AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
DAISY FLOWER



Putri Blue berniat kabur dan ia tidak sengaja menginjak serpihan kaca dari vas bunga yang jatuh, aksi kaburnya gagal karena ia telah terpegok basa ketika lampu di ruangan itu tiba-tiba menyala dan suara pria yang bersumber dari belakangnya bertanya, "Siapa kau?"


Putri Blue tidak membalikkan badannya serta menjawab pertanyaan dar seorang pria tersebut dan ia masih berniat untuk kabur dengan cara mengarahkan sihirnya ke hadapannya untuk bisa menciptakan portal. Saat sang putri mengeluarkan sihirnya, tiba-tiba tangannya dipegang oleh pria yang masih muda.


Putri Blue menatap wajah pria yang ia kenal sebagai pangeran. Pangeran Alex memegang wajah mulus milik Putri Blue dan menatap mata sang putri yang berwarna biru. "Kau masih hidup, ada apa dengan mata serta rambutmu?"


Pangeran Alex memeluk Putri Blue dengan erat dengan rasa senang yang beraduk campur dengan rasa khawatirnya kepada Putri Blue. "Jangan pergi dan membuatku merindukanmu."


"Maaf," ucap Putri Blue yang menepuk pelan punggung Pangeran Alex.


Pangeran Alex melepaskan pelukkan hangatnya. Putri Blue kaget ketika ia melihat sekeliling ruangan tersebut menggunakan bola matanya sendiri. Ia tersadar kalau ia sedang berada di kamar lalu bertanya, "Ini kamar siapa?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa malam-malam kau berada di kamarku?" tanya Pangeran Alex dengan kedua tangannya memengang pinggangnya.


"Aku salah masuk ruangan, aku sedang belajar sihir yang portal itu." Putri Blue langsung melihat vas bunga yang pecah lalu berjongkok untuk membersihkannya. "Maaf, gara-gara aku vas bungamu pecah dan membuat kamarmu berantakan karena ini."


Putri Blue memungut kaca yang berserakan dan membuat pangeran merasa kesal saat melihat kaki Putri Blue berdarah karena menginjak kaca tersebut.


"Jangan lakukan itu!" ucap Pangeran Alex.


Pangeran Alex langsung bertindak dengan cara menarik tangan sang putri untuk berdiri, tetapi Putri Blue menolaknya dengan berkata, "Jangan seperti itu, aku yang salah. Jadi, aku harus bertanggung jawab."


"Aku akan membersihkannya," ucap Pangeran Alex yang memunculkan tongkat sihirnya sendiri lalu menghilangkan kaca-kaca itu dengan sihir putih, termasuk kaca yang sudah diambil Putri Blue dan dipenggang tangannya.


 Putri Blue mengambil bunga yang berserakan dan Pangeran Alex mengulurkan tangannya lagi untuk membantu Putri Blue berdiri, dengan berat hati si Putri Blue menerimanya. Saat Putri Blue berdiri, Pangeran Alex menggendongnya dan membuat wajah Putri Blue memerah. Putri Blue dibawa ke kasur lalu ia duduk di kasur dan pangeran pun mengobati lukanya dengan mengambil obat-obatan herbal.


Pangeran Alex membersihkan luka sang putri dari kaca yang masih menancap di telapak kaki sang putri dan darahnya lalu mengoleskan cairan untuk mempercepat penyembuhan luka. Setelah selesai, Pangeran Alex menghilangkan kaca tersebut menggunakan sihirnya lalu mengembalikan kembali obat-obatannya ke tempat yang ia simpan.


"Terima kasih," ucap Putri Blue ketika Pangeran Alex kembali menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Jangan berterima kasih kepadaku, bagaimana jika kau salah masuk ke kamar pria yang tidak waras? Itu berbahaya, apalagi kau perempuan."


"Kenapa kau berbicara begitu?" tanya Putri Blue yang menatap wajah Pangeran Alex.


"Masuk ke kamar pria dimalam hari itu sama seperti kau masuk ke kandang serigala yang sedang kelaparan."


"Bagaimana denganmu?"


Pangeran Alex langsung mencubit kedua pipi Putri Blue dan berkata, "Aku bukan pria seperti itu."


"Aaa," ringis Putri Blue kesakitan karena pipinya di cubit lalu ditarik oleh Pangeran Alex.


Pangeran Alex tersenyum  ketika wajah Putri Blue terlihat jelek dan imut ketika di cubit. Tetapi tidak dengan Putri Blue yang merasakan sengsara karena sakit saat di cubit. Tak lama kemudian, Pangeran Alex melepaskan tangannya setelah Puri Blue meringis kepadanya.


"Itu hukumanmu saat masuk ke kamarku sembarangan," ujar Pangeran Alex. "Kau tinggal dimana?"


Putri Blue memalingkan wajanya lalu berkata, "Aku? ah ... aku tinggal di tempat yang lumayan nyaman. Kau


jangan khawatir tentangku." Sambil memegang tangan Pangeran Alex dan menatap kembali wajah sang pangeran.


"Oh ya, bunga ini ..." Menyerahkan kepada Pangeran Alex.


Pangeran Alex menatap bunga itu dan ia tersenyum tipis. "Itu bunga akan kuberikan untuk perempuan yang kusukai, tetap dia malah mati dan kembali dengan penampilan aneh apalagi dia masuk ke kamarku di malam hari."


"Terus kau masih menyukainya?"


"Masih dan bersyukur kalau perempuan itu tidak jadi mati."


"Bunga yang bagus," puji Putri Blue ketika bunga tersebut masih segar dan tidak menampakan kelayuan. "Kau merawatnya dengan baik."


"Kau menyukainya?" tanya Pangeran Alex kepada Puri Blue.


"Suka," jawab Putri Blue.


 "Ambilah, itu hadiahku untukmu."


Senang karena dikash bunga oleh Pangeran Alex, sang putri tersenyum malu ketika menerima bunga tersebut. Pangeran Alex melihat waktu yang semakin malam dan bertanya kepada Putri Blue. "Kau tidak tidur?"


"Aku sepertinya tidak bisa tidur," jawab Putri Blue yang terlalu bahagia karena pertama kalinya dikasih bunga.


"Kalau begitu, kau mau jalan-jalan denganku?"


 "Kemana?"


Pangeran Alex pergi ke sebuah ruangan yang berada didalam kamarnya dan Putri Blue mengikutinya. Pangeran Alex yang mengetahui kalau ia diikuti langsung berhenti dan memutarkan kepalanya. "Jangan ikuti aku, diam dulu disini."


"Baiklah," jawab Putri Blue yang kembali duduk di atas kasur sang pangeran.


Pangeran Alex masuk ke ruangan tersebut dan tidak lama kemudian ia keluar dengan penampilan yang berbeda, ia


memakai kemeja hitam dengan cenala berwarna hitam yang mana warna tersebut sama dengan gaun tidur berwarna hitam pendek yang dipakai oleh Putri Blue.


Putri Blue tertawa kecil karena penampilan Pangeran Alex yang berwarna hitam itu sama dengannya. Pangeran Alex memegang tangan Putri Blue dan dia membuka kaca jendela yang besar di kamarnya dan dengan tiba-tiba Pangeran Alex menggendong kembali sang putri.


"Kita mau kemana?" tanya Putri Blue.


"Nanti kau akan tahu."


______________________________________


DI KERAJAAN POLIP.


Salah satu petugas menerima undangan pesta ulang tahun Putri Alonia dan menyampaikan undangan tersebut kepada Raja Thaison yang masih memerhatikan kerajaannya dari atas menara bersama putrinya bernama Putri Ravta yang usianya sama dengan Putri Alonia.


Putri Ravta menerima undangan itu dengan mimik wajah yang tidak suka. "Hah, kerajaan sombong memberikan


"Coba saja kita serang kerajaan itu, pasti akan kalah sebab pertahanan kerjaan dia pasti lemah. Bukankah kapten Jeffry sudah tiada karena perang melawan raja Carles? Pasti seru kalau kita melawan mereka," sambungnya.


"Anakku, kau tidak boleh seperti itu."


"Ayah, dia telah mempermalukan aku ketika di akademi keputrian, dia menyiramku dengan air. Dia juga menghina


kerajaan ini, dia berkata jika kerajaan ini adalah kerajaan lemah dan hanya mengandalkan sayap saja. Dia tidak sadar jika dia tidak memiliki kekuatan dan hanya bermodal keturunan suci saja."


Putri Ravta memang sangat tidak akur dengan Putri Alonia, apalagi Putri Alonia sering pamer hiasan permata yang


melekat pada dirinya. Karena kesal, Putri Ravta pergi ke kamarnya untuk tidur. Pengawal yang mendampingi Raja Thaison pun angkat bicara ketika Putri Ravta sudah meninggalkan Ayahnya.


"Yang Mulia, bukankah itu sudah keteraluan? Itu namanya menghina bangsa Polip."


"Kau benar, hati putriku sudah hancur karena tindakan yang tidak terpuji oleh putri Alonia. Siapkan mata-mata


khusus untuk mengajari putri Alonia jika dia adalah makhluk yang lemah dan rendahan dibawah bangsa Polip ketika pesta berlangsung."


"Baiklah, Yang Mulia.


________________________________________


DI KERAJAAN PENYIHIR PUTIH.


Pangeran Alex mengeluarkan sayap besar dan putihnya yang berada di punggungnya itu dan membuat sang putri terpukau dan perasaan Putri Blue berubah drastis ketika Pangeran Alex loncat dari jendela tersebut kemudian terbang tinggi di udara.


Perasaan deg-degan sudah pasti menyapa jantung sang putri, bagaimana tidak kalau ia benar-benar melihat perkotaan di Kerjaan Penyihir Putih dari atas walaupun ia pernah merasakan sensasi terbang ketika ia menginap di salah satu rumah peri yang letak rumahnya diatas pohon.


"Berat badanmu berkurang, ya? Kau sangat ringan. Makanya kau harus makan yang banyak supaya tidak kurus seperti ini."


"Kenapa? Kau tidak suka?"


Pangeran Alex tidak menjawab pertanyaan sang putri, ia kembali terbang ke arah istana dan berhenti mendarat


di atas atap istana yang sangat tinggi. Pangeran Alex duduk di atas atap dan diikuti oleh Putri Blue.


"Kau tidak takut ketinggian?" tanya Pangeran Alex.


"Awalnya takut, tetapi aku sudah terbiasa terbang."


"Kau sudah pandai terbang?" tanya Pangeran Alex dan membuat Putri Blue menggelengkan kepanya. "Tidak, aku masih belum bisa terbang, aku baru saja belajar sihir dan hampir bisa mengalahkan Medusa, tetapi aku tidak membunuhnya."


Pangeran Alex langsung terkejut karena mendengar Medusa. "Medusa? Itukan anaknya Dewa ..."


"Ah ... itu tidak penting mau anaknya siapa, katanya Medusa akan mati, tetapi bukan karenaku. Makanya aku tidak membunuhnya. Lagipula aku bukan gadis yang lemah lagi," potong Putri Blue. "Aku sudah menjalani hari beratku sendirian."


"Kau sangat hebat," Mengusap kepala Putri Blue lalu memberikannya senyuman. Putri Blue ikut tersenyum ketika menatap wajah Pangeran Alex.


"Aku ingin kerajaan di Auresta berdamai dan aku ingin membuat kerajaan yang dibangun oleh cinta dan kehangatan," ucap Putri Blue kepada Pangeran Alex.


"Memangnya kau mau bikin kerajaan apa?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku akan memberikan namanya dengan sebutan Varanland."


Pangeran Alex tertawa karena khayalan Putri Blue yang terlalu tinggi. Putri Blue yang kesal langsung menatap sinis kearah Pangeran Alex dan menatap bintang-bintang yang bergelantungan diatas langit untuk menyejukkan suasana hatinya.


"Katanya tidak ada kata kerajaan baik di Auresta ketika menyangkut kekuasaan wilayah, tetapi aku ingin merubah Auresta ini dengan cara menetapkan wilayah supaya tidak ada peperangan," ujar Putri Blue.


"Pasti ada kerajaan yang baik," jawab Pangeran Alex.


Putri Bllue menghela nafasnya lalu menjawab, "Tidak ada, kerajaanmu juga kejam kepada rakyat Zarqo. Kerjaanmu


memberikan harga semurah-murahnya untuk membeli rempah-rempah kepada bangsa Peri kami lalu kerajaanmu juga menjual obat-obatan herbal dari rempah-rempah kami dengan harga setinggi-tingginya."


"Kerajaanmu tidak diakui oleh kerajaan lain kalau kerajaamu kejam. Hanya saja yang dapat merasakan kekejaman


kerajaanmu adalah Kerajaan Zarqo, terutama bangsa Peri kami. Kerajaan Penyihir hitam secara terang-terangan memperlihatkan kekejaman sehingga ia dimusuhi oleh banyaknya kerajaan di Aursta," sambung Putri Blue.


"Itu adalah bisnis," jawab Pangeran Alex.


Putri Blue merasa marah mendengar jawaban Pangeran Alex, ia menggenggam erat bunga yang ia pegang selama ini dan berkata, "Ternyata memang benar, kita dilahirkan untuk melawan satu sama lain. Jadi, jangan menyukaiku karena aku tidak menyukaimu."


Putri Blue berrdiri lalu membakar bunga tersebut menggunakan sihir yang keluar dari tangannya dihadapan Pangeran Alex. Abu dari bunga tersebut bertebangan yang diiringi oleh angin yang menerpa, Pangeran Alex tidak  tinggal diam, ia berdiri lalu memegang tangan sang putri untuk tidak pergi.


"Tunggu, aku tahu bisnis kerajaanku memang salah, jangan tinggalkan aku."


"Ada seseorang yang berkata jika aku adalah iblis dan aku dengar dari seseorang jika kau adalah malaikat. Dari awal kita dilahirkan untuk berbeda tujuan. Kau dilahirkan untuk menyerang Raja Carles dan setelah kau menang maka kau akan menyerang Kerajaan Zarqo karena ingin menguasai rempah-rempah itu."


"Karena bisnis bodoh kerajaanmu dan keserakahan raja Azka dalam melebarkan kekuasaan yang sama hatinya dengan raja Carles, memanfaatkanmu untuk menguasai dua kerajaan itu. Aku tidak akan tinggal diam dan anggap saja kita tidak pernah berjumpa sama sekali," sambung Putri Blue yang membuat Pangeran Alex tertegun lalu melepaskan genggaman tangannya.


Putri Blue mengeluarkan sihirnya untuk membuat portal yang mengarah ke arah kamarnya yang kemudian ia masuk kedalamnya. Portal tersebut kembali tertutup dan Putri Blue mengepal kuat tangannya dan berkata, "Seharusnya aku tidak jatuh cinta kepadanya."


Putri Blue terduduk diatas lantai kamarnya dengan suasana gelap nan dingin yang hanya disinari oleh rembulan dan cahaya bintang yang menembus kaca pintu kamarnya sedangkan Pangeran Alex kembali ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya ke kasur.


Pangeran Alex mengingat perkataan sang putri yang mereka bicarakan sehingga membuatnya ditolak. Ia kesal dan


beberapa kali mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa karena setiap ia tidur, perkataan Putri Blue selalu terdengar dan wajah cantiknya selalu terbayang.


"Kau bukan iblis, tetapi kau adalah malaikat yang sebenarnya," ucap Pangeran Alex. "Hatimu secantik bunga daisy."


Pangeran Alex selama ini merawat bunga daisy yang sebenarnya ia petik untuk diberikan oleh Putri Blue ketika perang telah usai, tetapi malangnya sang putri dikabarkan meninggal dan sejak itulah ia membawa bunga itu ke kamarnya lalu menaruhnya di vas bunga yang berisikan air. Ia memberikan sihir supaya bunga itu tidak layu dan selalu tampak segar.


Ia percaya jika sang putri tidak mati setiap kali melihat bunga daisy. Ia merindukan sang putri didalam keyakinannya sampai pada akhirnya ia melihat Putri Blue kembali didalam kamarnya sendiri dengan rambut yang berwarna biru bagian dibelakangnya seperti rambut seorang duyung dan matanya juga berubah menjadi biru seperti mata Blue si serigala.