AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
WORRIES



FLASHBACK.


Nyonya Anna keluar dari kamar Putri Blue, ia menyesal telah memukul sang putri apalagi ketika ia melihat wajah sang putri yang memejamkan matanya sambil menahan rasa sakitnya hantaman rotan tersebut. Nyonya Anna meneteskan air matanya sehingga membasahi kedua pipinya.


Tanpa berfikir panjang, ia menghapus air matanya lalu mencari sang kapten dengan cara ia memunculkan portal yang menghubunginya dari kasti ke istana kerajaan. Ia masuk dan berkeliling ke istana, dan pada akhirnya ia bisa menemui Kapten Jeffry bersama Yang Mulia Raja Juftin. Nyonya Anna menunduk hormat kepada Raja Juftin.


"Nyonya Anna, itukah dirimu?" tanya Raja Juftin.


"Iya, Yang Mulia," jawab Nyonya Anna yang masih menunduk.


Raja juftin memandang Nyonya Anna dengan keangkuhan yang dimilikinya lalu ia bertanya, "Ada apa kau kesini? Mau memundurkan diri?"


"Aku tidak akan pernah memundurkan diri, aku datang ke sini karena ada keperluan dengan Kapten Jeffry," tegas Nyonya Anna.


Tanpa sepatah kata pun Raja Juftin yang pergi bersama pengawal raja lalu meninggalkan Kapten Jeffry dan Nyonya Anna. Lalu Nyonya Anna menceritakan segalanya kepada Kapten Jeffry. Sang kapten dengan cepat merespon permintaan Nyonya Anna karena dia meminta kepada Kapten Jeffry untuk melihat keadaan Putri Blue setelah dipukul sebab ia tidak berani.


Nyonya Anna menyuruh Kapten Jeffry untuk ikut dengannya ke portal yang bisa terhubung ke kastil. Tanpa basa basi, sang kapten menuruti Nyona Anna dan mereka pergi ke kastil bersamaan. Sesampainya di kastil, sang kapten berlari menuju kamar Putri Blue.


Lalu ia masuk ke kamar, sedangkan Nyonya Anna hanya bisa menunggu diluar saja dengan penuh harap kalau Putri Blue akan baik-baik saja selama Kapten Jeffry bersamanya. Nyonya Anna sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti sang putri, tetapi prinsipnya adalah kedisiplinan dan menaati peraturan adalah yang paling penting. Hukuman yang tegas akan membuat para pelakunya jera, tetapi ia merasa bersalah ketika menghukum sang putri.


________________________________________


BACK TO SCENE.


Ketika Jeffry keluar dari kamar sang putri, ia masih melihat Nyonya Anna yang sedang berdiri tegak disamping pintu. Sikap Nyonya Anna sangat gelisah sebab ia mencemaskan keadaan dengan Putri Blue. Kapten Jeffry langsung menghadap ke Nyonya Anna dan berbicara kepadanya.


"Terima kasih sudah memberi tahuku dan menjemputku saat berada di istana. Dia baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap Kapten Jeffry.


"Aku takut tuan putri membenciku karena aku terlalu keras mendidiknya."


"Tuan putri tidak akan membencimu jika ia tahu makna menjalankan kehidupan. Aku yakin tuan putri akan belajar mandiri darimu karena setiap perbuatan pasti ada balasan. Itulah hukum kehidupan," jelas Kapten Jeffry.


"Kau benar."


Nyonya Anna menghilangkan kayu rotan yang ia pegang dan mengubahnya menjadi tongkat sihir, lalu ia memunculkan portal yang langsung menuju ke istana. Nyonya Anna mempersilahkan sang kapten untuk pergi ke portal itu lagi. Ketika Sang kapten sudah memasuki potal, portal itupun tertutup dengan sendirinya dan Nyonya Anna pergi berjalan kaki.


Olivia muncul tepat saat ketika suasana di luar kamar Putri Blue sangat sepi, ia juga sempat menguping pembicaraan dari seorang wanita penyihir hitam yang tak lain adalah Nyonya Anna dengan Kapten Jeffry.


"Apa yang mereka lakukan, ya?" tanya Olivia berjalan bolak-balik di depan pintu kamar Putri Blue.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan membuat Olivia terkejut dengan kehadiran Putri Blue, sampai-sampai Olivia reflek mengeluarkan tongkatnya dan mengacungkannya di hadapan Putri Blue. Sang putri hanya kebingungan dengan sikap Olivia dan dia juga bingung kenapa Olivia berada di sini.


"Kau sedang apa?" tanya Putri Blue.


"A-aku?" kata Olivia yang gugup.


"Ini hari pertama, seharusnya lusa kau datang. Kau tidak perlu repot untuk mengunjungiku dengan beralasan mengawasiku," kata Putri Blue yang menatap tajam mata Olivia.


Olivia tertawa dan menepak lengan lalu merangkul bahu sang putri. Ia mencoba mengakrabkan diri terhadap sang putri supaya bisa membujuk Putri Blue menjadi pemberontak dan bersekutu terhadap Kerajaan Penyihir Hitam.


"Bagaimana kau tahu tujuanku? Wah ... kau  sungguh pandai menebak."


"Tujuanmu sangat jelas di matamu," kata Putri Blue yang berjalan meninggalkan Olivia.


Olivia mengikuti Putri Blue dari samping dan bertanya, "Kau bisa membaca pikiran?"


Putri Blue merasa terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Olivia. Ia merasa telah menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran Olivia dan ia tidak mau Olivia tahu tentang ini, jika ia tahu mungkin saja dirinya akan menjadi incaran oleh Raja Carles dan bisa dibunuh oleh Mark atau Raja Carles itu sendiri.


"Tidak, secara logika saja tujuanmu sudah ketebak," jawab Putri Blue


"Logika? Apakah tujuanku bisa gampang di tebak sebab logika? Ini tidak mungkin."


"Ya begitulah kenyataannya."


________________________________________


Di Istana Kerajaan Zarqo terdapat seorang putri yang cantik jelita, memiliki rambut berwarna coklat panjang dan bermata coklat keemasan. Orang-orang percaya jika seseorang yang memiliki mata besar berwarna mata coklat keemasan akan membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi kehidupan kerajaan dan juga kehidupan rakyatnya.


Nama putri tersebut adalah Alonia, yaitu adik dari Putri Blue. Walaupun Alonia memiliki kulit kuning langsat, tetapi ia terlihat anggun dan menawan. Tetapi ia memiliki kekurangan, yaitu sikap manja dan apapun yang ia inginkan, ia harus mendapatkannya.


Makan siang tiba, para pelayan dapur istana menyiapkan hidangan makan mewah di meja makan yang begitu panjang dan besar. Meja tersebut terbuat dari emas murni yang diukir cantik sekali. Ratu Gloria dan Raja Juftin ke ruang makan dan duduk terlebih dahulu.


"Kemana Putri Alonia?" tanya Raja Juftin.


"Biar aku cari dia," jawab Ratu Gloria yang bergegas bangkit dari kursi.


Tetapi Putri Alonia sudah datang dengan gaun merah muda cantik dan terlihat ferminim sekali saat digunakan. Rambut panjangnya terurai indah dengan hiasan jepit rambut yang terbuat dari emas putih dengan bertaburan berlian.


Putri Alonia duduk dan dengan ceria ia melahap terlebih dahulu makanannya sebelum Ayah dan Ibunya makan. Raja Juftin hanya tercengang dan makan begitu pula dengan Ratu Gloria yang ikut makan.


"Ayah, aku ingin minggu depan ulang tahunku yang ke 16 tahun itu mengundang semua kerajaan di Auresta ini," kata Putri Alonia di tengah-tengah makannya.


"Bukankah itu sedikit berlebihan? Kita bisa mengundang rakyat saja," pendapat Ratu Gloria yang sangat tidak setuju.


Putri Alonia melepaskan sendok dan garpu makannya yan terbuat dari emas ke piring sehingga membuat bunyi yang memecahkan suasana kedamaian tersebut.


"Kalau begitu kita bisa undang rakyat sekaligus," kata Putri Alonia. "Temanku saja si Putri Dania berulang tahun dengan kemewahan dan mengundang semua pangeran. Ulang tahunku harus lebih mewah daripada dia."


"Baiklah kalau itu maumu," kata Raja Juftin.


Ratu Gloria menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jangan terlalu dimanjakan anakmu."


Raja Juftin memegang tangan kiri sang ratu yang berada di atas meja. Lalu Raja Juftin mengelus halus tangannya sambil mengisnyaratkan 'tidak apa-apa'.


"Terima kasih, Ayah." Tersenyum bahagia karena permintaannya terkabulkan.


"Berarti ujian masuk kesatria kerajaan harus dialokasikan ke kastil dan tidak bisa di istana karena ulang tahunmu sehari sebelum ujian," ujar Raja Juftin. "Dan pangeran Alex akan datang ke ujian tersebut untuk menjdi juri."


"Ya Tuhan!!! Pangeran Alex?!" kejut Putri Alonia. "Itukan pangeran terampan di Auresta ini!!!"


"Ayah, kalau uji..."


"Ujiannya tetap di kastil!" potong Raja Juftin dengan nada tegas.


"Kalau gitu aku akan menyusul dia ke kastil," ucap Putri Alonia.


"Tidak bisa, kamu akan membantu ibu untuk dekorasi, membeli kue, membuat gaun, memesan makanan, dan masih banyak lagi yang dibutuhkan untuk keperluan pesta ulang tahunmu," jelas Ratu Gloria.


Dengan perasaan kecewa bak menelan pil pahit, sang Putri Alonia harus pasrah dan ia tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Ia sangat menyukai Pangeran Alex dari dulu ketika ia masuk sekolah khusus untuk para putri. Ia pertama kali bertemu dengannya saat pesta dansa di sekolahnya.


Sekolah khusus untuk para putri adalah sekolah yang di dirikan di Kerajaan Penyihir Putih untuk mendidik semua para putri di Auresta untuk bertata kerama saat makan, berbicara, dan berjalan, belajar berdansa, serta melatih kekuatan yang dimiliki seorang putri. Begitu pula sebaliknya, ada sekolah khusus untuk para pangeran juga.


Walaupun ia tidak pernah berdansa dengan Pangeran Alex, tetapi ia ingin suatu hari nanti ia bisa berdansa dengannya. Putri Alonia memutuskan untuk mengakhiri makan siangnya dan berencana untuk pergi berbelanja di toko perhiasan.


"Apa kabar dengan Putri Blue? Aku sangat merindukannya" kata Ratu Gloria mulai membahas tentang putri pertamanya kepada Raja Juftn ketika Putri Alonia sudah pergi.


"Dia akan baik-baik saja."


"Seungguh? Bagaimana dengan perasaannya? Apa hanya karena kekuatan itu, dia mendapatkan hidup yang buruk seperti diasingkan dari kerajaan?" tanya Ratu Gloria bertubi-tubi.


"Jika dia dirawat di istana, ia akan menjadi gila kemewahan dan aku tidak ingin dia seperti putri Alonia," jawab Raja Juftin.


"Apa? Yang mendidik kemanjaan si Alonia adalah kamu! Kamu yang seharusnya menyalahkan dirimu dan jangan samakan semua orang karena sifat orang itu berbeda-beda," kesal Ratu Gloria lalu meninggalkan Raja Juftin sendirian di ruang makan.