AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
BUMI



Pada akhirnya, aku harus melepaskan segala keinginanku dan harapanku bersama dia.


Hei?! Aku tidak akan mati walaupun aku tidak bersamanya!


Walaupun ini sangat menyakitkan, tetapi aku harus melanjutkan hidupku.


Karena pada dasarnya aku tidak akan mampu melawan takdir yang telah dituliskan untukku.


Putri Blue mengungkapkan kepada Kapten Sarah dan timnya kalau ia ingin menjadi seorang peri dan dia ingin menjadi seorang penyihir tanpa memakan buah berry. Xio menggunakan sihirnya dan memunculkan kalung, Putri Blue mengenal kalung tersebut karena kalung itu adalah kalung pemberian Kapten Jeffry.


Xio berkata, "Tetaplah dirimu apapun yang terjadi."


Putri Blue memakai kalung itu karena ia sudah lama tidak memakainya dan menganggap jika kalung itu telah hilang. Disisi lain, Suci yakni si peri kecil yang telah menjadi sahabatnya Putri Blue menceritakan kepada ayahnya kalau ia bertemu dengan Putri Blue dan menyakini bahwa Putri Blue belum mati.


Ayahnya menenangkan dirinya, ia mengira jika Suci belum menerima kepergian Putri Blue. Suci tetap kekeh pada keyakinannya dan ia memutuskan untuk pergi keluar Hutan Terlarang dan menunggu Putri Blue kembali. Ia sangat yakin sekali karena ia melihat dengan kedua bola matanya, ia berharap jika Putri Blue belum mati.


Ia memandang langit yang dipenuhi bintang dan ditemani sang bulan, ia terus mengharapkan kehadiran Putri Blue dimalam yang sepi dan dingin ini. Ketika ia memejamkan mata kemudian kembali membuka matanya, ia melihat Putri Blue dengan balutan gaun berwarna biru sambil membawa lampu lentera dengan wajud peri yang terbang kearahnya.


"Kau masih hidup!"


Putri Blue hanya tersenyum tersipu malu dan mereka berpelukan. Suci meneteskan air matanya dan ia mengajukan banyak sekali pertanyaan kepada Putri Blue. "Bagaimana kau bisa berwujud peri? Kau dari mana saja? Ini beneran Putri Blue, kan?"


"Iya, ini aku. Aku main ke dunia yang bernama Aslaka dan aku memutuskan kembali ke dunia Auresta dalam wujud peri," jawab Putri Blue yang tersenyum.


"Aslaka? Dunia apa itu? Apakah itu surga?" tanya Suci.


"Tidak, yang penting aku berada disini."


Putri Blue dan Suci pada akhirnya kembali ke desa para peri dan disana semua peri terkejut melihat kehadiran Putri Blue. Putri Blue berkata kepada para peri untuk tidak takut kepadanya dan ia memohon untuk menyembunyikan identitas dirinya.


Putri Blue berjanji jika ia akan membangun desa para peri untuk lebih maju dan para peri tidak akan merasa terbuang di kerajaan yang telah berganti nama menjadi Kerajaan Varanland. Putri Blue juga menambahkan jika ia tidak akan tinggal di Hutan Terlarang ini.


Suci bertanya kembali kepada Putri Blue dengan keputusannya yang tidak ingin tinggal bersama para peri. "Kenapa kau tidak tinggal disini?"


"Biarkan aku untuk tinggal bersama kenanganku di pohon apel yang berlatarkan bunga Daisy," jawab Putri Blue.


Pada malam hari itu juga, Putri Blue pergi ke pohon apel yang dimaksudnya, yaitu pohon apel yang mana banyak kenangan yang tersimpan ketika berada disana. Ia membangun rumah sendirian dengan kekuatan sihirnya. Ia membangun rumahnya dengan kokoh diatas dahan pohon apel yang besar.


Keesokan harinya, Putri Blue kembali pergi ke Hutan Terlarang kemudian bekerja keras membantu para peri untuk bercocok tanam tumbuhan obat tradisional. Putri Blue bersemangat sekali untuk membantu mereka dan para peri sangat ramah menyambut Putri Blue.


Disana, Putri Blue belajar untuk menyebarkan benih kemudian merawatnya dari hama yang menyerang walaupun ia sendiri sebenarnya takut dengan hama tersebut, seperti hama ulat yang menyerang tanamannya. Suci hanya tertawa melihat Putri Blue yang ingin mengusir ulat, tetapi dia sendiri takut dengan ulat tersebut.


Putri Blue akhirnya menyerah dan berkata, "Aku tidak bisa mengusirnya! Bantuin, tolong. Jangan tertawa!"


"Iya, kau seharusnya belajar perasaan hewan, maka dia juga akan mengerti perasaanmu," jawab Suci.


"Belajar perasaan hewan? Hmm ... aku sudah mati rasa dan aku tidak mengerti perasaanku, bagaimana mungkin aku bisa mengerti perasaan hewan?" ujar Putri Blue.


Suci menggelengkan kepalanya dan mengusir ulat itu dengan kelembutan. "Jangan makan disini, disana ada pohon yang berdaun lebat dan lebih enak dibanding tanaman ini." Menunjuk pohon tinggi yang daunnya sangat lebat sekali.


Ulat itu mengerti dan ia berjalan turun dari tanaman itu lalu pergi ke pohon yang ditunjuk Suci dan Putri Blue berterima kasih kepada Suci karena telah membantunya.


LIMA BULAN KEMUDIAN.


Putri Blue yang sedang tidur nyenyak dibangunkan oleh Suci yang berteriak memanggil namanya sambil mengomel di depan rumahnya. "Woi! Putri Blue! Ayo bangun!! Kau sudah telat! Hari ini kita seharusnya ada transaksi jual beli ke kerajaan!"


Dengan mata yang setengah terbuka dan jiwa yang setengah sadar, Putri Blue terbangun dengan rambut panjang acakan dan kemudian ia berteriak, "Iya! Aku bangun!"


Putri Blue akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan melihat dirinya ke dalam cermin sambil berkata, "Aku masih cantik, aku tidak mandi."


Putri Blue hanya membersihkan giginya dan mencuci muka, kemudian ia merubah penampilannya dengan menggunakan sihirnya. Ia tampil dengan pakaian sederhana tanpa ada balutan kemewahan didalam dirinya. Ia memakai jubah penutup aura dan kemudian ia bersiap pergi untuk menemui Suci.


Dengan segera, si Suci menarik tangan Putri Blue dan mereka terbang bersama-sama. Mereka pergi ke kota Varanland dan ternyata kehadiran Putri Blue telah ditunggu oleh para peri lainnya yang disana. Putri Blue disuruh menghadap ke salah satu utusan kerajaan dan menawarkan hasil alam dari Hutan Terlarang.


"Total harnya 2 karung berlian," ucap seseorang dari kerajaan yang menilai hasil panen obat tradisional.


"Jangan bercanda! Kami tidak akan membeli dengan harga semahal itu!" bentak seseorang itu kepada Putri Blue.


"Baiklah, kami juga tidak akan menjual dengan kalian! Masih mending menjual ke kerajaan lain dibanding kerajaan ini!" balas Putri Blue dengan nada kuat. "Kalian pikir membuat obat tradisional itu mudah? Kalian saja menjual ke para rakyat dengan harga yang tidak masuk akal!"


"Beraninya kau berbicara seperti itu! Kau makhluk rendahan!"


Putri Blue menjawab, "Aku tidak menyangka raja Alex mempekerjakan makhluk lebih rendah daripada kami."


Putri Alonia pada saat itu sedang mengawasi jual beli obat tradisional dan ia mendengar perselisihan tesebut. Ia mendatangi mereka dan betapa terkejutnya Putri Blue bahwa sang Adiknya datang. Ia memalingkan wajahnya dan Suci mengerti tentang kondisi ini, ia segera mengambil posisi dari Putri Blue.


"Ada apa ini?" tanya Putri Alonia.


"Maaf, tuan putri. Para peri ini tidak ingin menjual seharga 2 kantong berlian dan mereka meminta menjual seharga 30 kantong berlian."


Putri Alonia menatap peri yang berjubah hitam dan Suci langsung berkata, "Kami ingin meningkatkan harga jual obat kami, jika kalian membeli semua obat kami maka harga obat kami ke rakyat Varanland ini seharusnya murah juga."


"Ambilkan 30 kantong berlian dan kasih ke mereka semuanya," jawab Putri Alonia.


Para peri langsung berterima kasih kepada Putri Alonia dan mereka bersorak kegirangan sedangkan Putri Blue hanya diam saja. Putri Blue berbisik kepada Suci untuk pergi dari sini, si Suci pun akhirnya permisi pergi dihadapan Putri Alonia.


Putri Alonia tidak curiga sedikitpun dengan peri yang memakai jubah hitam, ia berfikir kalau peri tersebut pemalu, tetapi tidak dengan Putri Blue yang khawatir kalau dirinya ketahuan. Putri Blue dan Suci kembali ke rumahnya Putri Blue yang diatas pohon apel.


Mereka duduk di dahan pohon apel sambil menikmati suasana bermekarannya bunga Daisy yang sangat indah. Suci melihat Putri Blue yang melepaskan jubahnya dan melipatnya kemudian meletakannya diatas kedua paha Putri Blue.


"Karenamu, ini pertama kalinya kami mendapatkan 30 kantong berlian dalam sekali panen. Terima kasih banyak, Putri Blue," ucap Suci yang kegirangan.


Putri Blue hanya tersenyum datar tanpa berbicara apapun. Suci mengepakkan sayapnya kemudian terbang dihadapan Putri Blue yang terlihat tidak bahagia sama sekali. "Hei! Kau seharusnya bangga karena sudah menepati janjimu kepada para peri! Putri Alonia tidak akan mengenalmu dan tidak akan uriga, percayalah padaku!"


"Iya, aku tahu," jawab Putri Blue.


"Ya udah, aku akan kembali kesini dan membawakan berlian untukmu!" seru Suci yang memerintahkan Putri Blue untuk tetap dsini menunggu Suci kembali.


"Iya!"


Suci pun pergi untuk mengambil berlian, Putri Blue hanya duduk sambil menikmati hembusan angin yang membuatnya nyaman. Tiba-tiba ia melihat seseorang pria muda dengan berpakaian aneh sambil membawa buku, Putri Blue memerhatikan pria tersebut dari kejauhan.


Pria tersebut seperti seseorang kebingungan dan berjalan ke pohon apel. Putri Blue terbang untuk bersembunyi di dedaunan pohon apel. Pria itu mendengak keatas pohon apel dan melihat rumah Putri Blue, kemudian berkata, "Seharusnya dia ada disini."


Putri Blue hanya diam, jantungnya berdegup dengan kecang, dan batinnya bertanya-tanya tentang siapakah pria tersebut. Lalu, Pria tersebut menyebut nama dirinya. "Putri Blue! Aku tahu kau disini! Tolong keluarlah, aku butuh bantuanmu!"


Putri Blue hanya diam dan dan tidak ingin menjawab omongan dari pria aneh tersebut. Kemudian pria itu tidak menyerah, dia berkata, "Aku datang dari masa depan dan dari planet bernama Bumi! Di masa depan, kejahatan penyihir hitam akan masih ada! Aku tahu kalau kamu sedang bersembunyi dibalik dedaunan itu!"


Putri Blue akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan ia merubah wujudnya menjadi penyihir dihapan pria aneh itu. Pria itu senang dan Putri Blue bertanya, "Siapa kau?"


"Perkenalkan, nama saya Raka Sidiq, uhm .... saya seorang profesor yang meneliti Auresta sekaligus pencipta teknologi masa depan di Bumi," jawab pria tersebut.


Putri Blue menatap mata pria yang bernama Raka Sidiq itu dan ia melihat hal yang mengerihkan yang terjadi di dunia yang baru ia lihat. Terlihat jelas wajah kebingungan pada Putri Blue, ia bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ini karena hubungan Auresta dengan Bumi dimasa depan, kau harus menyelamatkannya!"


"Darimana kau tahu kalau aku masih hidup?"


"Aku meneliti buku yang bernama DAISY FLOWERS," jawab Raka.


"Dimana buku itu sekarang?" tanya Putri Blue yang penasaran.


"Buku itu sekarang ada di istana dan aku menyalinnya diam-diam ketika di istana."


Buku yang berjudul AURESTA di tempat kerjanya mantan Raja Juftin berubah menjadi DAISY FLOWERS dan hal ini diketahui oleh Raja Alex yang sedang memeriksa lembaran kerja dari Raja Juftin yang berantakan. Raja Alex membaca jika Putri Blue belum mati dan kelak akan melawan kejahatan dimasa depan seperti ramalan yang dituliskan oleh buku itu.


-TAMAT-