AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
WHO'S RIGHT



Putri Alonia tidak tahan lagi untuk bergelantungan di atas istana dan membuat Putri Blue menjadi panik dan melihat karah atasnya. Putri Alonia pun terjatuh dan dari ketinggian dan membuat sayap Putri Blue muncul secara tiba-tiba. Putri Blue terbang untuk menangkap sang adik dan berkata, "Aku disini."


Melihat Putri Blue berhasil menangkap dirinya dengan cara meraik tangannya dan ia pun berterima kasih kepadanya serta memohon maaf sambil menangis. Putri Blue melemparkan senyuman kepada Putri Alonia dan menyuruhnya agar berhenti menangis. Ketika sudah sampai di kamar, Putri Blue dan Putri Alonia disambut oleh dua makhluk yang lain.


Sayap Putri Blue menghilang dan sisi kain tipis transpran yang dipunggungnya pun robek, Putri Alonia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika punggung Putri Blue memiliki garis yang merupakan tempat sayap itu.


Putri Blue berkata, "Berhentilah seperti ini, kau memilih lawan yang salah."


"Putri Alonia, kau harus meminta maaf kepada Bangsa Polip!" tegas Putri Blue kepada Putri Alonia. "Kau sudah melewati batas karena tingkahmu kepada Putri Ravta!"


"Apa? Aku tidak mau!" jawab Putri Alonia. "Dia yang salah, kenapa aku yang meminta maaf? Dia mengejekku karena tidak memiliki kekuatan dan aku membalas perbuatannya dengan mengerjainnya."


"Minta maaf bukan masalah salah atau benar, tetapi minta maaf untuk menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Dan yang meminta maaf duluan akan memenangkan permasalahan itu," jelas Putri Blue. "Jika kau menyukai kemenangan, maka minta maaf duluan."


"Tidak, harga diriku jauh lebih penting!"


"Aku benci ini," gumam Putri Blue yang tengah sabar menghadapi tingkah Putri Alonia yang keras kepala.


Putri Ravta mengecheck keluar istana dan menemukan prajuritnya sudah terkapar diatas tanah dan kaca-kaca berserakan di bawah sana. Putri Ravta membawa pedang prajuritnya dan terbang untuk melihat kondisi sebuah ruangan yang begitu hancur.


Putri Blue melihat ke arah jendela karena telah kedatangan Putri Ravta dan bertanya kepada prajurit lainnya. "Kenapa kalian tidak menghabisi Putri Alonia?! Tunggu apa lagi?!"


Para prajurit dari Putri Ravta pun bergerak mengeluarkan pedangnya sedangkan Putri Blue memerintahkan jika Putri Alonia untuk bersembunyi dan Putri Blue akan melindungi Putri Alonia. "Jika kalian menyentuh Adikku lagi, aku tidak akan memaafkan kalian."


Ucapan Putri Blue dihiraukan dan mereka menyerang Putri Blue dengan berutal. Putri Blue harus melawan dari sisi atas dan disisi depan matanya menggunakan sihir. Ketika Putri Blue sibuk dengan melawan, Putri Ravta menghampiri Putri Alonia dengan pedang yang disembunyika dibalik badannya.


Putri Ravta mengayunkan pedang itu sehingga Putri Alonia harus menahan pedang tajam itu menggunakan telapak tangannya. Putri Blue yang menyadari Putri Alonia sudah terluka parah karena darahnya mengalir degan deras dan sudah menertes diatas lantai membuat emosinya memuncak.


Putri Blue yang awalnya yang selalu menghindar serangan prajurit dari Putri Ravta karena tidak ingin ada keributan, sekarang ia lebih agresif dan aura biru terlihat dengan jelas dimata prajurit Putri Ravta walaupun mereka bukan penyihir.


Putri Blue Blue menggunakan sihirnya untuk membanting prajurit tersebut ke lantai dan melemparkan mereka ke sisi ruangan hingga menembus ke ruangan pesta dansa. Dan membuat panik tamu undangan serta Raja Juftin dan Ratu Gloria. Mereka semuanya bergegas pergi ke kamar Putri Alonia.


Putri Ravta yang ketakutan terhadap Putri Blue pun terbang melarikan diri, tetapi ditahan oleh Putri Blue karena ia mengejar sang Putri Ravta. Putri Blue terbang dan mengikuti Putri Ravta lalu menangkapnya dengan sihirnya. Kemudian Putri Ravta meminta tolong untuk memaafkan perbuatannya, tetapi sayangnya pintu maaf Putri Blue sudah tertutup.


Putri Blue melemparkan Putri Ravta ke arah kamar dan disaksikan langsung oleh semua orang, termasuk Raja Juftin dan Ratu Gloria yang sedang mengambil pedang yang tertancap ditelapak tangan Putri Alonia. Kepala Putri Ravta terbentur dengan tiang dan berkata, "Tolong aku."


Putri Blue terbang kearah Putri Alonia dan disambut tamparan oleh Raja Juftin karena emosi dan pesta kali ini sangat hancur sehingga mempermalukan Kerajaan Zarqo. Putri Alonia telah kehilangan banyak darah hingga ia pingsan dan dibawa ke tabib dan begitu juga Putri Ravta bersama prajuritnya.


"Kau iblis, kenapa kau datang dan menghancurkan segalanya?!" teriak Raja Juftin.


"Ternyata ucapan Mark benar jika kau suka mengambil kesimpulan hanya dengan melihat," ucap Putri Blue.


"Tidak punya sopan santun! Pergi kau dari sini! Jangan pernah menginjak kakimu disini!"


Putri Blue segera pergi dan terbang ke udara yang kemudian membuka portal sihirnya untuk pergi ke suatu tempat yang selama ini ia tidak tahu. Nyonya Anna melihat kejadian itu dan menangis karena ucapan Raja Juftin yang telah mengusir anaknya sendiri dan ia juga membuka portal sihir hitam miliknya.


Nyonya Anna pergi tepat pada pemakaman Kapten Jeffry di malam hari dan disana juga da Putri Blue yang berdiri disamping makam. Putri Blue menangis dan berkata, "Kau puas? Seharusnya aku yang mati agar tidak bisa merasakan penderitaan ini!"


Nyonya Anna menepuk bahu Putri Blue dan sang putri menoleh ke wajah Nyonya Anna. Putri Blue berlutut dihadapan Nyonya Anna sambil menitihkan air mata. "Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya menyelamatkan putri Alonia."


Nyonya Anna beberapa kali mengusapkan air matanya yang membasahi kedua pipinya dan menegakkan Putri Blue sambil berbicara, "Aku percaya jika kau tidak melakukan kesalahan. Siapapun yang mati, itu semua sudah diatur oleh Tuhan, tuan putri."


Nyonya Anna menghapus air mata sang putri dan berucap, "Tuan putri pasti belajar dengan giat untuk menguasai sihir dan kekuatan peri. Sayapmu sungguh bagus sekali, lebar dan indah sepertimu."


Putri Blue tersenyum yang kemudian memeluk Nyonya Anna dengan erat. Sayap Putri Blue pun menghilang dengan sendirinya dan Nyonya Anna berkata, "Barangmu semuanya ada di rumahku. Jika tuan putri mau, tuan putri bisa tinggal di rumahku."


Putri Blue menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pergi ke rumah Nyonya Anna walaupun sebelum itu si Putri Blue dan Nyonya Anna memberikan penghormatan untuk terakhir kalinya. Putri Blue mengeluarkan sihir birunya untuk menghias pemakaman Kapten Jeffry menjadi terang karena cahaya kecil berwarna biru itu bertebaran diatas tanah Kapten Jeffry.


Mereka pergi dari pemakaman tersebut dan Putri Blue beristirahat di dalam rumah Nyonya Anna yang begitu nyaman. Nyonya Anna membuat segelas minuman coklat panas untuk Putri Blue yang sedang duduk di kursi kayu tua miliknya.


Nyonya Anna memberikan minuman tersebut dan berkata, "Tuan putri tinggal dimana selama ini?"


"Kau pasti terkejut jika aku memberi tahumu," ucap Putri Blue sambil meniup minuman tersebut karena panas.


Akhirnya, Putri Blue memberi tahu semuanya kepada Nyonya Anna jika dia telah menukarkan nyawanya demi Kerjaan Zarqo dan harus menuruti perintah Raja Carles. Putri Blue juga memberi tahu jika dia sudah dianggap anak oleh Raja Carles dan membuat Nyonya Anna terkejut.


"Tuan putri! Kenapa bisa seperti ini?! Kau tidak sadar jika kau dalam bahaya? Terlebih lagi atas insiden ini, hubungan dua kerajaan sekaligus hancur dalam satu malam ini."


"Aku tahu, tetapi hubungan Kerajaan Zarqo dan dua kerajaan itu memang tidak pantas untuk dijalankan lagi," kata Putri Blue. "Jika benar apa yang dikatakan putri Alonia, maka Putri Ravta bersalah sehingga dia berani mengadu domba dua kerajaan,"


"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Anna yang tidak mengerti perkataan Putri Blue.


"Putri Alonia hampir dibunuh dan dia bilang kalau dia memiliki permasalahan dengan putri Ravta, aku membaca pikiran dari salah satu prajurit si putri Ravta jika putri Alonia mem-bully putri Ravta di akademi keputrian. Sedangkan putri Alonia membantahnya dan menuduh jika putri Ravta terlebih dahulu mengejeknya karena tidak memiliki kekuatan," jelas Putri Blue yang kemudian meminum minumannya.


Nyonya Anna menceritakan sifat Putri Alonia kepada Putri Blue. "Aku tahu jika putri Alonia adalah seorang putri yang suka kemewahan dan manja. Dia memiliki keinginan kuat sekali sehingga keinginannya harus terwujud dengan sempurna."


Putri Blue berfikir tentang kesimpulan sifat Putri Alonia. "Keinginan yang kuat, egois, otomatis dia memiliki rasa iri yang cukup tinggi juga. Sepertinya masih mending sifatku."


Nyonya Anna langsung menepuk bahu Putri Blue dan pergi ke dapur sambil berbicara, "Puji terus dirimu sampai ke langit, kau tidak akan tahu sifat didalam dirinya yang sebenarnya. Siapa tahu dia lebih baik daripadamu."


Putri Blue meringis kesakitan karena ia sudah lama tidak dipukuli oleh Nyonya Anna. "Aduh ... Nyonya Anna! Aku ini bukan anak kecil lagi loh! Seharusnya aku tidak dipukul!"


"Tapi pukulan itu pantas untukmu! Mandi dan ganti pakaianmu di ruangan sebelah kanan! Barangmu semuanya disana!" teriak Nyonya Anna dari dapur.


Putri Blue bergegas ke ruangan yang dimaksud itu dengan wajah yang masam sambil membawa minumannya yang masih banyak dan hangat.


__________________________________


KERAJAAN PENYIHIR HITAM.


Mark pergi kehadapan Raja Carles sambil membawa Ambert yang ia tangkap di kereta kuda. Dengan wajah menangis sambil berlutut kepada Raja Carles, si Ambert meminta maaf kepada sang raja. Tetapi Mark menendang punggung Ambert hingga tersungkur diatas lantai.


"Ada apa ini?" tanya Raja Carles yang berdiri dihadapan Ambert.


"Ceritakan semuanya kepada Yang Mulia!" teriak Mark kepada Ambert.


Dengan terbata-bata ia menceritakan semuanya jika Putri Blue membeli para budak dan membebaskannya ke hutan terlarang dan ia ditunjuk untuk menjadi Putri Blue ketika berangkat di pesta. Raja Carles bertanya, "Siapa yang terlibat atas khasus ini? Kau tidak ingin bukan merasakan lembabnya penjara sendirian dan merasakan pedihnya siksaan cambuk sendirian?"


Ambert menangis dan ramburnya ditarik oleh Merk dan berteriak lagi kepada Ambert, "Cepat katakan!"


Ambert menggelengkan kepalanya sambil menitihkan matanya dan berbicara, "Tidak ada."


"Baiklah, masukkan ke penjara dan besok pagi berikan cambuk. Para pelayan yang lain akan diberikan hukuman gantung," ucap Raja Carles yang membuat histeris Ambert.


Ambert berkata, "Jangan! Yang Mulia! Maafkan kami!"


Mark menyihir Ambert hingga tidak sadarkan diri sehingga ia menyuruh prajurit untuk membawakan Ambert untuk dibawa pergi ke penjara bawah tanah dan para pelayan Putri Blue juga ditangkap semua.


____________________________________


KERAJAAN ZARQO.


Putri Alonia masih menjalani pengobatan dan ia harus menerima jahitan yang sangat banyak untuk di kedua telapak tangannya. Ratu Gloria sungguh mencemaskan anaknya dan ia mondar-mandir tak karuan sambil berdo'a jika anaknya baik-baik saja.


Raja Thaison datang ke tempat tabib dengan wajah yang memerah dan menemui Raja Juftin. "Ini semua salahmu! Kau berani membuat anak dengan memiliki kekuatan yang sebanding dengan Pangeran Alex dan kau juga tidak becus dalam mengurus anakmu!"


Raja Juftin yang naik pitam langsung berkata, "Apa? Ini semua salah raja Azka yang ingin merebut wilayahku!"


"Hah! Kau terus saja menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri, pantas saja anakmu seperti itu!"


Ratu Gloria yang mendengar ucapan Raja Thaison itu merasa tidak terima dan berkata, "Apa maksudmu? Kau terus menyalahkan anak kami, memangnya kau itu siapa?"


"Ternyata Ibunya sendiri tidak memiliki sopan santun, asal kalian tahu kalau anak kalian sudah mem-bully anakku di akademi dan anakku sedang sekarat disana dengan tulang punggung yang retak!" tegas Raja Thaison yang membuat Ratu Gloria menggelengkan kepalanya karena tidak mungkin jika Putri Alonia telah berbuat seperti itu.


"Aku ingin menyatakan perang kepadamu dan lusa adalah hari peperangan kita. Aku tidak tahan lagi melihat putriku menderita karena putri kalian. Akan aku bunuh ketika si gadis biru itu," sambung Raja Thaison.