AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
UNEXPECTED MEETING II



Putri Blue berjalan di tengah kabut hutan dan melewati kota Liary sendirian. Sebenarnya ia takut, tetap ia harus memaksakan dirinya sendiri untuk berani supaya bisa menemui Blue. Ia berjalan hanya mengandalkan ingatannya dan juga pencahayaan dari lentera yang diberikan oleh Suci.


Suci suka sekali mengoleksi barang manusia dan menyimpannya di belakang pohon. Jadi ia mengambilkan lentera tersebut dan menyalakan api lalu diberikan ke Putri Blue untuk bisa menemui Blue di tengah-tengah hutan.


Setelah ia keluar dari kota menuju ke tengah hutan, ia ragu untuk memilih jalannya dan ia ingin kembali, tetapi ia tidak ingin melanggar janji. Jadi, secara mendalam ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dan memilih jalan sesuai dengan hati nuraninya.


Di tengah-tengah hutan banyak sekali suara berisik seperti suara hewan, ia mulai ketakutan dan berfikir kalau ia harus cepat-cepat menemukan Blue sebelum dimakan oleh hewan-hewan buas. Ketika pandangan Blue mulai tajam yang suka melirik kanan dan kiri.


Ia melihat ada hewan yang bersembunyi dibalik rimbunan pohon. Sontak saja, bulu kuduk Putri Blue berdiri dan matanya terbelalak membersar, ia sungguh takut jika ia berakhir dimakan oleh hewan buas penunggu hutan terlarang. Putri Blue mulai perlahan berjalan mundur dengan santai tiba-tiba...


BRUK


Putri Blue menabrak sesuatu dan ketika ia melihat kebelakang, ia terkejut dengan sosok yang ia tabrak. Ia menabrak manusia dengan jubah putih dan menutupi mukanya dengan tudung dari jubahnya itu.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Putri Blue.


"Gadis yang pemberani, ke tengah hutan dan sendirian. Ck ... ck ... ck ..."


Putri Blue kaget karena mengenal suara itu dan menunjuk seseorang lalu berkata, "Pangeran Alex."


Sang pangeran membuka tudungnya dan memperlihatkan wajahnya yang tampan, memiliki bola mata yang hitam legam, berambut hitam, hidungnya mancung dan berkulit putih bersih.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Putri Blue.


"Dasar ... kau bahkan bisa memanggilku dengan sebutna 'kau'," ucap Pangeran Alex yang membuat Putri Blue tersadar tentang tata krama dalam berucap yang diajarkan oleh Nyonya Anna.


"Tapi, kau bebas memanggilku apa saja," sambung Pangeran Alex.


Putri Blue merogoh kantongnya dan mengambil sapu tangan milik Pangeran Alex. "Ini ... kau datang pasti untuk mengambil ini."


Pangeran Alex memandang sapu tangannya yang telah kotor dan ia menolak untuk dikembalikan. Bahkan menyuruh sang putri untuk menyucikan sapu tangannya terlebih dahulu sebelum dikembalikan. Putri Blue yang mengerti langsung menyimpannya kembali.


"Sebaiknya kau pulang," ucap Putri Blue.


Pangeran Alex mulai marah dan tidak sengaja ia berkata, "Pulang? Aku sudah jauh-jauh untuk menemuimu."


"Apa?"


"Maksudku, aku menginap selama seminggu disini dan aku kabur untu menemuimu dan lebih tepatnya untuk menemui sapu tanganku," jelas Pangeran Alex. "Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau disini?"


"Bukan urusanmu, pergilah!" bentak Putri Blue kepada Pangeran Alex.


Tiba-tiba salah satu hewan mulai terusik oleh keributan Pangeran Alex dan Putri Blue. Hewan tersebut menampakkan dirinya dan membuat Putri Blue merinding ketakutan. Makhluk itu disebut dengan Griffin yang memiliki sayap dan kepanya seokor elang, tetapi badan dan kakinya seekor singa.


Pangeran Alex maju dan menghadapi si Griffin tersebut dengan mengeluarkan pedangnya yang ia sembunyikan di dalam jubahnya. Putri Blue menggunakan kekuatan alam dan ia menyadari kalau dirinya dan Pangeran Alex telah salah akibat terlalu berisik di hutan.


Putri Blue memegang lengan tangan Pangeran Alex, lalu dia menoleh ke samping dan menatap wajah Putri Blue. Putri Blue berkata, "Jangan menakutinya ataupun mengajaknya berkelahi. Dia hanya datang kesini karena kita telah membuat keributan."


"Bagaimana kau tahu?"


"Lakukan saja perintahku, simpan saja pedangmu."


"Apa yang kau barusan ngomong? Kau ingin bertemu dengan Blue?" tanya Pangeran Alex yang penasaran.


Putri Blue menatap datar ke arah Pangeran Alex dan berkata, "Kau sudah tahu tujuanku, haruskah ku beri tahu juga alasannya? Sudahlah! Kau pulang saja! Sapu tanganmu akan ku kembalikan dalam keadaan bersih."


Putri Blue melepaskan pengangan tangannya di lengan sang Pangeran Alex lalu ia pergi mennggalkan Pangeran Alex di hutan yang berkabut. Sejenak sang pangeran terdiam dan ia tidak percaya jika usaha mendekati seorang gadis ini sangatlah sulit.


Ia akhirnya menyusul Putri Blue dan mengikutinya dari belakang. Putri Blue mendengr suara langkah kaki dan ia membalikkan badannya lalu mengomel, "Sudah ku bil..."


Putri Blue tersenyum karena yang ia anggap sang Pangeran Alex berubah menjadi Minotaur yang memiliki bagian atas banteng dan bagian bawah kaki. Minotour itu juga membawa benda tajam, seperti kapak yang berukuran besar.


"Halo? Maafkan aku," kata Puti Blue.


"Kenapa kau ada disini, Nak?" tanya Minotaur.


"Aku ingin menemui Blue, tetapi aku tidak melihat orang itu ..."


Sang Minotaur melihat sekelilingnya dan ia tidak dapat menemui siapapun selain gadis kecil yang berwujud manusia. "Aku pikir, temanmu tersesat. Di hutan ini terlalu banyak jebakan untuk makhluk-makhluk asing."


"Tidak mungkin, tadi aku merasakan panas tubuhnya."


"Kau bisa menguasai ilmu peri?"


"Tidak, aku hanya mengasal berbicara. Aku harus menemukan dia."


Putri Blue pergi mencari Pangeran Alex di hutan tersebut. Ia mencari keliling hutan dan tidak peduli jalan yang ia ambil pada saat pencarian. Ia terus menatap sekelilingnya dan berusaha menggunakan kekuatannya untu bisa menemuinya.


Sampai pada akhirnya ia menemukan sang Pangeran Alex sedang berhadapan dengan Blue yang sedang berdiri diatas tumbangan pohon yang kemarin.


Putri Blue pergi ke arah mereka dan berdiri disamping Pangeran Alex. ukuran badan si Blue sudah mengecil, tetapi tetap saja masih besar untuk ukuran serigala pada umumnya. Dia mengelilingi Pangeran Alex dan Putri Blue dan berbicara kepada mereka.


"Pangeran Alex dan Putri Blue, rasanya senang sekali berjumpa kalian disini."


Putri Blue menunduk malu karena ia dipanggil 'putri' oleh Blue dan terdengar sampai ketelinga Pangeran Alex dengan jelas. Pangeran Alex menatap Putri Blue yang sedang menundukkan kepalanya. Ia menghela nafanya dan menatap Blue.


"Aku tidak menyangka jika Putri Blue membawa Pangeran Alex kesini."


"Aku sudah menyuruhnya untuk pergi, tetapi saat aku meninggalkannya ... aku takut dia tersesat," jawab Putri Blue dengan jujur.


Pangeran Alex tersipu malu dan memerah pipinya karena Putri Blue selama ini mengkhawatirkannya. Ia tidak menyangka dengan hal itu, tetapi ia harus menstabilkan emosinya supaya tidak ketahuan oleh Putri Blue dan juga Blue.


"Aku berencana ingin memberi tahumu pesan dari Kapten Sarah, tetapi sepertinya tidak bisa untuk sekarang."


Si Blue itu pergi dan meninggalkan mereka di tengah-tengah hutan dan Putri Blue menatap tajam ke arah Pangeran Alex, ia sungguh emosi karena Pangeran Alex, si Blue tidak jadi memberi tahunya pesan Kapten Sarah yang dinilainya sangat penting.


Putri Blue berjalan pulang dan segera menuju ke Olivia yang menunggunya. Pangeran Alex yang merasa bersalah dan meminta maaf kepada Putri Blue. Putri Blue tidak menggubrisnya dan ia ingat jika ia takut kehilangan Pangeran Alex.


"Aku ingin sekali meninju dia dan meninggakan dia dalam hutan ini, kenapa pemikiranku menolaknya?"