AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
STOP



Di kastil, Putri Blue berjalan dengan Olivia yang mengikutinya dari samping yang membuat dirinya merasa tidak suka dengan kehadiran Olivia. Putri Blue terbiasa hidup sendiri dan ia hanya ditemani oleh Kapten Jeffry dan juga Nyonya Anna. Menurutnya rasanya aneh jika ia berdekatan dengan orang asing.


"Apakah dia tidak memiliki pekerjaan sampai-sampai dia mengikutiku?" batin Putri Blue yang melirik Olivia.


Putri Blue menghela nafasnya dan berkata, "Kau tidak memiliki pekerjaan?"


"Aku memilikinya, aku ini seorang koki di kastil ini dan hari ini aku mengambil cuty," jawab Olivia yang tangannya menunjuk dirinya sendiri seakan ia memamerkan kepada Putri Blue.


Ekspresi Putri Blue hanya cuek dan menurutnya menjadi koki adalah hal yang biasa saja dan tidak ada istimewa dalam pekerjaan itu karena ia tahu persis jika pekerjaan itu adalah tipu daya darinya. Padahal, ia adalah seorang pemberontak ataupun seorang penyusup dari Kerajaan Penyihir Hitam yang kapan saja bisa menyerang dan membunuh perajurit kastil dari makanan yang ia buat.


"Kau ini pemberontak atau penyusup?" tanya Putri Blue untuk memperkuat dugaannya walaupun pemberontak dan musuh itu sama-sama melakukan kejahatan dan berbahaya bagi Kerajaan Zarqo.


"Ada pasang mata dan telinga disini," jawab Olivia.


Mendengar itu, Putri Blue menyadari jika dia berada di lorong kastil dipenuhi para perajurit pria yang sedang duduk beristirahat setelah latihan perajurit di istana Kerajaan Zarqo. Mereka menikmati pemandangan taman kastil dekat kamarnya.


"Seharusnya daerah tempat tinggalku ini sepi!" gumam Putri Blue dengan mata membulat melihat para perajurit pria menatapnya dengan tajam.


"Hadeh perasaanku tidak enak, aku rasa ... aku salah bicara tadi," sambungnya.


Putri Blue tertawa dan bertepuk tangan beberapa kali seakan ia menganggap lucu dihadapan mereka semuanya sembari berkata, "Maksudku, dia ini pemberontak karena bisa-bisanya dia libur saat hari kerja dan menyusup ke sini karena ingin bertemu denganku."


Semua perajurit dan Olivia terdiam dan menganggap aneh gadis tersebut. Sang Putri Blue tahu hal itu dan ia tersenyum menyengirkan giginya dengan wajah merah menahan malu lalu berjalan cepat meninggalkan para perajurit pria itu. Olivia menyusul sang putri, tetapi saat ia hendak menyusul gadis yang kerap disapa 'tuan putri' oleh Kapten Jeffry dan wanita berbaju selayak bangsawan tersebut, ia mendengar para perajurit membicarakan tentang gadis itu.


"Siapa gadis yang bersikap aneh itu?"


"Aku dengar dia anak dari keluarga besar kerajaan raja Juftin yang tinggal disini."


"Bilang saja kalau gadis itu diasingkan oleh keluarganya."


"Jangan-jangan gadis itu anak dari hubungan gelap hahaha."


Olivia berhenti melangkahkan kakinya dan ia merasa iba terhadap sang putri itu karena ia merasa gadis itu nasibnya mirip dengan dirinya, ia teringat ketika masa kecilnya semua orang berbicara kalau ia adalah anak haram. Dan anak-anak seusia dirinya menjuliki Olivia dengan nama 'Haram'.


"Ck ... ck ... ck ..." kata Olivia yang pada saat itu ia menundukkan kepalanya lalu menegakkan kepalanya kembali dengan tatapan dendam yang membara dalam dirinya.


Ia menghadap ke para perajurit pria dan menyodongkan tongkat sihirnya. Sontak saja mereka semua langsung siap mengambil pedang dan untuk para perajurit sihir, mereka langsung mengeluarkan tongkat shirnya.


"Koki Olivia! Apa yang kau lakukan?" tanya seorang perajurit pria.


"Turunkan tongkatmu!" teriak salah satu perajurit.


Olivia adala koki yang berkompeten sekali selain itu ia juga terkenal sekali di kalangan pria maupun wanita berkat paras rupawan dan juga body sexy yang dimilikinya. Mereka tahu semua kalau Olivia adalah seorang penyihir hitam, akan tetapi pamornya hancur ketika ia sangat tidak dikenali oleh salah satu orang, yaitu gadis yang ia kasihani yang tak lain adalah sang putri.


"Kita hanya bercanda saja kok dan jangan terbawa suasana, santai saja," ucap salah satu perajurit yang membicarakan tentang sang putri.


"Bercanda katamu? Kau bahkan tidak pernah memikirkan apa yang dirasakan orang yang kau bicarakan!" balas Olivia.


Dengan amarahan yang dimasa lalunya yang ia pendam selama ini, ia tidak peduli lawannya adalah para prajurit yang jumlahnya tidak sebanding dengannya. Tongkatnya mengeluarkan cahaya dan ia siap untuk menyerang dan membunuh mereka semua.


Olivia pun mengucapkan mantra sihir hitam, "STRDI... "


Tiba-tiba tangan Olivia yang memegang tongkat sihir itu di sentuh seseorang dan ketika ia memalingkan wajahnya ke samping, ia melihat gadis itu dengan menatap tajam lurus ke dirinya.


"Hentikan Olivia, ini akan membuat keadaan menjadi kacau," kata Putri Blue bernada lemah namun berasa lantang terdengar oleh Olivia.


"Bagaimana kau bisa disini?" tanya Olivia.


"Aku dari tadi mengawasimu."


"Apa?!" kaget Olivia lalu ia menyadari jika ini adalah balasan dari sang putri yang ia awasi selama ini dan ia hanya tersenyum miring sambil perlahan dia menurunkan tongkatnya.


Putri Blue melepaskan genggaman tangannya dari tangan Olivia dan melihat sekelilingnya yang berisi perajurit yang bersiap siaga menyerang mereka kapanpun.


"Apakah kau punya dendam, Olivia?" tanya Putri Blue.


"Hmm? Apa maksudmu?" tanya Olivia keheranan.


"Kami tidak akan melawan kalian jadi, turunkan senjata kalian!" teriak Putri Blue ke para perajurit.


Satu-persatu mereka melepaskan senjata, tetapi ada beberapa orang yang tidak melepaskan senjata mereka menganggap jika Olivia belum menghilangkan tongkat sihirnya dan masih dianggap itu ancaman. Putri Blue menyuruh Olivia untuk menghilangka tongkat sihir dan secara terpaksa Olivia melakukan hal itu. Barulah semua para perajurit menaruh pedang dan menghilangkat tongkat sihir mereka.


"Aku tidak suka orang yang membicarakan diriku dibelakang, apalagi orang-orang yang seharusnya menjadi pelaku, tetapi ia menjadi korban," ucap Putri Blue yang membuat tercengang semua orang yang mendengarkannya.


Putri Blue menarik tangan Olivia dan pergi, si Olivia yang bingung itu lantas bertanya-tanya kepada dia sambil berbisik-bisik. "Apa yang kau lakukan? Eh ... bukan itu yang aku maksud, tapi apa maksud perkataanmu?"


"Aku punya dendam dan sepertinya suana tadi ada yang kurang, ayo kita lakukan itu," jawab Putri Blue yang mengajak Olivia untuk melakukan sesuatu.


"Kau serius?" tanya Olivia untuk menyakinkan tindakan Putri Blue.


Putri Blue menghela nafasnya dan memberi jawaban pendak, "Iya."


"Baiklah, aku suka gayamu," kata Olivia yang tersenyum seakan mengerti maksud yang disampaikan oleh Putri Blue.


Olivia dan Putri Blue berhenti dan saling bertatapan bak memberi kode. Putri Blue menghitung mundur dari angka tiga, lalu ke dua dan ke satu di dalam hatinya. Dan saat itu juga mereka membalikkan diri lalu pergi kembali menuju para perajurit pria.