahnya sampai penyok oleh dirinya.
Putri Blue berdiri dengan sekuat tenanga sedangkan Mark datang dan berkata, "Kau mencoba menyerangku dengan keraguan, perang ini bukanlah permainan, tetapi taruhan. Bersiaplah untuk pilihan masa depan yang pertama."
Mark membacakan lagi mantranya dan mengarahkan tongkatnya kearah Putri Blue. "Ocirecdema!"
Putri Blue menutup matanya sambil tangannya melindungi dirinya dari serangan Mark. Setelah itu ia tersadar jika ia tidak serangan Mark tidak mengenai dirinya dan langsung menatap kearah depannya. Kapten Jeffry menghadang serangannya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.
Putri Blue melihat wajah Kapten Jeffry yang pucat dan berdiri tegak dihadapannya. Seketika matanya memerah dan Kapten Jeffry terjatuh dipelukan sang putri lalu berubah menjadi abu. Raja Juftin melihat sang kapten mati karena melindungi putrinya dari serangan Mark.
"Sayang sekali pelindungmu, pelatihmu, sekaligus kapten telah mati," ucap Mark.
Putri Blue telah putus asa dan menjatuhkan pedangnya sambil mengusap air matanya. "Aku permintaan dan persyaratan."
"Apakah kau sudah putus asa?" tanya Mark.
"Iya."
Mark tertawa atas pengakuan sang putri dan menangkapnya. Putri Blue pasrah karena ia terjerat oleh sihir Mark dan Putri Blue menghilang didepan mata. Raja Juftin melihat dengan mata kepalanya sendiri dan tidak berapa lama kemudian Raja Carles memberikan aba-aba jika pasukannya harus mundur.
"Kau menang Raja Juftin, tetapi untuk sekarang!" tegas Raja Carles. "Wilayah ini untukmu."
Semua pasukannya Kerajaan Penyihir hitam mundur dan begitu juga dengan Mark yang ikut mundur dengan cara membuka portal sihirnya untuk kembali ke Kerajaan Penyihir Hitam. Raja Juftin memerintahkan pasukannya ikut mundur dan pergi dari lokasi perang tersebut.
Pangeran Alex yang sedang menunggu melihat pasukan Kerajaan Zarqo dengan jumlah yan sangat sedikit itu pergi menunggangi kendaraannya masing-masing kearah jalan menuju kota. Ia mengintip sambil matanya teliti terhadap setiap anggota pasukan perang tersebut.
"Apakah menang?" tanya Pangeran Alex.
Pangeran Alex tidak melihat sang putri, bahkan ia juga tidak melihat Kapten Jeffry. Ia membuka portal sihirnya menuju lokasi peperangan dan ketika ia keluar dari portal, ia disambut oleh puluhan mayat yang tergeletak diatas tanah.
Pangeran Alex mencari pedang yang digunakan olh Putri Blue dan menemukannya disana. Ia memegang pedangnya dan pedangnya pun ikut menghilang. Bunga yang ia petik untuk penyambutan Putri Blue pun terjatuh. "Tidak, dia tidak mungkin mati."
Pangeran Alex membuka lagi portalnya untuk pergi ke kota. Sesampainya di kota, suara lonceng pun berbunyi dan rakyat pun berjalan menuju lapangan istana. Pangeran Alex yang kebingungan sekaligus ingin tahu tentang apa yang terjadi tentang ini.
Para Rakyat pun dengan bergembiranya sehingga mereka bersorak beramai-ramai. Pangeran yang mendengarkan itu tidak merasa senang dan hatinya merasa hancur. "Apakah dia benar-benar meninggalkan Auresta?"
Pangeran Alex mendengar percakapan seorang rakyat kepada temannya. "Pasti ini berkat hari ulang tahun putri Yuna dan dia mengasihkan hadiah ini kepada kita."
"Mungkin karena kita selalu merayakannya!"
"Untuk merayakan kemenangan, kematian sekaligus ulang tahun putriku, aku ingin kalian bersuka cita menyambut hari ini. Terima kasih semuanya," sambung Raja Alex yang lalu pergi meninggalkan podium.
Semua rakyat membubarkan diri dan pasukan istana yang tersisa diperintahkan oleh Raja Juftin untuk menganbil jenazah para pahlawan untuk dimakamkan di Makam Pahlawan Zarqo. Sebagian rakyat menyembut hari ini dengan bergitu meriah dan sebagian rakyat menyambut dengan isak tangis karena anggota keluarganya mati berperang.
Pangeran Alex berjalan ke kota dan melihat atribut para rakyat menyambut hari ini yang begitu megah. Diatas jalan dihiasi oleh lampion yang bergantungan bersama simbol kerajaan Zarqo. Ia menahan tangisannya, tetapi air matanya pecah ketika ia teringat senyuman Putri Blue untuk terakhir kalinya.
Raja Juftin menemui sang Ratu Gloria dan Putri Alonia lalu mereka satu persatu memeluk Raja Juftin dengan erat. Raja Juftin menitihkan air matanya ketika dipeluk oleh Ratu Gloria. Sang ratu kebingungan lalu menepuk pundak Raja Juftin dengan pelan.
"Tidak apa-apa, akhirnya kita menang," ucap Ratu Gloria.
"Kita bisa menang karena anak kita," jawab Raja Alex.
Ratu Gloria melepaskan pelukannya dan berkata, "Aku tidak mengerti, apa maksud Yang Mulia Raja?"
"Putri Yuna mengorbankan diri dan dia benar-benar mati."
Ratu Gloria menangis karena tidak percaya dengan perkataan Raja Juftin, ia terus menggoyangkan tubuh sang suaminya dan berkata, "Ini tidak benar, bukan? Ini tidak mungkin!"
Raja Juftin mencoba bersikap tegar dan menjawab perkataan Ratu Gloria. "Aku melihatnya dia mati ditangan Mark."
Putri Alonia melihat ibunya memukul dada ayahnya sambil menangis. Putri Alonia tidak memiliki ekspresi apa-apa untuk menangisi sang Kakaknya dan cenderung cuek. Ratu Gloria pingsan akibat shock mengahapai berita tersebut.
Pangeran Alex berjalan mengililingi kota sampai malam dan suara kembang api pun datang. Semua rakyat berkumpul dan berjalan-jalan ditengah malam. Banyak yang menjual makanan dan semuanya memeriahkan malam itu.
Pangeran Alex menatap kembang api itu dan tiba-tiba sosok Putri Blue berada disampingnya dengan wajah yang sangat terpukau. Pangeran Alex menatapnya sambil tersenyum dan bertanya, "Apakah kau suka?"
Putri Blue menatapnya lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Dan langsung saja, khayalannya hancur lagi karena Zefron menepuk bahu Pangeran Alex dari belakang dan membuat sang pangeran terkejut lalu menoleh kebelakang.
"Ada apa?" tanya Pangeran Alex.
"Ujiannya telah diundur jadi, aku telah mempersiapkan barangmu. Hari ini kita berangkat ke kerajaan kita," jawab Zefron.
"Baiklah."