AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
READY?



Putri Blue dan Olivia berjalan memutar arah balik ke para prajurit. Semua para prajurit menatap mereka dengan dengan tertawa nakal dan membicarakan mereka berdua. Di mata para prajurit, Olivia adalah gadis sexy dari pada gadis disebelahnya dan Olivia memiliki tubuh lebih rendah ketimbang gadis disebelahnya, yaitu Putri Blue.


Mereka berdua berjalan bak model berada di red carpet yang bisa mencuri tatapan semua orang dengan kecantikannya walaupun fisik mereka berbeda. Para prajurit membahas mereka dalam obrolan yang sangat menjijikan dan kotor sekali.


"Eh ... liat mereka berjalan kesini."


"Wiihh Olivia semakin sexy dan berisi."


"Hahaha kau benar, dadanya besar sekali tapi yang disebelahnya tidak."


Olivia tahu jika ia sedang dibicarakan dan merasa pembicaraan ini telah melukai dirinya karena ia tidak suka jika ada yang membahas bentuk tubuhnya. Sedangkan sang putri hanya diam dan tidak peduli sama sekali apa yang diobrolkan. Tetapi ia tahu jika para prajurit telah melakukan pelecehan terhadapnya dan juga kepada Olivia.


"Kau siap?" tanya Putri Blue yang menatap ke arah Olivia.


"Aku selalu siap," jawab Olivia yang menatap kembali sambil tersenyum.


Lalu Olivia berlari ke sekumpulan prajurit yang membicarakan Putri Blue dari belakang. Ia pura-pura terjatuh dihadapan mereka dan untuk mencari perhatian mereka, Sang putri terkejut melihat tindakan dari Olivia yang dianggap ia sangat pemberani dan sebenarnya ia tidak tahu maksud Olivia.


Ketika Olivia terjatuh, Olivia ditolong oleh para prajurit dan dia bisa duduk diantara mereka semuanya. Putri Blue hanya berjalan seperti biasa dan ia berencana untuk mengambil pedang dari salah satu prajurit yang di letakan di atas lantai. Sedangkan Olivia tanpa rasa canggungnya, ia mencoba membaur ke mereka semuanya dan mengajaknya berbicara santai sambil bercanda.


Dengan rasa percaya dirinya, Olivia memegang tangan salah satu prajurit sambil bersikap manja ke salah satu prajurit, bahkan ia berani menyenderkan kepalanya kebahu seorang prajurit tersebut. Lalu ia diam-diam tangan kanannya sudah berada di balik badannya untuk bersiap memunculkan kembali tongkat sihirnya.


"Aku tidak bisa merebut pedang itu, jika aku serang dia sekarang pasti aku akan mati," pikir Putri Blue yang hanya berjalan sambil melirik pedang tersebut.


BOOMMM!


Ledakan kecil, tetapi mematikan terjadi di tempat Olivia duduk, sekumpulan prajurit yang membicarakan sang putri dan mengingatkan masa suram Olivia telah mati mengenaskan dengan potongan tubuh yang berceceran dilantai. Olivia selamat dari ledakan itu karena sihir pelindung yang melindunginya sebelum ledakkan terjadi.


Karena ledakan tersebut mengundang para prajurit lain untuk menangkap Olivia sebagai tersangka pembunuhan prajurt. Dan ketika salah satu prajurit mengambil perdang lalu dengan cepat Putri Blue berlari kearahnya dan memukul prajurit tersebut. Tetapi dengan sigapnya prajurit tersebut menangkap tangan Putri Blue.


"Hallo anak kecil?" kata prajurit tersebut sambil tersnyum kearah dirinya.


Putri Blue membalasnya dengan senyuman lalu memutarkan badannya dan memukulnya dengan siku kearah dada prajutit tersebut. Prajurit tersebut melepaskan tangan sang putri dan ia tidak menyangka kalau gadis itu memiliki seni ilmu beladiri.


Dia membalaskan pukulan ke arah Putri Blue. Sang putri menangkis pukulan tersebut kemudian memegang lengan tangannya dan mengarahkan tangan prajurit tersebut ke bawah. Dengan refleknya, badan prajurit ikut terbawa ke arah bawah dan dengan cepatĀ  kilat Putri Blue menonjok kepalanya kemudian menendang perut si prajurit tersebut dengan lutut kakinya.


Prajurit itupun kalah dan Putri Blue berhasil mengambil pedangnya yang tergeletak di bawah. Akan tetapi, ketika ia sudah mengambilnya, banyak sekali prajurit yang mengepung dirinya dan mulai menyerangnya. Sang putri tanpa rasa takut melawan mereka semua bahkan ia berani merobek leher hingga terlepas dari badannya.


Olivia dari tadi yang tengah sibuk melawan para parajurit penyihir dan ia masih menyempatkan diri untuk melihat sang putri berkelahi dengan lawannya. Ia merasakan kalau sang putri bukanlah orang yang lemah, seperti putri yang lain. Tanpa disadarinya, dari belakang ada seseorang yang hendak menebas Olivia.


Olivia melihat ke arah belakangnya dan ada seseorang mati karena ditusuk oleh Putri Blue. Olivia melihat Putri Blue yang ngos-ngosan dan terdapat bercak darah di mukanya.


"Apakah dia berlari untuk menyelamatkanku?" batin Olivia.


Mata Olivia terbelalak melihat seseorang yang hendak menusuk sang putri dari belakang begitu pula dengan Putri Blue yang melihat seseorang yang ingin menyihir Olivia dari belakang. Olivia dan Putri Blue sama-sama memutarkan badannya ke belakang.


Putri Blue menghindar dan menepis pedang lawannya sedangkan Olivia membuat prisai pelindung dari serangan sihir yang dilakukan oleh prajurit tersebut. Setelah itu, Olivia menyerang kembali prajurit tersebut dengan sihir hitamnya dan tubuh prajurit tersebut seketika lumpuh. Kemudian, Oliva mengurungnya dan membiarkan dia hidup dikurangan yang terbuat dari sihir hitam..


"Kau telah melecehkan aku dengan kata-kata tidak pantasmu," kata Olivia.


Olivia yang melihat Putri Blue menyerang dengan ganas sekali dan ia tidak pernah memberikan kata ampun terhadap lawannya seakan ia bernafsu untuk membunuh apalagi Olivia melihat ada sedikit aura biru dan hitam keluar dari diri sang putri.


"Aura biru ... dia manusia biasa atau penyihir hitam? Kenapa aura kegelapan ada di dirinya?" tanya Olivia.


"Siapa kau sebenarnya?" sambung Olivia.


"Stoop! Jangan bunuh dia!" teriak Olivia dengan tiba-tiba.


Sontak saja, Putri Blue berhenti, ia tersadar kalau ia telah membunuh semua para prajurit dengan pedangnya dan terlihat jelas, nafas sang putri terengah-engah. Olivia mendekatinya dan berkata, "Dia sudah tidak berdaya, lepaskan saja pedangmu."


Putri Blue melihat wajah Olivia dan memalingkan wajahnya lalu melepaskan pedangnya dan Olivia mengacungkan tongkat ke arah prajurit tersebut lalu membacakan mantranya.


"DIENTENBSO!" teriak Olivia.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Putri Blue menatap mata Olivia untuk mengetahui isi dalam pemikirannya.


Olivia membuka pintu portal dan berkata, "Masuklah ke sana, kau akan aman disana dan aku akan mengakhiri ini semuanya dengan bersih. Aku akan menyusulmu nanti."


Olivia menatap dengan ragu saat ia dihadapkan oleh sebuah portal, ia tahu jika Olivia adalah penyihir hebat dan bisa mengalahkan semua prajurit penyihir dengan ilmu bela dirinya dan juga kekuatan sihirnya. Apalagi ia harus berhati-hati dengannya karena dia bersekutu dengan Raja Carles.


"Tunggu apa lagi?! Masuk! Aku tidak ingin kau tertangkap basah oleh Kapten Jeffry!"


Putri Blue berjalan masuk ke dalam potal tersebut dan ia berada di luar kastil, lebih tepatnya ia berada di sebuah pedesaan. Putri Blue tidak pernah keluar dari kastil dan kini, ia bisa keluar kastil. Tetapi saat ia berbalik badannya, portal sihir milik Olivia mulai tertutup.


"Tidak! Olivia!" teriak Putri Blue yang ingin masuk kembali kedalam portal, tetapi sudah tertutup dan menghilang dari pandangan.