AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
BLACK MAGIC



Olivia pergi ke luar sambil melihat kanan kirinya, ia pergi menuju taman belakang kastil yang terkenal karena sepi dan menyeramkan. Ia mengeluarkan tongkot sihirnya dan mengayunkannya ke udara dihadapannya. Secara ajaib, terbentuklah simbol dan ada seseorang itu muncul melalui simbol itu.


"Ada apa kau memanggilku?" tanya seseorang yang memakai jubah hitam bermata merah yang tak lain adalah si Mark.


"Apakah kau benar-benar tidak ingin mendengar berita dariku?" tanya Olivia.


Mark mengacungkan tongkatnya dihadapan Olivia dan membuat Olivia tercekik lalu tubuhnya terangkat ke atas. Olivia tidak bisa bernafas dan tongkatnya lepas dari genggamannya.


"Aku tidak suka basa-basi."


"A..aada anggota kerajaan yang diasingkan dan tinggal di kastil ini," kata Olivia yang tangannya berusaha memegang lehernya.


"Lalu apa masalahnya? Baguslah jika keluarga kerajaan ada masalah."


"Apa kau tidak curiga dengan permasalahannya? Kita bisa memanfaatkan permasalahan keluarga itu untuk mendapatkan kerajaan ini," jawab Olivia yang mukanya sudah pucat.


Si Mark melepaskan sihirnya dan membuat Oliva jatuh ke bawah dengan lemas. Mark memegang pipi Olivia dengan tangan kanannya dan berkata, "Selidiki permasalahannya dan tetap awasi prajurit kastil ini."


Sang puri tidak sengaja mendengar percakapan kedua makhluk itu dan ia sembunyi di balik pohon dengan perasaan ketakutan. Wajahnya pucat dan ia berharap kalau ia bisa kabur dan saat ia melihat ke samping, ada seekor laba-laba besar berwarna hitam. Karena laba-laba itu, ia menjerit sambil berlari mundur menjauhi pohon itu.


"Aku benci laba-laba," batin Putri Blue.


Putri Blue tersadar jika Mark mendekatinya dan itu membuat sang putri langsung spontan berbicara, "Aku disini hanya bermain petak umpet. Kalian tahu, kan? Ah... Aku tidak peduli apa yang kalian bicarakan jadi, anggap saja aku tidak ada."


Putri Blue membalikan badannya tetapi pinggangnya berasa diikat. Lalu Mark menyentuh pundak sang putri seraya berkata, "Aku tidak peduli, yang jelas kau harus mati."


Mendengar kata 'mati' membuat sang putri memasang muka tersenyum ke arah Mark dan berusaha mencairkan suasana agar tidak menjadi menegangkan padahal dirinya sendiri sangat ketakutan saat memandang wajah Mark. Ia sangat ingin lepas dari Mark dan tidak ingin mati tragis sebelum berperang.


"Percayalah, aku hanya gadis bodoh, bahkan aku tidak peduli dengan kerajaan ini bahkan Aurestra sekalipun," ucap Putri Blue yang memasang wajah menyakinkan.


"Kalau gitu, tidak masalahkan jika kau mati?"


"Sebenarnya aku menginginkan itu, tetapi hidupku terlalu berharga meskipun sangat menyedihkan," jawab Putri Blue yang  melepas tangan Mark dari bahunya.


"Aku bah..." sambung Putri Blue yang terpotong karena dengan tiba-tiba, Mark menggunakan sihirnya untuk menghempaskan Putri Blue ke arah pohon. Putri Blue sangat kesakitan terutama di daerah punggungnya yang merasa tulangnya patah seketika. Putri Blue mendengar langkah kaki menuju ke arahnya.


"Sial, aku akan beneran mati hari ini," gumam Putri Blue.


Putri Blue menutup matanya dan berpasrah diri, Mark  dengan lantangnya mengucapkan mantra sihir sihir hitam, "Teretcon Meu!"


"Peuscly!" teriak seorang gadis.


Putri Blue langsung membuka matanya dan melihat kearah depannya ada seorang gadis yang berdiri tegak untuk menghalagi mantra tersebut dengan mantra pelindung. Mark terkejut karena gadis penguping ini dilindungi oleh Olivia.


"Hentikan, Mark!" teriak Olivia. "Dia sepertinya tidak akan mengganggu rencana kita!"


Sang putri bertanya-tanya dalam dirinya kenapa gadis itu mau menolongnya padahal ia bersengkogkol dengan Mark dan gadis itu adalah seorang penghianat kerajaan Zarqo.


"Apakah kau bisa menjaminnya?" tanya Mark.


"Iya."


Mark menurunkan tongkatnya dan pergi menjadi burung gagak lalu terbang ke langit. Gadis itu menolong Putri Blue untuk bisa berdiri. Dengan ramahnya, ia menebar senyum yang mempesona, tetapi dianggap biasa saja oleh sang putri.


"Namaku Olivia," kata gadis itu yang mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


Putri Blue hanya melihat uluran tangan dan melangkah pergi. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk Olivia.


"Menyelamatkan diri lebih penting daripada perkenalan," batin Putri Blue yang memasang muka cuek di wajahnya.


Olivia mengejar Putri Blue dan mengatakan kalau ia akan mengawasinya. Sang putri berhenti berjalan dan memandang keseluruhan badan gadis yang bernama Olivia itu.


"Dia sexy dan wajahnya sangat imut, tetapi kalau dibading dengan tubuhnya mungkin sepertinya lebih tua daripadaku," pikir Putri Blue yang membandingkan tubuhnya yang tepos.


"Terimakasih, kakak tidak perlu mengawasiku, lebih baik sembuhkan luka kakak sendiri," ucap Putri Blue yang melanjutkan lagi langkahnya untuk pergi.


Olivia sengaja membiarka gadis itu pergi karena ia berfikir jika besok ia akan bertemu dengan gadis itu lagi.


Keesokan harinya, Putri Blue memelekan mata merahnya yang memiliki kantung mata berwarna hitam dibawahnya. Ia membuka selimutnya yang menyelimuti seluruh badannya hingga kepalanya.


"Aku tidak bisa tidur," kata Putri Blue."Aku mau hampir mati karena Mark."


"Perang sudah di depan mata, apa yang harus aku lakukan?"


"Bagaimana jika aku bilang kejadian kemarin ke Kapten Jeffry?"


Sang putri membayangkan kalau suana Kerajaan Zarqo menjadi panik dan ia membayangkan jika Mark dan Olivia akan lebih mudah memanfaatkan situasi ini untuk menyerang.


"Jangan beri tahu dia," kata Putri Blue yang sedang berbicara sendirian di kamarnya.


TOK TOK TOK


Suara pintu terdengar kencang, sang putri pun beranjak dari kasur dan membuka pintunya. Ia melihat sang kaptennya tiba di depan kamarnya pada pagi hari. Sang kapten melihat wajah Putri Blue yang terlihat seperti seekor panda.


"Baru dibayangkan, orangnya langsung datang," gumam Putri Blue.


"Apa?" tanya Kapten Jeffry.


"Anu.. Kapten Jeffry, bisakah kita belajar sihir?" tanya Putri Blue yang salah tingkah karena ia terkejut ucapannya terdengar oleh sang kapten.


"Tuan putri, Anda belum siap untuk mempelajari sihir."


"Kenapa? Apakah kau ingin melihatku mati tanpa sihir?"


"Bukan itu, seseorang yang mempelajari sihir haruslah bersikap dewasa dan jangan sampai jika sihir menguasai diri Anda," jawab Kapten Jeffry.


Putri Blue menghela nafas dan memandang sinis sang kapten sambil menyilangkan tangannya setelah mendengarkan jawaban kapten Jeffry yang menolak permintaannya.


"Kau pikir aku masih anak kecil? Umurku sebentar lagi 17 tahun dan aku tidak bersikap seperti anak kecil yang berusia 5 tahun," kata Putri Blue yang menunjukkan tangan yang berjumlah lima jarinya di depan Kapten Jefry.


"Tuan putri benar, hanya umur yang dewasa bukan berarti dengan sikap."


Putri Blue langsung menutup pintu dengan keras sekali dan berteriak, "Pergilah! Aku tidak ingin melihat mukamu!"


Sang putri bersandar di pintu. "Apa aku salah? kenapa aku melampiaskan emosiku ke dia?"


Putri Blue membuka pintunya kembali dan masih melihat Kapten Jeffry yang masih berdiri, ia memeluknya dan meminta maaf atas perilakunya. Sang kapten merasa aneh, tetapi ia juga merasa tidak terlalu peduli.


"Mau sarapan?" tawar Kapten Jeffry.


"Iya, tetapi aku makan disini."


"Baiklah."


Kapten Jeffry pun pergi, tetapi di panggil kembali oleh Putri Blue, ia memberi tahu kalau sang kapten harus hati-hati. Kapten Jeffry melempar senyuman ke Putri Blue dan membuat Putri Blue tersenyum dengan sendirinya.


"Kenapa aku tersenyum?" batin Putri Blue.


Ia menampar dirinya sendiri dan merasakan kesakitan. Putri Blue kemabli ke kamarnya dan menuju ke kamar mandinya lalu ia melihat wajahnya di cermin.


"Astaga... mukaku jelek banget. Dia tersenyum karena mukaku yang jelek," kata Putri Blue yang meraba kantung matanya yang berwarna hitam.


Terlintas ingatan wajah sang Kapten Jeffry yang tersenyum kepada dirinya yang membuat kedua pipinya merona.


"Ah!! Aku benci pikiranku!"