
Putri Blue tersenyum ketika mereka membicarakan Mark. Putri Blue berkta, "Kita akhiri pelajaran ini."
"Bagaimana dengan kekuatan penghenti waktu?" tanya Golvy.
"Aku akan belajar sendiri. Terima kasih semuanya."
Siang hari, yang terik, Putri Blue berada di dalam kamarnya sembari memerhatikan bunga daisy yang diletakan di vas bunga yang berisikan air dan dipajang di atas meja kecil. Sang putri menaburkan cahaya sihir brwarna biru supaya tidak layu lalu berkata, "Hiduplah walaupun kau tidak memiliki akar, hidup ini kejam, tetapi kecantikanmu bisa dinikmati olehku."
Putri Blue meletakan mahkotanya disamping vas bunga tersebut, kemudian merebahkan dirinya di kasurnya dan tiba-tiba saja keempat pelayannya masuk tanpa mengucapkan permisi. Mereka tidak tahu jika Putri Blue berada di dalam kamar sehingga mereka ribut sambil membawakan gaun panjang yang indah.
"Ah ... dasar, aku ingin berhibernasi pun jadi gagal." gumam Putri Blue ketika pelayan itu datang ke kamarnya.
Putri Blue terbangun dan duduk diatas kasurnya kemudian membuat para pelayan terkaget lalu terdiam. Dengan nada juteknya, sang putri berkata, "Sudah selesai kaian berbicara? Itu kenapa kalian bawa gaun banyak sekali?"
"Ini untuk tuan putri."
"Tidak usah yang mewah, aku datang kesana bukan sebagai tuan putri, aku hanya rakyat biasa saja. Tapi gaun yang kalian bawa itu norak, aku tidak suka dengan gaun yang terlalu terbuka didepannya," jawab Putri Blue.
"Bagaimana kalau kita bikin?" tanya Hana kepada Putri Blue yang disetujui oleh para pelayan yang lain karena para pelayan sang putri sangat pintar dalam menjahit dan merancang gaun.
"Memang kalian bisa?" tanya Putri Blue terhadap para pelayannya yang langsung dibalas oleh mereka. "Tenang saja, tuan putri. Kami bisa membuat gaun yang paling indah."
Pertama-tama, si Hana menggambar gaun yang akan menjadi model untuk dikenakan, banyak sekali coretan kesalahan gambar gaun yang hendak dijadikan gaun sungguhan sebab Putri Blue dan para pelayannya sungguh selektif dalam urusan pemilihan model gaun.
Putri Blue dan para pelayannya jatuh hati terhadap gaun yang panjang yang tidak mengembang di bagian roknya, tetapi tidak juga ketat dan ketika gerakan dansa memutar, rok tersebut mengembang dengan indah. ketika dipakai dan gaun tersebut cukup terbuka dibagian punggung sampai ke pinggangnya, tetapi tertutup dibagian dadanya. Para pelayan juga memikirkan hiasan untuk gaun.
"Kalau berlian, bukankah tu sudah biasa?" tanya Hana.
Chycy langsung menjawab, "Jangan berlian, kita membutuhkan aksesoris yang jarang dipakai."
Ambert mengajukan pendapatnya "Mutiara hitam?"
"Nah ... bagus itu, jarang dipakai dan mahal pula harganya," kata Chycy yang menyetujuinya.
"Bukankah kita sudah mengalahkan Kerajaan Duyung, pasti mereka akan jual murah ke kita. Apalagi kita dari Istana, jadi kemungkinan gratis ..." ucap Ambert.
"Nah, bagus itu kalau gratis. Aku menyukai gratisan," ujar Putri Blue ketika Ambert berbicara tentang gratisan.
Kemudian, sang putri diukur terlebih dahulu mulai dari lingkaran dada, pinggang, dan lain-lain oleh pelayannya bernama Gina, lalu pelayan lainnya sibuk menentukan warnanya sebelum mencari bahan kain. Mereka berdiskusi kepada Putri Blue untuk masalah warna gaun tersebut.
"Bagaimana dengan biru?" tanya Ambert kembali mengajukan pendapatnya.
"Tidak, itu warnanya sangat monoton sekali, bagaimana dengan ungu, tuan putri?" tanya Chycy.
"Hmm ... kalau hiasannya hitam, berarti warna biru muda yang bergragasi ungu muda. Jadi, gaunnya mirip yang aku pakai ini. Kita menggunakan dua warna itu," opini Putri Blue.
"Baik. tuan putri. Aku yakin kalau tuan putri pasti sangat puas ketika gaun ini telah jadi."
Putri Blue melemparkan senyuman kepada para pelayannya, kemudian ia melanjutkan petualangannya didalam tidurnya yang lelap dan tiba-tiba saja ia terbangun lagi karena pelayannya mengejutkannya kembali yang membuat sang putri menghela nafasnya untuk meredam emosinya.
"Ada apa? Bukankah kalian seharusnya berbelanja?"
"Hmm ... kita belum memikirkan mahkotanya."
"Cari saja mahkota yang murah," jawab Putri Blue memegang keningnya.
Para pelayan yang mengerti langsung berjalan keluar, tetapi diberhentikan oleh Putri Blue yang ingin menanyakan sesuatu. "Kalian berbelanja dimana?"
"Di pasar."
"Oh, aku ikut," kata Putri Blue yang membuat para pelayan panik dan melang sang putri untuk ikut.
Putri Blue memberikan alasannya kalau ia ingin ikut, ia hanya bosan di istana dan ingin mencari udara segar. Para pelayan sebenarnya keberatan atas permintaan sang putri, tetapi mereka terpaksa setuju karena Putri Blue memohon kepada mereka dengan wajah yang imut lagi menggemaskan.
Pada akhirnya, Putri Blue berbelanja bareng dengan para pelayanya, suasana pasar di Kerajaan Penyihir Hitam sangat kotor dan becek maka dari itu sang putri selalu memilih jalan yang tidak ada genangan airnya supaya tidak membasahi kakinya.
Putri Blue harus menggunakan jubah hitam yang panjang lalu memakai tudung dari jubah tersebut saat keluar dari istana sebab semua makhluk yang berada di pasar juga memakai apa yang pakai sang putri termasuk para pelayannya yang juga ikut memakai jubah panjang dengan tudung yang menutupi kepala mereka.
Putri Blue melihat wajah-wajah rakyat Kerajaan Penyihir Hitam yang berada di pasar itu seperti menunjukkan ekspresi tertekan, bahkan mereka tidak tersenyum sama sekali, hal ini berbeda ketika ia berada di kerumunan rakyat Kerajaan Zarqo yang murah tersenyum bahkan anak-anak saja bisa bermain sambil berlari kesana-kesini.
Ia juga melihat bangsa Peri yang terperangkap disebuah kandang dan dijual belikan oleh seorang penyihir hitam. Putri Blue merasa iba kepada para peri tersebut kemudian ia menghampiri si penjual toko dan langsung bertanya, "Kenapa kau menjual mereka?"
Si penjual itu kebingungan karena ia dihampiri seorang gadis gila yang menanyakan hal seperti itu. "Apa maksudmu, nak? Jika kau mau maka kau harus beli."
Para pelayan akhirnya mengetahui jika sang putri tidak bersama mereka dan langsung saja mencarinya, Ambert melihat sang putri sedang berada di toko jual beli budak. Mereka menghampiri tuan putri yang sedang cekcok dengan pedagang tersebut.
"Apakah kau tidak kasihan dengan mereka? Mereka makhluk hidup juga!" bentak Putri Blue sambil mengepal tangannya.
"Apa urusannya denganmu? Ini bisnis, kau hanya anak kecil makanya tidak tahu apa-apa!" bentak penjual. "Jika kau tidak beli maka jangan banyak ngomong! Pergi kau sebelum aku membunuhmu!"
"Apa kau bilang?! Kau melawan aku?!" Putri Blue ingin menyerang penjual itu dengan sihirnya, tetapi Chycy datang dan menengahi mereka berdua.
"Sudah cukup! Maafkan kelancangan kami," ucap chycy yang langsung menarik tangan Putri Blue dan sang putri meredamkan sihir yang awalnya telah mengumpul di telapak tangannya. Ia berkata, "Aku beli semua Peri disini."
"Tuan putri, bagaimana tentang gaunnya?" tanya Hana yang menepuk bahu sang putri.
Putri Blue menatap wajah Hana lalu menjawab, "Mereka lebih penting daripada gaunku, bawa semua Peri ini ke kamarku."
Putri Blue membisikan sebuah kalimat ke telinga Chycy. "Aku tidak akan kena marah sebab aku disini adalah kartu emas."
Chychy yang mengerti tentang maksud sang putri lalu membeli semua peri yang ada di satu toko tersebut. Putri Blue dari tadi memerhatikan wajah si penjual yang senang karena budaknya laris manis terjual. Sang putri bergumam, "Semoga besok kau tidak akan bisa terbangun dengan ekspresi itu."
Setelah berbelanja dari pasar dan kembali ke dalam kamar yang mana para pelayan terlihat kesal dengan membawa kandang peri yang segitu banyaknya sedangkan Putri Blue duduk santai di kursi yang empuk. Para pelayan meletakan banyaknya kandan tersebut ke lantai granit yang mengkilap.
"Buka semua kandangnya," kata Putri Blue.
"Tidak bisa, tuan putri. Nanti mereka kabur," jawab Gina. "Dan mereka akan kembali tertangkap lalu dijual belikan sebagai budak. Mereka harus dekat dengan air."
"Kalau begitu, letakan mereka di kamar mandi dan kalian bilang ke Ayahku supaya membelikan mahkota yang paling mahal di Auresta kemudian jika kalian mendapatkan uang dari Ayahku, kalian bisa gunakan untuk membeli bahan gaun. Bukankah yang kalian pakai untuk membeli Peri ini adalah uang jatahku? Jadi, tidak masalah jika aku meminta itu sebab dia menawarkannya kepadaku tentang mahkota," jelas Putri Blue. "Kalau uangnya lebih, kembalikan kepadanya."
"Baik, tuan putri."
Para pelayan Putri Blue keluar dari kamarnya dan berdiskusi untuk meminta uang dari Raja Carles. Mereka ketakutan terhadap sang raja dan tidak berani mendatangi Raja Carles. Mereka menatap Chychy yang mana Chychy pernah ditunjuk untuk berbicara kepada Mark.
"Jangan suruh aku, aku tidak mau."
Putri Blue melihat wajah para peri yang sangat ketakutan dan murung, Putri Blue membuka pintu kaca untuk sirkulasi udaranya lebih terjaga dan berjalan kearah para Peri kemudian duduk di atas lantai dengan kaki yang terlipat. "Jangan takut, aku akan membebaskan kalian. Asal kalian tahu, kalian sedang dikhawatirkan dengan bangsa Peri Dyard."
"Kalian adalah bangsa Peri Naiad, bukan? Aku turut berduka atas kekalahan kerajaan kalian dengan penyihir hitam. Aku akan pastikan membawa kalian ke hutan terlarang, disana kalian akan aman dan beremu dengan dengan bangsa Peri lainnya," sambung Putri Blue.
"Benarkah?" tanya salah satu peri dan peri lainnya berbahagia dengan ucapan Putri Blue.
"Iya," jawab Putri Blue yang langsung mendapati sorak berupa terima kasih.
Putri Blue baru menyadari jika rencananya akan gagal ketika para pelayannya berbicara jujur kepada Raja Carles. Putri Blue langsung membuka pintu kamarnya dengan segera mungkin dan masih mendapati para pelayannya yang sedang berkumpul didepan kamarnya.
"Tuan putri?"
"Kalian belum berbicara kepada raja Carles?"
Para pelayannya langsung menggelengkan kepalanya dan membuat hati sang putri bisa bernafas dengan lega. "Baiklah, aku akan bicara dengannya."
Putri Blue mendatangi ruangan yang mana Raja Carles sedang bekerja. Putri Blue membuka pintu ruangan tersebut dengan punuh percaya dirinya dihadapan sang raja. Raja Carles yang sedang membaca dokumen langsung mengalihkan matanya ke hadapan Putri Blue sambil bertanya, "Ada apa?"
"Aku berubah pikiran dan aku ingin makhkota yang paling termahal di Auresta."
Raja Carles tertawa dengan perkataan sang putri. "Apa aku tidak salah dengar? Katamu ingin menjadi rakyat biasa dan sekarang kau ingin terlihat mewah. Hahaha aku tidak menyangka kau sangat rakus dengan harta."
"Rakus? Lebih tepatnya aku ingin sombong."
"Baiklah, Ayah akan mencarikan untukmu," jawab Raja Carles.
Putri Blue hanya tercengang karena ia tidak dikasih uang oleh Raja Carles yang pada awalnya ia berharap dikasih uang untuk membeli mahkota tersebut.
"Udah? Gitu aja? Terus aku tidak dikasih uang? Aku gak punya uang buat bikin gaun! Uangnya mana?" batin putri Blue yang tidak sesuai dengan harapannya.
Raja Carles melihat Putri Blue yang masih berdiri tegak dihadapannya kemudian berkata, "Kau ternyata ingin bukti. Baiklah, akan aku panggilkan mark ke sini."
Putri Blue terbelalak ketika Raja Carles memanggil Mark ke ruangan ini dan benar saja, si Mark muncul dengan portalnya dan Raja Carles pun memintanya untuk membelikan mahkota yang paling termahal di Auresta untuk sang Putri Blue karena ia menginginkannya.
"Baiklah, aku akan membelinya," ucap Mark ketika ia menuruti perintah Raja Carles dan melirik ke arak Putri Blue ketika ia membalikan badannya.
Putri Blue langsung menunduk ketika ia tahu kalau dirinya sedang diilirik sinis oleh matanya Mark lalu si Mark pergi menggunakan portalnya kembali. Putri Blue mengucapkan terima kasih dan segera kembali ke kamarnya. Di dalam perjalan ke kamarnya ia kesal karena tidak mendapatkan uang.
Ia menemui pelayannya yang sempat menunggu uang untuk membeli bahan gaun. Putri Blue berkata terlebih dahulu sebelum para pelayan menanyakannya. "Kita pakai gaun apa adanya aja dan jangan membuat gaun lagi."
Putri Blue masuk kedalam kamarnya yang berserakan karena banyaknya kandang peri. Pikirannya menjadi kusut ketika ia memikirkan para peri yang hendak dibebaskan, ia berjalan ke arah ke arah kandang peri dan duduk dilantai lagi sembari menanyakan, "Mau aku siapkan makan dan minum kalian?"
"Mau, kami belum makan dan minum dari kemarin," sahut salah satu seorang peri.
Putri Blue langsung kembali lagi keluar kamarnya dan membuat para pelayannya terkejut lagi karena hanya kepala sang putri yang keluar dari pintu. Putri Blue memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan makan siangnya dengan lauk yang banyak dan minuman yang banyak juga, kemudian diantarkan didalam kamarnya untuk para peri.
"Minumannya berapa gelas, tuan putri?" tanya Chycy.
"Peri tubuhnya kecil walaupun mereka banyak, tetapi seorang peri tidak bisa menghabiskan segelas air. Kira-kira segelas air bisa untuk 5 peri, mungkin?" batin Putri Blue yang sedang memikirkan jumlah gelas yang akan dikasihkan kepada para Peri.
"Hm ... sepuluh gelas, tetapi bawa lima teko air juga," kata Putri Blue yang penuh keraguan. "Kalian makan siang bersamaku saja, sekalian dengan Peri juga. Tetapi kalian semua dilarang mengadukan kepada siapapun karena aku pernah menyelamatkan kalian ketika Mark ingin memasukan kalian ke tahanan bawah tanah."
"Jadi, kalau ada yang bertanya, kalian harus menjawab kalau aku mengajak kalian makan bersama. Paham?" sambungnya.
"Paham, tuan putri."
Putri Blue kembali ke kamar kemudian ia berbicara kepada para peri sambil berjalan kearah kasurnya dngan suara yang agak tinggi. "Makanan dan minuman akan tiba, kalian harap sabar, ya?"
Tidak henti-hentinya para peri berterima kasih kepada Putri Blue dan menganggap jika sang putri adalah pahlawan. Putri Blue hanya tersenyum miring sembari bergumam, "Aku pahlawan? Padahal aku hanya kasihan dengan mereka tentang kebebasan mereka hidup."
Putri Blue yang kelelahan mencoba membaringkan badannya sambil menutup matanya menggunakan tangannya. Ia masih memikirkan bagaimana cara membawa peri ke hutan terlarang. Putri Blue tahu jika perbatasan wilayang Kerajaan Zarqo pasti dijaga dengan ketat sehingga tidak bisa menyelundupkan peri-peri ini ke sana.
Jika ia meminta bantuan Mark, pasti dia tidak akan mau dan melaporkannya kepada Raja Carles karena Mark sebenarnya membencinya. Putri Blue menoleh kepalanya kearah samping yang mana terdapat bunga daisy itu diletakan diatas meja kecil. Sang putri melihat bunga tersebut dan teringat Pangeran Alex.
"Tidak, tidak mungkin dia akan membantuku. Aku bukan siapa-siapa dia lagi dan kemungkinan aku dibencinya," ucap Putri Blue. "Tapi Peri Naiad ..."