AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
THE DESTINY



Pelayan tersebut langsung memohon ampun kepada Mark karena ucapannya yang dinilai merendahkannya. "Maafkan aku telah lancang berbicara dibelakangmu."


"Jangan pernah berbicara dari belakang, itu membuatku muak dan ingin menghancurkanmu."


Mark melangkahkan kakinya melewati pelayan tersebut yang sedang menundukan kepalanya. Ia menggunakan portal sihir untuk pergi ke suatu tempat dan pada saat itulah si pelayan tersebut bisa bernafas lega kembali. Pelayan tersebut memukul mulutnya beberapa kali karena dari omongannya itu membuat dia hampir saja mati.


"Ah, dasar mulutku. Hampir saja aku tidak mati," katanya.


Pelayan itu kembali ke rombongan para pelayan sang putri menggunakan portal sihirnya. Ketiga para pelayan yang menunggu kedatangannya pun langsung menghampirinya dengan berbagai pertanyaan.


"Bagaimana? Apa hasilnya?"


"Apa maksud dari menggunakan hitam?"


"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Boleh makan diluar istana?"


"Kenapa wajahmu pucat?"


Pelayan yang menjadi utusan tersebut menjawab, "Hasilnya tidak ada, bahkan aku hampir saja mati karenanya."


"Aduh ... bagaimana ini?" khawatir para pelayan yang takut kepada Putri Blue yang kecewa dengan mereka semua.


Disisi lain, Mark keluar dari portal dan langsung ke ruangan Raja Carles yang mana disana juga ada Medusa yang sedang duduk di kursi. Merk langsung memalingkan wajahnya ketika ia mengetahui Medusa sedang bersama rajanya.


Raja Carles pada saat itu menatap jendela kaca yang menjulang tinggi sehingga ia membalikan badanya didepan Medusa. Mark berjalan ke arah Raja Carles tanpa melirik Medusa sama sekali dan ia berjongkok sambil menekukkan kaki kanannya lalu memberi hormat kepada Raja Carles.


"Ini aku, ada apa Yang Mulia memanggilku?"


Raja Carles menghela nafasnya kemudian ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada si tangan kanannya tersebut. "Apakah kau mengajarinya sihir hitam pada anak itu?"


Mark bangun dari sikap penghormatannya dan menjawab pertanyaan Raja Carles. "Kenapa Yang Mulia menanyakan hal itu kepadaku? Aku sama sekali belum mengajarinya sihir hitam apapun."


"Kalau begitu, kenapa dia bisa menguasai sihir hitam tanpa menggunakan tongkat dan hampir saja membunuh Medusa?"


"Aku benar-benar tidak tahu, Yang Mulia."


Medusa merasa bosan dengan omong kosong tanpa ada manfaatnya kepada Mark, ia pun berkata, "Hentikan omongan ini! Aku yakin, jika dia belajar sihir hitam ketika berada di Kerajaan Zarqo."


"Putri Blue yang memiliki kekuatan yang hampir sama dengan pangeran Alex, tetapi dia lebih unggul daripada pangeran Alex karena memiliki aura yang mirip dengan Blue, kita tahu jika Blue adalah makhluk spesial di Auresta dan kemungkinan ia bisa menggunakan sihir tanpa karena Blue memberikannya separuh kekuatannya kepada gadis itu," sambung Medusa.


"Kau benar, Medusa." jawab Raja Carles yang berfikir sama dengan Medusa sehingga ia menyetujui perkataan Medusa.


"Dia bukan makhluk sembarangan dan aku tidak yakin kalau dia benar-benar dipihak kita, mungkin saja dia berbohong untuk menusukmu dari belakang," kata Medusa yang mengajukan pendapatnya dalam diskusi kali ini.


"Itu tidak akan terjadi karena ketika dia berkhianat, dia akan mati. Cincin yang melingkar dijarinya akan membunuhnya secara perlahan," jawab Raja Carles.


"Aku mendapat laporan dari pelayannya jika dia ingin makan diluar istana dan menangis pada pagi hari," ujar Mark yang memberi tahu informasi yang ia dapatkan.


Raja Carles mengetahui sebab Putri Blue menangis karena ia melihat langsung sang putri ketika dilindung oleh Kapten Jeffry. "Dia menangis karena kehilangan kapten yang melindunginya dari seranganmu. Mark, kau temani dia untuk pergi ke luar istana dan latih kemampuan semua sihirnya, baik sihir hitam dan putih untuk menjadi lebih hebat."


"Baik, Yang Mulia."


Putri Blue yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut tidak melihat gaun apapun yang diletakan di atas kasur atau bahkan dipajang di ruangan ganti baju. Ia pun menemui para pelayannya dengan berbalutkan piyama mandi miliknya.


"Dimana gaun hitamku?" tanya Putri Blue dengan nada yang sedikit tinggi.


"Ma-maaf, tuan putri. Kami tidak mengerti apa maksud Anda tadi ..."


"Kenapa kalian tidak bertanya kepadaku jika tidak mengerti? Lupakan, ini salahku."


Putri Blue langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu lalu menutupnya, tetapi ditahan oleh Mark yang menemuinya secara tiba-tiba. Sang putri tidak menyangka kalau Mark datang membawakan gaun serta sepatu berwarna hitam untuknya.


"Huh? Ah ... iya," jawab Putri Blue yang awalnya terbengong ketika Mark berbicara kepadanya.


Pada akhirnya sang putri dan Mark pergi ke luar istina setelah Putri Blue mengenakan gaun dan sepatu hitam. Mark mengajaknya pergi ke kota Kerajaan Zarqo, mereka berdua berjalan bersamaan sampai pada akhirnya tiba di area pemakaman pahlawan.


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Putri Blue yang terhenti langkahnya didepan tugu pemakan pahlawan.


Mark membalikan badannya dan mengjhadap ke Putri Blue yang berdiri dibelakangnya. "Kau sedih karena dia, setidaknya aku mengizinkanmu untuk pergi menemuinya ketika dunia kalian sudah berbeda."


"Jangan lakukan ini, lukaku tidak akan pernah sembuh karena ini," jawab Putri Blue. "Kau tidak akan pernah tahu rasanya kehilangan orang yang berada disampingmu."


Mark terdiam mendengar jawaban dari sang putri. Ia melihat Putri Blue berjalan ke arah tugu yang sangat tinggi dengan lambang bunga mawar berwarna emas serta bertuliskan 'Kapten Sarah, Xio, Jack, Bella, dan Elle yang tercantum disana. Sang putri menghela nafasnya dan memegang tugu tersebut.


"Jenazah mereka tidak ditemukan makanya raja Juftin membuat tugu ini untuk menghormati jasa kepahlawanan mereka," ujar Mark. "Mereka menghilang secara miserius dan Ayahmu mengumumkan kematian mereka dua tahun yang lalu sebelum kelahiranmu."


"Bagaimana dengan Olla?" tanya Putri Blue. "Dia dimakamkan disini?"


"Tidak, dia dimakamkan di pemakaman kejahatan karena dia telah disebut penghianat."


"Kebenaran yang ditutupi oleh dengan fakta yang ada dengan melihat dari permukaannya saja tanpa menelusurinya lebih mendalam," kata Putri Blue sambil membersihkan debu yang mengotori nama Kapten Sarah berserta timnya.


"Itulah takdirnya," jawab Mark lalu ia mengajaknya pergi untuk makan ke tempat makan yang tidak jauh dari lokasi pemakaman dan disana mereka makan pagi walaupun suasananya sudah menjeng siang.


Sang putri dengan lahap memakan makanannya dengan menu daging cincang hingga menambah dua porsi makanannya seakan tidak pernah makan selama seharian dan membuat Mark tercengang karena ketika Putri Blue makan dengan lauk yang sama bersama Raja Carles, ia hanya memakannya sedikit.


Mark teringat waktu dulu bersama Kapten Sarah, ia juga makan disini bersamanya ketika pulah berziarah ke makam Orang tuanya Sarah. Sarah mengajaknya ke sini dan ia juga makan dengan lauk yang sama dengan Putri Blue dan sama-sama rakus dalam memakannya.


"Wah ... ini enak sekali," ucap Putri Blue. "Kau sangat pintar mencari rumah makan yang enak."


"Ini tempat Sarah makan ketika ia selesai mengunjungi makam Orang tuanya yang mati karena peperangan di wilayah selatan." jelas Mark.


"Kau mengenalnya dengan baik, tetapi kalian menjadi musuh ketika kau menghianati kerajaan ini. Apakah kau pernah memikirkan tentang perasaan Sarah?"


Mark tersenyum tipis. "Aku denganmu memiliki takdir yang sama. Tetapi kita berbeda cerita."


"Apa maksudmu?" tanya Putri Blue yang tidak mengerti omongan yang dimaksud Mark.


Mark tidak menjawab pertanyaan dari Putri Blue dan sampai pada waktunya latihan sihir pun si Putri Blue tetap memeberikan pertanyaan yang sama. Mereka latihan di ruangan perpustakaan yang berisikan rak buku yang menjulang tinggi ke atas dan diisi oleh buku-buku yang sangat banyak.


Mark menggunakan tongkatnya untuk memilih buku yang pantas untuk meningkatkan ilmu sihir Putri Blue, tetapi Putri Blue terus saja bertanya, "Apa maksudmu? Takdir?"


Mark menaruh buku sihir semuanya diatas meja dengan keras sehingga Putri Blue terdiam. "Apa bedanya kau denganku? Kau menyuruhku untuk memikirkan perasaan Sarah, tetapi akan aku tanyakan kembali, apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan pangeran Alex ketika kau melawan dengannya? Kau dengannya berada dipihak yang berbeda."


Mark berjalan ke arah Putri Blue dan mereka pun saling bertatapan, Mark pun melajutkan perkataannya. "Jangan pernah menganggap yang merasakan kehilangan hanya kau saja, kau pikir kejadian penculikan untuk menggabungkan kekuatan itu tidak menyisakan luka? Mereka hanya diam atas kekejaman pemerintahan Kakekmu, tetapi tidak denganku."


Putri Blue berfikir tentang kejadian penculikan, Kapten Jeffry pernah bercerita tentang kejadian penculikan ketika ia bersamanya sedang beristirahat di pinggir lapangan setelah latihan pedang, kejadian penculikan itu terjadi pada malam hari ketika rakyat di Kerajaan Zarqo sedang tertidur.


"Kau benar, aku ternyata egois dan hanya berfikir tentang diriku saja tanpa melihat penderitaan yang lain. Jadi, alasan kau berkhianat karena ingin membalaskan dendam mereka?" tanya Putri Blue.


"Bukan hanya dendam mereka, tetapi dendamku juga karena keluargaku direbut paksa atas kematian yang tidak berguna," jawab Mark. "Kerajaan Zarqo itu sama dengan kerajaan lainnya, tidak ada kerajaan yang 'baik' untuk memegang teguh kekuasaan."


"Sebagian dari kerajaannya tidak memperlihatkan kekejamannya. Sehingga mereka disebut dengan 'kerjaan baik'. Sedangkan kerajaan yang memperlihatkan kekejaman disebut 'kerajaan jahat'," sambungnya.


Putri Blue tidak tahu harus berkata apa, ia langsung mengambil salah satu buku sihir dan menunjukannya kepada Mark dengan berkata, "Sepertinya aku mengenal buku ini. Dulu, aku pernah membaca buku ini karena aku dipinjamkan oleh seseorang untuk belajar sihir hitam dan aku merusaknya. Kau tahu, tulisan dibuku ini hilang dengan sendirian dan aku tidak bisa belajar karenanya lalu aku kena hukuman."


Mark mengambil buku tersebut yang dipegang oleh Putri Blue. "Kau sungguh naif, kau merasakan kekejaman Kerajaan Zarqo, tetapi kau masih saja melindungi kerajaan itu sampai-sampai kau mengalihkan pembicaraanku denganmu. Aku merasakan kasihan denganmu karena kau dibutakan oleh suruan Ayahmu untuk merasakan pengganti kasih sayang mereka."


Tidak tahu kenapa, Putri Blue merasa apa yang dibicarakan oleh Mark ada benarnya juga dan membuatnya terdiam karena ucapannya. Mark memberikan kembali buku tersebut kepada Putri Blue. "Kau dilahirkan hanya sebagai bawahan yang diperintahkan oleh atasan, bukan sebagai anak dari mereka, itulah takdirmu sebenarnya."


Mark berjalan melewati sang putri yang berdiri tegak ditengah-tengah ruangan yang berisikan rak buku yang sangat tinggi. Hati Putri Blue berasa hancur ketika Mark mengatakan hal itu kepadanya, ia mengepal tanggannya untuk menahan rasa sakitnya seolah-olah tidak ada yang terjadi apa-apa walaupun sudah berlinang air mata.