AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
HISTORY II: END



Kapten Sarah yang telah mengobati lukanya lalu membuka suaranya mengenai apa sebenarnya yang terjadi saat diluar hutan dan tentang Raja Azka yang memiliki niat jahat terhadap Kerajaan Zarqo. Mark memberi tahu jika Raja Azka ingin menguasai kerajaan ini dan ia juga melihat masa depan bahwa perkataan Mark sungguh benar.


"Mustahil jika raja Azka seperti itu, ini pasti tidak benar, Kapten Sarah. Si Mark pasti berbohong," kata Bella.


"Mark tidak mungkin berbohong karena aku tahu Mark dari kecil. Dan aku melihatnya dengan mataku," tegas Kapten Sarah.


"Tidak selamanya kekuatan suci dikendalikan oleh hati yang suci," gumam Xio.


"Aku percaya apa yang dikatakan oleh Kapten Sarah," ucap Xio. "Jack, apakah kau tidak dengar si Blue berbicara apa? Sepertinya Blue menyindir raja Azka."


Jack menepuk sekali tangannya dan menunjuk ke arah Xio sambil berkata, "Oh ... kau benar, Xio. Tetapi kenapa Blue mau menjamin bahwa tidak ada yang mati kali ini? Ini sangat berbeda sekali dengan sebelumnya."


"Karena raja kita memiliki hati yang baik dan tulus, pohon itu mewakili hati para penggunanya," jawab Xio.


Sarah tersenyum dan melirik Xio lalu mengambil pedangnya dan meletakkannya dimeja diskusi. Semua anggota melihat pedangnya bercampur dengan darah.


"Kau benar Xio, aku juga melihat seminggu yang lalu sebelum ritual, ia sangat khawatir dengan para sukarelawan baik disini maupun di kerajaan lainnya," kata Kapten Sarah


Xio mengambil pedangnya sang kapten dan menyuruh Bella untuk pergi ke tabib bersama sang kapten.


"Kau mau bawa kemana pedangku?"


"Mau ku cuci."


Elle memiliki pendapatnya dan mengutarakannya, sehingga Kapten Sarah melarang Xio untuk pergi dan harus mendengarkan perkataan Elle terlebih dahulu.


"Bagaimana jika kita ke Kerajaan Sihir Putih dan mengambil botol yang berisikan kekuatan itu?"


"Huft ... terlalu berisiko, lagi pula aku melihat raja Juftin pulang ke istananya menggunakan portal sihir, pasti telah mengasihkan kekuatan itu pada anaknya," jawab Jack


"Terlambat ya?" gumam Elle.


"Tenang saja, pasti ada jalan lain. Besok kita beri tahu ini dengan raja," kata Kapten Sarah yang memegang tangan Elle.


"Tapi kenapa Mark memberi tahu aku? Apa maksudnya?" batin Kapten Sarah.


Elle langsung tersenyum dan Xio langsung pergi. Elle merengek meminta tolong Jack untuk membawanya kembali ke laut. Elle bisa jalan karena Jack mengubahnya menjadi manusia, tetapi masih bisa mengendalikan sihir duyungnya. Jack pun menuruti perkataan Elle. Dan Bella menemani Kapten Sarah untuk berobat.


Walaupun Tim Pasukan Elit memiliki anggota yang berbeda kekuatan, tetapi mereka tetap kompak dan saling membantu satu sama lain.


Saat malam telah tiba, Raja Juftin masih bekerja mengecek dokumen-dokumen kerajaan di ruangan kerjanya tiba-tiba Raja Carles berserta Mark muncul melalui portal sihir sehingga membuat kaget sang raja. Mark menyihir seluruh ruangan agar kedap suara.


"Apa mau kalian?" kata Raja Juftin.


Mark menggunakan sihirnya dan melemparkan Raja Juftin ke arah dinding hingga kepalanya terbentur dan berdarah.


"Yang sopan jika bercara kepada tamu, bukankah tamu adalah 'raja'?" ucap Raja Carles.


Raja Juftin melihat dengan tatapan tajam ke arah mereka. "Sopan? Kalian bukan raja dimataku."


Dan lagi-lagi, Raja Juftin dilempar ke atas meja dan diturunkan, sekatika meja itu pecah karena terbuat dari kaca oleh Mark. Tidak ada yang tahu kejadian itu walaupun keamanan di istana sudah di perketat.


Pagi hari telah tiba, sang raja ditemukan pingsan di ruang kerjanya oleh Ratu Gloria, ia berteriak histeris melihat suaminya kaku tak berdaya. Xio, Jack, Bella, Elle dan berserta petugas istana datang berbondong-bondong ke ruang kerja. Xio menyuruh Bella dan Elle untuk mencarikan tabib dan para petugas menggotong tubuh sang raja ke kamarnya. Jack dan Xio memeriksa keadaan di ruang kerja.


“Dimana Kapten Sarah?” tanya Jack.


“Kau harus memakluminnya, karena dia udah tidak memiliki kendaraan lagi, pegasusnya telah mati. Oh ya, aku rasa ini dinding ini pernah diselimuti oleh sihir hitam.”


Jack langsung menyentuh dinding yang ada di ruang kerja Raja Juftin. Dan merasakan bekas sihir hitam. “Kau benar, ini mantra untuk bisa mengurung raja, tetapi kekuatan ini sangat kuat sekali. Apa jangan-jangan Mark yang melakukan ini?”


"Aku tidak tahu, tetapi mungkin saja. Kita harap raja baik-baik saja."


Sarah yang sedang berjalan kaki ke istana, melihat Elle yang terbang menunggangi griffin yang terbang melaju dengan cepat serta diikuti oleh Bella yang terbang di belakangnya.


“Apa yang terjadi?” batin Sarah yang langsung berlari ke Istana Kerajaan Zarqo.


“Sarah!” panggil Jack.


Sarah pergi ke arah Jack. “Ada apa ini?”


“Ada seseorang yang menyerang raja, untung saja dia hanya pingsan. Jadi, jangan khawatir. Xio dan aku akan menyelidiki semua ini dan Bella serta Elle sudah memanggilkan tabib.”


"Jack, maafkan aku. Aku sepertinya tidak pantas menjadi kapten."


Jack memegang bahu Kapten Sarah. "Kau hebat kok, melawan Mark dan mencari informasi tentang raja Azka sendirian. Kau adalah kapten yang paling terbaik."


Xio datang dan mengasihkan pedang yang ia cuci bersih ke Kapten Sarah. Sarah mengucapkan terimakasih kepada Xio dan Xio menyuruh mereka ke kamar raja.


Di kamar, Raja Juftin telah sadar dan tersenyum lebar, dia menunjukkan wajah yang ceria meskipun dia sedang terluka saat datang Kapten Sarah, Xio dan Jack. Disana juga sudah ada Bella dan Elle. Semua Tim Pasukan Elit itu menunduk selayaknya memberi salam hormat kepada Raja.


“Aku tahu jika kalian sangat setia kepadaku, dan aku sangat berterima kasih. Kemarin malam aku bertemu dengan Mark dan Raja Carles. Mereka telah memperlihatku tentang masa depan kerajaan ini,” kata Raja Juftin. “Aku melihat Raja Azka mengkhianatiku dan kalian berkelahi dengan hebat dengan seorang pemuda dan aku berfikir jika pemuda tersebut ialah anak dari Raja Azka. Tetapi sayangnya kita kalah, aku mati terbunuh serta kalian juga mati.”


Sarah dan lainnya kaget mendengar ucapan Raja Juftin. Tetapi mereka hanya bisa diam saja dan mereka hanya bisa mendengar lanjutan pembicaraan Raja Juftin sambil menunduk.


“Dan aku juga diberi tahu oleh Raja Carles, jika Sarah sudah mengetahui tentang Raja Azka yang menginginkan kerajaan ini. “Aku tidak bisa memikirkan permasalahan ini sendirian. Aku percaya kalian karena kalian telah mengorbankan nyawa kalian untuk kerajaan ini dimasa depan saat kalian bertarung dengan Kerajaan Penyihir Putih. Jadi, bagaimana pendapat kalian?” tanya Raja Juftin.


________________________________________


BACK TO SCENE.


Kapten Jeffry memandang wajah Putri Blue. "Apakah tuan putri tahu? Tuan putri adalah jawaban dari Tim Pasukan Elit terdahulu. Mereka rela mati memberikan kekuatan mereka tanpa diketahui sang raja Juftin."


"Bagaimana bisa?" tanya Putri Blue yang menatap langit.


"Aku tidak tahu, itu cerita dari raja Juftin. Hanya mereka saja yang mengetahuinya bagaimana cara menggabungkan kekuatannya. Aku harap tuan putri tidak bersedih karena tuan putri memiliki adik."


Putri Bue tersenyum dan memandang balik Kapten Jeffry. "Aku tidak sedih, aku bahagia memiliki seorang adik. Hanya saja aku kecewa dengan sikap mereka yang tidak memberi tahuku."


Kapten Jeffry tiba-tiba memerah karena dipandang oleh Putri Blue dan itu ketahuan oleh Putri Blue dan memeriksa jidatnya menggunakan tangannya.


"Kau demam ya?"


Sang Kapten langsung menurunkan tangan sang putri lalu menariknya untuk mengajaknya makan bersama dengan prajurit kastil lainnya. Putri Blue menolaknya dengan alasan jika ia malu, sang kapten berusaha menyakini tuan putri.


"Jika mereka mengganggu tuan putri, aku akan memberikan hukuman kepada mereka."


"Pantas saja kau terkenal dengan kekejamannya."


"Ah ... aku tidak kejam."


"Kau menghukumku lari 100 kali keliling tempat latihan yang begitu luasnya."


"Oh ... namanya juga hukuman jadi, harus membuat jera pelakunya. Sudahlah, aku lapar karena banyak ngomong," kata Kapten Jeffry.


"Bentar, kotak ini..." kata Putri Blue yang menyodorkan kotaknya.


"Oh iya!" Sang kapten membuka kotak itu yang berisikan dua pasang sepatu, yaitu sepatu yang terbuat dari baja dan satunya sepatu yang cantik. Ia memasangkan sepatu cantik violet itu ke kaki Putri Blue.


Putri Blue merasa senang sekali dan berkata, "Ayo kita makan!"


Sepatu baja yang masih berada di kotaknya itu dilempar oleh Putri Blue ke kasur dan berlari selayaknya anak kecil keluar dari kamar lalu menunggu sang kapten.


"Cepatlah! Nanti aku akan menghukumu," ejek Putri Blue yang menunjuk Kapten Jeffry.


Wajah Kapten Jeffry langsung judes melihat tingkah laku sang putri yang dianggapnya terlalu berlebihan.


"Kapan ia akan bersikap menjadi dewasa?" gumam Kapten Jeffry yang berjalan menuju sang putri.