
Putri Blue tidak memiliki pilihan lain selain harus membunuhnya. Membunuh seorang perempuan yang bersujud dihadapannya dan ia sama sekali memiliki kesalahan kepadanya. Sang putri mengambil pedangnya dan berkata, "Apa alasanmu jika kau ingin hidup?"
Semua penonton pun berhenti bersorak ketika sang putri tersebut bertanya kepada si gadis lemah tak berdaya. Raja Carles masih memerhatikan objek yang mencuri pandangan matanya ketengah-tengah lapangan dan ia merasa ini semakin menarik sehingga dia tidak pernah berpaling dari sana.
"Aa ... aku ..." gagap Olla ketika ditanya oleh Putri Blue yang memegang pedang yang sungguh tajam di tangan kanannya.
"Pikirkanlah, kau tidak ada manfaatnya jika kau hidup karena kau sekarang dikenal sebagai pengkhianat Kerajaan Zarqo," ucap Putri Blue yang tersenyum miring ke arah Olla.
Olla tertegun mendengar ucapan sang putri dihadapannya. Pupil matanya bergetar dan ia menunduk seketika ketika mendengar kata 'pengkhianat' mendarat di gendang telinganya. Perasaannya hancur karena selama ini ia selalu setia mendampingi raja dan juga Kapten Jeffry.
"Aku tidak akan membunuhmu, ikutlah bersamaku dan hancurkan mereka semua," sambung Putri Blue dengan mengelurkan tangannya.
"Kau pikir aku mau bergabung dengan makhluk-makhluk rendahan seperti ini?!" jawab Olla. " Aku tidak akan sepertimu, PENGKHIANAT!"
"Kau dilahirkan untuk melindungi kami bukan bergabung dengan mereka! Kau itu seharusnya menjadi malaikat, bukan sebagai iblis! Aku lebih baik mati dibanding hidup menjadi bawahanmu!" bentak Olla menangis didepan Putri Blue yang menatap kerahnya.
Semua omongan Olla terdengung di telinga sang putri dan membuat hatinya sakit berasa tercabik-cabik atas pernyataan tersebut. Semilir angin yang lewat di tengah-tengah lapangan tersebut membuat rambut sang putri berkibar kearah belakang dan baru kali ini, ia tidak bisa menikmati angin yang menghembus kearahnya.
Karena Olla, ia tidak bisa tesenyum padahal di dalam hati kecilnya juga terpaksa berada disini untuk keselamatan Kerajaan Zarqo. Tetapi malah disebut sebagai IBLIS untuk dirinya sendiri. Putri Blue memasang muka tegar walaupun matanya ingin menangis, tetapi ia tahan dan bersikap biasa saja.
"Apakah ada iblis berhati malaikat?" tanya Putri Blue lagi.
"Pertanyaan bodoh seperti itu tidak pantas ditanyakan? Tunggu apalagi?! Kau buang-buang waktu untuk kedatangan malaikat maut!" jawab Olla.
"JAWAB PERTANYAANKUUU!!!" teriak Putri Blue yang tiba-tiba.
Sang Putri Blue merendahkan lagi suaranya dan berkata, "Malaikat maut selalu datang menghampiri orang yang sehat maupun sakit, jangan khawatir jika tidak datang karena dia selalu datang menemui setiap makhluk hidup. Itu pun jika kau merasa makhluk hidup.
"Dasar wanita gila! Kau ingin mendengar jawabanku? Dengar baik-baik," jawab Olla. "Iblis tetaplah iblis dan malaikat tetaplah malaikat. Jahat tetaplah jahat dan baik tetaplah baik."
Putri Blue melemparkan pedangnya kearah Olla dan berkata, "Kau ingin mati, kan? Ambil dan bunuh dirimu."
"Apa?!" kaget Mark melihat Putri Blue menawari pedang. "Gadis itu bodoh sekali, kenapa dia memberikan pedang kepadanya?"
"Bagus, cerita ini makin menarik. Aku penasaran, siapa yang akan mati kali ini," jawab Raja Carles.
Olla segera mengambil pedang tersebut, tetapi diinjak tangannya oleh Putri Blue sehingga ia merasakan kesakitan. Lalu sang putri melepaskan injakannya dan menendang kepala Olla yang membuat si Olla terjungkal kearah belakang hingga jatuh.
"Kau ingin hidup, tetapi aku membantumu untuk hidup dan terakhir ..." ucap Putri Blue yang mengambil pedang tersebut. "Kau ingin mati. Aku akan mengabulkan permintaanmu."
Olla merasakan kesakitan pada badannya, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya pusing karena hantaman lutut sang putri sangatlah keras. Olla membuka perlahan kedua kelopak matanya, tetapi sang putri sudah tepat didepan matanya yang sudah bersiap dengan pedang yang berada digenggamannya.
Putri Blue langsung mengayunkan pedangnya lalu menebas kepala Olla sehingga terpisah dari lehernya. Olla pun mati disambut teriakan histeris dan tepuk tangan penonton yang banyak. Tidak ada rasa bersalah kepada hati Putri Blue setelah membunuh Olla dan tidak ada perasaan bahagia yang melintas di hati maupun pikirannya.
"Aku bukan seorang iblis, karenaku ... Kerajaan Zarqo memperoleh kemenangannya," gumam Putri Blue untuk menangkan dirinya setelah apa yang ia lakukan.
Raja Carles dan Mark menghampri Putri Blue yang terlihat gugup ditengah lapangan. Sang Raja berkata kepada rakyatnya sambil mengumumkan, "Wahai rakyatku! Kita sambutlah Putri Blue, mulai sekarang dia adalah anakku!"
Sang putri hanya tersenyum tipis kearah penonton. Raja Carles memerintahkan Mark untuk membungkus kepala Olla untuk dihadiahkan oleh Raja Jeffry. Mark pun menyuruh prajurit untuk memasukan kepala tersebut ke kotak dan badannya dibakar hingga menjadi debu dengan bantuan sihir.
Putri Blue dan Raja Carles kembali ke istananya yang megah nan mewah serta banyak sekali pelayan yang berada di dalam istanya tersebut. Raja Carles berkata, "Ini adalah rumahmu dan aku adalah ayahmu."
"Ayah?"
"Iya."
Raja Carles memberikan pelukan hangat kepada Putri Blue lalu ia pergi meninggalkan Putri Blue. Sang putri pun ikutan pergi kearah yang berlawanan Raja Carles, tetapi ia terkejut ketika ada beberapa pelayan mengikuti dirinya dari belakang. Walaupun pelayan itu berjulah empat penyihir hitam wanita, tetapi perasaan tidak enak pun tetap saja menghampiri.
"Tuan putri mau mandi?" tawar salah satu pelayan. "Maaf, ada noda darah di gaun, tuan putri."
"Putri Blue memutarkan badannya dan menatap wajah semua pelayannya. "Oh, aku akan mandi."
Putri Blue pergi kearah kamarnya yang melewati ruangan yang sangat luas yang bertaburan emas dimana pun. Sesampainya di kamarnya dan menuju ke kamar mandi, para pelayan tersebut masih tetap mengikutinya hingga ke kamar mandi.
"Kami ingin memandikan, tuan putri."
"Apa? Umurku sekarang sudah tujuh belas tahun, haruskah dimandikan?" tanya Putri Blue lagi.
Ada salah satu pelayan menjawab pertanyaan Putri Blue. "Seorang putri jika mandi harus dimandikan oleh para pelayannya."
"Benarkah?" tanya Putri Blue yang baru tahu ada peraturan seperti itu dan semua para pelayannya menganggnguk yang menandakan 'iya' dalam bahasa isyarat.
"Kata siapa? Kata Nyonya Anna, jika sudah besar maka harus mandi sendiri!" jawab Putri Blue. "Berarti omongan kalian tidak berlaku untukku. Nah ... sekarang kalian pergi dan siapkan baju atau sepatu gitu dan jangan pernah memandikanku!"
"Berarti boleh memakaikan baju untukmu?" tanya salah satu pelayan.
"Jangan! Kalian cukup menyiapkan gaun dan sepatu lalu pergi. Jika aku kesulitan, mungkin aku bisa meminta tolong kalian," jelas Putri Blue.
Para pelayan pun paham lalu pergi keluar dari kamar mandi dan Putri Blue bebas leluasa mandi tanpa terekspos tubuhnya dihadapan banyak orang. Setelah mandi dan aroma tubuhnya telah wangi kembali dan rambutnya basah, ia mengeringkannya dengan handuk lalu memakai gaun yang indah tersebut.
Ia membuka pintu kaca yang langsung menujunya pada balkon dan disana ia memandang suasana yang menyeramkan karena pepohonan disana semuanya berwarna hitam sama seperti aura yang menyelimuti kerjaan ini. Tetapi disana ia melihat Blue sedang berjalan di bawah pepohonan dan auranya membuat warna daun pohon tersebut sedikit hijau.
"Itu Blue!"
Putri Blue berlari kerah keluar kamarnya dan disambut oleh para pelayan yang menunggunya. Putri Blue terkaget, tetapi ia menghiaukan semua pelayan tersebut dan tetap berlari tanpa menggunakan alas kaki. Para pelayan itu mengejar sang putri.
Dan tiba-tiba Mark datang dihadapan sang putri sehingga terjadi tabrakan yang membuat Putri Blue berhenti berlari. Para pelayan Putri Blue telah ngos-ngosan karena berlari dari lantai tiga menuju lantai satu dan itu membuat heboh didalam istana.
"Apakah kalian pikir istana adalah tempat bermain?!" tanya Mark dengan nada tegas.
"Aku tidak butuh pelayan seperti ini," kata Putri Blue sambil menunjuk para pelayan.
Para pelayan pun menunduk sambil berkata, "Maaf."
"Apakah mereka mengganggumu?" tanya Mark.
"Iya."
"Kalau begitu, kalian semua disiksa di sel bawah tanah!" ucap Mark kepada para pelayan Blue.
Putri Blue kaget dan berkata, "Bukan, aku merasa tidak terbiasa ada yang mengikuti aku. Kita hanya salah paham tentang ini."
"Apakah kau melindungi mereka?" tanya Mark kembali.
"Tidak, mereka yang melindungiku. Jangan pernah menyentuh mereka semuanya karena mereka adalah milikku," ancam Putri Blue terhadap Mark.
Mark terdiam dan pergi lalu Putri Blue membalikan badannya sambil mengucapkan permintaan maafnya kepada semua para pelayan tersebut. Para pelayan yang awalnya ketakutan karena hukuman yang akan mereka hadapi, sekarang mereka tersenyum lega karena sang putri telah menyelamatkan mereka.
"Tuan putri, seharusnya Anda tidak berkeliaran didalam istana dengan rambut basah dan tanpa menggunakan alas kaki."
"Terima kasih telah mengngatkanku tentang penampilan dan terima kasih banyak apa yang telah kalian lakukan terhadapku. Aku meminta maaf sekali lagi karena semua ini adalah ulahku. Ayo kita ke kamar dan kalian bantuin aku untuk tampil cantik."
"Siap, tuan putri."
Sangat jauh berbeda kamar Putri Blue sekarang dengan kamarnya di kastil. Disini suasananya sangat kental dengan emas dan juga kemewahan. Di depan cermin hias, ia duduk dan rambut sang putri dikeringkan dengan sihir hitam, lalu disisir. Setelah itu, ada beberapa pelayan yang mengikat rambut Putri Blue sehingga menjadi rapih dan cantik.
Wajah Putri Blue untuk pertama kalinya bertaburan bedak dan warna merah yang merona diolehkan dibibir mungilnya. Lalu ada seorang pelayan yang menyemprotkan parfum ke seluruh badan sang putri yang beraroma vanila yang lembut sehingga tidak menyengat di hidung.
Kemudan, ada satu pelayan yang meletakan sepatu berhak tinggi berwarna merah muda yang masuk dengan warna gaun Putri Blue yang dipakai, yaitu warna peach. Putri Blue tampil frash dan cantik dari biasanya walaupun ia kesusahan berjalan karena ia tidak terbiasa memakai sepatu hight heels sehingga beberapa kali ia terjatuh.
"Anda cantik sekali," puji salah satu pelayan ketika Putri Blue berhasi berdiri dan mampu berjalan menggunakan sepatu berhak tinggi.
"Terima kasih, tetapi bisakah kalian mengantarkanku ke sana?"
Putri Blue berjalan kearah keluar pintu kaca dan menunjuk banyaknya pepohonan hitam yang tertanam disamping istana. Tidak ada seoran pelayan pun menjawab permintaan Putri Blue dan membuat sang putri kebingungan. "Ada apa?"