AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
LUNCH



Putri Blue mencoba berekspersi dengan santai berkata, "Aku tidak mau berbicara denganmu karena aku tidak menyukaimu."


"Ayo kita pergi dari sini, Olivia," sambung Putri Blue yang pergi berjalan ke arah kiri lalu disusuli oleh Olivia dari belakang.


"Kenapa hatiku merasakan sakit?" batin Pangeran Alex. "Tidak, yang benar saja. Aku tidak jatuh cinta dengannya."


Saat Olivia dan Putri Blue pergi, tiba-tiba Pangeran Alex bertemu dengan asisten pribadi Raja Azka berserta para pengawalnya. Selain menjadi asisten Raja Azka, Zefron juga mendapatkan kepercayaan dari Raja Azka untuk menjadi asisten pribadinya Pangeran Alex.


"Kau dari mana saja, Pangeran Alex?" tanya Zefron yang cemas.


Kedua tangan Pangeran Alex memegang pinggangnya dan bersikap santai di hadapan Zefron sambil berkata, "Aku hanya jalan-jalan sebentar."


"Bagaimana kau bisa jalan-jalan saat situasi ini? Untung saja kau tidak tersesat!" omel Zefron. "Kerajaan Zarqo sedang kacau karena kastil di selatan telah ada pembunuhan prajurit."


Pangeran Alex terkejut dan teringat gadis yang bernama Blue yang telah membunuh para prajurit. Ia sudah menduganya jika gadis itu sangat berbahaya walaupun kecantikannya juga ikut berbahaya. Pangeran Alex sudah


berfikir kalau Blue adalah pelaku. Ia ingin menyusulnya, tetapi Blue dan Olivia sudah hilang dipandangan.


"Aku akan mencari pelakunya," kata Pangeran Alex dengan semangat karena pemikirannya tidak mungkin meleset.


"Pelakunya sudah tertangkap, kau tenang saja Pangeran," jawab Zafron.


"Apa?!" kejut Pangeran Alex yang tidak percaya kalau pelakunya sudah tertangkap.


"Ayo cepat naik kudamu, kita sudah terlambat untuk rapat!" suruh Zafron.


Pangeran Alex menaiki kudanya dan didalam perjalanannya ia tetap tidak percaya jika pelakunya sudah tertangkap. Ia terus mencurigai Blue dan mungkin saja Olivia terlibat dalam ini. Ia menyakini jika mereka adalah pelaku sebenarnya.


"Blue, aku akan menemukanmu." ucap Pangeran Alex.


Putri Blue dan Olivia berjalan ke arah pasar rakyat, disana banyak sekali makhluk-makhluk aneh dan membuatnya


terkejut. Ia berhenti dan Olivia tahu kalau sang putri berhenti lalu menatapnya dengan keheranan.


"Ada apa?"


"Aku tidak pernah kesini dan aku tidak nyaman dengan keramaian."


Olivia merangkul bahu dan tersenyum ke arah Putri Blue, Putri Blue melihat senyuman Olivia seperti seorang psikopat dan curiga kalau Olivia akan berencana buruk terhadap dirinya. Putri Blue tahu jika Olivia ini penyihir hebat apalagi ia telah bersekutu dengan Raja Carles jadi, Putri Blue harus bersikap dengan hati-hati.


"Kau mau ke kastil? Aku sudah bilang ke Kapten Jeffry kalau kau sedang shock atas pembunuhan di kastil dan aku sudah meminta izin dengan Kapten Jeffry untuk membawamu jalan-jalan."


"Hah?!" Putri Blue tercengang dengan lontaran perkataan Olivia kalau si Kapten Jeffry telah mempercayakan Olivia untuk jalan-jalan bersamanya.


"Ayo kita makan, aku lapar. Apa kau tahu kalau balas dendam itu harus butuh tenaga yang banyak," ajak Olivia yang langsung mendorong Putri Blue ke arah pasar yang sangat ramai dikunjungi.


Mereka berjalan-jalan melewati makhluk-makhluk aneh yang menjajakan jualannya. Putri Blue sama sekali tidak tertarik dengan dagangannya dan ketika pedangang itu melihat dirinya, langsung saja sang putri tersenyum dengan makhluk aneh tersebut.


Olivia dan Putri Blue sampai pada di sebuah kedai kecil menyajikan makanan dan banyak sekali makhluk-makhluk seram dimata Putri Blue berkunjung. Dalam keadaan ketakutan, Putri Blue sungguh tidak menyangka kalau dia akan disini.


Tangan Olivia ditarik oleh sang putri lalu menggelengkan kepalanya seakan ia tidak ingin berkunjung ke sana. Oliva tertawa melihat tingkah sang putri yang memelaskan diri dan mengelus kepala sang putri. "Tidak apa-apa, mereka semua tidak akan membuat masalah denganmu."


KRUUYYUUKK


Suara perut sang putri terdengar jelas dan membuat dirinya malu dihadapan Olivia. Olivia menahan tertawanya dan merangkul Putri Blue sambil berkata, "Aku akan mentraktirmu. Ayo!"


"Huft ..." Menghela nafas sang putri dan ia harus mau tidak mau menerima ajakan Olivia dan melawan rasa takutnya karena ia tahu Olivia bukan penyihir biasa dan mungkin dia bisa membantu sang putri untuk bisa memberikan buku sihir hitam yang berada di akademi penyihir hitam.


"Baiklah kita makan bersama di kedai itu," jawab ajakan Olivia.


"Tidak sia-sia aku menyelamatkan dia, selain dia bisa menjadi ancaman di kerjaan ini, tetapi ia juga bisa ikut bergabung di pasukanku," batin Olivia yang senang karena menurutnya ia berhasil memasukan sang putri ke dalam perangkapnya.


Mereka berdua masuk ke dalam kedai dan duduk di meja makan. Gestur tubuh Putri Blue sangatlah menunjukkan


kegelisahannya dan sesekali ia melirik kanan dan kirinya. Olivia tersenyum saja dan memanggil pelayan, ketika pelayan itu datang, langsung saja Putri Blue berteriak keras.


"Waaaaahhh!!!!" heboh Putri Blue.


Karena teriakkan Putri Blue, semua pengunjung kedaipun dengan serentak melihat ke arah sang putri dengan tatapan aneh dan tidak biasa. Putri Blue masih saja memejamkan mata dan tubuhnya gemetar. Olivia tidak menyangka jika ketakutannya lebih besar bertemu dengan Golbin daripada membunuh para prajurit.


"Maaf, apakah aku membuatmu takut?" tanya seorang pelayan berwujud Golbin.


Golbin adalah makhluk kerdil yang kurus, badannya tegap, berkulit hijau, dan bertelinga runcing. Wajah mereka sangatlah sangar dan mereka selalu di identikkan dengan makhluk yang jahat dan suka merampas emas milik orang lain.


Putri Blue membuka matanya karena ia mendengar makhluk aneh itu meminta maaf untuknya. Ia tidak menyangka makhluk itu bisa meminta maaf dan ia pun merasa bersalah dengan makhluk itu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf," kata Putri Blue dengan muka yang menyesal dan harus menutupi rasa takutnya.


Olivia langsung saja memesan makanannya dan minimannya pada Golbin, lalu Golbintersebut mencatatnya dikertas. Setelah Golbin tersebut pergi, Putri Blue langsung betanya kepada Olivia tentang si Golbin tersebut.


"Bukankah bangsa Golbin itu sudah tunduk dengan Raja Carles? Kenapa dia disini?"


"Iya, Kerajaan Golbin telah tunduk, tapi Kerajaan Zarqo itu sangat istimewa penduduknya karena dari berbagai kerajaan, bangsa manusia biasa saja bisa hidup disini."


"Ah ... kau bicara seperti Kapten Jeffry."


Tidak lama kemudian, makanan itu datang dan diantarkan oleh Golbin ke meja Olivia dan Putri Blue. Sang putri merasa kasihan dengannya karena Golbin tersebut melayani banyak pengunjung tanpa henti.


"Namamu beneran Blue?" tanya Olivia mendadak bicara.


"Iya," jawab Putri Blue yang menyakinkan.


Putri Blue meminum minumannya dan Olivia bertanya, "Kau dari keluaga kerajaan yang mana?"


Sontak saja Putri Blue terpencok minumannya mendengan pertanyaan Olivia. Ia bingung harus menjawab apa dan ia tahu kalau identitasku sebagai sang putrj harus dirasiakan bahkan tidak boleh ada yang tahu tentang Putri Blue.


"****** ... aku harus jawab apa?" batin Putri Blue yang kebingungan sekali.