AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
PURSUIT



"Apakah aku seperti pengemis? Aku memberi tahu fakta supaya hak Olla terpenuhi dan membersihkan namanya," jawab Putri Blue. "Memangnya aku ini apa dihadapanmu?"


 "Aku bukan matrialistis dan aku tidak butuh pengakuan seorang putri dan aku tidak berharap menjadi putri disini." ucap Putri Blue kepada Raja Juftin yang membuat sang raja pergi dari ruangan tersebut.


Ketika bersamaan, Ratu Gloria masuk ke ruangan Putri Blue untuk memberi tahu ke suaminya jika Putri Alonia telah sadar dan ia tidak tahu jika ada Putri Blue disitu. Ratu Gloria berkata, "Yang Mulia, putri kita sudah sadar."


Putri Blue yang mendengarkan itu langsung tertunduk kaku sambil menahan nafas yang kemudian memejamkan matanya. Ratu Gloria menoleh kesebelahnya dan melihat sang putri yang tengah duduk sambil menitihkan air mata. Raja Juftin menghalau Ratu Gloria untuk bertemu Putri Blue dan menyeretnya keluar.


Setelah raja dan ratu telah pergi, Putri Blue membuka kelopak matanya dan ia bisa bernafas kembali. Sang putri melihat kearah jendela yang mana cuaca sedang mendung, tetapi hujan telah reda. Putri Blue menginjakkan kakinya ke lantai bawah kasurnya dan berjalan menuju ke jendela.


Kemudian dia membuka jendela tersebut dan berkata, "Aroma hujan."


Putri Blue membuka bajunya dan merobek bajunya tersebut di area punggungnya dengan bantuan sihir supaya tidak menghalangi munculnya sayap yang kemudian memakainya kembali lagi. Putri Blue membuka jendela lalu melihat kearah bawah jendela.


"Tinggi sekali."


Putri Blue menjatuhkan dirinya dan terjun bebas dari ketinggian lantai lima yang bangunannya terbuat dari batu yang ditumpuk. Ketika Putri Blue terjun, sayap perinya keluar dan ia bisa terbang dengan bebas tanpa diketahui siapapun.


Putri Alonia yang sadar terus saja berbicara kepada tabib yang merawatnya. "Kakak, dimana Kakak? Dia yang memiliki mata biru dan sebagian rambut dibelakangnya berwarna biru juga! Dimana dia sekarang?"


Ratu Gloria langsung menggenggam kedua tangan Putri Alonia dan berkata, "Tenanglah."


"Ibu, Kakak menyelamatkanku," ucap Putri Alonia dan ia melirik kearah Ayahnya. "Ayah, dimana dia? Aku ingin meminta maaf kepadanya. Aku salah."


Putri Alonia menangis dan terus saja bertana keberadaan Putri Blue. Raja Jeffry selaku Ayahanda Putri Alonia pun tampak kebingungan. "Apa yang terjadi ketika malam itu?"


Putri Alonia menceritakan semuanya kepada kedua Orang tuanya. "Putri Ravta dan ketiga anak buahnya ingin membunuhku dan aku hampir saja jatuh keluar kamarku dan putri Blue datang menyelamatkanku karena aku ingat hanya dia yang berada diluar istana. Dia melindungiku dan memanggil aku dengan sebutan 'adik' kemudian mengancam mereka semua."


"Sebenarnya aku tidak memiliki masalah terhadap putri Ravta, tetapi aku terus saja diejek karena tidak memiliki kekuatan. Jadi, aku suka mengerjainnya untuk membalas dendam dan mengejeknya, tetapi aku tidak bermaksud untuk mengejek Bangsa Polip," sambung Putri Alonia dengan isak tangis yang menderai di matanya.


Putri Blue yang mendengar percakapan itu di jendela dan langsung melanjutkan penerbangannya dengan melesat ke hutan terlarang. Ia sengaja untuk terbang tinggi supaya tidak terlihat oleh makhluk lain terutama Penyihir yang bisa melihat auranya. Ia terbang menembus awan hitam dengan sihir biru yang melindungi dirinya.


Raja Juftin menyesali keputusannya dan perbuatannya terhadap Putri Blue. Ia bergegas pergi ke ruangan sebelah dan ia melihat kalau ruangan itu kosong serta jendela yang terbuka lebar. Raja Juftin memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menemukan Putri Blue.


Akhirnya Putri Blue mendarat dengan selamat didepan Hutan Terlarang dan sayapnya menghilang. Ia berlari masuk ke hutan tersebut untuk mencari Suci si peri kecil yang pernah meminta bantuan kepadanya dulu. Dan ia berteriak didalam hutan. "Suci!"


Dikarenakan teriakan sang putri, para peri yang lain takut dan bersembunyi. Peri adalah makhluk kecil yang pemalu terhadap makhluk asing. Putri Blue berteriak kembali. "Aku membutuhkan bantuan, ini aku ... Blue."


Para peri kemudian keluar dari persembunyiannya dan Suci menghampiri Putri Blue yang kemudian berkata, "Ini kau, Blue? Kau berubah!"


"Aku tahu, tetapi aku tetap cantik," ucap Putri Blue sambil tersenyum.


Suci kemudian terbang seperti mencari sesuatu. "Dimana Olivia?"


"Dia mati," jawab Putri Blue.


"Oh ... Hey kalian semua! Dia ini adalah seorang pahlawan kita yang telah diramalkan selama ini! Dan dia yang telah membawa para peri Naiad!"


Kemudian para peri lainnya mendekati Putri Blue dan menari tangan sang putri seakan ingin menunjuk sesuatu. Putri Blue diarahkan ke kota para peri dan para peri suka cita menyambut kedatangan Putri Blue. Suasana hati sang putri berubah menjadi ceria dan tersenyum bahagia.


"Kau adalah keluarga kami, Blue. Jadi, jika kau membutuhkan apapun, katakan kepada kami," ucap Ayah dari Suci yang ikut menyambut Putri Blue.


"Aku sebenarnya membutuhkan buah berry yang bisa mengecilkan tubuhku dan membesarkan tubuhku untuk kabur dari sini," jawab Putri Blue.


"Ceritanya panjang, intinya raja Thaison sudah menyatakan perang terhadap kerajaan ini dikarenakan khasus putri Ravta dengan putri Alonia. Aku harus meluruskannya, tetapi perbatasan semaki diperketat dan portal sihir tidak ada gunanya sama sekali," jelas Putri Blue kepada para peri.


Ayah dari Suci memberikan buah berry yang dimaksud oleh Putri Blue dan Putri Blue sangat berterima kasih. Suci memperhatikan cincin yang dipakai oleh Putri Blue karena ia tidak asing dengan cincin tersebut. "Darimana kau mendapatkan cincin itu?"


"Akan aku ceritakan kepadamu nanti."


Putri Blue pergi keluar dari hutan tersebut dan terbang kearah perbatasan. Ketika hampir dekat ke perbatasan, ia memakan buah berry tersebut hingga menjadi kecil selayaknya peri pada umumnya. Dengan lincahnya ia terbang melewati para penjaga perbatasan dan ia berhasil lolos sesuai dengan rencananya.


Putri Blue membuka portal lalu ia masuk ke dalam portal tersebut. Ia berada di penjara bawah tanah di Kerajaan Penyihir Hitam dan berkata, "Kenapa aku disini? Bagaimana caranya aku bisa menguasai portal sihir?"


Putri Blue melihat seorang wanita dengan baju yang berdarah dan terkapar dibawah lantai, ia pun terbang ke wanita tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika ia menemukan Ambert dengan wajah yang pucat dan bibirnya mengelupas. Putri Blue memakan buah berry lagi supaya ia bisa menjadi normal dan membangunkan Ambert.


"Ambert! Ada apa? Kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Putri Blue yang memegang wajah Ambert.


Ambert yang terbangun langsung mencekik leher Putri Blue dan berkata, "Ini salahmu! Kenapa kau tidak datang? Semuanya mati karenamu!"


Putri Blue terus memegang kedua tangan si Ambert, ia tidak bisa bernafas sama sekali. Suara Ambert terdengar oleh para penjaga tahanan dan membuat mereka memeriksa sel kembali. Mereka menemukan Putri Blue yang sedang dicekik oleh Ambert dan segera membuka sel tahanan.


Mereka mengarahkan sihirnya ke Ambert hingga si Ambert mengeluarkan darah dari mulut yang kemudian mati dihadapan Putri Blue. Putri Blue marah sekali kepada penjaga tersebut dan berkata, "Apa yang kalian lakukan kepadanya?!"


Panjaga tahanan itu menjawab, "Itu demi keamanan tuan putri. Yang Mulia Raja sedang mencarimu."


Putri Blue berjalan keluar penjara bawah tanah dan menuju ke istana dan sayapnya menghilang dengan sendirinya. Sesampainya di istana, ia berhadapan dengan Mark dan menatap tajam kearah mata Mark. "Kau sudah aku peringatkan supaya tidak pernah mengganggu para pelayanku dan kita ini bukan musuh!"


"Aku tidak akan pernah mendengarkan perkataanmu, kau bukan siapa-siapa aku," ucap Mark yang membuat Putri Blue semakin muak dengan tingkahnya.


"Baiklah jika itu maumu," jawab Putri Blue dengan menahan emosinya.


Putri Blue pergi ke ruangan Raja Carles dan bekata, "Kenapa Ayah melakukan ini?"


Raja Carles yang sedang membaca buku langsung menutupnya dan menjawab pertanyaan dari Putri Blue. "Kau membebaskan nyawa, tetapi mencabut nyawa lainnya."


"Apa? Jadi, para pelayanku mati semua karena aku?"


"Iya. Jangan terlalu baik kepada semua makhluk karena kau juga akan menanggung akibat dari terlalu baiknya dirimu. Aku mendapat laporan jika hubungan Kerajaan Zarqo dengan Kerajaan Polip dan Kerajaan Penyihir Putih merenggang dikarenakan kau dan putri Alonia, tetapi kau terlibat juga terhadap permasalahan putri Alonia."


"Jika benar, kenapa? Apakah Ayah akan menghukumku karena terlibat kesemua permasalahan ini?" tanya Putri Blue yang membuat Raja Carles tertawa.


"Hahaha ... aku akan menghukummu dengan misi. Kerajaan Polip akan berperang dan aku ingin kerajaan itu jatuh ke tangan aku. Jika tidak, kau akan mati dengan segera."


"Baiklah, tetapi ada tiga syarat," ucap Putri Blue.


"Okey, apa saja itu?"


"Pertama, aku ingin membuh Mark. Kedua, aku ingin para tahanan bebas berserta budak. Dan ketiga, biarkan aku bebas, tetapi kau bisa memanfaatkanku dalam segala bidang."


"Akan aku kabulkan semuanya, tetapi nyawamu tidak akan selamat."


Putri Blue menjawab, "Kau tidak perlu khawatir, akan aku tanggung risiko yang ada."