
DUA TAHUN KEMUDIAN.
Hubungan antar Kerajaan Zarqo dengan Kerajaan Penyihir Putih menjadi baik semenjak kepemimpinan Raja Alex. Raja Alex juga tidak segan untuk menjadi juri di ujian prajurit Kerajaan Zarqo. Putri Blue dan Suci menyaksikan ujian masuk prajurit istana dengan duduk di dahan pohon.
Penampilan Putri Blue menjadi ceria walaupun sedikit beban dipemikirannya, rambut Putri Blue menjadi pendek diatas bahu sedikit dan tidak seperti dulu yang panjang rambutnya. Putri Blue melihat aksi Raja Alex memberi arahan kepada para calon prajurit tentang cara memanah yang benar.
"Raja Alex tidak seperti Raja Azka yang sangat kejam udah gitu dia tampan sekali. Tahu gak? Dia itu masih jomblo dan belum ada ratu. Kau sepertinya cocok deh dengannya," ucap Suci.
"Aku? Tidak mungkin," jawab Putri Blue.
"Kenapa? Kau cantik dan aku dengar jika raja Alex memiliki kekuatan yang hebat juga! Aku seratus persen mendukungmu!" ujar Suci yang sangat ingin menjodohkan Putri Blue dengan Raja Alex.
Tiba-tiba Putri Alonia datang dan ia memberikan minuman kepada seluruh juri termasuk Raja Alex. Putri ALonia tampak begitu akrab sekali dengan Raja Alex sehingga membuat Putri Blue mengalihkan pemandangannya. Suci terus saja berbicara kepadanya tentang Raja Alex yang didekati oleh Putri Alonia.
"Suci, aku pergi dulu karena aku lupa kalau hari ini masa pamen chamomile."
"Oh iya, aku lupa. Aku ikut."
Putri Blue dan suci terbang menuju lahan bunga Chamomile, yaitu bunga mungil yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, membantu pencernaan, dan tidur lenih lelap. Putri Blue memotong semua batang bunga tersebut menggunakan sihir dan para peri lain mengangkut bunga tersebut.
Dan sebagian lagi mereka bertugas untuk menjual bunga itu ke beberapa wilayah, termasuk Kerajaan Penyihir Putih. Putri Blue senang sekali bisa menjadi seorang peri yang selalu menjaga alam di hutan terlarang bahkan ia dbuatkan rumah peri oleh para peri lainnya.
Setelah selesai memanen, ia beristirahat di daerah selatan bekas peperangan. Ia duduk di dahan pohon apel dengan memandang bunga Daisy yang bermekaran. Putri Blue teringat kenangan manis bersama Pangeran Alex dan sekarang ia tidak menyangka kalau pangeran telah menjadi seorang raja.
"Bunga Daisy," gumam Putri Blue.
Ada seseorang yang duduk dibawah pohon apel sambil melihat hamparan bunga Daisy bermekaran. Putri Blue mengenali seseorang tersebut yang tidak lain adalah Raja Alex. Ia hendak terbang, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika Raja Alex bergumam, "Aku merindukan dirinya."
"Aku juga," jawab Putri Blue yang tidak sengaja.
Raja Alex langsung mencari sumber suara tersebut dan mendengak ke atas. Ia melihat peri yang sedang bersembunyi di balik dedauanan pohon apel. "Kau disini? Keluarlah! Aku sudah melihatmu di balik daun."
Putri Blue dengan malu-malu keluar dan terbang ke bawah. Ia menemui Raja Alex yang sedang berdiri dan bertanya, "Kenapa menyuruhku keluar?"
"Rindu," jawab Raja Alex. "Kau tidak bisa berubah menjadi besar?"
"Tentu saja bisa," jawab Putri Blue kemudian ia memakan buah berry dari tas rajutannya.
Putri Blue kembali menjadi normal kemudian sayapnya menghilang dengan sendirinya. Raja Alex memberikan tepuk tangan yang kemudian mengacungkan kedua jempolnya. "Kau sudah menguasai peri, tetapi kenapa gaunmu ikut membesar?"
"Hisst ... kau lupa? Aku adalah seorang penyihir, menyihir baju itu sangat gampang bagiku," jawab Putri Blue. "Oh ya, selamat atas kenaikan pangkatmu."
"Hahaha, rupanya kau mendengar beritaku menjadi raja, tetapi katanya kau ingin membangun kerajaan baru namanya Varanland, nah ... kita bisa kolaborasi, kau jadi ratu dan aku jadi raja." ujar Raja Alex.
Putri Blue memuji Raja Alex yang masih ingat dengan ucapan Putri Blue di saat mereka duduk berdua di atap ketika malam hari.. "Ingatanmu sungguh tajam, ya? Aku ingin kau menjadi raja di Varanland, kerajaan impianku."
"Kau melamarku, ya?" tanya Raja Alex yang wajahnya sudah memerah.
Putri Blue berlari ke hamparan bunga Daisy dan memetik bunga Daisy berwarna-warni. Ia memilih bunga Daisy dengan cantik tanpa cacat kemudian ia berdiri di tengah-tengah bunga Daisy sambil memegang bunga tersebut didepan Raja Alex.
Putri Blue mengarahkan bunga Daisy tersebut dan berkata, "Maukah kau menjadi raja di Varanland? Hahaha."
Putri Blue tertawa sendiri berkat aksi konyolnya dan Raja Alex pun ikut tertawa. Raja Alex berjalan kearah Putri Blue dan menjawab tawarannya. "Aku bersedia, tetapi dimana kerajaan Varanland?"
"Di pikiranku," jawab Putri Blue sambil tersenyum.
"Tetapi kau jelek dengan rambut pendek," ucap Raja Alex yang mengkritik penampilan baru dari Putri Blue.
Senyuman Putri Blue itu pun pudar dan ia menjawab, "Kau itu seharusnya jangan berkata terlalu jujur!"
Putri Blue memberikan bunga Daisy itu dengan kasar kepada Raja Alex dan pergi meninggalkan Raja Alex, tetapi tangannya dipegang oleh Raja Alex sehingga ia menatap mata Raja Alex yang kemudian ia dipeluk olehnya. Putri Blue tidak bisa berkata apa-apa.
"Jangan pergi, aku merindukanmu," kata Raja Alex yang kemudian Putri Blue menjawab, "Aku juga merindukanmu, apakah kau ada masalah?"
Raja Alex memanggutkan kepalanya dan Putri Blue menepuk pelan punggung sang raja tersebut dan berkata, "Aku akan membantumu."
"Terima kasih," jawab Raja Alex.
Putri Blue sampai-sampai terbengong ketika Raja Alex berbicara kepadanya hingga ia mendapatkan jentikan jari oleh Raja Alex. Putri Blue yang menyadari itu langsung berkata, "Ah ... iya lanjutin aja, aku sedang mikirin apa yang kau omongin."
"Aduh, sadar Blue ... sadar," batin Putri Blue.
"Jadi, intinya Ayahku mati setelah minum teh ini ..." ucap Raja Alex sambil menunjukkan ampas teh yang diminum oleh Raja Azka.
"Kau udah periksa kalau tehnya tidak mengandung racun?" tanya Putri Blue.
"Sudah bahkan aku sudah membuka semua kantung teh di istana, tetapi tidak ada racun. Aku kebingungan karena ini," jawab Raja Alex.
"Baiklah, akan aku periksa teh ini," ucap Putri Blue yang mengorek-ngorek ampas teh yang diminum oleh Raja Azka.
Putri Blue menemukan hal yang janggal yang terdapat di teh tersebut. "Ini bukan bunga Melati, tetapi bunga beracun nama bunga ini adalah Rhododendron dan azalea. Ini bisa menyebabkan sesak nafas, lumpuh, koma bahkan kematian."
Raja Alex yang menarik kesimpulan. "Dugaan itu benar, tetapi siapa yang membunuh Ayahku?"
"Dimana Ayahmu membeli teh ini?" tanya Putri Blue yang berbalik arah.
"Di Kerajaan Zarqo," jawab Raja Alex. "Di toko herbal di pasar."
Raja Alex dan Putri Blue segera kembali ke Kerajaan Zarqo untuk pergi ke toko yang dimaksud. Mereka mencari toko tersebut dan akhirnya ketemu setelah Raja Alex menunjuk toko tersebut. Putri Blue terkejut karena toko tersebut bersebelahan dengan bar yang dijadikan markas anak buah Mark.
Putri Blue melihat Mark lewat di kerumunan makhluk-makhluk yang berjalan, Putri Blue mengejar Mark yang diikuti oleh Raja Alex yang sedang kebingungan. "Hei! Tunggu, Blue!"
"Seandainya aku memiliki kekuatan penghenti waktu," gumam Putri Blue ketika berlari. "Seharusnya aku membunuhnya!"
Pada akhirnya ia benar-benar kehilangan Mark, Putri Blue tidak tahu sama sekali keberadaan Mark. Raja Alex menghampiri dirinya dengan menepuk bahunya dan berkata, "Apa yang terjadi?"
Putri Blue enggan menjawabnya dan ia berkata, "Ada hal yang harus aku kerjakan."
Putri Blue pergi kearah tempat yang sepi dan ia membuat portal sihir disana. Kemudian, Putri Blue masuk ke portal tersebut yang mengarahkan ke Istana Kerajaan Penyihir Hitam. Putri Blue berjalan ke ruang Raja Carles dan berdiri dihadapannya.
Raja Carles yang melihat beridirinya seorang yang dianggap putrinya pun berkata, "Kau kembali? Bagaimana latihan Duyungmu?"
"Apakah Ayah mengintaiku? Pasti karena cincin ini, bukan? Ayah, kenapa kau membunuh raja Azka?" tanya Putri Blue.
"Tebakanmu benar sekali, raja Azka adalah raja yang lemah dan raja yang paling terkuat adalah anaknya. Aku mengincar kerajaan itu sejak dahulu supaya penyihir hitam dapat memimpin Auresta ini dan kau tahu harus melawan dengan siapa, bukan? Jalani takdirmu dan buat aku bangga kepadamu karena aku menginginkan kerajaan itu," jelas Raja Carles.
Raja Alex mendengarkan semua percakapan itu semua dibalik samping jendela luar, ia mengepal tangannya dengan mata yang memerah, seperti seseorang yang menahan emosinya. Putri Blue menjawab, "Baiklah, aku akan membuatmu bangga terhadapku. Siapkan pasukanmu besok karena Mark sebentar lagi mati."
Putri Blue merasakan sihir putih berada disekitar sini dan ia mencurigai kearah luar. Putri Blue berjalan keluar dari ruangan Raja Carles dan memakai telepatinya. "Kau sudah ketahuan, keluarlah dan akan aku jelaskan semuanya di taman bunga daisy."
Tidak ada jawaban dari Raja Alex karena Raja Alex sangat marah kepada Putri Blue, ia tidak menyangka jika wanita yang benar-banar ia cintai ternyata adalah lawannya. Raja Alex menitihkan air matanya sambil berkata, "Ternyata ramalan itu benar."
Putri Blue menunggu di bawah pohon apel dari siang hingga sore hari. Ia menunggu kedatangan Raja Alex, tetapi tidak ada batang hidung sang Raja Alex muncul. Putri Blue pada akhirnya pergi ke istana Kerajaan Zaqo untuk menemui Putri Alonia, sang putri sedang berjalan-jalan di halaman istana bersama para pelayannya. Karena kehadiran Putri Blue, si Putri Alonia langsung mengusir para pelayan dan berkata, "Senang melihatmu lagi. Ada apa, Kak?"
"Kau masih memanggilku Kakak walaupun aku sudah mengakui jika aku putri dari Kerajaan Penyihir Hitam," ujar Putri Blue.
"Walaupun Kakak dari kerajaan manapun, Kakak adalah Kakakku," jawab Putri Alonia sambil memegang tangan Putri Blue.
"Kau cantik dan baik, sepertinya kau cocok dengan raja Alex, kau sangat menyukainya, bukan?" tanya Putri Blue kepada Putri Alonia.
"Bukannya raja Alex menyukai Kakak? Dia mengakuinya dihadapanku dan ketika raja Alex melamarku, tatapan mata Kakak seperti seseorang yang sedih. Kalian berdua saling cocok," jawab Putri Alonia. "Kak, aku ingin kakak hidup dalam kebahagiaan."
Mata Putri Blue sudah berkaca-kaca dengan senyuman melekat di bibir mungilnya. "Aku ingin berisirahat dari kesedihan maupun kebahagiaan."
"Apa maksud Kakak?" tanya Putri Alonia yang kemudian tangan Alonia ditimpal oleh tangan Putri Blue dan Putri Blue pamit kepadanya.
Putri Blue pergi ke hutan terlarang menggunakan portal sihirnya. Ia meminta bantuan kepada para penghuni hutan untuk mengadakan rapat penting. Dan ketika malam hari menyapa langit, Putri Blue pergi ke bar, yaitu tempat berkumpulnya anak buah Mark.
"Dimana Mark?" tanya Putri Blue.
"Dia sudah kembali ke istana," jawab salah satu anak buah tersebut.